
Kania kembali memasuki rumah sakit, hari ini sudah tiga hari Inggrid dirawat di sana, sakot jantungnya kumat dan belum membaik sampai saat ini.
"Terimakasih, Dokter."
"Sama-sama, saya permisi."
Dion mengangguk dan membiarkan dokternya pergi.
"Dion," panggil Kania.
Dion menoleh, ia sedikit heran dengan keberadaan Kania.
"Tante, disini juga," ucap Dion seraya salam.
"Mami dirawat disini, sudah tiga hari."
"Oma, kenapa lagi?"
"Sakit jantungnya kumat lagi."
Dion menggeleng, kasihan sekali, kenapa semakin tua penyakit semakin mudah menghampiri.
Kania melihat sekitar, tidak ada siapa pun di sana, jadi Dion hanya sendirian saja saat ini.
"Kamu sendiri disini?"
"Iya, Mama sakit dan dirujuk ke Rumah Sakit ini, baru hari ini."
"Oh, sakit apa?"
"Sama, jantung juga, tapi Mama juga ada gangguan difungsi ginjalnya."
"Ya Tuhan, yang sabar ya Dion."
Dion tersenyum seraya mengangguk, kalau Inggrid dirawat sudah seharusnya Zahra juga ada bersama mereka.
Tapi kemana wanita itu, apa mungkin ada di ruangan Inggrid atau bisa juga belum datang karena masih sibuk dengan Bian.
"Dion, Tante harus ke ruangan sekarang, kasihan Mami sendirian soalnya."
"Kenapa sendiri, Zahra tidak menemani?"
"Tidak, Zahra sudah pergi sekarang, dan kami belum bisa menemukannya."
Dion mengernyit, kabar macam apa itu, jadi Zahra kabur dari rumah, dan mereka belum menemukannya.
"Kalau kamu melihat dia, tolong kabari kami."
"Zahra lari, sejak kapan?"
"Sudah tiga hari, bersamaan dengan Mami yang masuk rumah sakit."
Dion diam, apa masalah mereka tidak bisa selesai dan sekarang bahkan membuat Zahra melarikan diri.
Kania kembali pamit dan berlalu meninggalkan Dion, kasihan Inggrid kalau ditinggal sendiri terlalu lama.
__ADS_1
Dion melangkah duduk, ia tersenyum singkat mengingat kalimat Kania tentang Zahra yang melarikan diri.
"Aku sudah yakin, pada akhirnya pasti akan seperti ini juga."
Dion mengangguk, ia segera menghubungi Sintia, sepertinya wanita itu juga akan perduli dengan hilangnya Zahra saat ini.
Sintia meraih ponselnya, menutup berkasnya perlahan seraya menjawab panggilannya.
"Kenapa?"
Sintia diam, sebelah tangannya masih bergerak pada keyboard laptopnya.
"Gak mungkinlah, mungkin Zahra lagi jalan saja, biarkan saja nanti juga balik sendiri."
Pekerjaan yang tak bisa ditunda lagi itu harus tetap dikerjakan, Sintia sudah santai sejak dua hari kemarin dan sekarang mulai sibuk lagi.
"Gak mungkin, itu harapan kamu saja kali, jangan mimpi."
Sintia sedikit tertawa, bukankah benar jika Dion memang masih menginginkan Zahra sampai saar ini.
"Aduh aku lagi sibuk, nantilah pulang Kantor aku temui kamu, kamu dimana?"
Sintia justru mengernyit mendengar kalimat Dion, tentu saja ia tak menyangka jika lelaki itu ada di rumah sakit.
Dan lagi Dion mengatakan tentang Kania dan Inggrid yang ada di sana, ada apa dengan mereka sampai kompak seperti itu masuk rumah sakit.
"Ya sudah, nanti siangan aku kesitu mampir, aku ada jadwal di luar juga bisa sekalian lewat."
Selang beberapa saat, fokus Sintia kembali terganggu karena pintu ruangannya yang terbuka.
"Untuk apa kamu kesini?"
Vanessa tersenyum acuh, apa salah kalau dia datang sekarang, lagi pula bukankah mereka saling mengenal.
"Aku sedang sibuk, tidak ada waktu berdebat dengan mu, jadi sebaiknya kamu pergi saja."
"Sombong sekali kamu."
Sintia menggeleng, ia kembali pada laptopnya, itu memang keadaannya dan tidak ada salahnya sekali dengan perkataan Sintia.
Vanessa berjalan mendekat, ia diam memperhatikan Sintia yang begitu fokus dengan pekerjaannya.
"Kamu sudah tahu kalau wanita itu pergi sekarang?"
Sintia diam sesaat, tapi ia tak memperdulikan itu, Dion sudah lebih dulu mengabarinya tentang Zahra.
Vanessa menutup laptop Sintia tanpa permisi, Sintia menoleh, ia menarik tangannya dari keyboard tersebut.
"Kamu masih akan menyalahkan ku, mereka memang tidak akan bisa bersama."
"Ya, jauhkan tangan mu."
Sintia menyingkirkan tangan Vanessa dan kembali berkutat dengan laptopnya, wanita itu pasti sengaja ingin membuatnya kesal.
__ADS_1
"Sintia, aku rasa kalau dia sudah pergi, kita bisa berjuang lagi."
Tak ada respon, Sintia sama sekali tak mau bahas itu, masih banyak yang harus difikirkannya selain dari pada Bian dan Zahra.
"Tapi kalau kamu sudah tidak berminat, itu lebih bagus karena aku bisa aman melangkah sendiri."
"Lakukan saja semau mu, hidup mu urusan mu."
"Ya tentu saja, tapi aku minta, jangan membenci ku kalau aku berhasil mendapatkannya."
Sintia menghembuskan nafasnya sekaligus, lantas menatap Vanessa di sampingnya, dengan senyuman paling tenangnya Sintia mengangguk.
"Silahkan saja, semoga kamu berhasil."
"Aku pasti berhasil, aku rasa kamu belum tahu kalau wanita itu pergi."
"Aku sudah tahu, bahkan aku tahu dimana Zahra berada, jadi kamu jangan bangga dulu bisa mendapatkan Bian dalam waktu dekat, karena Zahra bisa datang kapan saja untuk menggagalkan mu."
Vanessa diam, ia balik menatap Sintia, mencari kebenaran dari apa yang dikatakan wanita itu.
Sintia mengangkat kedua alisnya seraya berbalik kembali ke laptopnya, seharusnya itu cukup untuk membuatnya diam.
"Dimana wanita itu."
"Di tempat yang jauh dari orang-orang memuakan seperti mu, seperti Bian dan seperti mereka semua yang membenci Zahra, jadi silahkan melangkah sesuai kemauan mu karena pada akhirnya, kamu akan kalah juga."
Sintia bangkit, ia melihat sekitar, lama terus seperti itu sudah pasti emosinya akan semakin naik.
Sintia tidak mungkin membuat keributan di tempatnya sendiri, apa kata orang nanti kalau sampai itu terjadi.
"Silahkan pergi, berfikirlah di rumah mu sendiri, jangan disini."
"Kamu mengusir ku?"
"Kalau kamu mau aku usir, aku akan panggilkan security, bagaimana apa kamu siap malu?"
Vanessa mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali ia menjambak Sintia sekarang.
Sintia mengulurkan tangannya, menunjukan pintu keluar untuk Venassa.
"Aku akan temukan dia dimana pun, dan aku akan pastikan kalau dia tidak akan bertemu lagi dengan Bian."
Vanessa berlalu begitu saja meninggalkan ruangan Sintia, melihat dan mendengar itu, Sintia hanya bisa menggeleng heran.
Bagaimana bisa ada orang seperti itu, sudah tahu salah bukannya berubah malah semakin menjadi, mungkin itu yang disebut dengan orang tidak tahu malu atau mungkin tidak tahu diri.
"Sadarkan Sepupu ku itu Tuhan, kasihan sekali dia, apa tidak ada lelaki lain yang bisa bersamanya."
Sintia kembali duduk, pekerjaannya harus tetap jadi yang utama, biarkan saja hal lainnya dulu untuk saat ini.
"Hah, Bian memang keterlaluan, bertemu dengan orang yang keterlaluan juga, pantas saja mereka cocok."
Sintia menepuk bibirnya sendiri, kenapa jadi menggosip seperti itu padahal ia hanya seorang diri.
Tangannya kembali sibuk dengan keyboard itu, bukankah ia sudah mengatakan akan ke tempat Dion, jadi harus segera selesai.
__ADS_1