Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jangan Sampai


__ADS_3

Saat malam tiba, semua telah selesai, acara pernikahan sederhana itu telah sukses dilakukan, Zahra merasa begitu lelah saat ini bahkan rasanya sudah tidak sanggup untuk sekedar berdiri.


"Bian, aku mau pulang," ucap Zahra.


Bian menoleh dan mengangguk, itu bukan masalah lagi pula semua sudah selesai, dan tidak ada tamu lagi di sana.


"Ya sudah, ayo kita pulang."


Zahra mengangguk, kakinya terayun melangkah dengan lemah, Zahra tidak punya tenaga lagi untuk berjalan saat ini.


"Berasa jadi juara kamu sekarang," ucap Sintia seraya mendorong Zahra.


Zahra yang sudah lemah sejak tadi pun tak mampu bertahan, Zahra terjatuh dan begitu sulit untuk berdiri.


"Sintia, apa-apaan sih kamu?"


Bian menoleh saat mendengar suara Dion, kenapa mereka berdua masih ada di sana, bukankah acara sudah selesai sejak tadi.


"Kenapa, kalau kamu gak mau wanita itu terluka, harusnya kamu halangi dia untuk bersama Bian."


Dion mengernyit, kenapa seperti itu lagi kalimatnya.


"Apa maksud kamu?" tanya Bian.


"Maksud aku, kamu mau tahu?"


"Apa, katakan saja."


Sintia tersenyum dan melirik Dion yang membantu Zahra untuk bangkit, Sintia mengangguk, itu sudah jawaban jelas jika Dion memang ada sesuatu dengan wanita itu.


"Emmm, kamu sepertinya harus tahu, kalau istri kamu itu pacarnya teman kamu sendiri, iya kan Dion?"


Bian melirik Dion di sana yang juga melirik Bian, Bian mengernyit, apa yang dilakukannya pada Zahra, untuk apa mereka berdekatan seperti itu.


Bian menggeleng dan menarik Zahra agar menjauh dari Dion, Zahra limbung dan jatuh dipelukan Bian, kedua mata Zahra terpejam karena kepalanya yang terasa pusing.


"Jangan kasar dong," ucap Dion.


"Urusan kamu apa?" tanya Bian.


Dion diam, tak ada yang bisa jadi jawabannya, Dion memang tidak ada urusannya dengan itu, tapi Dion tidak suka dengan hal seperti itu.


"Aku hanya minta kamu jemput dia tadi pagi, bukan untuk menyukainya juga, tahu diri kamu."


Dion mengangguk perlahan, itu benar dan sepertinya sikap Dion masih menunjukan kalau Dion masih sadar diri.

__ADS_1


"Benar kan apa yang aku bilang, mereka berdua memang ada sesuatu."


Mereka menoleh bersamaan, Sintia pasti sengaja mau membuat mereka ribut, dan sepertinya Bian tidak perlu menanggapi itu.


"Zahra, kita pulang," ucap Bian.


Zahra hanya mengangguk saja tanpa sedikit pun membuka mata.


"Kamu kenapa?" tanya Bian.


Tak ada jawaban, Bian melirik dua orang itu bergantian dan berlalu dengan menggendong Zahra.


"Aduh kasihan sekali kamu, sekarang gak ada lagi kesempatan untuk bisa sama dia deh."


Dion menoleh, mulut Sintia memang menjengkelkan, dan itu pasti sengaja dilakukan untuk membuat keadaan jadi kacau.


"Kenapa, baru sadar kalau semuanya salah?"


"Lebih baik kamu diam, wanita itu bukan siapa-siapa buat aku, jadi kamu tidak perlu berkata apa pun juga."


"Masa?"


"Memang benar, kamu gak perlu sok tahu tentang semuanya, kamu gak tahu apa-apa kan."


"Aku yang gak tahu, atau kamu yang sedang berjuang untuk menutupi semuanya, Dion tidak perlu berpura-pura sama aku."


"Oke, tidak masalah kalau kamu gak mau mengakui semuanya sekarang, tapi kamu dengar aku baik-baik ya, kalau besok lusa kamu berubah fikiran dan mau merebut Ayra lagi, aku siap bantu dan itu aku lakukan dengan senang hati."


Dion diam, apa yang dikatakan Sintia sangat tidak masuk difikiran Dion, bagaimana mungkin Dion melakukan semua itu.


Sintia tersenyum dan berlalu meninggalkan Dion begitu saja, biarkan saja lagi pula Dion tidak butuh ada wanita itu sekarang.


Dion berjalan keluar rumah, rumah itu sedang di bersihkan dan sebaiknya Dion pergi saja sebelum ada yang bertanya tentang keberadaannya di sana.


Dion memasuki mobil dan melaju pergi, pernikahan Bian dan Zahra sangat mendadak, dan bahkan ijab qobul pun tidak terdengar sama sekali.


Apa yang dilihat Dion tadi pagi sangatlah mengganggu fikirannya, apa benar Bian melakukan semuanya pada Zahra, dan itu alasannya kenapa pernikahan mereka terjadi.


Dion menggeleng seraya mengusap wajahnya, sepertinya Dion tidak perlu memikirkan itu semua, biarkan saja itu adalah urusan Bian dan Zahra.


"Tapi Zahra begitu ketakutan tadi, dia sangat memaksa untuk tidak dibawa menemui Bian, dia takut dan ingin pergi."


Dion memijat pelipisnya perlahan, Zahra memang bukan siapa-siapa baginya, tapi entah kenapa Dion merasa salah telah membawa Zahra ke pernikahan tadi.


"Sss aah apaan sih, untuk apa memikirkan itu semua, biarkan saja mereka urus masalahnya sendiri, kenapa jadi aku yang pusing."

__ADS_1


Dion menggeleng, sudah cukup, Dion tidak perlu ikut campur lagi karena pernikahan mereka telah terjadi, mau bagaimana pun juga Zahra harus terima sudah menjadi istri Bian.


 


"Zahra, Zahra bangun."


Bian melihat sekitar, saat ini Bian sampai di rumah sakit, sejak tadi Zahra tidak menunjukan pergerakan sama sekali, bahkan meski Bian telah menariknya.


Bian keluar dan meminta pertolongan di dalam sana, Bian meminta agar mereka cepat membantunya.


"Dimana pasiennya, Pak."


"Di mobil, ayo cepat sekarang."


"Mari, Pak."


Bian berlalu lebih dulu diikuti petugas rumah sakit yang mendorong brankar itu, Bian mengangkat Zahra dan membaringkannya di sana.


"Cepat, tolong cepat obati istri saya."


Tak ada jawaban, mereka mendorong brankar itu membawa Zahra masuk ke ruang pemeriksaan.


"Silahkan menunggu, Pak."


"Tolong obati dia, jangan sampai terjadi hal buruk padanya."


"Dokter akan berusaha, silahkan Bapak menunggu dan tetap berdoa."


Pintu tertutup, Bian tidak bisa menutupi rasa khawatirnya saat ini, ada apa dengan wanita itu, kenapa sampai seperti itu.


"Apa yang sudah dilakukan Dion padanya, tadi mereka lama sekali datang ke tempat Oma."


Bian diam bergelut dengan fikirannya sendiri, apa benar jika Dion telah berbuat hal lain pada Zahra, tapi apa, dan kenapa Zahra sampai tak sadarkan diri.


"Lihat saja, kalau sampai ada apa-apa, dan benar lelaki itu penyebabnya, tidak akan aku biarkan bebas begitu saja."


Bian mengepalkan tangannya, Dion adalah teman terbaiknya selama ini, dan Bian sangat percaya dengan Dion.


Rasanya memang tidak mungkin jika Dion berani melakukan hal buruk pada Zahra, Dion tahu siapa Zahra dan seharusnya Dion tidak perlu melakukan apa-apa padanya.


Bian menghembuskan nafasnya sekaligus, Bian akan temui Dion besok dan akan pertanyakan semuanya, Dion harus menjelaskan pada Bian.


"Kalau jawabannya tidak sesuai, awas saja kamu Dion, kamu akan tahu apa yang akan aku lakukan sama kamu."


Bian memukulkan tangannya tanpa tumpuan, Bian meminta bantuan Dion adalah untuk mempermudah langkahnya.

__ADS_1


Bian juga sudah jelaskan semuanya, seharusnya Dion mengerti dengan maksud tujuannya.


__ADS_2