
"Tolong beri tahu aku dimana dia?"
"Dia akan pulang dengan sendirinya, dan itu hanya akan dilakukan jika ia menginginkan pulang."
Bian diam, apa benar Zahra tidak akan kembali, ini sudah terlalu lama Zahra pergi darinya.
"Kamu kenapa?"
"Aku akan cari dia, aku akan bawa dia kembali ke rumah ini."
Inggrid diam saja ketika Bian pergi meninggalkannya, ia yakin Bian tidak akan bisa menemukan Zahra.
Sampai saat ini tidak ada yang tahu jika Zahra sudah masuk di perusahaannya, dan sudah seharusnya memang seperti itu.
Kriingg ....
Inggrid mengeluarkan ponselnya, ada panggilan dari Marvel, apa yang dilakukannya, bukankah mereka sedang meeting saat ini.
"Ada apa, ada masalah saat meeting?"
Inggrid diam mendengarkan kalimat panjang dari Marvel di sana, apa yang didengarnya memang kurang baik.
"Biarkan saja, biar Zahra melakukan apa yang diinginkannya, biarkan dia melakukan apa yang jadi pemikirannya."
Protes Marvel memang sesuai pemikiran Inggrid, tapi untuk saat ini Inggrid hanya ingin percaya pada Zahra.
Masalah untung dan rugi perusahaan bukankah hal biasa, selama Zahra akan mampu bertanggung jawab, tidak akan ada masalah baginya.
"Biarkan saja, kamu hanya harus membantunya, bukan menentangnya."
Nada bicara yang pasrah membuat Inggrid tersenyum, tapi Marvel memang hanya harus menurut saja sekarang.
"Saya akan kesana, tidak akan lama saya sampai."
Sambungan terputus, Inggrid lantas berjalan meninggalkan kamar yang berantak itu.
Ia harus kembali ke kantor, ia harus menemui Zahra dan bicara beberapa hal dengannya.
----
"Buka, buka ayo buka."
Bian menggedor pintu rumah Dion, lelaki itu memiliki keyakinan jika teman baiknya ada hubungan dengan Inggrid dan Zahra.
"Buka, aku tahu kamu dia dalam, Dion."
"Berisik sekali, ada apa ini?"
Bian diam, tentu saja memang Dion yang membukakan pintu.
Bian yang sempat ke tempat kerja Dion, kini ada di rumah Dion karena tidak menemukan lelaki itu di kantor.
"Apa, urusan apa?"
"Mana Zahra?"
Dion mengernyit, pertanyaan macam apa itu, bagaimana bisa Bian menanyakan Zahra padanya.
"Mana dia, kamu pasti membantu untuk menyembunyikan dia?"
"Urusan ku masih banyak, pertanyaan mu hanya akan menimbulkan masalah."
Dion berbalik dan hendak menutup pintunya, tapi Bian lebih cepat memasuki rumah sebelum pintu tertutup.
__ADS_1
"Seperti ini dirimu sekarang, tidak ada sopan santunnya?"
"Tidak perlu banyak bicara, mana Zahra."
"Bagaimana bisa pertanyaan itu dilontarkan padaku, dia Istrimu sendiri."
"Dimana dia, cepat katakan."
Bian menarik baju Dion, kalimat Dion hanya membuatnya kesal saja.
Mendapat perlakuan seperti itu, Dion hanya tersenyum, memang aneh, tapi itulah kenyataannya.
"Mana dia?"
"lepas."
Dion mendorong Bian untuk melepaskan tarikannya, dan itu berhasil, kini Dion terbebas dari lelaki itu.
"Mana dia?"
"Aku tidak tahu, bahkan setelah pertemuan hari itu, aku tidak pernah melihatnya lagi."
"Kamu fikir aku percaya?"
"Terserah, tapi aku sudah mengatakannya."
"Jangan berani berbohong."
Dion kembali tersenyum, ia berpaling seraya mengangguk, apa mungkin Zahra sudah menyerah terhadap Bian.
Wanita itu sekarang pergi meninggalkan suaminya, bisakah Dion menganggap itu kabar baik.
"Apa yang kamu fikirkan?" tanya Bian.
"Apa maksud mu?"
"Fikirkan saja sendiri, silahkan cari di tempat lain, aku tidak menyembunyikannya sama sekali, aku sudah berkata yang sebenarnya."
Bian tetap saja curiga, lalu kemana Zahra pergi, kenapa wanita itu tidak ikut kembali bersama dengan Inggrid, rasanya sangat tidak mungkin jika Zahra tinggal di rumah Inggrid sendiri.
----
"Siang, Bu."
Inggrid mengangguk untuk merespon sapaan karyawannya, ia berjalan dan memasuki ruangan Zahra.
Di sana Zahra sedang bersama dengan Marvel, keduanya tersenyum melihat kedatangan Inggrid.
"Oma kesini," ucap Zahra.
"Tentu saja, bagaimana pekerjaan mu?"
"Dia protes pada ku."
Inggrid melirik Marvel, lelaki itu hanya diam saja, lagi pula bukankah ia sudah mengatakan semuanya tadi.
"Aku hanya berusaha agar mereka mau setuju saja dengan ajaka kerjasama kita."
"Lalu?"
"Tapi dia malah ngomel."
"Karena saya rasa itu memang salah, penawaran dari Bu Inggrid hanya 30% saja yang akan mereka dapatkan, tapi Bu Zahra merubahnya bahkan sampai 45%."
__ADS_1
"Ya tapi dengan begitu mereka jadi mau, kamu gimana sih."
"Tapi kita belum tahu progres perusahaan mereka akan seperti apa, kita tidak boleh sembarangan menawarkan bagi hasil dengan cara seperti itu, kalau celaka nanti kita yang rugi."
"Ya makanya jangan sampai celaka, ish fikiran mu itu buruk sekali."
Inggrid menggeleng melihat mereka berdua, kenapa jadi berdebat seperti itu, padahal Inggrid belum mengatakan apa pun juga.
Kalau hanya akan sibuk berdua, rasanya Inggrid tidak perlu datang saat ini.
"Bagaimana ini, Bu?" tanya Marvel.
Inggrid mengangkat kedua bahunya sekilas, bukankah itu sudah jadi tanggung jawab Zahra.
Jadi, sudah seharusnya juga Marvel berdiskusi dengan Zahra.
"Dia tidak percaya sama aku, biarkan saja, kalau dia keberatan, Oma pindahkan saja dia jangan kerja sama aku."
Dua orang itu mengernyit bersamaan, perlahan Inggrid tersenyum, mendengar kalimat seperti itu Inggrid jadi teringat Bian.
Lelaki itu juga selalu keras kepala atas keputusannya sendiri, meski hasilnya selalu buruk, tapi kali ini semoga saja Zahra memang bisa bertanggung jawab.
"Oma, apa Oma juga mau memarahi ku?"
"Bagaimana bisa, Oma tidak akan tahu kemampuan kamu kalau Oma marahi kamu sekarang."
"Dengar tuh."
Marvel menghembuskan nafasnya sekaligus, ya baiklah, terserah cucu presdir saja, Marvel tidak akan menang berdebat sama mereka.
"Sudahlah, kalian ini kenapa, jalani saja kenapa harus ribut-ribut?"
"Dia tuh ribet."
Marvel mengangkat kedua alisnya, ia diam menatap Zahra, padahal ia hanya mengingatkan saja jika keputusannya mungkin akan salah.
"Apa, kenapa menatap ku seperti itu?"
"Kenapa marah?"
"Malah dilanjutkan lagi, apa pekerjaan kalian sudah selesai?" tanya Inggrid.
"Mana mungkin, pekerjaan ku masih banyak, aku masih kurang pintar dalam bidang ini, mengjengkelkan," eluh Zahra dengan datarnya.
Inggrid dan Marvel justru tersenyum mendengarnya, sedikit lucu, dan sepertinya mereka akan selalu mengingat hal itu.
Marvel lantas bangkit dan pamit pada keduanya, ia juga masih ada pekerjaan yang harus dikerjakan, jadi sebaiknya ia pergi saja.
"Nah, pergilah, kenapa gak dari tadi."
Inggrid menggeleng, Marvel lantas keluar dari ruangan meninggalkan dua wanita itu.
"Oma, bagaimana kalau aku merugikan perusahaan?"
"Ya kamu harus harus ganti dengan keuntungan dari sisi yang lain."
"Bagaimana caranya, aku tidak yakin bisa."
"Coba saja dulu, gagal ketika mencoba itu tidak ada salahnya, asalkan langkah berikutnya harus lebih baik."
"Kenapa Oma tidak kembalikan saja pekerjaan ini pada Bian?"
Inggrid diam, benar juga, bukankah ia sudah bertemu dengan Bian tadi, mungkin sekarang Inggrid harus bicara pada Zahra.
__ADS_1
Inggrid berjalan dan duduk di kursi depan Zahra, ia tersenyum saat Zahra juga tersenyum padanya.