
Hingga malam tiba, Zahra masih bertahan di tempat tidurnya, Bian yang sempat pulang di jam istirahat tak berhasil membawa Zahra ke rumah Sakit.
Dan sampai saat ini, wanita itu masih enggan untuk periksa, ketika Bian akan memanggil dokter ke rumah, Zahra justru kesal padanya.
Tapi imbasnya tetap saja Bian yang kena omel Inggrid, itu menyebalkan, tapi Bian tidak terlihat marah sedikit pun juga.
"Apa sudah membaik?" tanya Inggrid masuk kamar.
Bian menoleh dan mengangkat kedua bahunya sekilas, bukankah Zahra masih saja berbaring di sana.
"Sudah makan?"
"Sudah barusan."
"Minum obat kan?"
"Sudah juga."
Inggrid mengangguk, itu lebih baik sekali pun memang tidak periksa.
Bian membenarkan selimutnya, ia turun dan keluar kamar, biarkan saja Inggrid ada di sana untuk menemani Zahra.
"Ayra, kamu tidur?"
Zahra menoleh, ia menggeleng tanpa mengatakan apa pun.
"Kamu kenapa sebenarnya?"
"Gak apa-apa, aku cuma butuh istirahat."
"Apa susahnya periksa, kalau kamu tidak mau pergi, biar Dokter yang datang kesini."
"Tidak, aku tidak butuh Dokter."
Zahra sedikit tersenyum, ia tidak mau diperiksa, takut kalau ternyata penyakitnya serius.
Bukankah selama ini mereka masih saja membahas kesehatan Zahra, yang bahkan sempat Zahra dengar jika keadaannya belum sepenuhnya pulih.
"Sepertinya kamu butuh liburan, kamu sudah terlalu pusing dengan hidup mu sendiri."
"Sepertinya itu benar."
"Kalau begitu pergi saja, biarkan Bian tidak perlu urus perusahaan, kalian pergi saja."
"Mana bisa seperti itu."
Inggrid berdecak, apanya yang tidak bisa, semua bisa saja dilakukan kalau memang mau.
Zahra berusaha duduk, dan tentu saja Inggrid juga membantunya tanpa diminta.
"Bian baru saja serius, tidak boleh diganggu dulu."
"Apa masalahnya, dia akan terus seperti itu, kamu tidak perlu khawatir, hanya liburan satu minggu saja tidak akan membuat dia jadi gila lagi."
Zahra tersenyum, bahkan itu adalah cucunya sendiri, tapi kalimat Inggrid cukuplah buruk untuk diucapkan.
"Tidak masalah, pergilah, Oma bisa urus Kantor selama kalian pergi."
"Tidak, Oma akan kelelahan nantinya."
"Diamlah, kamu sedang meremehkan Oma?"
"Tidak."
Inggrid menggeleng, ia berpaling sesaat, jika memang Zahra sudah membaik Inggrid akan pulang.
Jadi biarkan saja mereka pergi, Inggrid bisa meninggalkan mereka jika dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
"Kapan kamu mau pergi?"
"Kenapa Oma anggap ini serius, aku hanya bercanda saja, aku tidak perlu liburan."
"Itu bohong," sahut Bian yang kembali masuk.
Keduanya menoleh bersamaan, lelaki itu terlihat membawa segelas teh di tangannya.
"Zahra memang buruh liburan, aku akan membawanya liburan," ucap Bian seraya duduk.
Ia memberikan gelasnya pada Zahra, itu tidak langsung diminumnya, Zahra hanya menggenggamnya untuk merasakan hangatnya.
"Kalian pergi saja, tidak perlu fikirkan hal lain, Kantor akan baik-baik saja."
"Kenapa Oma memaksa sekali?" tanya Zahra.
"Karena Oma perduli padamu," sahut Bian.
Zahra diam, tapi memang itu tidak dibutuhkannya, Zahra tidak perlu liburan karena memang hanya butuh istirahat saja.
Bian memijat kepala Zahra pelan, kenapa Zahra tidak setuju saja dengan itu, Bian juga butuh sedikit hiburan.
"Zahra, apa salahnya kita besantai sebentar, kita belum pernah pergi-pergi berdua, tidak seperti mereka yang selalu pergi bersama sebagai Suami dan Istri."
Zahra mengernyit, memangnya itu hal wajib, bukankah di rumah juga mereka hanya berdua saja.
Di kamar juga cuma berdua, sama saja berdua, kenapa harus repot-repot keluar.
"Aku tahu, kamu sebelum menikah suka banget liburan, kamu tidak pernah ada di rumah kan?"
"Tahu dari mana?"
"Gak penting, Oma, lusa aku akan pergi bawa Zahra juga."
"Mau kemana?" tanya Zahra cepat.
"Itu bagus," ucap Inggrid.
Bian tersenyum, ia menaik turunkan alisnya menggoda Zahra.
Ah malas sekali, bukankah mereka tahu jika Zahra sedang tidak sehat, bagaimana bisa pergi jauh untuk berlibur.
"Sekarang, minum teh hangatnya, kamu tadi minta teh hangat."
"Baiklah, istirahat saja, Oma juga mau istirahat."
Mereka mengangguk, Inggrid lantas pergi meninggalkan keduanya, matanya sudah mulai berat untuk terbuka.
Zahra meneguk teh hangatnya, itu terasa nikmat ditenggorakannya, sejak siang Zahra lebih banyak minum teh dari pada air putih.
"Bian, kamu mau tidur, tidur saja."
Bian berdecak, ia diam saja tanpa menjawab bahkan menoleh.
"Kamu kenapa?"
Tak ada jawaban, Zahra kembali meneguk minumannya, apa Bian ada masalah, mungkin saja lelaki itu ingin bercerita.
Zahra menyimpan gelasnya, ia menarik selimutnya, tubuhnya terasa dingin, entahlah bahkan meski telah ditutupi selimut.
"Kamu ada masalah, kenapa?"
"Gak."
"Aku buat salah, kamu marah sama aku?"
"Gak."
__ADS_1
"Apa sih, kamu kenapa diajak ngomong nunduk terus."
Bian menghembuskan nafasnya sekaligus, ia melirik dan menatap Zahra.
Wanita itu tersenyum, meski kepalanya pusing dan tubuhnya sangat tidak enak, tapi Zahra mau dengarkan Bian kalau memang ingin cerita.
"Kenapa sekarang kamu jadi gak peka?"
"Gak peka?"
"Apa kamu lupa dengan permintaan ku, apa terlalu sulit untuk kamu mengikutinya."
Zahra diam, kemana arah bicara Bian, apa Bian masih membahas liburan.
Zahra mengangkat kedua alisnya, permintaan Bian hanyalah panggilan sayang itu, Zahra seketika tersenyum dan kembali melihat Bian.
"Apa?" tanya Bian kesal.
"Bian, itu terlalu lucu, aku gak bisa seperti itu."
"Ya bagus dong lucu, kenapa gak mau, kamu kurang ajar kalau manggil Suami dengan namanya langsung."
Zahra kembali diam, apa benar seperti itu, tapi meski tidak memanggilnya sayang, Zahra jelas menyayanginya juga.
"Masih tidak mau, kamu memang kurang ajar."
"Hemmm."
"Hemmm doang?"
"Aku gak bisa ih, geli tahu gak."
Bian berpaling, terserahlah, mungkin memang Zahra lebih suka mereka yang ribut terus dari pada dibuat lucu.
Zahra mengangguk, ia memejamkan matanya sesaat, apa Bian sedang manja, rasanya itu sangat tidak pantas.
"Zahra, kita pergi liburan ya?"
"Kamu sendiri panggil aku Zahra, gak ada manis-manisnya, berarti kamu juga kurang ajar sama aku, kamu bukan contoh yang baik."
"Lah, kenapa jadi aku?"
"Ya kamu juga harusnya panggil aku Sayang, jadi aku juga bisa ikut seperti itu, kan sudah diberi contoh yang baik."
Bian menunjukan wajah konyolnya, kenapa jadi Zahra yang menuntutnya, kenapa juga jadi Bian yang kurang ajar padanya.
"Panggil aku Sayang, ayo," ucap Zahra.
"Aahh, sudah tidur sana, tidur tidur berisik kamu."
Zahra tersenyum, ia lantas berbaring dan membenarkan selimutnya.
"Ayo sini tidur," ucap Zahra.
"Aku masih ada pekerjaan."
"Istrimu sedang sakit, kenapa masih sibuk saja dengan pekerjaan?"
Bian tersenyum, ia mencubit kedua pipi Zahra, berisik memang wanita itu.
Zahra menarik tangan Bian, menariknya untuk tidur juga, sudah malam tidak perlu lagi mengurusi pekerjaan.
"Ya sudah tidur," ucap Bian.
"Kamu juga tidur."
"Iya."
__ADS_1
Bian bergerak mendekat, ia memeluk tubuh hangat itu, Bian memang lelah dengan pekerjaannya dan memang butuh istirahat.