
Zahra sedang asyik menjajakan kuenya pagi ini, ia sudah berkeliling dan sekarang kuenya sisa sedikit.
Zahra tinggal berjalan santai di dekar rumahnya, di sana juga pasti kuenya akan habis.
"Permisi, selamat pagi, Bu."
Zahra menoleh, ia berfikir suara itu yang menyapanya, tapi ternyata bukan.
Zahra melihst dua orang polisi di sana, mereka sedang berbincang dengan salah satu pelanggan kuenya.
Tak berselang lama, polisi itu kembali pergi, Zahra berpaling sesaat dan segera menghampiri orang tadi.
"Permisi, Bu mau beli kuenya?" tanya Zahra.
"Loh kamu kan?"
Zahra mengernyit, wanita itu melihat sekitar mencari dua polisi yang sempat menemuinya.
"Ada apa, Bu?"
"Kamu yang tadi dicari polisi kan, nama kamu Zahra?"
Zahra diam, polisi mencarinya untuk apa, apa itu suruhan Bian dan keluarganya.
Berarti sekarang Zahra tidak bisa lagi tenang berada di sana, bisa saja polisi mendadak datang ke rumah yang ditinggalinya beberapa waktu belakangan.
"Jadi kamu buronan polisi?"
"Eh bukan, bukan Bu bukan sama sekali."
"Lalu kenapa polisi mencari mu, kamu kan Zahra, saya melihat foto kamu tadi."
Zahra kembali diam, mungkin tidak salah lagi jika mereka yang bertugas untuk menemukan Zahra.
Siapa yang melakukannya, benarkah Bian atau mungkin Inggrid, iya Zahra belum mendengar kabar tentang wanita tua itu.
"Hey, kamu jangan membuat kacau kampung ini, jangan membawa masalah disini."
"Saya bukan orang jahat, Bu."
"Lalu kenapa polisi itu mencari mu?"
"Ini masalah keluarga, saya tidak bisa ceritakan apa pun pada Ibu."
Wanita itu mengangkat kedua alisnya, lagi pula ia tak mau tahu apa pun masalahnya, ia hanya tak ingin jika Zahra merusak nama baik kampungnya.
Zahra lantas pamit, sepertinya wanita itu tidak mau membeli kuenya, kaki Zahra kembali terayun pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Aku harus segera pergi, mereka tidak boleh sampai menemukan aku sekarang."
Zahra mengangguk, ia akan pulang dan mengambil semua barangnya, setelahnya ia akan pergi ke tempat lain saja.
__ADS_1
"Itu Kakak," teriak Dara.
Zahra menoleh, lirikan itu bersamaan dengan lirikan mereka semua, dua polisi itu benar-benar ada di rumahnya sekarang.
Zahra menghentikan langkahnya, ia menyimpan kotak kuenya sebelum sampai ke rumah, Zahra berbalik dan berlari pergi.
"Hey, tunggu," ucap polisi
Keduanya langsung berlari mengejar Zahra, secepatnya lari seorang wanita, pastilah terkejar juga apa lagi dikejar petugas yang memang sudah terlatih.
Zahra berontak saat keduanya menahan langkahnya, Zahra tidak mau berurusan dengan mereka dan semua yang memerintah mereka.
"Tunggu dulu Bu, jangan lari, kami hanya menjalankan tugas."
"Lepas, saya tidak ada urusannya dengan kalian."
"Tapi kami harus membawa Ibu, keluarga Ibu sudah sangat mencari Ibu."
"Saya tidak mau, lepaskan, katakan saja kalau kalian tidak menemukan saya, lepas."
"Tidak bisa Bu, Ibu jangan menyepelekan pekerjaan kami, mari Bu ikut dengan kami."
Zahra berontak, bagaimana bisa ia mengikuti iti semua, Zahra sudah bulat dengan keputusannya saat ini.
Rina tampak menghampiri seraya menggendong Dara, Zahra menoleh dan meminta bantuan agar polisi itu melepaskannya.
"Tidak Zahra, kamu tidak bisa selamanya seperti ini, kalau kamu memaksakan seperti ini, kamu hanya akan membuat Ibu terlibat dalam tindak kejahatan."
"Aku yang datang, bagaimana mungkin seperti itu."
"Gak, aku gak mau, Ibu semua sudah aku katakan, permasalahan ini tidak akan pernah selesai."
"Dengan kamu berlari pun tidak akan membuat semuanya selesai, langkah kamu hanya akan semakin memperkeruh keadaan."
Zahra menunduk, kenapa jadi seperti itu, Rina sendiri yang mempertahankannya untuk tetap ada bersamanya.
Tapi sekarang justru Rina yang memintanya pergi, seharusnya sejak kemarin saja Zahra pergi agar tidak sampai bertemu polisi.
"Mari Bu, ikut kami."
"Gak, aku gak mau."
"Zahra, semua permasalahan ada jalan keluarnya, lakukan dengan baik agar hasil yang kamu dapatkan juga baik."
"Bersama mereka tidak akan ada hal baik, apa Ibu tidak mengerti itu, lepaskan saya lepas."
Zahra terus saja berontak, kenapa mereka tidak bisa mengerti sama sekali, Zahra yang mengalami semuanya sudah seharusnya mereka percaya saja.
Rina tampak menghela nafasnya, di sana mulai ada orang yang berdatangan, situasi ini pasti akan semakin buruk kalau Zahra masih ada.
"Zahra, kamu pulang saja dulu, kamu bisa kembali kesini kapan pun kamu mau, asalkan kamu selesaikan dulu permasalahan kamu."
__ADS_1
"Mari Bu, tolong kerjasamanya jangan menyulitkan tugas kami."
Zahra diam, kalau sekarang ia kembali pada mereka, entah apa lagi yang akan terjadi padanya.
Zahra sudah muak dengan kehidupannya di sana, sedikit pun tidak ada lagi keinginan untuk kembali bersama mereka.
"Mari Bu, semua harus selesai, kami harus menemukan Ibu dan membawa Ibu kembali pada keluarga."
"Pulanglah Zahra, mereka sampai melakukan ini, itu artinya mereka masih perduli sama kamu, meski hanya satu orang saja itu sangat wajib kamu hargai."
Zahra tetap diam, apa benar Inggrid yang melakukan semua ini, benarkah wanita tua itu yang memerintah polisi ini.
Zahra menggeleng, sekarang Inggrid juga tak lagi ada dipihaknya, Inggrid tak lagi mengerti dengan keinginan Zahra.
"Bawa saja, Pak," ucap Rina.
"Gak, aku gak mau Ibu, aku gak mau."
Zahra menggeleng, ia tetap berontak saat dua polisi itu menariknya pergi.
Rina kembali melihat sekitar, apa pun yang mereka fikirkan pasti tidak sesuai dengan kebenarannya, jadi biarkan saja.
"Kakak," teriak Dara yang mendadak menangis.
"Dara, Kakak tidak mau pergi, Dara."
Rina menggeleng, ia memeluk Dara dan berjalan kembali ke rumahnya.
Tangis Dara justru semakin menjadi saat sosok Zahra tak lagi dilihatnya, dengan berbagai cara Rina berusaha mendiamkannya.
Perjalanan Zahra terjadi secepat kilat, sirine mobil polisi telah sangat melancarkan lajunya.
Zahra masih tetap berontak saat ia dibawa memasuki halaman rumahnya, tapi itu tak lantas bisa membebaskannya lagi.
"Permisi."
Tangan itu terangkat hendak menekan bel, tapi pintu lebih dulu terbuka.
"Ayra," ucap Inggrid yang seketika memeluk Zahra erar.
Nasib baik orang pertama yang dilihat Zahra adalah Inggrid, dengan begitu emosi Zahra tak langsung naik.
"Dari mana kamu, kenapa kamu tinggalkan Oma lama sekali?"
Zahra tak menjawab, ia diam saja bahkan tanpa membalas pelukan Inggrid.
Saat ini Zahra merasa semua hanya sandiwara, Zahra tak mau lagi percaya dan termakan semua kalimat manis mereka.
"Ayo masuk, kita masuk ya jangan pergi lagi."
__ADS_1
Pelukan itu dilepas, Inggrid membawa Zahra masuk dan tak lupa mengajak polisi itu juga.
Jantung Zahra mendadak bergemuruh, ia tidak ingin sampai melihat yang lainnya, terutama Bian.