Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Kalian Bisa


__ADS_3

Dion menghentikan laju mobilnya, setelah gagal makan siang dengan Zahra beberapa hari lalu, rupanya Dion diundang makan malam di tempat Inggrid.


Bertepatan dengan weekend diesok hari, tentu saja Dion setuju dengan itu, dan sekarang ia sudah sampai di tempat Inggrid.


"Jadi Zahra disini, apa dia tidak dicari Bian."


Dion berjalan dan menekan bel rumah, tak berselang lama pintu terbuka, Dion tersenyum melihat seorang wanita, ia pasti ART di rumah tersebut.


"Selamat malam, saya Dion, diundang Bu Inggrid datang kesini."


"Oh iya, silahkan masuk, Ibu sudah menunggu."


"Terimakasih."


Kedunya memasuki rumah, Dion diantar menemui Inggrid dan Zahra di sana, dua wanita tersenyum menyambut kedatangan Dion.


"Silahkan duduk, tepat waktu sekali kamu datang," ucap Inggrid.


Dion mencium tangan Inggrid, ia juga menyapa Zahra dengan senyumannya.


"Kamu mau langsung makan?" tanya Inggrid.


"Bagaimana bagusnya saja," ucap Dion.


"Baiklah, lebih baik kita makan dulu saja, lagi pula kamu habis perjalanan jauh, sudah pasti lelah."


Dion tersenyum seraya mengangguk, itu memang benar adanya, karena Dion sepulang kantor langsung berangkat, dan tidak sempat makan di jalan juga.


"Ayo makan, Zahra, kamu juga makan."


"Iya, Oma."


Mereka mulai mengambil apa yang diinginkannya, dan menikmatinya dengan tenang, Inggrid kerap kali melihat dua orang itu, mereka terus saja curi pandang dan saling lempar senyuman.


Inggrid mengangguk, meski begitu, Inggrid tak berniat untuk mengganggu keduanya, biarkan saja mereka dengan keinginannya berdua.


"Ish," ucap Zahra pelan.


Dion mengangguk seraya berpaling, mereka menyelesaikan makannya dengan cepat, karena memang sama-sama merasa lapar.


"Oma, terimakasih banyak, makanannya enak sekali," ucap Dion.


"Iya, sama-sama, senang kalau kamu suka."


Dion tersenyum, ia kembali melirik Zahra yang justru memelototinya, tapi itu justru membuat Dion ingin tertawa.


"Ada apa?" tanya Inggrid.


Keduanya menoleh bersamaan, Dion menggeleng begitu juga dengan Zahra.

__ADS_1


"Dion, apa kita bisa bicara serius?"


Dion mengernyit, setelah sempat melirik Zahra sekilas, Dion lantas mengangguk setuju.


"Apa kamu menyukai Zahra?"


Dion diam, kenapa bisa Inggrid bertanya seperti itu, dari mana dia tahu.


"Jujur saja, Zahra sudah ceritakan semuanya."


Lagi dan lagi Dion melirik Zahra, apa maksudnya wanita itu mengatakan semuanya.


"Tidak masalah, itu hak semua orang menyukai orang lain, hanya saja kamu harus ingat keadaannya."


"Aku tidak akan merebut Zahra dari Bian, Oma tidak perlu khawatir, pernikahan mereka pasti akan tetap ada."


"Iya, saya tahu itu, saya juga percaya sama kamu."


"Tapi maaf, kalau sekarang Oma minta aku menjauh dan bahkan melupakan Zahra, aku tidak bisa."


Inggrid melirik Zahra, wanita itu tampak sibuk dengan minumannya.


"Aku tahu tentang pernikahan mereka, tujuan pernikahan mereka aku tahu, dan karena itu aku tidak akan pernah pergi selama Bian tidak bisa menerima dan membahagiakan Zahra."


Dion seketika terdiam, ia merapatkan bibirnya, apa yang sudah dikatakannya, bisa sekali Dion berkata seperti itu.


"Oma, maksud aku ...."


Dion mengangkat sebelah alisnya, dan melirik Zahra, wanita itu tersenyum seraya mengangguk.


"Saya tidak akan menghalangi siapa pun menyukai Zahra, tapi siapa pun itu, dia harus tahu siapa Zahra sekarang, pernikahan mereka harus dihargai, saya yakin suatu hari Bian akan bisa menerima Zahra, dan saya harap kamu tidak pernah mengacaukannya."


Dion diam, itu bukan harapannya, bahkan sedikit pun Dion tak ingin Bian menyukai Zahra, Dion ingin mereka berpisah saja.


"Dion, apa kamu berencana merusak pernikahan mereka?"


"Tidak, mana mungkin aku melakukan itu, aku hanya akan menjaga Zahra, aku akan ada saat dia butuh, saat Bian tidak menghargainya, aku akan ada."


Inggrid mengangguk, sudah seharusnya Inggrid percaya pada mereka, terutama Zahra, wanita itu sudah membuka semuanya, kejujuran Zahra sangat harus dihargainya.


"Saya yang menikahkan mereka, dan saya sangat berharap jika Zahra akan benar-benar jadi pasangan cucu saya untuk selamanya."


"Semoga saja, Oma."


"Tapi rasanya untuk membuat Bian mau menerima Zahra, itu cukup sulit, bukankah meski Bian tahu kalian bertemu, dia biasa saja menanggapinya?"


"Zahra memang bilang seperti itu?"


"Itulah, saya minta kamu datang kesini, saya tidak bermaksud mengecewakan kamu, tapi keadaannya sekarang kamu menyukai wanita yang sudah menjadi istri orang lain."

__ADS_1


Dion mengangguk, tentu saja Dion sadar itu, tapi Dion lebih sadar jika pernikahan itu hanya sandiwara.


"Saya mau kamu membantu Zahra agar bisa membuat Bian menerimanya."


"Apa maksudnya?"


"Seperti apa pun ketidak perdulian Bian, jika terlalu sering melihat Zahra dengan lelaki lain, dia akan marah juga."


Dion menyipitkan matanya, sepertinya Dion mengerti kemana arah bicara Inggrid saat ini.


"Saya yakin, kedekatan kalian berdua akan mampu menyadarkan Bian, jika dia juga menginginkan Zahra."


"Lalu, Oma mau buat Bian cemburu?"


"Bisa saja, bukankah tidak ada yang tidak mungkin, dan mungkin kamu akan ikut berjuang demi kebahagiaan Zahra."


"Aku memang ingin Zahra bahagia, tapi jika perjuangannya terlalu menyakitinya, aku juga tidak mau."


Zahra menoleh, keduanya tersenyum bersamaan, Zahra tidak pernah meminta agar Dion menyukainya, bahkan berfikir tentang itu pun tidak pernah.


"Kamu mau bertahan sama dia, kamu mau membuatnya menerima kamu?"


Zahra mengangguk, paling tidak Zahra sudah berusaha, selebihnya Zahra akan serahkan semua pada Tuhan, mungkin saja pernikahan mereka tiada restu Tuhan, maka tidak akan ada kebersamaan dengan kebahagiaan.


"Aku akan coba bantu, mungkin benar, Bian akan merasa cemburu saat kamu bersama ku."


"Tapi ...."


"Tapi kamu harus ingat satu hal," sela Inggrid.


Keduanya menoleh bersamaan, Zahra tidak mau menyakiti siapa pun, apa lagi lelaki yang terang-terangan menyukainya.


"Zahra adalah Istri Bian, kamu menyukai Istri orang lain, hal apa pun yang akan terjadi pada kalian nanti harus tetap dalam batasannya, dan saat nanti Bian bisa menerima Zahra, kamu jangan pernah membencinya."


Dion mengangguk, perasaannya biar menjadi urusannya saja, Dion memang terlambat mengenal Zahra, dan keadaannya sekarang memang tidak mungkin untuk mereka bersama, tapi harapan akan tetap ada bagi Dion.


"Jangan khawatir, semua akan tetap pada batasannya, aku akan ingat siapa kita."


"Maafkan saya Dion, saya tidak bermaksud egois, tapi saya tidak mau pernikahan cucu saya gagal hanya karena harta."


"Tidak masalah, aku akan melakukan hal yang sama jika jadi Oma."


Inggrid mengangguk, Zahra terlihat hanya diam saja, jika sejak awal Zahra menyukai Dion, mungkin Zahra bisa terhindar dari pernikahan saat ini.


"Zahra," panggil Dion.


Zahra menoleh tanpa menjawab, Zahra tidak tahu harus seperti apa, karena sekarang ia akan melibatkan Dion dalam masalah pribadinya.


"Jangan khawatir, kamu akan mendapatkan keinginan kamu."

__ADS_1


Zahra tersenyum, entahlah, mengingat Bian yang seperti itu, Zahra merasa itu sangat tidak mungkin.


__ADS_2