
"Terimakasih banyak, Pak."
"Semoga ini akan terus berlanjut."
Kemal mengangguk pasti, mereka berjabat tangan untuk mengakhiri pertemuannya kali ini.
Kemal kembali mendapatkan semuanya, mereka yang sempat memutus kerjasamanya secara sepihak, kini telah kembali lagi.
Kemal berjalan keluar untuk mengantarkan tamunya itu, tentu saja raut bahagia begitu jelas terlihat di wajah Kemal.
"Selamat siang, Pak."
"Selamat siang, hati-hati di jalan."
Keduanya tersenyum, Kemal kembali memasuki kantor, ia melihat sekitarnya, tempat itu kini sudah penuh lagi.
Perusahaannya telah benar-benar kembali berdiri kokoh, setiap lantas sudah kembali terisi karyawan, meski belum sepenuh dulu.
Beberapa karyawan yang lari saat Kemal susah, tak berniat untuk Kemal panggil kembali, sehingga cukup banyak orang baru yang mengisi perusahaan tersebut.
"Papa," panggil Kania.
Kemal menoleh, ia tersenyum melihat Kania yang datang bersama Inggrid.
"Kalian datang."
"Ini makan siang untuk Papa."
"Terimakasih."
Kemal salam pada Inggrid, ia lantas menerima kotak makan dari Kania.
"Semua sudah kembali?" tanya Inggrid.
"Sudah, aku mendapatkannya lagi."
Inggrid mengangguk, baguslah kalau seperti itu, semoga saja keadaan baik akan terus terjaga.
"Ayo ke ruangan ku."
Mereka kembali ke ruangan Kemal bersama, sembari menikmati makanan yang dibawa Kania, mereka berbincang banyak hal.
"Kamu pertahankan ini?" tanya Inggrid.
"Tentu saja, aku akan lebih menjaganya lagi."
"Jangan sampai ini merubah mu jadi buruk lagi."
Kemal mengangguk, ia meneguk minumannya, itu akan selalu diingatnya.
Kemal akan bertahan dalam semuanya, perihal Zahra yang bahkan sampai saat ini ia belum bisa sepenuhnya suka.
Tapi Kemal sedang berusaha untuk itu, dan bukankah Kemal sudah perlahan membuktikannya.
"Bagaimana keadaan Zahra?" tanya Kemal.
"Dia sudah lebih baik, Mami akan tinggalkan kalian setelah Zahra pulih, jadi jangan berani bertingkah lagi."
"Mami mau pulang?" tanya Kania.
"Tentu saja, jangan berfikir kalian bisa kembali semena-mena terhadap semuanya."
"Kami akan ingat itu," ucap Kemal.
Inggrid mengangguk, rasanya sudah cukup untuk ia turut campur dalam semuanya.
__ADS_1
Keadaan Bian dan Zahra juga sudah membaik, dan hubungan Zahra dengan mertuanya juga sudah lebih baik.
"Mami, kami belum datang ke Kantor baru."
"Datang saja, mungkin kamu mau bantu membangunnya."
"Itu tempat sendiri?"
"Bukan, masih sewa."
Kemal mengangguk, mungkin ia akan datang jika ada waktu luang.
Kemal ingin tahu seperti apa tempat yang siapkan Inggrid untuk lelaki itu, hebat sekali dia bisa mendapatkan semuanya dalam waktu singkat.
"Mami, bagaimana kabar kesehatan Bian?" tanya Kania.
"Entahlah, Zahra tidak ada cerita apa pun lagi, sepertinya mereka belum kembali ke Dokter untuk periksa."
"Apa boleh jika aku bertanya sendiri?"
"Jangan merusak keadaan baik, mereka tahu apa yang harus mereka lakuka."
Kania diam, tapi Kania juga perduli pada putranya, dan dia ingin tahu bagaimana perkembangannya sekarang.
Kemal yang sudah tahu tentang itu juga sama merasa sedih, merasa kecewa, dan memang tidak bisa terima.
"Keajaiban akan selalu datang pada siapa pun, meminta saja dengan benar," ucap Inggrid.
"Tapi mereka tidak akan dapat hasil kalau tidak berusaha, bukankah Bian masih bisa diobati?" tanya Kania.
"Bicarakan ini sama Ayra, jangan sama Mami, tahu apa Mami."
Kania mengangguk, itu memang benar, nanti Kania akan temui Zahra untuk bicara soal itu.
Mungkin Zahra bisa sedikit memberi penjelasan pada Bian tentang semuanya, Kania ingin mereka berusaha bukan diam saja seperti itu.
"Itu bagus," sahut Kemal setuju.
Kania mengangguk, mereka tidak pernah melakukan itu, dan sepertinya tidak ada salahnya untuk mencoba.
"Kapan mereka berangkat?" tanya Kemal.
"Zahra menolak untuk pergi, dia terlalu memikirkan perusahaan jika ditinggalkan oleh Bian."
Kania dan Kemal saling lirik, untuk apa seperti itu, Zahra tidak perlu memikirkan itu sama sekali.
Kania mengangguk, ia akan segera temui Zahra, liburan sepertinya dibutuhkan mereka berdua, dengan harapan hasil terbaik.
"Aku akan bicara sama Ayra nanti," ucap Kania.
"Dia akan banyak bicara, bukankah kalian tahu kalau wanita itu sekarang keras kepala."
"Mami benar, dan sepertinya kita harus siapkan orang untuk bisa dipercaya Zahra menggantikan Bian sementara."
"Mami belum tahu untuk itu."
Kemal mengangguk, biar nanti Kemal yang fikirkan itu, bukankah Kemal juga memiliki beberapa kepercayaan yang masih bertahan dengannya sampai saat ini.
Itu bisa menjadi kepercayaan Inggrid juga, Bian bisa pergi dengan tenang, dan begitu juga dengan Zahra.
Nur membuka pintu rumah, ia mengangguk hormat pada tamunya.
"Cari siapa?" tanya Nur.
__ADS_1
"Zahra ada?"
"Non Zahra, dia sedang sakit."
"Sakit apa?"
Nur diam, ada satu wanita dan satu laki-laki di depannya, lelaki itu tampak terkejut dengan kalimat Nur.
"Sakit apa dia, kenapa diam saja?"
"Frans, sabar dulu."
Nur mengangguk, sepertinya Nur pernah mendengar nama itu, dan Zahra memang mengenalnya.
"Silahkan masuk saja, Non Zahra ada di kamarnya?"
"Boleh kami ke kamarnya?"
"Silahkan."
Nur mempersilahkannya masuk, ia berjalan lebih dulu untuk ke kama Zahra, tentunya meminta izin boleh atau tidak mereka masuk.
Setelah sesaat menunggu, Nur keluar dan mempersilahkan mereka untuk masuk, Zahra mengizinkan mereka masuk sebagai tamu istimewanya.
"Zahra," panggil Isma.
Zahra tersenyum, ia yang kebetulan tengah duduk, seketika memeluk Isma saat sampai di hadapannya.
Nur tersenyum, ia lantas menutup pintu dan pergi untuk membawakan suguhan.
"Sakit apa kamu?" tanya Frans.
Zahra melepaskan pelukannya, ada Frans di hadapannya, jadi lelaki itu sudah kembali lagi sekarang.
"Kesehatan mu kembali drop, sejak kapan?"
"Tidak lama, aku tidak apa-apa, tenang saja."
"Biar aku periska."
"Tidak, aku tidak apa-apa, aku sudah minum obat."
Frans dan Isma saling lirik, kenapa harus tidak mau diperiksa, Zahra hanya perlu berbaring saja.
Isma mengangkat kedua bahunya sekilas, entahlah terserah Zahra saja mau seperti apa.
"Mama kesini, kenapa tidak sejak kemarin?"
Isma menoleh, ia tersenyum seraya duduk, mengusap kepala Zahra sayang.
"Mama kesini karena memang Frans yang ajak, dia baru saja pulang dan mau langsung kesini, katanya tidak enak kalau datang sendirian."
Zahra melirik Frans sekilas, baiklah, itu permintaan bagus karena Zahra jadi bisa bertemu Isma.
"Mana Suami kamu?"
"Bian masih di Kantor, dia pulang malam karena ada pekerjaan yang buru-buru."
"Kamu sedang sakit, dia malah lembur," ucap Frans.
"Biarkan saja, itu sudah jadi tanggung jawabnya."
"Lalu kamu bagaimana?"
"Frans," panggil Isma.
__ADS_1
Frans menoleh, ia diam tanpa berkata lagi, kenapa mereka membiarkan Zahra sendirian seperti itu.
Apa benar keadaannya sudah membaik, tapi meski mentalnya sudah pulih, kalau keadaan sakit seperti itu harusnya bisa ada yang jaga.