
Brukk ...
Vanessa dan Sintia terjatuh bersamaan, saat keduanya tak sengaja saling bertabrakan.
"Apa kau tidak punya mata?" tanya Vanessa kesal.
Sintia menoleh, ia seketika berpaling dengan senyuman kecutnya.
Keduanya lantas bangkit dan merapikan diri masing-masing.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Vanessa.
"Apa yang aku lakukan, ini tempat makan ya sudah pasti aku makan, apa ini tempat wisata?"
"Sintia ...."
"Aduh aku malas bicara dengan mu, buang waktu saja kamu tahu itu?"
Vanessa diam, ia menatap Sintia dengan kesalnya, setelah bebas dari orang rumah, sekarang Vanessa justru bertemu dengan Sintia.
"Bagaimana rasanya sudah gagal berbuat jahat, malu?"
"Diam, Sintia."
"Kenapa aku harus diam, Vanessa kamu tidak bisa melihat dirimu sendiri, kecantikan mu kepintaran mu, dan poin lebih lainnya dari dirimu, kamu tidak sadar itu?"
Tak ada jawaban, Vanessa hanya diam saja bertahan dengan tatapannya terhadap Sintia.
Sintia mengangguk, ia menunduk sesaat dan kembali dengan senyuman penuh di bibirnya untuk Vanessa.
"Vanessa, aku pernah benar-benar mencintai Bian, menginginkan dia sepenuhnya, bahkan ambisi ku lebih besar dari yang kamu tahu, tapi semua hilang setelah Bian menikah setelah aku sadar jika jelas Bian bukan buat aku, apa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama dengan ku, relakan dia."
"Apa menurut mu semudah itu?"
"Kamu fikir aku mudah melakukannya, perjuangan ku juga bukan main-main untuk melupakan Bian, perjodohan yang pernah ada sangat memberi ku harapan terbesar memiliki Bian."
Vanessa balik tersenyum, itu senyuman mengejeknya untuk Sintia.
Sintia mengangguk, tidak masalah biarkan saja seperti itu, Sintia hanya akan mengatakan apa yang ingin dikatakannya tanpa perduli jawabannya.
"Perselisihan tidak akan selesai jika tidak diakhiri, Zahra sudah berusaha mengakhiri semua dengan Bian tapi Bian menolak, dan sekarang Bian sudah jelas mengakhiri semua dengan mu demi Zahra, itu harus bisa menyadarkan mu siapa kamu diantara mereka."
"Kamu fikir aku perduli?"
"Kamu memang tidak memiliki keperdulian sebesar itu terhadap orang lain, kamu adalah orang yang memang sangat egois."
Tangan Vanessa terayun dengan ringannya untuk menampar Sintia, tapi sayang tamparan itu meleset karena Sintia lebih dulu ditarik menjauh darinya.
"Berani kamu sentuh dia?" tanya Dion.
Vanessa mengernyit, kenapa tiba-tiba ada Dion, bukankah Sintia berjalan sendirian tadi.
__ADS_1
Sintia menghembuskan nafasnya berat, kali ini ia beruntung karena selamat dari tamparan Vanessa.
"Kau yang salah tapi orang lain yang kau tampar, kemana fikiran mu itu?"
"Ini bukan urusan mu."
"Benarkah, sayangnya urusan mu itu dengan Bian, dan Bian juga melibatkan ku dalam urusannya dengan mu."
Vanessa menelan ludahnya, tangannya yang gagal menampar Sintia tampak mengepal kuat.
"Sintia, bukankah dia dulu tidak ada di Kota ini?" tanya Dion.
"Memang benar."
"Lalu kenapa dia sekarang disini, apa untuk merusak kebahagiaan orang lain saja?"
Vanessa menggigit pipi dalamnya, apa ini yang disebut cemoohan, Sintia dan Dion kompak mencemoohnya saat ini.
"Ini bukti kalau kamu tidak cocok tinggal di Kota ini, jadi sebaiknya kamu kembali saja ke tempat kamu sebelum disini."
"Siapa kau, berani sekali mengatur ku seperti ini."
"Oke baiklah, kenalkan dulu aku Dion, kamu dengar nama ku Dion."
Vanessa melihat uluran tangan Dion, tanpa basa-basi Vanessa menepisnya kasar, itu tidaklah lucu.
Dion melirik Sintia, keduanya tersenyum bersamaan, harus bagaimana lagi jika mereka memang gemas terhadap wanita itu.
"Sintia, kita pergi dari sini, tidak ada guna berurusan dengan dia."
Dion menepuk keningnya, ia menggeleng dan kemudian mengangguk.
Sintia dan Vanessa mengernyit melihat itu, apa itu berlebihan atau mungkin masih wajar.
"Aku lupa dia Sepupu mu, aku rasa itu sangat tidak pantas."
"Dion, jangan seperti itu."
"Tidak perlu membela ku."
Keduanya menoleh bersamaan, Sintia mengangkat kedua alisnya menatap Vanessa yang mulai emosi.
"Kenapa kamu?" tanya Sintia.
"Kamu tidak perlu berlagak baik di depan ku."
"Loh, kok aku yang berlagak baik sih, Vanessa kamu memang Sepupu aku kan?"
"Tutup mulut mu."
Dion tertawa mendengarnya, sesaat kemudian Sintia juga tersenyum seraya menggeleng.
__ADS_1
Vanessa merasa bingung dengan itu semua, apa maksud dua manusia itu sebenarnya.
"Dion, apa kamu fikir aku benar-benar membelanya?" tanya Sintia.
"Jelas saja tidak, tapi memang dia saja yang terlalu berfikir positif."
Vanessa semakin menguatkan kepalan tangannya, dua manusia itu benar-benar mengejeknya saat ini.
Bisa sekali Sintia melakukan itu, mungkin memang ini terkahir kali mereka akan menjadi saudara.
"Vanessa, aku kesal dengan mu, tapi kekesalan ku tak akan lantas memutusakan tali persaudaraan kita, aku harap kamu bisa berubah setelah ini karena mau tidak mau kita akan tetap bertemu dan bersama."
"Berhenti berbicara, kalimat mu tidak berarti apa-apa."
"Terserah saja, aku hanya mengingatkan mu, kalau kamu tidak bisa terima itu hak kamu sendiri, pada akhrinya kamu juga yang akan mendapatkan pelajarannya."
"Pergi," jerit Vanessa.
Dion dan Sintia saling lirik, keduanya kompak melihat sekitar, tentu saja teriakan Vanessa berhasil menarik perhatian pengunjung lainnya.
Dion menepuk pundak Vanessa sekilas, tidak perlu ada keributan apa pun, tidak akan ada gunanya.
"Lekas sembuh, Nona," ucap Dion seraya berlalu.
Sintia melirik kepergian Dion, dan kembali pada Vanessa di sana.
"Ada apa lagi?" tanya Vanessa.
"Vanessa, aku minta maaf, tapi apa pun yang aku katakan kali ini harus sekali kamu fikirkan, kebencian hanya akan menyakiti perasaan mu sendiri."
"Pergi aku bilang."
Vanessa mendorong Sintia dengan kasarnya, beruntung orang terdekatnya cepat menahan, sehingga Sintia tidak sampai tersungkur.
"Hey, kau ini perempuan, jaga sikap mu."
"Sudah Pak, tidak ada apa-apa, terimakasih banyak," ucap Sintia.
Lelaki itu menggeleng menatap Vanessa, ia berlalu meninggalkan keduanya tanpa bicara.
"Pergi, atau aku akan benar-benar menyakiti mu sekarang."
"Aku tidak takut sama sekali, seharusnya kamu yang takut dengan ucapan mu sendiri, balasannya akan lebih menyakitkan."
Vanessa kembali mengayunkan tangannya, kali ini Sintia sendiri yang menahannya.
"Jangan berani menyentuh ku, aku juga sama seperti mu, bisa melakukan apa saja pada orang yang berani mengusik ketenangan ku."
Sintia membanting tangan Vanessa dengan kasar, ia lantas berlalu begitu saja meninggalkan Vanessa di sana.
Sintia sempat menoleh, jelas saja ia sedih dengan semua itu, tapi Sintia tidak bisa menutupi kekesalannya, kekecewaannya terhadap Vanessa terlalu buruk.
__ADS_1
"Kurang ajar, berani sekali wanita itu, dia akan tahu apa yang akan dia dapatkan dari kejadian hari ini, kamu bukan pahlwan Sintia."
Vanessa mengangguk, ia melihat sekitarnya dan berlalu begitu saja meninggalkan tempat makan tersebut.