
"Bian, kamu sudah mengurus perpisahan kita?"
"Bian, mana surat talaknya?"
"Bian, apa kamu mengabaikan permintaan ku?"
"Sampai kapan aku harus menunggu?"
"Kamu tidak bisa melakukannya, biar aku sendiri saja yang melakukannya."
"Bian, aku tidak bisa menunggu lagi."
"Kau sedang membodohi ku lagi kali ini?"
"Aaarrgghht ...." teriak Bian.
Tangannya menyapu bersih botol-botol minuman dan gelas di atas meja itu, semua pecah berantakan di lantai sana.
Malam ini, Bian mendadak masuk bar, ia begitu banyak minum di sana, Zahra benar-benar membuatnya gila dalam satu minggu ini.
"Aku tidak mau perpisahan ini, apa kamu tidak mengerti!" bentak Bian asal.
Sebagian dari mereka memang memperhatikan Bian, tapi tak sedikit juga yang mengabaikannya.
"Kenapa harus berpisah, kenapa harus berpisah Zahra!" bentak Bian lagi.
"Mas, sadar Mas."
"Aah berisik!"
Bian menatap semua wajah yang memperhatikannya, ingin sekali Bian menerkam mereka semua.
"Apa, apa ada apa, ada apa kalian menatap ku seperti itu!"
Bian menunjuk mereka satu persatu, bukan membantu mereka justru mentertawakannya.
"Dasar bodoh!"
Bian bangkit, dengan langkah yang sempoyongan Bian keluar dari bar.
Banyaknya minuman yang dihabiskan, rupanya membuat Bian mabuk, ia mengendarai mobil tanpa kontrol.
"Tidak punya perasaan sama sekali kamu Zahra, apa kamu tidak mengerti kalau aku sedang berjuang sekarang."
Bian memukul stir mobilnya, kecepatan tinggi telah membuat Bian sampai di rumah dalam waktu singkat.
Bian turun dan kembali berjalan dengan tak terkontrol, ia mendobrak pintunya kasar.
"Zahra," teriak Bian.
"Den Bian, ya ampun kenapa, Den."
Bian menepis mbak rumah yang hendak menyentuhnya, bukan wanita itu yang diinginkan Bian sekarang.
"Zahra," teriak Bian.
"Ada apa ini?" tanya Inggrid.
Bian menoleh, sesaat ia menatap Inggrid memastikan apa itu Zahra atau bukan.
"Bian, apa yang kamu lakukan?"
"Diam, diam kalian semua diam!" bentak Bian.
Inggrid menatapnya tak percaya, kelakuan macam apa itu, bisa-bisanya Bian pulang dalam keadaan mabuk.
"Ibu, Ibu tidak apa-apa?"
"Tidak, saya baik-baik saja."
Bian kembali membuka pintu kamar dengan kasarr, Zahra yang kebetulan keluar dari kamar mandi sangat terkejut dengan kedatangan Bian.
"Kau, kau jahat sekali," ucap Bian asal.
__ADS_1
Zahra mengernyit, ada apa dengan Bian, buruk sekali tingkahnya itu.
"Kau jahat, kemana hati mu, kemana fikiran mu, kemana!" bentak Bian.
Zahra menunduk, tubuhnya seketika menegang saat Bian memeluknya.
"Aku menyayangi mu sekarang, aku mulai mencintai mu tapi kenapa seperti ini perlakuan mu, kenapa!" bentak Bian lagi seraya melepaskan pelukannya.
Apa yang harus Zahra katakan, apa Bian sadar dengan kelakuannya saat ini, bau mulutnya sangat membuat Zahra mual.
"Jahat sekali kamu, apa kamu tidak punya hati sekarang, aku tidak mau kita berpisah, apa itu tidak jelas."
Inggrid turut masuk tanpa permisi, ia tidak akan biarkan Bian menyakiti Zahra lagi kali ini.
Bian menoleh, ia menatap Inggrid dengan kesalnya, berani sekali wanita itu memasuki kamarnya tanpa permisi.
"Keluar, siapa yang meminta mu masuk, cepat keluar."
"Bian keterlaluan sekali kamu ini, seharusnya kamu yang keluar dari sini, jangan berani kamu sentuh Zahra."
"Dia Istri ku," ucap Bian seraya tertawa.
"Dia Istri ku!" bentak Bian.
Zahra menelan ludahnya, tidak bisa dibiarkan, Inggrid akan tertekan jika terus ada bersama Bian.
"Oma, sebaiknya Oma keluar saja."
"Kita keluar sama-sama, ayo cepat tinggalkan saja dia sendiri."
Zahra berniat menghampiri Inggrid, tapi Bian lebih dulu menahannya.
Bian kembali mengusir Inggrid, tidak ada yang bisa mengaturnya kali ini, Bian sudah terlanjur gila.
"Keluar!" bentak Bian.
"Bu, Ibu, ayo kita keluar."
Inggrid menoleh, ia ikut saja saat mbak rumahnya menarik tangannya keluar.
Bian dengan cepat menutup pintunya, menguncinya rapat, dengan begitu tidak akan ada lagi yang bisa masuk.
"Diam!"
Zahra menunduk, jantungnya sudah tak bisa lagi dikontrol, Zahra merasa takut saat ini.
"Aku tidak mau kita berpisah, kenapa kamu terus saja memaksa?"
"Lepaskan, lepas Bian."
"Kenapa kamu terus memaksa!" bentaknya lagi.
Zahra diam, dengan tetap berusaha melepaskan tangannya dari tahanan Bian.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat mu mengerti kalau aku tidak main-main kali ini, apa?"
"Lepas, aku tidak mau apa pun, aku hanya ingin perpisahan itu, lepas."
Bukan melepaskan, Bian justru memeluk tubuh itu lagi, tak perduli meski Zahra terus saja berontak.
"Kamu selalu saja membuat ku marah, padahal setiap kali aku marah, kamu tidak bisa melakukan apa pun juga."
"Lepas, aku bilang lepas."
"Diam."
Mata Zahra terpejam kuat, Bian semakin mengeratkan pelukannya itu, apa yang akan terjadi kali ini, mungkin saja Bian akan benar-benar membunuhnya kali ini.
"Bian, lepas."
"Kenapa, aku ini Suami kamu, apa aku tidak boleh memeluk mu seperti ini, bukankah aku punya hak untuk semua ini."
Bian menelusupkan tangannya kebalik baju Zahra, sontak saja itu membuat Zahra semakin berontak.
"Bian, lepas, jangan seperti ini, lepas."
__ADS_1
Bian mendorong Zahra, tapi dengan kuat ia menarik bajunya hingga semua kancing baju itu lepas.
Zahra menahan dengan kedua tangannya, bagaimana sekarang, siapa yang akan membantunya.
"Apa kamu fikir kamu bisa lari."
Zahra menggeleng, ia melihat Bian yang melepaskan pakaiannya.
Dengan cepat Zahra bangkit dan berlari menghindarinya, tapi malang Bian berhasil menahannnya lagi.
"Gaak," jerit Zahra.
"Jangan bodoh, ini kewajiban mu Zahra."
"Gak, aku gak mau."
Bian menyeretnya ke tempat tidur, mendorongnya kasar, tangan itu kembali menarik baju Zahra.
"Jangan, Bian jangan seperti ini."
"Bian, buka pintunya," ucap Inggrid menggedor pintu.
Bian tampak menyeringai, itu dirasa sangat menakutkan bagi Zahra, tapi bagaimana caranya ia bisa lari.
Setengah pakaian Zahra telah terlepas, dengan kuat Zahra menendang Bian, tapi perlawanan itu tak berarti apa-apa.
"Keterlaluan sekali kau ini."
Bian menjambak rambut Zahra yang nyaris pergi, ia menahan tubuh itu dengan kuat.
"Kamu selalu saja menyakiti dirimu sendiri, apa susahnya kamu menuruti Suami mu?"
Posisi Zahra yang tengkurap memudahkan Bian untuk menenggelamkan wajahnya ke kasur itu, kaki Zahra yang memang masih bebas bergerak di bawah sana berusaha menendang Bian lagi.
Bian tersenyum melihatnya, ia menarik pakaian yang tersisa di tubuh Zahra dengan paksa.
"Emmmm."
Bian menarik kembali rambutnya, kini Zahra bisa bernafas meski tetap harus menahan rasa sakitnya.
"Bian, lepas."
"Jangan membantah ku terus menerus."
"Aaaa."
Mata Zahra terpejam kuat, kedua tangannya meremas sprei di sana, Bian menghentak tubuhnya tanpa perasaan.
Perlakuan macam apa ini, kenapa selalu seperti ini, Bian tak perduli dengan erangan, rintihan bahkan tangisan Zahra saat ini.
"Kita sudah sering melakukan ini, kenapa sekarang kamu harus menolak, kamu selalu saja membuat ku bersalah karena selalu menyakiti mu."
Tak ada yang bisa Zahra katakan, perlakuan Bian sudah sangat menyiksanya, Zahra masih saja tak berdaya menghadapi lelaki itu.
"Ibu, ayo ke kamar Bu."
Inggrid tak lagi bisa mengontrol dirinya, ia ambruk di depan pintu kamar Zahra.
"Bu, ya Tuhan, Ibu."
Suara Zahra di dalam sana sangat menyakiti Inggrid, apa lagi yang dilakukan lelaki itu sekarang.
Padahal Bian yang meminta agar Inggrid membantu mempertahankan pernikahannya, tapi sekarang lelaki itu justru kembali berulah.
"Ibu, ayo Bu bangun."
Inggrid berusaha bangkit saat tubuhnya ditarik untuk bangkit, ia berjalan perlahan mengikuti papahan pembantunya itu.
"Sabar Bu, Ibu harus sabar."
"Telepon Kania sekarang, suruh dia kesini."
"Iya, Ibu ke kamar dulu saja."
__ADS_1
Tak ada jawaban, Inggrid kembali memasuki kamarnya, berbaring di tempat tidurnya.
Dadanya terasa sakit kembali, Inggrid berusaha mengatur nafasnya agar bisa tetap sadar.