Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Bukan


__ADS_3

Damar memasuki kantor Melvin dengan penuh semangat, ia sudah mengatakan tidak akan datang ke tempat kerjanya harinya.


Damar benar-benar akan berganti profesi, penuh dengan harapan indah jika saja Damar diterima di tempat tersebut.


"Ruangan Pak Melvin?"


"Sudah buat janji?"


"Saya sudah bertemu kemarin, saya sudah mengatakan akan melamar kerja disini."


"Oh baiklah, mari."


Damar mengangguk, ia diantarkan untuk bisa sampai ke ruangan Marvel.


Damar masuk setelah dipersilahkan masuk oleh pemilik ruangan, Damar tak lupa berterimakasih pada pengatarnya itu.


"Silahkan duduk," ucap Melvin.


"Terimakasih."


"Jadi kamu serius mengganti pekerjaan mu?"


"Tentu saja, hidup terus berjalan dan kita harus bisa mencoba banyak hal."


Marvel mengangguk setuju, itu benar sekali dan itu bisa jadi salah satu semangat hidup.


Damar memberikan berkas lamarannya, dan membiatkan Marvel memeriksanya terlebih dahulu.


Apa pun posisinya nanti, Damar akan terima, asalkan tidak sampai jadi OB, itu tidak lebih baik dari pekerjaan sebelumnya.


"Kamu mau jadi apa, tidak ada lampirannya disini."


"Apa saja Pak, saya harus siap ditempatkan dimana pun."


Marvel mengangguk, dimana Marvel bisa menempatkan Damar, Marvel tidak kenal Damar sebelumnya.


"Saya sedang berusaha membesarkan perusahaan ini, saya butuh orang-orang serius di dalamnya."


"Saya percaya diri kalau saya bisa dipercaya."


"Bagaimana kalau ternyata kamu salah?"


"Sesuai peraturan yang tertera saja Pak, saya siap dengan konsekuensinya."


"Termasuk diberhentikan saat itu juga?"


Damar mengangguk pasti, memang sulit mendapatkan kepercayaan seseorang, dan semua bisa terbukti setelah mereka melihatnya.


Damar tidak merasa pernah berbuat curang dalam hal apa pun, terutama pekerjaan, jadi ia bisa membanggakan diri untuk dipercaya.


"Sales executive?"


Damar mengangkat kedua alisnya, ia sedikit tidak percaya dengan tawaran Marvel, bahkan sedikit pun Damar tidak befikir untuk ada diposisi tersebut.


"Saya butuh orang pintar diposisi ini, dari data diri mu sepertinya kamu bisa ada diposisi ini."


"Tapi ...."


"Kamu ragu, tidak masalah, saya belum dapatkan office boy juga."


"Ah tidak tidak," ucap Damar cepat.


Bagaimana bisa Damar melepaskan pekerjaan lamanya hanya demi jadi OB, itu terlalu buruk baginya.

__ADS_1


Marvel menutup berkas lamaran Damar, tidak ada banyak waktu untuk berfikir, Marvel butuh orang cepat saat ini.


"Saya siap, Pak."


"Jangan asal bicara."


"Tidak sama sekali, saya akan membantu Bapak membesarkan perusahaan ini."


Marvel mengangguk setuju, itu harus dilakukan, mereka memang asing satu sama lain, jadi butuh saling membuktikan untuk bisa saling menghargai.


Setelah mendapatkan persetujuan, Marvel memberikan waktu untuk Damar selesaikan urusannya dengan perusahaan lama.


Damar akan berusaha sebaik mungkin, ia akan kembali secepatnya untuk bergabung dengan Marvel's Group.


"Terimakasih banyak, Pak."


"Oke, tapi waktu mu tidak banyak."


"Siap, saya akan kembali untuk bekerja."


Marvel mengangguk, keduanya berjabat tangan, Damar lantas bangkit dan pamit pergi dari ruangan Marvel.


Senang sekali rasanya, itu sesuai dengan keinginan Damar, Damar akan cari tahu seperti apa tugas sales executive.


"Aku akan berusaha dengan baik, Sintia aku akan melamar mu dalam keadaan terbaik ku."


Damar melompat seraya sesekali berputar, hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah.


Damar seketika diam, ia melihat banyak yang berantakan di lantai sana, Damar melirik wanita di hadapannya.


"Demi apa pun, aku tidak sengaja," ucap Damar.


Dengan cepat Damar jongkok dan merapikan semuanya, wanita itu tampak diam memperhatikannya.


Hingga fokusnya terarah pada tanda hitam di tengkuk Damar, tanda hitam itu terlihat karena Damar yang menunduk sehingga kemejanya tak mampu menutupinya.


Damar memberikan semuanya, tapi wanita itu diam saja, Damar menggerakan tangannya berharap wanita itu akan merespon.


"Kamu marah, ada apa, kenapa diam saja?"


Wanita itu mengerjap, ia menerima berkasnya itu, Damar mengangguk seraya tersenyum.


Lagi dan lagi Damar minta maaf, tapi itu tak sekali pun mendapat respon, Damar tidak mau ambil pusing dengan itu.


"Permisi," ucap Damar seraya melangkah.


"Gio."


Damar kembali menoleh, ia melihat sekitarnya, tidak ada siapa pun di sana, dan wanita itu masih saja menatapnya.


"Gio?" ucap Damar menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu Gio."


Damar mengernyit, ia melihat dirinya sendiri, apa yang membuat wanita itu memanggilnya Gio.


Tidak ada papan nama dipakaiannya, dan lagi siapa Gio, wanita itu pasti ingin berkenalan dengannya, ia hanya sedang basa-basi saja.


"Kamu ...."


"Tidak masalah," sela Damar seraya tersenyum.


Damar kembali menghampirinya, ia meraih tangan wanita itu tanpa permisi.

__ADS_1


"Aku Damar, aku tahu aku memang menarik, tapi sayang aku sudah memiliki wanita yang ku inginkan, jadi jangan cari perhatian ku, sekali lagi aku Damar D-A-M-A-R Damar."


Damar tersenyum dan melepaskan genggamannya, wanita itu tampak mematung, apa pun yang difikirkan wanita itu Damar tidak perduli.


Ia kembali pergi tanpa meliriknya lagi, sudah cukup karena Damar masih banyak urusan, terutama Damar akan segera menemui Sintia.


"Claudia," panggil Marvel.


"Iya, Pak."


Claudia sedikit terkejut dengan panggilan itu, dengan segera ia menghampiri Marvel di sana.


"Apa yang kamu lakukan disana?"


"Maaf Pak, tadi gak sengaja tabrakan sama orang, dan semuanya berantakan."


"Mana orangnya?"


"Dia sudah pergi."


"Baiklah, cepat ke ruangan ku."


Claudia mengangguk, ia mengikuti langkah Marvel memasuki ruangannya.


Sedikit pun Claudia tidak bisa melupakan Damar, siapa lelaki itu, kenapa tanda di tengkuknya membuat Claudia mengingat seseorang.


"Bagaimana, kamu sudah dapat orang?"


"Ini beberapa berkasnya, sebentar takutnya berantakan dan salah orang."


Claudia sibuk memeriksa data orang yang melamar pekerjaan itu, jelas saja jadi tak karuan karena tadi memang semuanya berantakan.


Marvel menggeleng melihat pergerakan Claudia, kenapa bisa seceroboh itu, sampai tabrakan seperti itu bukankah jalannya luas.


"Ini, Pak."


Claudia menggeser berkasnya ke hadapan Marvel, cukup banyak dan sepertinya Marvel senang dengan itu.


Claudia duduk, ia kembali memikirkan Damar, apa benar dia orang yang dimaksudnya, itu tidak bisa dipungkiri Claudia.


"Ini bagus, segera suruh mereka datang."


Claudia tak merespon, ia sibuk dengan fikirannya sendiri sehingga hilang fokus terhadap Marvel.


"Claudia."


"Hah, iya Pak, bagaimana?"


"Ada apa dengan mu?"


"Maaf Pak, saya kurang fokus."


"Bagaimana bisa seperti itu, kamu sedang di Kantor sekarang."


Claudia mengangguk, ia mengakui kesalahannya, tapi mau bagaimana lagi Damar memang mengganggu fokusnya.


Marvel berdecak, ia menyimpan berkas itu dan meminta Claudia untuk keluar saja, itu hanya akan membuat Marvel kesal.


"Sekali lagi saya minta maaf, Pak."


"Sudahlah, banyak minum"


"Permisi."

__ADS_1


Marvel mengangguk, Claudia lantas keluar, ia menggeleng seraya menepuk jidatnya.


Bodoh sekali, ia sampai membuat Marvel kesal seperti itu, tapi siapa Damar apa benar namanya Damar.


__ADS_2