Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jujur Saja


__ADS_3

Kepergian Bian kembali mengingatkan Inggrid pada Zahra, wanita itu sudah pergi sejak tadi saat masih makan.


"Bibi, tolong bereskan."


"Iya, sebentar."


Inggrid pergi dari tempatnya, ia menaiki tangga dan menemui Zahra di kamar sana.


"Zahra," panggilnya.


Zahra menoleh, ia bangkit saat Inggrid menghampirinya.


"Kamu ini kenapa sebenarnya?"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin diam saja."


"Bian kasar lagi sama kamu?"


Zahra menggeleng, keduanya lantas duduk bersaman.


"Jangan hanya diam seperti itu, masalah sekecil apa pun, sebaiknya kamu ceritakan saja, jangan disimpan sendiri."


"Aku sudah katakan, aku rindu mereka."


"Benarkah, apa mungkin ada yang lain lagi?"


"Tidak ada."


"Jangan bohong, kamu sedang berbicara dengan orang tua, saya pernah mengurus anak sebesar kamu, jadi saya tahu bagaimana ketika ia jujur dan juga saat berbohong."


Zahra diam, lalu apa lagi yang harus dikatakannya, bukankah memang itu yang dirasakannya.


"Kamu tidak suka dengan pernikahan kamu ini?"


Zahra tak bergeming, itu benar, ini bukan pernikahan impiannya, Zahra tidak ingin memiliki suami seperti Bian.


"Ayra, jangan hanya diam saja."


Zahra sedikit tersenyum, cara Inggrid memanggilnya semakin membuat Zahra teringat orang tuanya, mereka selalu memanggil Zahra dengan panggilan berbeda.


"Aku tidak apa-apa."


"Atau mungkin mertua kamu yang membuat masalah?"


"Tidak, tidak sama sekali, jangan berfikir terlalu jauh."


Inggrid tersenyum dan meraih kedua tangan Zahra, mengusapnya lembut, bukankah Bian pernah mengatakan jika Zahra akan jadi wanita yang paling disayangi Inggrid, dan sepertinya itu akan jadi kenyataan.


"Ada apa, katakan saja semuanya, Oma tidak akan marah sekali pun itu salah."

__ADS_1


Zahra hanya diam saja, sibuk bergelut dengan pemikirannya sendiri, Zahra tidak mau banyak bicara.


"Zahra, kalau kamu terus diam, kamu sendiri yang akan susah, jadi katakan saja, masalah apa, Bian?"


Zahra balik menatap Inggrid, apa bisa seperti itu, Zahra tidak mau membuat keadaan jadi buruk.


"Ada apa, kamu tidak percaya pada wanita tua ini, apa kamu tidak tahu jika seorang yang sudah tua tidak boleh banyak tingkah, saya sudah katakan tidak akan marah meski itu salah, dan saya tidak mungkin berbohong."


Zahra sedikit tersenyum, bisa sekali Inggrid berkata seperti itu, Zahra berpaling, tapi mungkin sebaiknya memang tidak perlu ada yang ditutupi.


"Ayo katakan," pinta Inggrid seraya mengusap pundak Zahra.


"Aku tidak mau pernikahan ini."


Inggrid mengernyit, ia terdiam sesaat menatap Zahra yang kini kembali menatap dirinya.


"Aku tidak pernah inginkan pernikahan ini, semua terjadi karena paksaan Bian."


"Benarkah?"


"Ini rumah ku, rumah orang tua ku, yang ternyata sudah dijadikan jaminan untuk pelunasan hutang orang tua ku pada orang tua Bian, mereka mengambil rumah ini tanpa aku tahu."


"Lalu?"


"Aku tidak mau rumah ini jadi milik orang lain, bahkan meski itu saudara ku sendiri."


"Karena Bian tidak mau menikah dengan Sintia, dia tidak siap menikah, tidak siap jadi seorang Suami, dia ingin bebas melakukan apa yang diinginkannya, dan dia memaksa ku menikah dengannya dengan imbalan rumah ini akan kembali pada ku."


"Dan keuntungan untuk Bian?"


"Dia tidak perlu menikah dengan Sintia, dia tidak perlu melakukan perannya sebagai Suami, dia bisa tetap bebas dengan dunianya sendiri, dan yang utama ...."


Zahra menelan ludahnya, bisakah Zahra mengatakannya, mungkin saja Inggrid akan menarik kembali keputusannya mempekerjakan Bian hari ini.


"Yang utama apa?"


Zahra tak bergeming, tapi Zahra sudah terlanjur membukanya, biarkan saja meski akhirnya Bian akan membunuhnya nanti, yang jelas Zahra ingin bebas dari semuanya.


"Zahra, kamu terlalu banyak diam, tidak akan ada solusi jika seperti ini terus."


"Bian inginkan perusahaannya kembali, haknya kembali, kekuasaannya kembali, perusahaan yang Oma ambil alih, Bian ingin itu kembali padanya, dan bukankah Oma yang memberi syarat agar Bian menikah, baru aset itu akan kembali padanya."


"Iya itu benar."


"Hanya satu tahun saja, Bian memaksa aku menikah dan bertahan untuk satu tahun, setelah perusahaan itu dikembalikan, kita akan berpisah, tapi aku tidak mau melanjutkan ini, aku mau berhenti sekarang."


Inggrid mengangguk perlahan, ia paham dengan semua yang dikatakan Zahra, dan memang semua itu berawal darinya, tapi Inggrid tidak tahu jika Bian bisa melakukan semua itu.


"Bian sudah menyentuh mu?"

__ADS_1


Zahra mengernyit, sentuhan apa, bukankah Inggrid tahu sendiri Bian sudah berulang kali menyentuhnya.


"Maksud Oma, kalian sudah melakukan hubungan itu?"


Zahra berpaling, ia teringat dengan malam dulu, dimana Bian memperlakukannya dengan kasar, merobek pakaiannya dan menciumnya dengan paksa saat Zahra tak lagi tertutupi.


"Ayra, Bian melakukan pernikahan itu, karena dia mengaku sudah menodai kamu, makanya saya segera menikahkan kalian berdua."


"Tapi itu tidak benar, Bian mencium ku malam itu, dia merobek baju ku, tapi dia tidak melakukan yang lainnya, dia hanya mau pernikahannya segera dilakukan agar aku tidak bisa lari lagi."


Inggrid menatap Zahra, nafasnya yang mendadak memburu dan nada bicara yang mendadak tinggi, membuat Inggrid tak habis fikir dengan kelakuan Bian.


"Dia memang kurang ajar, dia menyentuh ku setelah tidak ada lagi pakaian yang ku pakai, dan dia pergi begitu saja, dia menyuruh lelaki lain menjemput ku untuk membawa ku ke pernikahan itu, dia begitu kurang ajar, dia kasar."


Zahra bangkit tanpa perduli dengan genggaman Inggrid di tangannya, Zahra mengusap air mata yang melintas begitu saja di pipinya, Bian memang buruk, dan seharusnya memang Zahra pergi dari lelaki itu.


"Kamu tidak menyukai Bian?"


Zahra sedikit menoleh, sekali pun ia, Zahra tidak mau mengakuinya, Zahra tidak mau terjebak oleh lelaki seperti itu.


"Zahra, kamu fikirkan ulang semuanya."


"Tidak, aku tidak mau memikirkan apa pun juga, seharusnya yang menikah dengan Bian itu Sintia, bukan aku."


"Tapi Bian menginginkan kamu."


"Bian tidak menginginkan aku, dia memanfaatkan aku saja, apa Oma tidak mengerti?"


Inggrid seketika bangkit saat Zahra mulai membentaknya, Inggrid memang tidak merasakan apa yang Zahra rasakan sekarang, tapi semua sudah terjadi juga.


"Aku tidak inginkan ini semua, aku ingin pergi, aku tidak perlu rumah ini lagi, aku ingin bebas dari sini, dari ikatan palsu ini, aku tidak mau seperti ini."


"Sutt, kenapa kamu jadi seperti ini, tenang dulu, kita sedang bicara baik-baik."


"Aku gak mau seperti ini, suruh dia ceraikan aku sekarang."


"Zahra, diam dulu."


"Gak, aku gak mau, aku mau pergi."


Inggrid menggeleng, ia berjalan mendekat, dan perlahan memeluk Zahra, mengusap kepala dan punggungnya lembut.


"Tenang dulu, tidak ada gunanya kamu seperti ini."


"Lalu aku harus seperti apa, aku tidak mau seperti ini lebih lama lagi, aku juga ingin bebas."


"Kamu bisa bebas, kamu lakukan saja apa yang kamu inginkan, jadi diri kamu sendiri, jangan berubah hanya karena pernikahan paksa ini."


Zahra mengernyit, ditengah isakannya, Zahra mencoba mencerna kalimat Inggrid, apa maksudnya bicara seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2