
Dengan bantuan suster, Inggrid bisa membawa Zahra untuk mendapatkan perawatan.
Mereka keluar dengan mendorong kursi rodanya, Inggrid melihat mereka di sana, ia sempat terdiam sesaat ketika melihat Vanessa dan Sintia.
Apa yang mereka lakukan, kenapa bisa ada di sana juga, tidak mungkin jika Kania yang telah memberi tahu mereka tentang Bian.
"Kenapa Zahra?" tanya Sintia.
Bukan menjawab, Inggrid melengos pergi begitu saja.
"Apa dia sakit lagi?" tanya Sintia lagi.
"Biarkan saja dia mati," sahut Kania.
Vanessa dan Kania saling lirik, kalimat macam apa itu, kenapa bisa Kania berkata seperti itu terhadap menantunya sendiri.
"Kenapa Tante bicara seperti itu?" tanya Vanessa.
"Dia sangat memuakan, dia sudah membuat anak saya menderita."
"Bian kenapa?"
Kania menunduk, ia berbalik dan bersandar pada Kemal.
Vanessa mengernyit, ia tidak tahu apa pun, tapi seharusnya mereka bisa menjelaskan meski hanya sedikit saja.
"Aku sudah katakan sama Bian, jika dia sebaiknya melepaskan Ayra, karena aku tahu kalau Ayra hanya beban baginya."
Sintia seketika menyikut Vanessa, berani sekali dia berkata seperti itu, tidak ada sopan santunnya sama sekali.
Vanessa memilih berpindah menjauhi Sintia, itu tidak akan diperdulikannya, ia hanya akan mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
"Aku permisi," ucap Sintia.
Ia berlalu pergi menyusul kepergian Inggrid, Vanessa keterlaluan, ia akan bicara nanti dengannya.
"Seharusnya Om dan Tante bisa sadarkan Bian tentang itu, mereka tidak seharusnya bersama."
"Siapa kamu, berani sekali berkata seperti itu pada kami," ucap Kemal.
"Aku bukan siapa-siapa, tapi aku perduli dengan Bian, selama kami dekat, aku sering mendengar kekecewaan Bian terhadap Ayra."
"Apa maksud mu?" tanya Kania.
"Bian selalu cerita kalau Ayra hanya membuatnya pusing saja, wanita itu selalu membuatnya marah dan marah saja, Bian lebih suka di luar dari pada di rumah itu semua karena ada Ayra."
Kania mengernyit, untuk apa Bian mengatakan hal seperti itu pada Vanessa.
Apa tidak bisa Bian mengatasinya sendiri, lagi pula bukan kalimat itu yang kerap Kania dengar, bukankah Bian selalu membela Zahra.
Bahkan saat Kania meminta mereka untuk berpisah pun, Bian menolaknya dengan keras.
"Bian akan tetap seperti ini jika mereka masih bersama, jika kalian menyayangi Bian, sudah seharusnya kalian tahu harus seperti apa."
"Kamu sedang menceramahi kami?" tanya Kemal.
__ADS_1
"Aku hanya sedang mengingatkan."
Kemal tersenyum sekilas, apa Vanessa sedang bercanda, bahkan sebelum ia berbicar pun Kemal sudah sering meminta mereka berpisah.
Dan rasanya tidak ada yang bisa dipercaya dari perkataan Vanessa, Bian tidak mungkin mengatakan itu tentang Zahra.
"Apa kalian kesulitan menyingkirkan Ayra?"
"Hey, tutup mulut mu itu," ucap Kania.
"Aku rasa kalian harus lakukan itu, kalau memang mau keadaan Bian baik-baik saja, sudah seharusnya wanita itu disingkirkan."
"Vanessa cukup, kamu berkata seperti itu, karena kamu juga mengharapkan Bian, bukan begitu?"
Vanessa diam, baguslah kalau memang Kania mengerti, itu artinya tidak terlalu sulit untuk Vanessa melangkah.
Ia tak perlu berpura-pura untuk mendapatkan perhatian mereka, Vanessa bisa melakukan apa adanya untuk mendekati Bian.
Sintia di sana terlihat berusaha menenangkan Inggrid, wanita tua itu begitu gelisah menunggu hasil pemeriksaan Zahra.
"Oma, sebenarnya ini ada apa, kenapa lagi dengan Zahra?"
"Dia terlalu banyak fikiran, dia pasti stres dengan semua masalahnya dengan Bian."
Sintia diam, bukankah Zahra sudah bisa melewati semuanya, dia sudah terbiasa dengan keadaannya.
Bagaimana bisa sekarang Zahra masuk rumah sakit lagi, itu sangat tidak bisa dimengerti.
"Lalu Bian dimana, kenapa kalian disini?"
"Ada apa, bukankah Bian di sel, apa dia juga mengalami hal yang sama?"
"Bian dipukuli tahanan di sana, dia telah dengan sengaja cari masalah disana."
Sintia diam, bagaimana bisa seperti itu, untuk apa melakukan semua itu, apa Bian tidak takut jika masa hukumannya akan semakin lama.
Sintia menggeleng, entahlah tapi Sintia memang tidak mengerti tentang hukum, dan semoga saja masalah itu tidak berpengaruh pada hukuman Bian.
"Kenapa lama sekali," ucap Inggrid.
"Sabar dulu, kalau sudah selesai pasti keluar juga, semoga Zahra baik-baik saja."
"Untuk apa kamu disini, bagaimana bisa kamu sampai sini?"
"Tadi aku berniat menemui Ayra di rumah, tapi aku keduluan sama Tante Kania, aku melihat Tante menarik Zahra keluar dan membawanya pergi, dan aku mengikutinya sampai sini."
"Dia berbuat kasar pada Zahra?"
Sintia hanya mengangguk saja, bukankah memang itu yang terlihat oleh matanya.
Sintia tidak mengatakan hal lain dari pada apa yang dilihatnya, dan itu adalah kebenarannya.
"Keterlaluan sekali wanita itu."
"Oma harus sabar, jangan sampai ikut sakit."
__ADS_1
Sesaat kemudian pintu terbuka, keduanya tampak bangkit dan mendekati dokter itu.
"Bagaimana?" tanya keduanya bersamaan.
"Pasien mengalami depresi, kenapa bisa sampai seperti itu, saya rasa ini sudah berlangsung lama, kenapa dibiarkan saja?"
Sintia melirik Inggrid, mungkin seharusnya Inggrid tak mendengar itu, tapi semoga saja Inggrid bisa tetap tenang.
"Apa dia sudah sadar?" tanya Sintia.
"Tidak, saya sengaja membuatnya tertidur, biarkan saja dulu, dia butuh tenang untuk beberapa waktu."
"Tapi dia akan baik-baik saja?"
"Semoga saja, apa yang terjadi, bagaimana bisa jadi seperti itu?"
Sintia diam, apa yang harus dikatakannya, ia takut salah bicara jika mencoba menjelaskannya.
Inggrid juga sepertinya tak berminat untuk menjelaskan, mungkin karena itu masalah keluarga, dan Inggrid merasa dokter pun tidak perlu tahu.
"Saya ingatkan agar kalian menjaga perasaan pasien, jangan biarkan dia terus merasa tertekan, itu bisa mengancam mentalnya."
"Dia selalu terlihat baik-baik saja di depan saya."
"Tapi saat dia merasa tertekan, dia akan menunjukannya dengan sempurna, semua akan berubah total dan keadaan baiknya tidak akan terlihat lagi, seharusnya kalian bisa mengerti itu."
Inggrid diam, mungkin itu memang benar, dan Zahra berhasil melakukan sandiwaranya dengan baik.
Kenapa wanita itu melakukan hal tersebut, apa tidak bisa Zahra menjadi dirinya sendiri, menjadi apa yang diinginkan hati kecilnya.
"Besok pagi dia akan sadar, jangan buat dia berfikir terlalu keras, jangan buat dia melamun, sebisa mungkin ajak dia berkomunikasi dengan baik."
"Zahra tidak mungkin gila," ucap Sintia.
"Saya tidak mengatakan itu, dia depresi karena tekanan yang dialaminya, dan kalau terus dibiarkan seperti itu, apa yang kamu katakan bisa jadi kenyataan."
"Hentikan," sela Inggrid.
Berhenti berbicara jika itu bukan hal baik, Zahra tidak akan kenapa-kenapa, Inggrid akan pastikan keadaan baiknya itu.
Dokter lantas pamit, dan meninggalkan keduanya, Inggrid menghembuskan nafasnya berat.
"Oma, duduk lagi saja."
Tak ada penolakan, Inggrid mengikuti Sintia saat membawanya duduk.
"Oma harus tenang, kita harus tenang menggahadapi ini, agar semua bisa tetap terkendali."
"Bukan wanita itu menyedihkan?"
"Zahra itu kuat, aku yakin, dia bisa melewati ini dan kita hanya perlu mendukungnya."
"Dia lemah, dia hanya pura-pura kuat, dia tidak bisa apa-apa."
Sintia diam, entahlah, harus seperti apa Sintia menanggapi soal sosok Zahra, wanita itu terlalu keras kepalanya baginya.
__ADS_1
Dia memaksakan apa yang tak seharusnya dipaksakan, tapi mungkin memang itu yang diinginkannya, Sintia tidak tahu harus berkata seperti apa.