Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Dia Disini Untuk Ku


__ADS_3

Zahra meneguk minumannya setenang mungkin, sepertinya Zahra juga akan senang jika perpisahan itu terjadi.


"Kenapa kamu diam, kamu pasti menyesal kan dengan pernikahan ini, jadi lepaskan saja dia, tidak perlu memperdulikannya."


"Mama kamu benar, mungkin itu lebih baik."


Bian melirik keduanya bergantian, apa Zahra akan membuatnya marah lagi.


"Dia saja tidak mau bersama kamu, kalau dia mau sama kamu, dia tidak akan berkata seperti itu."


"Aku mau sama Bian, tapi kalau memang perpisahan itu bisa membuat kalian lebih bahagia, kenapa tidak dilakukan saja."


"Bicara apa kamu ini?"


Zahra menoleh, tak ada jawaban, Zahra hanya diam dengan tatapannya terhadap Bian.


"Kamu mau pisah sama aku?"


"Katakan saja iya," ucap Kania.


"Jangan dengarkan siapa pun, katakan apa yang ingin kamu katakan saja."


"Dia mau berpisah, kamu tidak bisa memaksanya untuk bertahan terus menerus."


"Mama, apa Mama tidak bisa diam, aku bisa urus rumah tangga ku sendiri."


"Tapi memang dia tidak mau sama kamu, kamu saja yang egois."


Bian kembali melirik Zahra, wanita itu hanya diam menunduk, tidak mungkin Zahra mau berpisah dengannya, bukankah Zahra sudah menyukainya.


"Zahra, kenapa kamu diam saja, ayo katakan."


"Mama."


"Apa, Mama hanya minta dia untuk jujur saja."


"Tapi Mama memaksanya kalau seperti itu."


"Kamu juga butuh jawaban kan, dan dia hanya diam saja, ya tidak salah kalau Mama memaksanya."


"Mama."


"Apa, kita dengarkan saja, dia mau berhenti atau bertahan."


"Itu bukan urusan Mama."


"Jadi selamanya dia akan terima jadi menantu yang tak diakui?"


"Mama."


"Aku permisi."


Zahra memilih pergi meninggalkan keduanya, Zahra tidak mau perdulikan mereka, keduanya hanya membuat Zahra tidak nyaman.


"Zahra," panggil Bian.


Zahra tak perduli, ia menaiki tangga tanpa menoleh sedikit pun juga.

__ADS_1


"Zahra, makanan kamu belum habis."


Bian menunduk sesaat, Zahra telah menghilang ke atas sana, tidak ada gunanya lagi Bian bicara.


"Seperti itu wanita terbaik pilihan mu, tidak ada sopan santun sama sekali."


"Dia kesal karena Mama banyak bicara."


"Bian ...."


"Dengar aku baik-baik, dia pilihan ku, seperti apa pun dia, aku tetap pertahankan dia, aku sama dia masih harus belajar menjalani hubungan ini, jadi Mama jangan membuat dia tidak nyaman dengan dirinya sendiri dan dengan kita semua."


"Kamu berani menceramahi Mama?"


Bian menggeleng, ia lantas bangkit dan berlalu pergi meninggalkan Kania.


"Bian, kamu jangan buat Mama semakin kecewa sama kamu."


Bian berbalik, ia menatap Kania dengan kesal, Bian akan malas menjalani harinya jika seperti itu terus.


"Kamu salah bersikap seperti ini sama Mama, Bian."


"Lalu aku harus seperti apa, aku harus mengakhiri pernikahan aku yang baru satu bulan saja, apa Mama tidak memikirkan persaan aku?"


Kania bangkit dan menghampiri Bian, apa benar mereka seserius itu, Kania masih ingat jika Bian belum siap menjadi suami, dan Kania masih yakin jika pernikahannya dengan Zahra hanya terpaksa.


"Apa lagi, Mama mau bicara apa lagi, mau aku usir Zahra dari sini, itu tidak akan pernah terjadi."


"Kamu serius dengan dia?"


"Benarkah, kamu tetap akan mempertahankan dia?"


"Tentu saja."


"Kamu benar mencintainya?"


Bian diam, itu tidak sama sekali, Bian tidak pernah bisa mencintai Zahra sampai detik ini, dan sebaiknya memang itu tidak terjadi.


"Kamu berbohong Bian, Mama tahu seperti apa dirimu."


"Tapi ada yang Mama gak tahu, dan sepertinya Mama harus tahu, kalau perasaan aku adalah urusan ku, itu tanggung jawab ku."


"Katakan saja, apa kamu mencintainya, apa kamu mencintai Istri kamu itu?"


Bian kembali diam, Kania terus saja banyak bicara, dan itu semakin membuatnya kesal.


"Sebenarnya apa yang Mama mau?"


"Permintaan Mama akan terlontar, tapi setelah kamu menjawab pertanyaan Mama."


Bian berpaling, seperti sedang ulangan nasional saja, rumit sekali.


"Kalau kamu diam terus seperti itu, Mama akan ambil kesimpulan sendiri."


"Mama, mau aku tetap pisah dengan Zahra."


"Tentu saja, karena tidak hanya Mama, tapi Papa kamu juga menginginkan hal yang sama."

__ADS_1


"Tapi kalian harus ingat, Zahra ada itu untuk aku, dia hadir diantara kita adalah keputusan aku, jadi hanya aku yang berhak memutuskan dia pergi atau tetap tinggal."


Kania mengangguk, ia tak lepas menatap Bian, dan mungkin sebaiknya memang Kania mencoba percaya dan terima semua itu.


"Maaf, tapi sebaiknya Mama pulang, sudah cukup pembahasan kali ini, aku harus ke Kantor."


Bian kembali melangkahkan kakinya, sudah cukup perdebatan itu, Bian memang tidak mencintai Zahra, tapi Bian juga tidak akan melepaskannya begitu saja.


"Bian, dengarkan ini dulu."


Bian memejamkan matanya seraya menghentikan langkahnya, ia mengusap rambutnya ke belakang dan kembali ke depan seraya menghembuskan nafasnya kesal.


"Kamu tidak mau jawab pertanyaan Mama, seperti itu kamu sekarang?"


"Iya, aku mencintai Zahra."


"Lihat Mama."


Bian berbalik, ekspresi wajahnya mulai tak baik-baik saja, dan Kania tahu arti dari ekspresi itu.


"Kamu mencintainya?"


"Iya, tentu aku mencintainya."


"Kalau gitu, segera kamu berikan cucu untuk Mama, kalau tidak, lebih baik kalian pisah saja."


Bian diam, bagaimana bisa seperti itu, Bian tidak ingin menyentuhnya sama sekali, hal itu tidak pernah terlintas dalam otaknya.


"Kamu tidak sanggup, berarti benar jika kalian hanya bersandiwara saja."


"Mama, apa Mama tidak berfikir jika mental Zahra tidak akan baik, dia masih 19 tahun, bagaimana mungkin dia hamil dan punya anak."


"Apa masalahnya, Mama sewaktu mengandung dan melahirkan kamu, masih 18 tahun, tidak ada masalah apa pun."


"Ya tapi beda."


"Sama saja, dia sudah siap menikah, berarti dia siap untuk mengandung dan melahirkan."


Bian berdecak berlalu begitu saja, semua semakin tak masuk akal, Kania benar-benar keterlaluan.


"Mama tunggu sampai 5 bulan, kalau tidak ada hasil, Mama akan paksa pisahkan kalian."


Bian menggeleng, ia bisa mendengar kalimat itu, tapi Bian enggan memperdulikannya, itu sangat tidak mungkin.


Bian memasuki kamar dan melihat Zahra yang berdiri di luar sana, kebiasaan wanita itu melamun di balkon rumah.


"Zahra," panggil Bian seraya menghampiri.


Zahra tak bergeming, ia hanya menoleh sekilas saat Bian memijat kedua pundaknya.


"Kamu benar-benar mau pisah dari aku, kamu setuju dengan permintaan Mama?"


"Keputusan ada di tangan kamu, bukankah kamu yang bilang, kalau hanya kamu yang bisa merubah perjanjian kita."


Bian mengangguk, ia bergeser dan berdiri di samping Zahra, keduanya sama-sama terdiam, bergelut dengan pemikiran sendiri.


Tidak mungkin, sangat tidak mungkin untuk Bian menyentuh Zahra, apa lagi sampai menghamilinya, itu terlalu mustahil.

__ADS_1


__ADS_2