
Seiring berjalan waktu, kehidupan terus berputar, tidak ada yang bisa dihindari oleh penghuni Bumi selain dari pada menjalaninya.
Nasib baik, kini semua hal buruk telah kembali baik, keadaan yang menjatuhkan telah mampu kembali bangkit.
Hidup damai mulai dirasakan, dari membaiknya Sintia dan Riana akibat kekacauan pesta, sehatnya Vanessa, kembalinya fungsi perusahaan Kemal, dan mental Zahra yang semakin pulih.
"Bye," ucap Zahra melambaikan tangan.
Isma mengangguk, ia diam menatap kepergian Zahra, sudah satu bulan Zahra mengunjungi rumahnya setiap hari.
Perubahannya sangat baik, keceriaan Zahra kembali, sesuai dengan apa yang dikatakan Frans, Zahra mengikutinya, banyak bicara dengan Isma bahkan meski bukan hal penting sekali pun.
"Kamu pasti senang kalau melihat dia, Frans."
Isma tersenyum, memang sudah satu bulan juga Frans meninggalkan rumah karena tugas rumah sakitnya.
Tapi Frans tetap memperhatikan Zahra melalui Isma, Frans juga selalu menghubungi Isma untuk bicara dengan Zahra saat wanita itu datang.
"Pak, kita ke Kantor dulu," ucap Zahra.
"Baik, Bu."
Laju mobil berubah arah, baguslah Zahra mengatakannya dengan cepat, jarak mereka tinggal sedikit lagi untuk sampai kantor.
"Tinggal saja ya, Pak, aku mau disini."
"Iya, Bu."
Mobil berhenti, Zahra lantas keluar dan memasuki kantor, sekarang Bian sudah kembali mendapatkan mobil baru.
Inggrid memberinya hadiah, keadaan baik Zahra sepertinya sudah bisa membuat hati Inggrid sedikit lebih baik pada Bian.
Dan sejak keributan hari ini, Vanessa tidak pernah lagi terlihat, semua orang sempat dekat dengan Zahra tak lagi muncul, entah kemana mereka semua.
"Selamat siang," ucap Zahra seraya membuka pintu.
Bian menoleh, ia tersenyum dan bangkit saat Zahra menghampirinya.
"Kamu kesini, bukannya mau ke tempat Bu Isma?" tanya Bian seraya memeluknya sesaat
"Tadi aku kesana."
Bian mengangguk, ia menarik kursi untuk duduk Zahra, dan kembali duduk seperti semula.
"Semua baik-baik saja?" tanya Zahra.
"Tentu saja, tapi untuk apa kamu kesini, aku akan pergi sebentar lagi."
"Mau kemana?"
"Ke ruang meeting."
"Tidak masalah, pergi saja aku akan menunggu disini, aku sudah suruh sopir untuk pulang, jadi aku tidak bisa pergi."
"Baiklah, aku juga hanya sebentar."
Keduanya tersenyum, hubungan mereka juga semakin baik, Bian benar-benar membuktikan perubahan baiknya terhadap Zahra dan hal lainnya.
Mungkin itu juga yang membuat Zahra bisa merasa tenang, dan lebih nyaman menjalani hari-harinya.
"Kamu tunggu aku pulang?"
"Ya, tentu saja."
__ADS_1
"Sudah bilang Oma?"
"Aku bisa kirim pesan dari sini."
Bian mengangguk, ia tersenyum seraya mengusap kepala Zahra.
Berbaik hati padanya tidaklah merugikan Bian, sama hal dengan kenyamanan yang dirasakan Zahra, Bian juga merasakannya.
"Permisi, Pak Bian, kita harus segera keluar sekarang."
Keduanya menoleh, mereka melihat orang yang terlihat diambang pintu sana.
"Aku keluar dulu ya."
"Oke, semangat."
Bian tersenyum, sempat mencium kening Zahra sesaat sampai akhirnya ia pergi meninggalkannya.
Zahra menghembuskan nafasnya lega, sudah beberapa waktu ia merasakan perasaan yang selama ini diharapkannya.
Merasa disayangi dan diharapkan Bian, Zahra berharap ini akan selamanya, tidak akan ada lagi masalah yang mengganggu hubungan baiknya dengan Bian.
-----
"Mau kemana kamu?"
Damar menoleh, ia mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.
Hubungan Damar dengan keluarga angkatnya memang semakin buruk, ibu tirinya yang tak kunjung pulih semakin membuat keadaan runyam.
"Apa kamu tidak bisa diam di rumah saja?"
"Kenapa memangnya, aku punya urusan ku sendiri, jadi biarkan saja aku dengan urusan ku."
"Selama ini kamu tidak pernah memperhatikam kami."
Malas berdebat, Damar memilih pergi meninggalkan rumahnya.
"Damar."
"Aku kesini hanya mampir sebentar, bukan untuk tinggal."
Damar menggeleng, meski hanya sebentar saja ada di rumah itu, emosinya sudah langsung mencapai puncak.
Tidak ada lagi ketenangan yang bisa didapatkan Damar dari mereka, semua yang dirasakannya adalah kekesalan saja.
"Ada masalah?"
Damar menghentikan langkahnya, ia menoleh dan mengernyit melihat Sintia di belakangnya.
"Wajah mu terlihat buruk."
Damar mengusap wajahnya, ia lantas duduk asal di pinggiran jalan sana.
Sintia tersenyum seraya turut duduk, sebaik hubungan Zahra dan Bian, Sintia dan Damar pun semakin baik.
Mereka semakin dekat lagi sekarang, seperti mendapatkan kenyamanan satu sama lain, mereka kerap saling mencari jika sedang dalam masalah.
"Mau minum, aku beli minum di jalan sana."
Damar menoleh, ia menerimanya dan menegunya segera.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ingin sekali aku berhenti berurusan dengan mereka."
"Mereka orang tua mu sendiri."
"Aku tidak merasakan itu."
Sintia mengangguk, bagaimana ia bisa mengerti jika sekali pun Sintia tidak pernah merasakan ada diposisi Damar.
Tapi mau bagaimana pun, mereka yang sudah membesarkan Damar, sedikit banyak Damar berhutang jasa pada mereka.
"Emmm, kamu sudah makan?"
"Belum, gak ada makanan yang menggoda ku, lagi pula sedang apa kamu disini bukankah ini masih jam kerja."
"Aku disini karena aku merasa ada yang membutuhkan aku, aku sampai meninggalkan pekerjaan ku demi datang kesini."
Damar tersenyum seraya berpaling, entahlah, mungkin memang Damar membutuhkannya sekarang.
Sintia bangkit, ia membersihkan celananya yang mungkin saja kotor.
"Ayo kita cari makan, mungkin saja makan akan membuat mu lebih baik."
"Makan dimana?"
"Dimana saja, yang penting kita bersama dan kamu tidak kesal lagi."
Damar mengangguk pelan, ia lantas bangkit dan merangkul Sintia, membawanya berjalan bersamaan.
Sejak kebersamaan dengan teman-teman Sintia malam itu, Damar memang semakin ketara mendekati Sintia.
Tapi sampai saat ini tidak ada kejelasan apa pun, entah Damar menyukainya atau tidak, dan Sintia juga tidak begitu memikirkan hal tersebut.
"Besok ada acara?" tanya Damar.
"Besok hari libur, dan tadi aku dapat pesan dari Bian, aku diminta ke rumahnya."
"Bian?"
"Ya, tapi aku tidak tahu untuk apa."
Damar mengangkat sebelah alisnya, kenapa harus Bian, mereka sudah lama tidak berurusan.
Sintia melihat sekitar, ia menginginkan tempat makan yang enak saat ini, tapi Sintia tidak tahu dimana letaknya.
"Apa kabar dengan Bian, apa dia masih jahat pada Zahra?"
"Jangan berfikir seperti itu, mereka pasti baik-baik saja sekarang."
"Semoga saja, tapi untuk apa dia menghubungi mu, apa Zahra mengetahuinya?"
"Mana aku tahu, aku tidak tanyakan itu, aku hanya balas ya saja untuk pesannya."
Damar diam, semoga saja lelaki itu bukan berniat bertingkah lagi, kasihan Zahra kalau sampai harus kecewa lagi.
Sintia menoleh, ia sedikit mengernyit melihat Damar yang tampak melamun.
"Kenapa sih, cerita jangan diam saja seperti itu."
"Gak ada, aku keberatan saja lelaki itu mengirimi mu pesan."
"Kenapa?"
"Karena cuma aku lelaki yang boleh kirim kamu pesan."
__ADS_1
Kedunya tersenyum bersamaan, Sintia sedikit memukul dada Damar.
Lelaki itu justru tertawa seraya berpaling, Damar memang kerap membuat Sintia merasa salah tingkah.