Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Sekali Saja


__ADS_3

Kania turun dari mobil, wanita itu diantarkan Kemal ke rumah Zahra, Kemal sengaja hanya mengantarkan Kania saja, karena ia begitu malas untuk melihat Zahra.


Kania membiarkan Kemal pergi, ia lantas berjalan mendekati pintu, niatnya untuk datang pagi menemui Bian harus urung karena Kemal memaksanya untuk menemui Inggrid dulu.


"Oh ada tamu rupanya," ucap Inggrid.


Kebetulan sekali Inggrid ingin keluar, karena ternyata ada Kania di sana.


Kania tersenyum kemudian salam, apa itu bagus atau mungkin buruk, semoga saja Inggrid tidak keberatan dengan kedatangannya saat ini.


"Kamu sengaja kesini, atau kamu salah jalan saja?"


"Aku sengaja kesini, apa Mami keberatan?"


"Tentu saja tidak, tapi kalau tujuan mu untuk membuat ribut, lebih baik kamu pulang."


"Aku tidak akan buat ribut."


Inggrid menganggu, tentu saja itu bagus, Inggrid tidak mau pagi harinya harus kacau karena Kania.


Keduanya memasui rumah, Inggrid membawa Kania untuk duduk di ruang tamu, baguslah Kania datang saat sarapannya telah usai.


"Apa Ayra sudah bekerja lagi?"


"Untuk apa menanyakan itu?"


"Tidak, aku hanya bertanya saja."


"Dia ada di kamarnya, Mami yang larang dia untuk berkegiatan dulu."


Kania mengangguk, baiklah kalau memang seperti itu, Inggrid sedang memanjakan wanita itu.


Kania harus sabar, atau dirinya sendiri yang akan terusir nantinya, Kania masih harus bicara dengan Inggrid.


"Ada apa kamu kesini pagi-pagi, apa benar sudah tidak ada yang perlu kamu urus di rumah mu sendiri?"


"Aku sudah selesaikan semuanya, aku kesini karena memang ada waktu luang."


"Tidak ada yang penting?"


"Ini soal perusahaan."


Inggrid berpaling, apa lagi yang akan dikatakannya, bukankah Inggrid sudah jelaskan kalau tidak akan perduli lagi dengan itu.


Kania mengangguk perlahan, mau bagaimana pun Inggrid harus mendengar keluhannya, dan sudah seharusnya Inggrid mau untuk membantunya.


"Mami, aku mohon tolong bantu Mas Kemal."


"Bantu apa, bukankah dia hebat, dia bisa selesaikan masalahnya sendiri."


"Gak itu gak benar, dia butuh bantuan Mami, tolong jangan biarkan dia kesusahan."

__ADS_1


"Untuk apa seperti itu, Mami tidak akan perduli, kalian sendiri yang menginginkan hal itu."


"Aku mohon, tolong bantulah dia, kembalikan apa yang telah Mami ambil."


Inggrid mengernyit, apa-apaan Kania, enteng sekali ia bicara untuk mengatur Inggrid, tentu saja Inggrid tidak akan mau mengikuti permintaannya.


Kemal sudah membuatnya marah, kenapa mereka tidak bisa membuat Bian sadar, jadi biarkan saja agar mereka tahu bahwa Inggrid masih sangat berpengaruh bagi perusahaan.


"Oma, Oma dimana?" panggil Zahra.


"Disini," sahut Inggrid.


Tak lama kemudian, Zahra tampak menghampiri keduanya, Zahra terdiam sesaat menatap Kania.


Sejak kapan mertuanya itu ada di sana, kalau saja Zahra tahu sedang ada Kania, Zahra tidak akan mau menemui mereka.


"Mama," ucap Zahra seraya salam.


Kania tak menolaknya, ia mengulurkan tangannya sesuai keharusnnya, Kania diam saat Zahra duduk.


Kali ini, Kania harus tenang, ia sudah tahu kalau Inggrid tidak akan mungkin mengabaikan Zahra hanya demi dirinya.


"Papa mana?" tanya Zahra.


"Ke kantor, tadi sempat mengantarkan kesini."


"Kenapa tidak mampir?" tanya Inggrid.


"Katanya harus buru-buru ke Kantor."


Kania mengangguk, mungkin saja Inggrid sengaja ingin membuat Kania kesal, Kania harus bisa mengontrol dirinya sendiri.


Kania melirik Zahra yang hanya diam di sana, apa bisa Kania membahas Bian sekarang, rasanya keadaan Zahra sedang baik-baik saja.


"Ayra, kamu mau menjenguk Bian?"


Zahra menoleh, tentu saja ia tidak mau, untuk apa bertanya seperti itu, menjengkelkan sekali.


"Mama mau kesana, mungkin saja kamu mau temani Mama."


"Tapi aku tidak bisa, aku akan kesana lain waktu."


"Kamu masih berniat mengabaikan Bian, dia selalu saja bertanya tentang kamu disana."


Zahra diam, untuk apa bertanya tentangnya, apa Bian mulai perduli padanya, bisakah Bian merindukannya.


Tentu saja itu tidak mungkin, Bian mengingat Zahra sudah pasti karena ingin dibebaskan, dan Zahra belum mau untuk melakukan itu.


"Zahra, sekali saja kamu temui Bian, buat dia bisa melihat mu."


"Untuk apa?" tanya Inggrid.

__ADS_1


Keduanya menoleh bersamaan, Inggrid tidak mau mood Zahra rusak hanya karena Kania yang membahas Bian.


Wanita itu sedang baik-baik saja sekarang, jadi sebaiknya tidak ada yang boleh mengusik ketenangannya itu.


"Kamu kalau mau kesana, pergi saja sendiri, tidak perlu memaksa orang lain."


"Aku fikir, Zahra mau menemui Suaminya, lagi pula itu tidak ada salahnya sama sekali."


"Diam kamu, jangan buat keadaan kembali buruk."


"Aku gak apa-apa, Oma," sela Zahra.


Kania kembali menatapnya, apa bisa Kania mendapat persetujuan Zahra untuk menemui Bian, apa benar wanita itu tidak lagi merindukan Bian.


Bian selalu mengatakan jika Zahra tidak bisa lama-lama jauh darinya, tapi kenapa sekarang seperti ini, Zahra begitu mengabaikan Bian.


"Zahra tidak akan kesana, kalau pun ia mau datang kesana, mungkin itu hanya kalau polisi yang memintanya."


"Tapi itu tidak mungkin, apa salahnya Zahra menemui Suaminya?"


"Tapi aku gak bisa Ma, tolong mengerti dengan keputusan ku."


Kania diam, benar-benar keterlaluan, tapi Kania tidak boleh marah, bukankah Inggrid masih ada di tengah mereka.


Zahra menunduk sesaat, seharusnya Kania tidak datang jika hanya untuk membahas Bian seperti itu.


"Sudahlah, tidak perlu membahas anak itu, biarkan saja mereka masing-masing, mereka masih butuh waktu untuk introsfeksi diri mereka masing-masing."


"Aku permisi dulu, aku minta maaf karena aku tidak bisa menuruti Mama sekarang, aku harap Mama mengerti."


Zahra bangkit dan berlalu meninggalkan keduanya, Zahra tidak mau semakin kacau karena pembicaraan Kemal.


Lebih baik Zahra di kamar saja tanpa mendengar apa pun, mungkin ia bisa tidur lagi dari pada harus memikirkan Bian.


"Kenapa Mami jadi sama tidak perduli dengan Bian, dia itu cucu Mami."


"Itu benar, tapi kekecewaan Mami terhadapnya sudah lebih dari apa pun, jadi jangan lagi bahas dia disini."


"Mami, Bian butuh kita, kenapa Mami tidak mau bujuk Zahra untuk itu?"


Inggrid tersenyum seraya menggeleng, itu sangat tidak mau dilakukannya, rasa kecewanya terhadap keputusan Zahra itu hanya sesaat.


Sekarang Inggrid merasa jika itu adalah yang paling benar, dan sebaiknya memang Kania saja yang harus berfikir ulang tentang semuanya.


"Kalau Mami tidak mau mengembalikan keadaan baik perusahaan, tolong Mami bantu Bian saja."


"Diamlah, apa kamu tidak bisa diam?"


"Bagaimana aku bisa diam jika keadaan seperti ini, aku gak bisa terus menerus membiarkan Bian ada di sel tahanan seperti itu."


"Tapi Zahra tidak akan mau membebaskannya seharusnya kamu tahu itu."

__ADS_1


Kania mengangguk, baiklah kalau seperti itu, berarti sampai saat ini Kania masih harus bersabar dengan semuanya.


Ia berharap esok lusa Zahra bisa berubah fikiran, dan mau membebaskan Bian lagi.


__ADS_2