Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jujur


__ADS_3

Isma kembali ke rumahnya dengan lelah, ia sudah mengantarkan Zahra ke rumahnya setelah mediasi dianggap gagal oleh mereka semua.


Isma turun dari taxi dan terdiam melihat keramaian di rumahnya, ia juga melihat benda kuning yang terpasang di pagarnya.


"Ada apa ini, Frans," ucap Isma yang seketika panik.


Ia berlari memasuki rumah dan terdiam melihat mereka semua, Isma memejamkan matanya lega sekali melihat Frans yang duduk diantara mereka semua.


"Frans," panggil Isma seraya mendekat dan duduk di sampingnya.


Frans menoleh dan langsung memeluk Isma dengan eratnya, ia kembali terisak dipelukan sang mama.


"Siapa dia?" tanya Isma pelan


"Shafira," ucapnya terbata.


Isma tak percapa itu, sebelah tangannya terangkat dan membuka kain yang menutupi jasad itu.


Isma seketika berpaling dengan memejamkan matanya, itu wajah Shafira, tapi rasanya Isma tidak bisa percaya.


"Tuhan sangat jahat padaku."


Isma menggeleng, ia membalas pelukan Frans seraya mengusap punggungnya.


Tidak bisa dipungkiri jika Isma ikut terluka, ia turut meneteskan air mata karena keadaan saat ini.


"Kenapa dia kembalikan hadir kalau untuk pergi lagi."


"Sutt, jangan berkata apa pun jika itu hanya mencaci Tuhan, Frans kamu hanya akan semakin terluka."


 


"Hey, tunggu," ucap Damar.


Dion menoleh, lelaki itu kembali lagi, tapi untuk apa.


"Ada yang ingin aku tanyakan."


"Soal apa?"


"Zahra."


Dion diam, rasanya Dion tidak ingin membahas Zahra sekarang.


"Kamu benar-benar menginginkan perpisahan mereka?"


"Untuk apa bertanya hal itu?"


"Hanya kamu yang kecewa melihat mereka masih bersama tadi."


Dion duduk, apa yang harus dikatakannya, apa Dion bisa mengelak dari semuanya.


"Dion, kita sama laki-laki, sedikit banyak aku bisa membaca gerak gerik mu."


"Iya, itu memang benar, aku ingin sekali mereka berpisah karena aku menginginkan Zahra."

__ADS_1


Damar mengernyit, lantang sekali Dion melontarkan kalimatnya itu, apa itu bentuk kejujuran.


"Aku menginginkannya sejak dulu, sejak Bian dan Zahra pertama kali bertemu, bukan baru kali ini."


"Seharusnya kamu tahu kalau itu salah."


"Tidak, ini sama sekali tidak salah, aku menginginkan wanita yang tidak bahagia dengan pernikahannya, dan aku akan berusaha memberikan kebahagiaann yang tak didapatkannya dari lelaki itu."


Damar mengangguk, itu bisa saja jadi pemikiran yang benar, tapi pemikiran itu juga yang akan membuat Dion terjebak tanpa kepastian.


Dion menoleh, ia menatap Damar yang tampak berfikir serius, apa itu tentang semua ucapannya atau ada hal lainnya.


"Aku tidak pernah menyukai wanita sebelum Zahra, dan sampai saat ini aku tidak bisa menyukai wanita lain, bahkan meski lama aki tidak bertemu dengannya tak lantas membuat ku melupakannya."


Damar diam, mungkin segala yang menyangkut cinta itu memang rumit.


Cinta terlalu mudah datang tapi begitu sulit untuk melupakan, apa Damar juga akan seperti itu terhadap Sintia.


"Jangan pernah berfikir aku bisa berubah, sampai saat ini aku masih menunggunya, dan aku merasa keadaan ini akan jadi kesempatan terbaik ku."


"Dan kamu akan teramat kecewa saat semua tak sesuai, mereka belum tentu berpisah, aku yakin perasaan Zahra masih kuat untuk Bian."


Dion tersenyum singkat, itu bukan urusannya sama sekali, Dion hanya akan bertahan dengan harapannya saja.


Semoga saja Zahra bisa tetap pada keputusannya, perpisahan itu sudah jadi jalan terbaik untuk wanita itu bisa lebih bahagia.


"Baiklah, apa pun itu semoga saja bisa kamu raih."


"Aku akan berusaha."


"Kalau gitu aku pamit, salam buat Ibu mu."


"Terimakasih."


Damar lantas berlalu meninggalkan Dion, pertanyaannya sudah terjawab dengan jelas.


Apa pun itu memang bukan urusan Damar, bukankah Damar juga memiliki urusannya sendiri, termasuk soal percintaannya.


"Sintia," panggil Damar.


Sintia menoleh, ia mendengus kesal karena harus menunggu Damar tanpa kejelasan.


"Dari mana kamu, aku bilang jangan kemana-mana."


"Aku dari Dion sebentar, kamu sudah selesai?"


Sintia mendelik tanpa menjawab, lelaki itu menyebalkan sekali, nasib baik Sintia tidak meninggalkannya sendirian.


"Aku minta maaf, ya ampun ambekan sekali kamu ini," ucap Damar merangkul Sintia.


Sikap sepeti itu tak lagi membuat Sintia keberatan, mungkin benar jika sekarang Sintia mulai merespon perasaannya.


"Beli apa?" tanya Damar.


"Jus, mau?"

__ADS_1


"Mana, cuma satu juga."


"Ya ini saja."


Damar tersenyum, ia menarik tangan Sintia yang menggenggam jusnya, lantas turut menikmatinya juga.


Lumayan enak, Damar mengulangnya lagi, sedotan yang banyak membuat just itu langsung berkurang setengahnya.


"Aaaa, ih aku antri ini pegal banget," omel Sintia.


Damar justru tertawa, ia mengacak rambut Sintia asal dan berlalu memasuki mobil.


Sintia mendengus seraya menghentakan kakinya jengkel, benar-benar lelaki itu selalu saja membuatnya emosi.


"Ayo pulang, aku harus temui Claudia habis ini."


Sintia masuk, ia diam menikmati jusnya tanpa menawari Damar lagi.


Damar tersenyum, ia juga fokus menyetir, Claudia memang mengajaknya bertemu lagi, dan itu pasti masih soal yang sama.


 


"Frans, Mama mendapatkan ini," ucap Isma memberikan amplop.


"Apa ini?"


"Tadi ada suster dari Rumah Sakit mengantarkan itu, katanya itu ditemukan dibawah bantal Shafira."


Damar segera membukanya, itu tulisan tangan Shafira, sedikit berantakan karena pasti tenaganya yang tak sempurna.


"Apa?" tanya Isma.


"Aku lari dari rumah, aku tidak bisa terus berpura-pura menerima semuanya, Frans aku datang untuk menemui mu bahkan setelah sekian tahun semua masih sama untuk ku, masih tentang kita," baca Frans.


Isma mengusap pundak Frans, jadi benar wanita itu datang memang untuk kembali pada Frans.


"Aku datang ke rumah mu, dan aku melihat Mama bersama wanita itu, aku lihat mereka bahagia sekali sampai membuat ku cemburu kala itu."


Isma mengernyit, siapa yang dimaksud Shafira, apa itu soal Zahra.


Isma menggeleng, itu akan dipertanyakannya nanti, Frans mungkin akan menjelaskan tanpa diminta.


"Aku rasa aku salah paham, tapi saat aku melihat mu juga, kamu tampak senang bersama wanita itu, mungkin aku tidak lagi salah paham, kalian bahagia dan aku kecewa karena itu karena aku rasa kamu sudah benar-benar melupakan ku."


Frans menunduk, kenapa harus hal itu yang dilihat Shafira dan kenapa wanita itu tidak menemuinya langsung dan bertanya kejelasannya.


"Frans, aku merindukan mu, aku ingin kembali padamu, tapi aku terlambat karena sudah ada dia, tapi akhirnya aku tahu dia bukan siapa-siapa untuk mu dan aku sangat bahagia mendengarnya, tapi Frans langkah ku memang teramat bodoh hanya karena salah paham itu aku langsung ingin membunuh diriku sendiri."


Isma menggeleng, suara Frans semakin tidak jelas, tubuhnya bergetar menahan tangisnya saat ini.


Isma meraih kertasnya dan membaca bait berikutnya, biarkan saja Frans pasti bisa mendengarnya dengan baik.


"Aku tidak kuat lagi, hasil kebodohan ku sepertinya akan membuat ku kehilangan kamu selamanya, tolong cari keluarga ku dan sampaikan maaf ku pada mereka atas sikap bodoh ku ini, tolong sampaikan pada Zahra aku berterimakasih karena dia sudah menolong ku, kali ini aku pergi bukan untuk kembali dan ingat Frans kalau aku menunggu kamu di kehidupan berikutnya, dimana mungkin Tuhan akan menyatukan kita dalam bingkai indah tanpa perpisahan."


Frans kembali menangis, jasad Shafira yang masih ada di depannya menjadi saksi tangis hancur sosok Frans.

__ADS_1


Isma menyimpan suratnya ia memeluk Frans, semua sudah terjadi dan pasti sesuai suratan takdir, Frans tidak boleh hancur karena ini semua.


__ADS_2