Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Bukan Untuk Ini


__ADS_3

Marvel memperkenalkan Damar sebagai anggota baru di kantornya, menjelaskan posisinya dan tentu saja mereka menyambutnya dengan baik.


Selain Damar, ada beberapa orang lainnya yang juga hadir sebagai anggota baru, mereka saling menyambut satu sama lain.


"Selamat bergabung," ucap Marvel.


Damar dan yang lainnya mengangguk kompak, setelah perkenalan diri, mereka lantas bubar.


Sebagai sesama karyawan baru, Damar dan beberapa orang itu saling berkenalan, awal yang menyenangkan bagi Damar.


"Kita akan bekerja sama," ucap Damar.


"Semangat dan bekerja dengan baik," sahut Lia.


"Oke."


"Baiklah, selesai, kalian sudah tahu tempat kalian masing-masing, jadi silahkan," ucap Marvel.


Mereka lantas pamit dan berlalu meninggalkan Marvel dengan Damar di sana.


"Terimakasih banyak, Pak."


"Lakukan yang terbaik, pergerakan mu cepat untuk saat ini."


Damar mengangguk, ia memang berhasil mengurus semuanya dalam waktu cepat.


Perusahaan lamanya tidak mempersulit Damar untuk berhenti, sehingga Damar bisa dengan cepat masuk di kantor Marvel.


"Oke, selamat berjuang," ucap Marvel.


"Baik, Pak."


Keduanya berjabat tangan, Marvel lantas berlalu meninggalkan Damar, ia harus segera mengurus pekerjaannya.


Damar mengepalkan kedua tangannya, ia sedikit melompat kegirangan, sepertinya tidak akan sulit untuk Damar bersosialisasi di tempat barunya.


"Ini bukan perusahaan besar, belum banyak orang disini, aku tidak merasa asing sama sekali."


Damar mengangguk, ia melihat sekitar, masih dengan reaksi bahagianya, Damar berjalan menuju ruangan pribadinya.


"Welcome, Damar," ucap Damar seraya memasuki ruangannya.


Ia berputar-putar untuk sampai di kursi kejayaannya, duduk di sana dengan bangganya.


Bahkan meski Damar belum tahu seperti apa rintangan yang harus dijalani dan dilaluinya, Damar tetap bahagia karena keberhasilannya diawal saat ini.


"Aaaa, aku bukan karyawan biasa lagi kan, sekarang aku adalah sales executive."


Damar berdecak, posisi macam apa itu, apa bisa sebanding dengan CEO lainnya.


Damar menggeleng, masa bodoh dengan itu, yang jelas Damar bekerja memiliki bawahan.


"Itu sudah perubahan baik, mana Sintia, dia harus mengucapkan selamat padaku."


Damar membuka ponselnya, ia melakukan panggilan video pada Sintia yang mungkin sedang sibuk di sana.


"Apa?" tanya Sintia tiba-tiba.


Damar tersenyum, ia mengganti kameranya, menunjukan ruangan pribadinya itu.


Sintia tampak mengernyit mengamati apa yang dilihatnya, tentu saja ia mengerti dengan itu karena sejak awal Sintia sudah tahu juga.


"Apa, mau sombong?"


Damar sedikit tertawa, ia mengembalikan kamera pada dirinya.


"Merasa hebat kamu?"

__ADS_1


"Apa sih, kenapa marah?"


Sintia diam, ia memperhatikan Damar dari sedikit yang bisa dilihatnya di layar ponsel.


Tampak berbeda, Damar terlihat lebih rapi sekarang, Sintia tersenyum seraya mengangguk, baiklah itu perubahan baik.


"Kamu mulai kerja?"


"Tentu saja, tapi aku tidak mengerti harus bagaimana."


Sintia balik tertawa, apa benar Damar sebodoh itu.


"Apanya yang lucu, ayo ajarkan aku cara kerja ku disini."


"Dih, kenapa aku, minta ajarkan sama atasan mu."


"Mana bisa, dia sibuk."


"Selamat berjuang."


"Eh tunggu-tunggu."


Damar seketika bangkit saat Sintia hendak menutup sambungannya, itu membuat Sintia kembali tertawa.


Memangnya Damar bisa mengejar Sintia, kenapa harus langsung berdiri seperti itu.


"Ah menyebalkan sekali kamu," ucap Damar kembali duduk.


"Aku juga harus kerja, kamu juga harus kerja, kamu masih harus belajar jadi sebaiknya fokus."


"Ah aku butuh semangat."


Sintia tersenyum, ia mengangguk seraya melihat sekitar, Sintia khawatir ada atasannya di sana.


"Cari siapa kamu, apa ada orang lain di sana?"


"Tidak masalah, aku akan bawa kamu kesini kalau kamu dipecat disana."


Sintia berdecak, mana bisa semudah itu, yang ada Damar yang turut dipecat karena sudah seenaknya di hari pertama.


"Cepat matikan, aku harus kerja."


"Kamu tidak mau kasih selamat padaku, aku berhasil saat ini?"


"Sela ....."


"Selamat kamu berhasil saat ini,"


Damar menoleh, kalimat Sintia tidak selesai karena lebih dulu mendengar suara lain.


"Siapa itu?" tanya Sintia.


"Kamu benar-benar bekerja hari ini, aku senang sekali, sekarang kita ada disatu Kantor yang sama."


Claudia tersenyum dan sempat mengintip layar ponsel Damar, tentu saja Sintia bisa melihatnya meski hanya sekilas karena Damar dengan cepat menjauhkan ponselnya.


"Ada urusan apa?" tanya Damar.


"Apa kamu tidak bisa menutup teleponnya dulu, orang disana akan tahu apa yang kita bicarakan disini."


"Apa masalahnya, aku tidak ada urusan dengan mu."


"Tentu saja ada, kita akan bekerjasama sekarang."


Damar berdecak, ia bangkit dan sedikit menjauh dari Claudia, Damar melihat layar ponselnya dan telepon itu masih bertahan.


"Kamu sibuk, tutup saja," ucap Sintia.

__ADS_1


"Aku ...."


"Ini jam kerja, sudah pasti sibuk," sela Claudia.


Damar menoleh, ia menatap Claudia dengan kesalnya.


Sambungan terputus begitu saja karena Sintia yang mematikannya, Damar berdecak, kesal sekali ia saat ini.


"Oh, dia marah?" tanya Claudia.


"Siapa kamu ini, waktu itu sok akrab dengan ku, dan sekarang kamu begitu mengganggu ku."


"Benarkah, aku minta maaf, aku tidak ada maksud untuk membuat mu kesal."


"Lalu untuk apa kamu kesini?"


"Aku diminta Pak Marvel kesini, karena jelas kamu akan kesulitan dalam pekerjaan baru mu."


Damar diam, itu memang benar, Damar tidak tahu harus seperti apa dihari pertamanya saat ini.


Tapi tetap saja, Claudia datang di waktu yang tidak tepat, wanita itu telah mengganggu waktunya bersama Sintia.


"Dia kekasih mu?"


"Tentu saja, menurut mu siapa?"


Claudia mengangguk, ia sedikit tersenyum, mungkin benar jika apa yang jadi tebakannya itu salah.


"Apa, apa yang kamu fikirkan?" tanya Damar.


"Apa kamu tidak mengenal ku?"


"Kapan kita kenalan?"


Claudia diam, tapi yang terlihat sangat sama, cara bicara Damar dan tingkahnya seperti sama saja.


"Kamu ...."


"Aku Damar, kamu melupakan itu?"


"Kamu yakin nama ku Damar?"


"Apa aku harus tunjukan KTP ku, atau bahkan kartu keluarga ku, atau sampai akta kelahiran ku, kamu mau melihat itu?"


Claudia tersenyum, cara bicara Damar terkesan lucu, dan itu semakin membuat Claudia bertanya-tanya.


Damar menggaruk kepalanya yang tak gatal, kenapa jadi membahas itu, bukankah Claudia datang untuk membantunya bekerja.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Damar kembali ke tempat duduknya, Claudia yang ada di sampingnya justru lebih tertarik untuk bisa melihat tanda hitam itu lagi.


Damar membuka laptopnya, tanpa sengaja ia menjatuhkan bolpoin di sampingnya, tentu saja Damar segera meraihnya kembali.


Tubuh yang sedikit membungkuk dan kepala yang menunduk itu, berhasil menunjukan tanda hitam yang ingin dilihat Claudia.


"Baiklah, jelaskan sekarang," ucap Damar.


Ia menoleh, dan mengernyit saat sadar Claudia yang tiba-tiba saja berpaling.


"Ada apa, apa yang kamu lihat?" tanya Damar seraya mengusap kepalanya.


"Apa yang aku lihat, sepertinya aku melihat banyak ketombe di kepala mu, menjijikan sekali."


Damar sedikit menganga, dengan asal dia mengacak rambutnya.


Sejak kapan Damar memiliki kotembe, itu tidak ada dalam sejah hidupnya sepanjang masa.

__ADS_1


__ADS_2