Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Dia Juga Sama


__ADS_3

"Kenapa, kenapa harus menatap ku seperti itu?" tanya Vanessa.


"Apa kamu tidak tahu etika berbicara dengan orang tua?" tanya Inggrid.


"Ini karena Ibu sendiri yang tidak menghargai aku, kenapa malah mengusir ku setelah aku berhasil membuat Bian sadar?"


"Tutup mulut mu, Bian sadar untuk Istrinya, bukan untuk mu."


"Sebaiknya Ibu yang diam, Ibu tidak tahu apa-apa tentang mereka berdua."


Kania menyipitkan matanya, kenapa seperti itu Vanessa, dia sangat tidak sopan, bahkan meski mereka baru bertemu.


Bisa Bian suka dengan wanita seperti itu, apa pernah Zahra seperti itu terhadap Inggrid, sekali saja Kania ingin melihatnya.


"Van, ayo pulang," ucap Sintia.


"Gak, aku gak mau, aku mau kembali masuk dan bicara dengan Bian."


"Coba saja kalau kamu berani," ucap Kania.


Mereka menoleh bersamaan, Kemal menatap heran istrinya, kenapa nadanya sangat tidak enak didengar.


Dokter tampak keluar dan langsung pamit tanpa kalimat apa pun tentang Bian, semua sudah baik-baik saja sekarang.


"Apa, kamu mau marah terhadap saya, ayo marah, saya adalah Mama dari Bian."


Vanessa mengangkat kedua alisnya, benarkah itu, tapi apa Vanessa ingin perduli dengan itu.


"Sudahlah, ayo pulang," ajak Sintia.


"Ada apa, dia sepupu kamu, apa dia tidak berfikir ulang untuk menyukai Suami wanita lain?" tanya Kania.


"Aku hanya ...."


"Tidak perlu jelaskan, semua hanya alasan, Sintia saya sudah berusaha memperbaiki hubungan kita, dan bukankah kita sudah membaik, jadi tolong jangan rusak semuanya sekarang."


Sintia mengangguk, lagi pula ia hanya mengantar Vanessa, selebihnya Sintia ingin tahu keadaan Bian.


Tidak ada maksud apa pun untuk pertemuan kali ini, Sintia sudah berniat melepaskan semuanya.


"Ada apa?" tanya Kania.


"Tidak, aku akan pulang sekarang, permisi."


Sintia menarik pergi Vanessa, meski wanita itu menolak tapi Sintia tidak perduli, mereka harus pergi atau keadaan akan semakin tidak terkendali.


Dion sedikit tersenyum melihat kepergian dua orang itu, lucu tapi sedih, mungkin Dion juga akan mengalami hal sama jika meneruskan langkahnya terhadap Zahra.


"Kamu masih bertahan disini?" tanya Kemal.


Dion menoleh, apa maksudnya, Dion kembali ingat jika Kemal sempat melihatnya bersama Zahra.


"Kamu menantikan wanita itu keluar?"


"Tidak, aku hanya ...."


"Dion memang Mami yang suruh kesini, apa masalahnya?" tanya Inggrid.


"Apa masalahnya, Mami tidak tahu apa yang dilakukannya dengan Ayra?"

__ADS_1


Kania dan Inggrid saling lirik, mereka kompak melirik Dion di sana, memangnya apa yang mereka lakukan.


Semua tampak baik-baik saja diluar masalah Vanessa dan Bian, Inggrid menggeleng, mungkin saja Kemal sedang mencari-cari kesalahan Zahra.


"Kenapa Mami diam?"


"Lalu harus seperti apa?"


"Tidak hanya Bian yang bermain api, tapi Ayra pun sama, dia dengan jelas memeluk lelaki ini tadi."


Dion melirik Inggrid, sungguh itu bukan tujuannya, Zahra yang begitu saja memeluknya saat ia datang tadi.


"Benarkah itu?" tanya Kania.


"Tadi, aku kembali setelah membawa pakaian Zahra, dan saat aku datang kesini aku melihat Zahra duduk disini sedang menangis, aku panggil dia dan aku tidak tahu kalau Zahra begitu saja memeluk ku," jelas Dion.


"Tapi kamu juga menikmatinya," ucap Kemal.


"Aku hanya tidak tega melihatnya menangis, tidak ada maksud lain lagi."


"Jangan berbohong, kamu pasti tidak ada bedanya dengan wanita tadi."


"Aku ...."


"Diamlah," sela Inggrid.


Kepalanya pusing dengan semua drama yang ada, fokus mereka adalah kesadaran Bian, dan mereka sudah mendapatkannya.


Selebihnya bisa mereka fikirkan nanti, apa lagi tentang Dion dan Zahra, Inggrid tidak sedikit pun mempermasalahkannya.


"Suruh dia pergi juga, bukankah dia sama saja pengganggu."


Kemal berpaling, kenapa harus selalu perdebatan yang terjadi, apa Inggrid sudah tak lagi menyukainya sekarang.


Inggrid berlalu memasuki ruangan, tidak ada gunanya terus menerus berdebat, lebih baik Inggrid temani Zahra dan Bian di sana.


"Kamu cukup tahu diri untuk sekarang," ucap Kania.


"kalau gitu, permisi."


"Silahkan, terimakasih untuk bantuannya."


Dion mengangguk dan berlalu meninggalkan keduanya, meski sebenarnya tidak ingin pergi, tapi Dion lebih tidak ingin jika harus berdebat.


Paling tidak Dion sudah tahu keadaan Zahra, dan sekarang wanita itu sudah baik-baik saja, jadi biar nanti Dion cari waktu untuk bisa menemuinya lagi.


"Kenapa menjengkelkan sekali."


"Sudahlah Pa, kenapa harus mikir hal yang belum tentu benar."


"Mereka semua itu siapa sebenarnya?"


"Ya itu teman Bian, kalau Vanessa, Mama juga baru lihat dia."


"Dia sebab dari perlakuan buruk Bian terhadap Zahra?"


Kania diam, entahlah, mungkin saja itu benar, tapi bisa juga salah, Bian pasti tidak menginginkan Zahra sehingga sikapnya pun tidak baik.


Tapi soal Vanessa pun, bukankah Kania pernah mendengar jika mereka memang saling menyukai.

__ADS_1


"Hemmm, sudahlah, Papa mau masuk lagi atau mau pulang saja?"


"Masuk, Mama kalau mau pulang duluan saja, nanti Papa belakangan."


"Tidak apa, kita masuk saja dulu."


Kemal mengangguk, keduanya lantas memasuki ruangan menyusul Inggrid tadi.


 


Vanessa memasuki rumahnya dengan kesal, Risa yang melihat itu cukup heran dan bertanya alasannya pada Sintia.


"Kalian ribut lagi?"


"Tidak, Vanessa kesal saja."


"Ada apa?"


Sintia menggeleng, mana mungkin Sintia mengatakan alasan sebenarnya, Risa pasti belum tahu soal Bian.


"Duduklah."


"Terimakasih."


Sintia lantas duduk, padahal ia ingin menyusul Vanessa, tapi sudahlah, lagi pula meski ada bersamanya sudah jelas mereka hanya akan ribut saja.


Sudah malam juga, malu jika masih harus ribut, lebih baik memang Sintia bersama Risa saja.


"Dari siang dia seperti itu, marah-marah terus, heran."


"Mungkin memang sedang ada masalah."


"Mungkin saja, entahlah Vanessa selalu buat pusing jika sedang ada masalah."


Sintia tersenyum, bukankah Bian sesekali datang ke rumah ini, apa benar Risa tidak pernah bertemu Bian.


Atau paling tidak, Risa mendengar saat Vanessa berbicara dengan Bian ditelepon, tapi sepertinya memang itu tidak pernah sama sekali.


"Kamu mau menginap?"


"Oh tidak, aku pulang saja, besok masih harus kerja soalnya."


"Oh iya benar, kamu mau makan dulu?"


"Tidak perlu, aku masih kenyang, dan mungkin Vanessa yang perlu makan, dia tidak mau makan saat keluar tadi."


"Biarkan saja, kalau lagi seperti itu mana mau dia makan."


Sintia mengangguk, sepertinya itu benar, karena Sintia juga kadang seperti itu, malas melakukan apa pun ketika sedang kesal.


Dan bukankah semua juga seperti itu, hanya mood baik yang bisa menaikan selera makan seseorang.


"Sintia, kalau memang tidak mau tidur disini, baiknya kamu pulang sekarang, ini sudah larut malam."


"Iya, itu benar, kalau gitu aku pamit, salam buat yang lain."


"Iya, kamu hati-hati ya."


Sintia mengangguk lantas pergi, memang sudah mengantuk juga ia sekarang.

__ADS_1


Besok lusa, Sintia bisa kembali temui Vanessa, dan lagi setelah Vanessa sadar dari kekesalannya itu.


__ADS_2