
Keesokan hari, Bian terbangun dari tidurnya, sudah tidak ada Zahra di sampingnya, wanita itu memang selalu bangun paling awal.
Bian melihat jam di ponselnya, dengan segera ia bangkit dan berlalu memasuki kamar mandi.
"Apa dia menyakiti mu lagi semalam?"
Zahra menoleh, niatnya untuk meneguk susu harus urung karena pertanyaan Inggrid yang baru datang.
"Kenapa kamu tidak kembali ke meja makan?"
"Maaf Oma, tapi Bian ...."
"Dia menyakiti mu, Oma dengar suara kamu semalam."
"Tidak, itu tidak benar, tidak ada apa pun, Bian hanya sedikit bercanda saja."
"Ya, semoga saja itu kejujuran kamu."
Zahra tersenyum, setelah Inggrid duduk, Zahra melanjutkan meminum susunya.
Semua sudah siap dan memang tinggal menunggu Inggrid juga Bian, dan sekarang tinggal Bian yang belum datang.
"Dia tidak ikut sarapan juga?"
"Biar aku lihat dulu."
"Balik lagi, jangan jadi kebiasaan membiarkan Oma makan sendirian."
"Baiklah."
Zahra tersenyum dan berlalu meninggalkan Inggrid, ia memang harus melihat Bian karena Bian belum bangun saat ia pergi tadi.
Sesampainya di kamar, Zahra melihat Bian keluar dari kamar mandi, sepertinya Bian selesai mandi.
"Aku fikir kamu belum bangun."
"Ada apa?"
"Tentu saja untuk mengajak mu sarapan, Oma sudah menunggu."
"Aku akan menyusul, pergilah."
Zahra mengangguk dan kembali pergi dari kamarnya, ia kembali menemui Inggrid di ruang makan sana.
"Kamu kembali seorang diri?"
"Bian sedang pakai baju, dia baru selesai mandi."
"Baiklah."
"Oma, kalau mau duluan silahkan saja."
"Tidak, kita tunggu saja dia datang."
Zahra mengangguk, baiklah memang itu juga yang diinginkannya, Zahra akan menunggu sampai Bian datang dan makan bersama.
"Zahra, bagaimana, kamu sudah periksa ke Dokter, mungkin saja sudah ada kabar baiknya."
"Kabar baik?"
"Siapa tahu kamu sedang hamil sekarang, hanya saja kamu tidak menyadarinya."
Zahra diam, bisakah seperti itu, bahkan Bian tidak pernah lagi menyentuhnya selain dari pada malam itu saja.
__ADS_1
"Zahra, kamu ajak saja Bian ke Rumah Sakit."
"Nanti saja Oma, kalau memang aku merasakan hal lain, aku akan langsung periksa."
"Baiklah, Oma menunggu kabar baiknya saja."
Zahra mengangguk, ia kembali meneguk susunya, tidak ada apa pun yang dirasakan Zahra, dan mungkin memang tidak ada apa pun di rahimnya.
"Maaf, aku membuat kalian menunggu lama."
Keduanya menoleh bersamaan, Bian duduk dan langsung meneguk susunya.
"Malas sekali kamu, jam segini baru selesai mandi."
"Aku tidak ada kegiatan, jadi santai saja."
Inggrid menggeleng, masih seperti itu saja pemikirannya, tidak ada usaha sama sekali untuk merubah keadaan.
"Ayo makan, bukankah hidangan ini untuk dinikmati?" tanya Bian.
"Iya, ayo makan, Oma."
"Ya, makanlah."
Bian melirik Zahra sesaat, apa lagi yang telah mereka bicarakan, tapi apa pun itu Bian tidak mau perduli.
"Kapan kamu mau bawa Istri kamu ke Dokter?"
"Dokter, bukankah dia baik-baik saja?"
"Periksakan rahimnya, siapa tahu sudah ada isinya."
Bian seketika menghentikan kegiatan makannya, ia melirik Zahra yang juga melirik kearahnya.
Untuk apa membahas itu, padahal tadi Zahra sudah menjawabnya dengan benar.
"Zahra baik-baik saja, kalau memang dia hamil, pasti dia merasakan sesuatu."
"Tapi paling tidak periksa saja dulu, agar kalian tahu kapan kalian bisa punya anak."
Bian kembali melirik Zahra, wanita itu tampak berusaha tak perduli dengan perkataan Inggrid, ia hanya sibuk mengunyah makanannya.
"Bian, jangan bilang kalau kamu tidak pernah menyentuh Istri kamu."
Uhuk .... uhuk .... uhuk
Zahra seketika tersendak, sisa makanan di mulutnya menyembur tak karuan, untunglah Zahra berpaling dari meja makan, sehingga semburan itu tidak mengotori makanan lainnya.
"Oma ini bicara apa sih, lagi makan juga, bisa bahas itu lain waktu, kasihan kan."
Bian memberikan minum pada Zahra, dengan cepat Zahra meneguknya, menjengkelkan sekali kenapa harus kalimat itu yang dilontarkan Inggrid.
"Oma bertanya karena Oma tahu, kamu selalu saja mengabaikan dia."
"Ya tapi ini lagi makan."
"Ya apa bedanya, kalau ternyata kita hanya berkumpul saat makan saja?"
Bian diam, baiklah mood pagi harinya telah rusak karena wanita tua itu lagi, kenapa Inggrid tidak pulang saja ke rumahnya sendiri.
"Sudah, kita makan saja, tidak perlu banyak bicara," ucap Zahra menyimpan gelasnya
"Itu yang paling benar," sahut Bian.
__ADS_1
Ketiganya diam, fokus menikmati makanan, hingga beberapa waktu terlewati, makan mereka telah selesai.
Bian langsung pamit dan pergi tanpa menunggu jawaban dua wanita itu, Zahra melirik Inggrid, omelan apa lagi yang akan di dengarnya tentang Bian.
"Seperti itu terus kelakuannya, Oma benar tak berniat lagi memberikan perusahaan padanya, pemalas."
"Jangan seperti itu, mungkin saja Bian seperti itu karena merasa tidak dipercaya."
"Ya harusnya dia berusaha agar bisa dipercaya lagi."
"Makanya kembalikan tanggung jawabnya dulu."
"Bela saja terus, cepat ganti pakaian mu dan temani Oma pergi."
"Mau kemana?"
"Jangan banyak bertanya."
Zahra mengangguk, ia lantas pergi meninggalkan Inggrid sendiri, kemana Inggrid akan membawanya, bolehkan Zahra merasa khawatir.
"Mau kemana kamu?"
Bian menoleh, Zahra kembali memasuki kamar dan melihat Bian dengan penampilan yang sudah berubah.
"Jangan banyak bertanya."
"Jawab saja, kamu mau kemana?"
"Mau menemui Vanessa."
Zahra diam, ia memperhatikan setiap pergerakan Bian, rapi sekali, lelaki itu juga menyemprotkan banyak parfum ke pakaiannya.
Zahra tersenyum, sepertinya kali ini Bian memang sedang jatuh cinta, dan Vanessa adalah wanita yang berhasil membuka hati Bian.
"Kamu menyesal telah memaksa ku menjawab?"
"Tidak, aku juga akan pergi keluar bersama Oma, tolong kamu hati-hati jangan sampai Oma melihat kamu bersama dia."
"Tenang saja, aku akan ke rumahnya, dia sedang tidak enak badan, jadi Oma tidak akan melihat ku bersama dia."
Zahra mengangguk, jawaban yang bagus, dan bisa diterima, Zahra tidak akan menghalangi langkah Bian apa lagi membatasi keinginannya.
Bian akan berubah jika sudah tiba waktunya, meksi pun mungkin, perubahan itu akan ada disaat waktu yang sudah terlambat sekali pun.
"Aku rasa kamu yang harus berhati-hati nanti."
"kenapa?"
"Bisa saja lelaki itu sedang menunggu mu di luar sana, dia akan menghampiri mu saat melihat mu berjalan."
"Lalu?"
"Fikirkan saja sendiri, bukankah kamu cukup pintar untuk mengerti diriku, begitu pun dengan maksud ucapan ku."
"Siapa yang kamu maksud?"
"Kamu tidak sebodoh itu, Zahra."
Bian berlalu keluar kamar, hanya buang waktu saja banyak bicara dengan istrinya itu, Bian akan sangat mengabaikan Vanessa di sana.
Zahra memejamkan matanya, lalu menghembuskan nafasnya berat, ia berjalan dan duduk di tempat tidurnya.
Padahal semalam Bian begitu lembut memperlakukannya, Zahra merasa hangat dengan semua itu, tapi pagi ini perubahan buruknya kembali datang.
__ADS_1
"Bahkan ia semakin terang-terangan tentang wanita itu, sampai kapan, dan kenapa bisa sekali melakukan semua ini."
Zahra menggeleng, sepertinya fikiran Zahra tidak boleh seperti itu karena semua itu hanya akan melemahkannya saja.