Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Akan Ku Bebaskan Dia


__ADS_3

Damar menahan Zahra saat keluar dari ruangan, wanita itu berniat untuk pergi dari mereka semua.


"Ayra, ada apa?" tanya Inggrid.


"Aku tidak mau melihatnya."


"Kamu mau kemana?" tanya Damar.


Zahra menarik tangannya dan kembali melangkah, ketiganya saling lirik, kenapa seperti itu, apa Bian menyinggungnya lagi.


Inggrid hendak menyusul Zahra, tapi Sintia menahannya, lebih baik pastikan keadaan Bian saja.


"Biar aku dan Damar yang susul Ayra, sebaiknya Oma temui Bian, pastikan dia baik-baik saja."


Inggrid diam, sesaat kemudian ia mengangguk dan memasuki ruangan.


"Kamu yakin?" tanya Sintia.


"Zahra bukan orang jahat, kita harus bantu akhiri semua ini," ucap Damar.


Sintia mengangguk ragu, apa bisa seperti itu, melihat kerasnya Zahra yang tak mau merubah fikiran sampai saat ini.


Damar menepuk pundak Sintia sekilas, ia mengangguk seraya berlalu, tak ada waktu berfikir Sintia pun turut menyusul.


Mereka menghampiri Ayra yang terduduk di ranjanganya, wanita itu tampak menoleh sekilas, dan kembali menunduk.


"Apa Bian menyakiti mu lagi?" tanya Damar.


"Tidak."


"Lalu kenapa kamu seperti ini?" tanya Sintia.


Zahra diam, kenapa, Zahra juga tidak tahu kenapa, Zahra hanya tidak sanggup lebih lama di dekat Bian.


"Terus lari tidak akan menyelesaikan masalah, Ayra aku saja yang baru mengenal kamu, sudah merasa bosan dengan keadaan mu, apa kamu tidak bosan dengan semua ini?"


"Aku setuju, berhenti curiga jika aku masih menginginkan Bian, itu tidak sama sekali, aku perduli padamu sebagai sesama wanita, Ayra aku pernah begitu menginginkan Bian tapi ketika aku memutuskan satu pilihan dan aku fokus pada pilihan itu, aku mampu melupakan dia."


Zahra tak bergeming, kepalanya kembali terasa sakit, perasaannya semakin kacau saja saat ini.


Matanya terpejam kuat, Zahra kuat, ia yakin itu, dirinya begitu kuat dan tak ada yang bisa melihat itu.


"Ayra, kebahagiaan akan ada ketika hati mendapatkan kebebasan, bukan tekanan, mungkin kamu bisa rasakan tekanan saat bersama Bian dan tekanan saat kamu melakukan ini semua, mana yang membuat mu benar-benar hancur?" tanya Damar.


"Aku tidak tahu."


"Aku yang hanya melihat dan mendengar pun tahu jawaban pastinya, bagaimana mungkin kamu yang menjalaninya mengatakan tidak tahu, berhenti membodohi diri sendiri Ayra."


Zahra menghembuskan nafasnya berat, berulang kali ia mengela nafas panjang, berusaha mengontrol dirinya yang semakin kalap.


Sintia dan Damar tampak saling lirik, apa yang akan terjadi pada Zahra sekarang, mereka merasa sangat khawatir dengan itu.


"Ayra," panggil Sintia.


"Iya, aku akan membebaskannya," ucap Zahra.

__ADS_1


Keduanya kembali saling lirik, bukankah itu bagus, karena mereka memang mengharapkan itu.


Tidak ada salahnya jika Zahra memberikan kesempatan untuk Bian, tidak ada yang tahu kapan Bian akan berubah dan tidak.


"Aku akan membebaskannya, aku memang merindukannya, jangan khawatir."


"Itu kabar baik, mereka akan sangat memuji mu," ucap Damar.


"Aku tidak tahu, ini benar atau tidak."


Sintia tersenyum, ia meraih tangan Zahra, mengusapnya lembut, perjuangannya untuk mendapatkan Bian dulu memang bukan main-main.


Sintia juga begitu marah pada Zahra yang justru membuat usahanya sia-sia, tapi mungkin jika Sintia berhasil dengan Bian, Sintia yang akan ada diposisi Zahra sekarang.


Sintia tidak inginkan itu, tapi semua sudah terjadi, sekarang Sintia akan mencoba mendukung Zahra saja.


"Kenapa kamu tinggalkan Bian tadi?"


"Aku tidak mau menangis di depannya, dia hanya boleh melihat aku yang tampak kuat, bukan lemah."


Sintia mengangguk, baiklah itu cukup bisa dimengerti, Sintia melirik Damar dan mengangkat kedua alisnya.


Lelaki itu tersenyum, Zahra akan bisa melakukannya setiap saat mulai sekarang, Bian hanya akan melihat Zahra yang kuat, bukan lemah.


"Semangat, kalau dia macam-macam lagi, aku akan menghajarnya paling awal," ucap Damar.


"Aku yang akan memakinya paling keras, tenang saja kamu tidak akan sendirian lagi."


"Apa bisa seperti itu?" tanya Zahra.


Zahra tersenyum, ia menatap keduanya bergantian, apa benar keperdulian mereka berdua, bisakah Zahra percaya pada mereka.


Damar mengusap kepala Zahra, keduanya tersenyum bersamaan, ternyata tidak sesulit yang mereka bayangkan untuk bisa membujuk Zahra.


Wanita itu telah sadar dengan sendirinya, tanpa harus dipaksa lagi, semoga saja kebebasan Bian akan segera tiba.


"Kamu mau kembali ke ruangan Bian?" tanya Sintia.


"Tidak, aku tidak inginkan itu."


"Baiklah, sekarang katakan keinginan mu apa?" tanya Damar.


"Aku ingin melihat kalian berdebat lagi."


Damar dan Sintia saling lirik, permintaan macam apa itu, kenapa buruk sekali.


"Ayra tahu kalau kamu cerewet, makanya dia minta itu," ucap Damar.


Seketika itu Sintia melepaskan sandalnya dan melemparkan pada Damar, beruntung lelaki itu bisa menghindar, dengan gemasnya Damar meledek Sintia karena gagal melemparinya.


Tingkah itu cukup mampu membuat Zahra tertawa, entahlah itu bagus atau justru buruk, kondisi Zahra berubah-ubah dengan mudah.


Sebentar sedih, sebentar senang, semoga saja wanita itu tetap baik-baik saja, setelah semua yang dialaminya, seharusnya dia menjadi wanita paling kuat.


 

__ADS_1


Kania terlihat datang memasuki ruangan Bian, ia menatap tidak percaya jika putranya telah kembali sadar.


Dengan keadaan yang masih lemah, Bian menyambut kedatangan Kania, ia mengusap punggung Kania saat wanita itu memeluknya.


"Sejak kapan Bian sadar?"


"Tidak terlalu lama," ucap Inggrid.


"Dokter sudah memeriksanya, bagaimana keadaannya?"


"Hanya kesadarannya yang kembali, selebihnya masih sama saja."


Kania menggeleng pelan, paling tidak Kania masih bisa melihatnya hidup sekarang.


Sudah dua kali Bian ada dalam keadaan seperti ini, jelas saja Kania merasa sangat khawatir.


"Kamu sudah makan, kamu pasti harus minum obat."


"Mami gak bawakan dia makanan, dikira kamu akan bawa makanan."


"Aku hanya memasak sedikit tadi, itu cukup untuk sarapan di rumah saja."


"Aku mau masakan Ayra, dia sekarang sudah bisa masak?"


Keduanya menoleh, benar juga, Kania belum sempat tanya keadaan wanita itu, apa dia sudah baik-baik saja.


Seharusnya Zahra berusaha menemui Bian, bukankah wanita itu tahu seperti apa keadaan Bian sejak kemarin malam.


"Dia hebat sekarang, pasti masak pun enak."?


"Itu tidak ...."


"Tentu saja," sela Inggrid.


Kania menoleh, Inggrid telah dengan sengaja memotong kalimat Kania, dan wanita tua itu masih tetap membela Zahra.


Bian tersenyum sekilas, ia berusaha bangun, Kania yang melihatnya justru menahannya agar tetap berbaring.


"Aku harus temui Ayra."


"Diamlah, biar Mama yang temui dia, sudah seharusnya dia yang menemui mu disini."


"Dia sudah menemui ku, biarkan sekarang aku saja yang menemuinya."


Kania mengernyit, apa benar seperti itu, apa itu artinya Zahra sudah baik-baik saja, tapi mana dia sekarang.


Apa Inggrid tidak menahannya untuk tidak pergi, kenapa bukan dia yang menemani Bian saat ini.


"Biarkan aku kesana."


"Keadaan mu masih seperti ini, jadi lebih baik kamu diam dan tunggu dia kembali."


"Dia tidak akan kembali, dia sudah begitu membenci ku."


Kania melirik Inggrid, ada apa saat mereka bertemu, kenapa Bian berkata seperti itu.

__ADS_1


Inggrid hanya menggeleng saja untuk merespon tatapan Kania, sejak tadi Inggrid sudah bertanya, tapi Bian tidak menjawabnya dengan jelas.


__ADS_2