
Kania berjalan melewati Inggrid, cukup lama mereka terdiam di sana, tapi Zahra dan Damar seperti tidak menyadari keberadaan mereka.
Dua orang itu tetap saja asyik dengan candaannya, dan Kania tidak bisa terima itu, disaat Bian tertekan di sana, Zahra justru berbahagia dengan lelaki lainnya.
"Seperti ini tingkah kalian?"
Keduanya seketika terdiam, mereka menoleh bersamaan, Damar langsung bangkit dan mengangguk hormat pada Kania.
"Apa yang kalian lakukan, dan kamu, siapa yang menyuruh mu datang kesini?"
"Aku tadi ...."
"Aku yang memintanya datang," sahut Zahra.
Keduanya menoleh bersamaan, sama-sama tak percaya dengan apa yang dikatakan Zahra itu.
"Apa maksud kamu?" tanya Kania.
"Aku merasa bosan disini, aku fikir aku bisa minta bantuannya untuk menemani aku disini, makanya sekarang dia disini."
"Kamu bilang bosan, bukankah kamu yang memutuskan untuk tetap disini sewaktu Mama mengajak mu pergi?"
Zahra mengangguk, itu memang benar, Zahra memang tidak mau bertemu Bian meski pun hatinya memaksa untuk menemuinya.
"Zahra, omong kosong apa ini, kamu tahu Bian begitu menderita disana, dan disini kamu malah asyik sama dia."
"Tante, maaf ...."
"Bukankah itu yang selalu Bian lakukan pada ku?" sela Zahra.
Damar mengernyit, kenapa Zahra tidak membiarkannya untuk berbicara terlebih dahulu, kalimat Zahra hanya akan membuat salah paham semuanya.
"Aku sudah bilang, aku tidak mau lagi hidup dengan harapan, aku akan menjadi apa yang aku inginkan, dan Mama perlu tahu jika aku sedang menggambarkan sikap anak Mama selama ini terhadap ku."
"Zahra, situasinya berbeda, jangan kurang ajar kamu."
"Kenapa, kenapa aku yang kurang ajar, apa yang aku lakukan dengan Damar, apa kami melakukan hal kotor, atau apa?"
"Ayra," panggil Damar.
Zahra menoleh, keduanya bertahan dalam tatapan satu sama lain untuk beberapa saat.
Inggrid tampak mendekat dengan usahanya sendiri, ia sedikit menarik Damar untuk menjauh dari ranjang Zahra.
"Aku minta maaf," ucap Damar.
"Untuk apa kamu kembali lagi kesini, apa lagi urusan mu dengan Zahra sekarang?"
"Aku sudah bilang, aku yang suruh dia kesini, tidak perlu memarahinya seperti itu."
Inggrid menggeleng, perasaannya semakin tidak suka saja terhadap Damar.
Kenapa mereka harus saling mengenal, benar memang Damar pernah berjasa pada Zahra, tapi Inggrid tidak mau hal itu menjadi alasan Damar mendekati Zahra.
__ADS_1
"Aku senang dia datang."
"Dan kamu benar-benar bisa melupakan Bian?" tanya Kania.
"Itu yang sedang aku perjuangkan."
Kania mengepalkan tangannya, berani sekali Zahra berkata seperti itu, apa dia sengaja mempermainkan mereka semua.
Apa sebenarnya yang jadi keinginan Zahra, setelah berhasil penjarakan Bian, sekarang dia sibuk dengan lelaki lain.
Kania menggeleng, sedikit pun Kania tidak bisa terima itu, tidak masalah jika Zahra mau meninggalkan Bian demi Damar, tapi wanita itu harus mau membebaskan Bian.
"Pulang sekarang, jangan lagi temui Cucu saya," ucap Inggrid.
Damar mengangguk saja, dari pada harus berdebat, lebih baik Damar pergi dulu karena mungkin ia bisa menjelaskan lain waktu.
"Aku permisi."
"Segera pergi," ucap Kania.
"Ra, aku pergi."
"Hati-hati, terimakasih makanannya."
Damar tersenyum seraya mengangguk, kakinya terayun meninggalkan ruangan, paling tidak sekarang Zahra sudah sehat.
"Mau apa kamu sebenarnya?" tanya Kania.
"Apa maksudnya?" tanya balik Zahra.
"Tidak ada niatan seperti itu."
Kania tersenyum kecut, kenapa sulit sekali untuk bersabar menghadapi Zahra, Kania selalu saja merasa kesal dengan wanita itu.
"Apa tidak bisa kamu berhenti berurusan dengannya?" tanya Inggrid.
"Tidak, tentu saja tidak bisa, kenapa, Oma mau larang aku untuk itu?"
"Dia belum tentu baik, kamu jangan ...."
"Aku gak perduli, aku hanya akan lakukan apa pun yang aku mau, baik atau tidak aku tidak mau memikirkannya."
"Kamu fikir bicara mu ini benar?" tanya Kania.
Zahra mengangguk pasti, tentu saja benar untuk pemikirannya sendiri meski pun tidak untuk orang lain.
Zahra menghela nafasnya tenang, ia tidak mau dipusingkan oleh apa pun juga, jadi jangan memaksa Zahra untuk memikirkan hal lain selain dari apa yang diinginkannya.
"Zahra, tidak bisakah kamu berfikir dengan benar?" tanya Kania.
"Aku sudah berfikir dengan sangat benar, aku sudah katakan kalau aku hanya akan melakukan apa yang aku inginkan saja."
"Egois sekali kamu."
__ADS_1
"Tidak perlu mengatai ku seperti itu, aku tidak akan perduli sama sekali, Mama hanya akan lelah terus banyak bicara padaku."
"Semakin tidak sopan saja kamu."
Zahra menghembuskan nafasnya pasrah, apa pun biarkan saja mereka berbicara, Zahra tidak akan menggubrisnya.
Nanti, mereka akan mengerti jika semua yang mereka lakukan hanya akan sia-sia, Zahra tidak mau lagi menuruti apa pun kemauan mereka.
"Aku mau pulang hari ini, bukankah aku sudah baik-baik saja?"
"Kamu tahu kalau kamu pulang besok," ucap Inggrid.
"Kenapa tidak sekarang, sama saja bukan?"
"Ikuti saja aturannya, jangan berisik, lagi pula itu untuk kebaikan mu sendiri."
Zahra mengangguk, baiklah kalau begitu, lebih baik sekarang Zahra tidur saja.
Ia lantas berbaring dan memejamkan matanya, Kania dan Inggrid saling lirik, bahkan Zahra tidak bertanya sedikit pun tentang Bian.
"Aku tidak mengerti lagi harus seperti apa bersikap padanya," ucap Kania.
Inggrid hanya diam saja, ia memilih bertahan menatap Zahra, bukankah ia juga tidak mengerti dengan Zahra yang sekarang.
"Aku harus pulang sekarang, Mami kembali saja ke kamar."
"Terserah kamu saja."
Kania lantas membawa Inggrid ke ruang rawatnya, tidak ada lagi kesabaran untuk bicara dengan Zahra.
Wanita itu sangat menjengkelkan, sikap dan bicaranya begitu semena-mena, Kania tidak bisa menerima semua itu.
"Aku tidak akan pernah bisa bicara baik-baik sama dia kalau seperti itu."
"Bukannya kamu tahu kalau Zahra sedang memikirkan semuanya, harusnya kamu paham jika ini semua bukan sesuatu yang mudah juga untuknya."
Kania tak menjawab, Zahra sendiri yang membuat kekacauan itu, seharusnya dia bisa mengatasinya dengan baik.
Aneh sekali memang, sepertinya wanita itu memang selalu memaksakan diri dalam segala hal.
Kania membantu Inggrid berpindah untuk berbaring, sebaiknya memang Kania pulang agar bisa menenangkan diri.
"Mami mau apa, sebelum aku pulang, biar aku siapkan."
"Tidak ada apa pun, pulang saja kalau mau pulang, Mami mau istirahat saja.
"Nanti aku suruh Mbak Nur kesini, dia bisa jaga Mami dan Ayra."
"Iya, terserah kamu saja."
"Kalau ada apa-apa, segera kasih kabar."
Inggrid mengangguk, semoga saja ia bisa melakukannya.
__ADS_1
Kania lantas pamit meninggalkan Inggrid, biar saja Kania akan kembali nanti malam kalau memang bisa.
Inggrid memejamkan matanya sesaat, entah kapan semua masalahnya akan berakhir, Inggrid sudah bosan ada dalam keadaan seperti itu.