
Langkah Bian dan Frans benar-benar perlahan, mereka tidak mau kedatangannya justru akan mengancam Zahra dan Isma di sana.
Dua lelaki itu begitu cekatan mengawasi sekitarnya, mengingat kalimat sopir taxi itu sangatlah menakutkan.
"Bukankah ini tampak kosong, apa mereka sudah dipindahkan?" tanya Bian.
"Aku tidak tahu, kemana aku harus bertanya tentang itu?"
Bian menggeleng, tidak ada ponsel yang bisa dihubungi oleh mereka, sekarang mereka hanya bisa mengandalkan kakinya saja.
Ditengah derap langkah yang berusaha tak bersuara, keduanya harus terkejut karena sentuhan di pundaknya masing-masing.
"Kalian datang."
Keduanya menoleh bersamaan, sosok Isma sangatlah membuat perasaan Frans lega, dengan erat lelaki itu memeluk sang mama.
Sedangkan Bian, ia tampak mencari sosok Zahra yang tak terlihat bersama Isma, bukankah mereka dibawa bersamaan, lalu kemana Zahra sekarang.
"Mama, bagaimana keadaan Mama?"
"Baik-baik saja, tapi Zahra sangat tidak baik."
"Mana dia sekarang?" sela Bian.
Keduanya menoleh, Isma mengatakan jika Zahra pergi untuk membersihkan diri, tapi sampai sekarang wanita itu belum kembali.
Bian menggeleng, ia berlalu begitu saja meski pun tak tahu dimana toilet itu berada.
"Bian, kamu harus hati-hati," teriak Frans.
"Tidak ada siapa pun disini, hanya kita saja."
Frans mengernyit dan menoleh, apa maksudnya hanya kita saja, bukankah mereka ada dalam tahanan.
"Mereka sudah pergi, orang tua Vanessa sudah membawanya pergi."
Frans diam, jadi benar mereka datang untuk menemui Vanessa, sayang sekali Frans gagal mengejar mereka tadi.
"Zahra," teriak Bian.
Keduanya terkejut, teriakan itu begitu panik, ada apa dengan wanita itu.
"Cepatlah," ucap Isma.
Frans berlari lebih dulu, ia berusaha menemukan sumber suara yang sempat didengarnya itu.
"Zahra, kamu dengar aku?"
Frans melihat kamar mandi di sana, ia mendekat dan melihat Zahra tak tampak tak sadarkan diri.
"Kenapa dia, kenapa ada darah?" tanya Frans turut panik.
"Zahra sedang datang bulan, sejak kemarin dia tidak bisa membersihkan diri."
Frans menoleh sekilas, ia mengangguk mendengar kalimat Isma, syukurlah kalau bukan karena terluka.
Frans sedikit memastikan kalau Zahra masih baik-baik saja, Bian pun tak menghalangi itu, bukankah Frans seorang dokter tentu ia akan mengerti keadaan Zahra.
"Ada apa?" tanya Isma.
__ADS_1
"Apa dia tidak diberikan apa pun selama disini?" tanya Frans.
"Tidak, Zahra memang mengeluh sakit di perut dan kepalanya sejak kemarin sore, mungkin karena tidak ada asupan yang masuk ke perutnya, dan bukankah dia masih harus minum obat?"
Bian memejamkan matanya, kedua tangannya mengepal kuat, Vanessa telah menciptakan keadaan buruk itu.
Frans bangkit, tidak ada waktu untuk diam saja, sebaiknya mereka segera membawa Zahra ke rumah sakit.
"Dia terlalu lemah untuk dibiarkan seperti itu, cepat bawa dia ke Rumah Sakit," ucap Frans.
Bian menoleh sekilas, ia lantas menggendong Zahra dan membawanya pergi.
"Mama bisa jalan lagi?"
"Tentu saja."
Frans tersenyum seraya mengangguk, keduanya berjalan menyusul kepergian Bian dan Zahra.
----
"Sudah cukup, ini sudah melewati batas," ucap Inggrid seraya bangkit.
"Mami, kita sedang berusaha menghubungi mereka, tolong tenang," sahut Kania.
Inggrid menggeleng, itu tidak bisa lagi dilakukannya, Zahra sudah pasti tidak baik-baik saja sekarang karena perasaan Inggrid sudah sangat kacau.
"Mami, tunggulah sebentar lagi," ucap Kania.
"Kalian saja yang menunggu, memang tidak ada gunanya kalian disini."
"Mami ....."
Keduanya menoleh bersamaan, Kemal tampak menjawab panggilannya.
"Bagaimana?" tanya Kemal.
Inggrid dan Kania saling lirik, bukankah itu kabar dari Bian, seharusnya memang mereka menunggu saja.
"Kirimkan lokasinya, kami akan kesana."
Inggrid menunduk sesaat, kalau benar itu soal Zahra, tentu perasaan sedikit tenang.
"Kami akan segera kesana."
Sambungan terputus, Kemal mengatakan kalau Zahra sudah ditemukan, hanya saja wanita itu harus kembali masuk rumah sakit.
"Kita kesana sekarang," ucap Inggrid.
"Tentu saja, Mami mau bawa apa dulu?" tanya Kemal.
"Tidak ada, itu tidak penting sama sekali."
Tanpa buang waktu, mereka segera pergi meninggalkan rumah, mereka akan jalan sembari menunggu lokasi yang akan dituju.
----
Mereka mendorong brankar Zahra bersamaann, Isma menarik Frans yang hendak masuk ruang pemeriksaan.
"Tunggu saja disini."
__ADS_1
Dokter juga tampak menghentikan Bian, tidak ada yang bisa masuk ke sana untuk saat ini.
"Pastikan dia baik-baik saja," ucap Bian.
"Kami akan berusaha."
Bian mengusap wajahnya saat pintu ruangan tertutup, ia harus kembali menunggu dengan perasaan yang tak pasti.
"Frans, kamu baik-baik saja?" tanya Isma.
"Iya, aku baik-baik saja."
"Wajah mu sedikit pucat, jangan berbohong."
Frans tersenyum, ia merangkul Isma hangat, bagaimana bisa Frans berbohong terhadap wanita itu.
"Aku terlambat makan tadi, jadi perut ku sedikit sakit."
"Kamu sudah minum obat?"
Frans mengangguk, Isma menghembuskan nafasnya berat, tentu saja itu pasti karena Frans terlalu fokus mencarinya.
Frans melirik Bian yang duduk di sana, jelas saja kejadian ini harus bisa membuatnya lebih sadar lagi.
"Bian," panggil Frans.
"Aku akan buat dia menyesal atas semua ini."
Frans mengernyit, ia sempat melirik Isma sekilas dan kembali pada Bian di sana.
"Tidak ada gunanya seperti itu, Vanessa sudah mendapatkan balasan dari keluarganya langsung, kamu tidak perlu melakukan apa pun," ucap Isma.
"Tidak bisa seperti itu."
"Kalau pembalasan itu tetap kamu lakukan, Zahra selamanya tidak akan ada dalam keadaan baik."
Tak ada jawaban, Bian diam mendengar kalimat Isma, sejak dulu Zahra memang tidak pernah ada dalam keadaan baik.
Hidup bersamanya tak lantas membuat hidupnya baik, bahkan setelah kepergian orang tuanya pun, Zahra tetap ada dalam keadaan buruk.
"Bukankah dia wanita baik, kamu seharusnya tahu harus seperti apa memperlakukannya," ucap Frans.
Bian hanya menoleh sesaat tanpa menjawab kalimat Frans, Bian memang terlalu bodoh untuk bisa mengerti dan melakukan hal baik untuk Zahra.
"Sering kali kita tidak tahu apa yang difikirkan dan diinginkan seseorang, tapi tidak ada salahnya kita mencoba dengan cara sendiri untuk bisa membuatnya mendapatkan itu," ucap Frans.
"Sepertinya Zahra bukan orang yang suka banyak menuntut, sepertinya dia lebih senang melakukan semuanya sendiri," sahut Isma.
"Dia memang tidak pernah meminta apa pun yang berlebihan, tapi sedikit permintaannya pun tidak pernah aku kabulkan."
Isma mengangguk, tentu saja ia tahu tentang itu, bukankah Zahra sudah menceritakan semua kisahnya bersama Bian.
Memang menyedihkan, tapi itu perjalanan hidup yang harus mereka lalui, sekarang setelah semua yang terjadi, Isma mungkin akan berfikir kalau mereka bisa menjadi lebih baik lagi.
"Jika kamu tahu, segala sesuatu yang dipaksakan itu tidaklah baik, maka kamu harus tahu bagaimana cara untuk menghindari segala hal yang tidak baik itu, jika memang paksaan itu akan tetap ada."
Tak ada jawaban, apa Bian harus melepaskan Zahra saja, itu pernah menjadi permintaan terbesar Zahra padanya.
Mungkin dengan begitu, Zahra akan bisa mendapatkan kebahagiaan sendiri, dengan jalan sendiri dan cara sendiri.
__ADS_1