
Mata Zahra perlahan terbuka, remang-remang ia melihat, perlahan tapi pasti semua berubah jelas, dan Zahra melihat Inggrid yang menggenggam tangannya.
"Kamu sudah sadar."
Air mata Zahra mengalir begitu saja, sedikit pun ia tak lupa tentang apa yang dilihat sebelumnya.
"Bian, mana dia?" tanya Zahra seraya duduk.
"Mana Bian, dimana dia, kenapa aku justru disini?"
"Tenanglah dulu, kamu tadi tidak sadarkan diri, makanya sekarang disini."
"Mana Bian, dimana dia, dimana Bian, Oma."
"Zahra, diamlah."
Zahra menunduk, ia tak bisa menahan tangisnya, apa yang dilihatnya tadi terlalu buruk.
Inggrid memeluk wanita itu, jujur saja Inggrid juga tak bisa tenang apa lagi menerima keadaan, tapi Inggrid harus kuat agar bisa menguatkan Zahra.
"Mana Bian, aku harus menemuinya, dimana dia."
"Dokter masih menanganinya, sabarlah dulu."
"Dia disini, di ruangan mana, aku harus kesana."
"Zahra, kita tidak bisa masuk, biarkan Dokter selesaikan dulu pemeriksaannya."
Zahra menggeleng, bagaimana keadaan suaminya itu, sudah lama Zahra tidak melihatnya, dan sekarang Zahra harus melihatnya dalam keadaan terburuknya.
"Zahra."
"Gak, aku harus kesana, dimana dia, dimana Bian," jerit Zahra.
"Jangan seperti ini."
Zahra melepaskan pelukan Inggrid, ia turun dan berlari keluar, berteriak memanggil Bian seraya terus melangkahkan kakinya.
Kemana ia harus pergi sekarang, dimana Bian, di ruangan mana lelaki itu ditangani, kenapa fikiran Zahra gelap sekali.
"Ayra," panggil Kania.
Seketika langkah Zahra terhenti, ia menoleh dan segera menghampiri Kania.
"Bian mana, dimana dia, katakan dimana dia."
Bukan menjawab, Kania justru memeluk Zahra dengan eratnya, wanita itu menangis tanpa malu.
Bahkan setelah semua kebenciannya terhadap Zahra, kini pelukan itu sungguh nyata, Kania memeluk menantu yang tak diharapkannya itu.
"Jangan seperti ini, mana Bian, tolong jawab."
"Mama," panggil Kemal.
Keduanya menoleh bersamaan, pelukan itu tak lagi ada karena kedatangan Kemal, Kania berpindah memeluk suaminya.
"Mana Bian, bagaimana keadaannya?" tanya Kemal.
"Dia di dalam, Dokter bilang keadaannya sangatlah buruk saat ini."
Zahra mengernyit, ia melirik pintu di sampingnya, bukankah itu ruangan yang dimaksud Kania, Bian ada di dalam sana.
Zahra segera beranjak dari tempatnya, tapi ia harus menahan kakinya saat Kemal menarik tangannya.
"Mau apa kamu?" tanya Kemal tak suka.
__ADS_1
"Aku harus lihat Bian, tolong lepas."
Kemal menjauhkan Kania, ia menarik Zahra menjauhi pintu ruangan, lagi dan lagi kekacauan terjadi dalam keluarganya, dan semua itu adalah ulah Zahra.
"Berani sekali kamu ada disini, pergi kamu dari sini, tidak perlu memperdulikan anak ku lagi."
"Gak, aku gak akan pergi, aku harus temui Bian."
"Dia tidak membutuhkan mu, wanita licik."
Kemal mendorongnya begitu saja, tapi tak mau kalah, Zahra yang terjatuh itu dengan cepat berbalik dan memeluk kaki Kemal.
Ia menangis di sana, meminta agar dibiarkan masuk melihat Bian, bukankah Zahra berhak untuk itu, untuk melihat keadaan suaminya.
"Tolong biarkan aku masuk, aku mohon."
"Lepas, berani sekali kamu melakukan ini."
Kemal menendangkan kakinya hingga membuat Zahra terjengkang, tangis Zahra tak lantas membuatnya ingin berbaik hati.
"Bagus sekali kelakuan mu," ucap Inggrid.
Kemal menoleh, ia melihat Inggrid yang membantu Zahra untuk bangun, itu sangatlah menjengkelkan bagi Kemal.
"Suruh dia pergi, atau aku yang akan mengusirnya."
"Kenapa tidak kamu sendiri yang pergi?"
Kemal mengernyit, bisa sekali Inggrid berkata seperti itu, begitu besarnya pembelaan Inggrid terhadap wanita tak tahu diri itu.
"Tolong biarkan aku melihat Bian, sebentar saja," mohon Zahra.
"Untuk apa seperti ini, kamu masuk saja jika memang Dokter mengizinkannya."
"Dia tidak boleh menemui Bian," sela Kemal.
Kemal menatap Zahra dengan amarah penuh, jika saja bukan Inggrid yang membelanya, Kemal sudah menyeretnya keluar.
Inggrid mengangguk pada Zahra, ia meminta wanita itu untuk pergi saja tanpa harus memikirkan hal lain lagi.
"Zahra," panggil Kemal kasar.
"Saat seperti ini, kamu bisa mendahulukan kebencian kamu terhadap wanita itu, apa otak mu tidak lagi berfungsi?"
"Mami seharusnya tidak seperti ini, apa Mami tidak sadar kekacauan terus saja terjadi sejak wanita itu masuk di keluarga kita?"
"Lalu itu salah Mami, apa kalian lupa jika kalian yang membawa wanita itu masuk ditengah kita?"
"Tapi tidak untuk sekarang, sudah seharusnya wanita itu pergi tanpa tahanan apa pun, dia hanya bawa sial saja."
"Berhenti berbicara, berani kamu berbicara tinggi seperti itu."
Kemal mengusap wajahnya, Inggrid sangat membuat emosinya semakin naik saja, sangat menjengkelkan.
Zahra berontak dari tahanan suster di dalam sana, rupanya Bian dijaga oleh dua orang suster.
"Siapa yang mengizinkan anda masuk, tolong keluar."
"Kalian melarang ku melihat Suami ku sendiri, apa kalian tidak waras."
"Tolong keluar, anda harus mengikuti segala aturan di Rumah Sakit ini, silahkan keluar."
"Diam ...." jerit Zahra seraya mendorong suster tersebut.
"Kalian yang pergi, untuk apa kalian disini, cepat pergi," jerit Zahra.
__ADS_1
Dua suster itu saling lirik, jika keributan terus terjadi pasti akan jadi masalah, mereka diam dan membiarkan Zahra mendekati Bian.
Tangis Zahra semakin menjadi saat melihat Bian, lelaki itu sangat menyedihkan, begitu banyak alat medis yang terpasang di tubuhnya.
Sampai mulutnya pun tak bisa tertutup karena selang yang dimasukan ke mulutnya, Zahra memejamkan matanya sesaat, inikah takdir Tuhan.
"Lihatlah, aku disini, kamu menanyakan keberadaan ku, kamu meminta ku datang, aku datang sekarang, lihat aku Bian."
Zahra menunduk, karena tak mendapat respon apa pun justru semakin memperdalam tangisnya, nafasnya sudah pendek karena rasa sakit yang dirasakan akibat keadaan Bian.
Zahra memeluk tubuh itu dengan hati-hati, satu alat pun tidak boleh sampai terganggu fungsinya karena pergerakan Zahra.
"Bangun, ayo bangun, kamu harus melihat ku sekarang, Bian bangun."
Dua orang di sana terlihat ikut merasa haru, kasihan sekali Zahra, bukankah itu keadaan yang sangat buruk.
"Bian bangun, kita sudah lama tidak bertemu, kenapa harus seperti ini pertemuan kita sekarang?"
Zahra mengangkat kepalanya, tangannya terangkat perlahan menyentuh pipi Bian, sesulit itu Bian untuk membuka matanya.
"Kamu tidak mendengar ku, aku disini, aku kembali sekarang, bangun, buka matamu dan lihat aku disini, Bian aku mohon."
Zahra menggerakan ibu jarinya untuk mengusap pipi suaminya, tapi itu tak sedikit pun mengusik kesadaran Bian.
"Bian, aku minta maaf, aku sudah sangat mengabaikan mu selama ini, aku bersalah, kamu harus mendengar maaf ku, Bian ayo bangun."
Zahra sedikit menepuk pipi Bian, tapi tetap saja tak memberi perubahan apa pun.
"Bu, sebaiknya kita tunggu pasian sadar, lebih baik Ibu berdoa untuk kesadarannya cepat kembali."
Zahra mendengar itu, tapi Zahra tidak mau memperdulikannya, Zahra kembali mengusap lembut pipi Bian.
"Bangun, aku sudah datang, cepat buka mata mu, apa aku harus memohon."
Zahra memejamkan matanya, berusaha mengatur nafasnya, Zahra benar-benar kehilangan kontrol dirinya sendiri saat ini.
"Bian bangun, bukankah kamu lelaki kuat, kamu gak mungkin kalah dengan keadaan ini, ayo bangun."
Suara Zahra terdengar semakin pelan, ia menatap wajah suaminya itu, ingatan tentang semua sikap kasar Bian mendadak menari diingatannya.
Makian Bian terhadapnya, bentakan Bian, dan semua keburukan lainnya kembali menekan Zahra, kenapa seperti itu.
"Aku tidak masalah Bian, kamu tahu kalau aku selalu berusaha menerima semuanya, aku tidak bisa melihat mu diam seperti ini."
Zahra mencium lembut pipi Bian, ditengah isakannya yang tak bisa ditahan, Zahra diam bertahan dengan kecupannya.
Bukankah ini pertama kalinya Zahra melakukan hal seperti itu, Zahra tidak pernah berani menyentuh Bian meski hanya sedikit saja.
Mata Zahra terpejam, dengan harapan mata itu akan kembali terbuka bersamaan dengan mata Bian yang terbuka.
"Bu, tolong biarkan pasien istirahat dulu."
Zahra kembali membuka matanya, ia juga melepaskan kecupannya, mata itu masih terpejam begitu rapat.
"Kamu lihat, aku sudah berani kurang ajar terhadap mu, ayo bangun, kamu harus memarahi ku karena ulah ku ini, Bian ayo bangun."
Ibu jari Zahra tak berhenti bergerak di pipi Bian, kenapa lelaki itu tak juga meresponnya, bagaimana lagi Zahra harus bersikap.
"Bian kamu bukan orang baik, kamu selalu marah kalau aku berbuat salah, kamu selalu marah meski itu kesalahan kecil, sekarang aku sudah berani mencium mu, kenapa kamu tidak marah."
Zahra merapatkan bibirnya yang bergetar, ia mengigit bibir bawahnya, kenapa air matanya tak kunjung surut.
"Bu, sudah, kasihan pasien."
"Bangun, kamu tahu, aku sangat merindukan mu, merindukan semua perlakuan buruk mu, kamu tidak boleh tidak memarahi ku sekarang, aku sudah mencium mu tanpa izin, jadi ayo marah, Bian ayo marah buka mata mu."
__ADS_1
Zahra menunduk di kening Bian, menangis di sana, Zahra tak perduli meski air matanya harus mengenai wajah Bian.
Mungkin dengan begitu, Bian akan sadar karena marah padanya, Zahra akan senang sekali.