
Inggrid melapaskan pelukan Zahra, ia meneliti penampilan Zahra, wanita itu tampak baik-baik saja saat ini.
Inggrid kembali menatap Damar, sosok lelaki itu masih tidak bisa dimengerti Inggrid.
"Malam, Bu."
"Oma, aku minta maaf pasti sudah membuat Oma khawatir."
"Dari mana kalian, tadi Bibi bilang kamu pergi sama Dion."
"Iya itu benar."
Inggrid mengernyit, setelah menghubungi Dion dan lelaki itu mengatakan jika tidak bersama Zahra, dan sekarang Inggrid justru melihat Damar yang bersamanya.
Bagaimana bisa Zahra mengiyakan kalau dia pergi dengan Dion, Damar tampak menunduk, tidak apa kalau memang Inggrid mau memarahinya.
"Aku memang sama Dion dari rumah, tapi Dion harus kerja sehingga aku memilih turun di jalan, dan aku bertemu Damar."
"Benarkah seperti itu?"
Damar menoleh dan mengangguk, apa bisa Inggrid tidak percaya pada Zahra, bukankah ia selalu membelanya dalam segala hal.
"Baiklah, kali ini tidak masalah, lebih baik kamu pulang, ini sudah malam."
"Baik Bu, maafkan saya sudah terlambat mengantarkan Ayra."
"Lain kali tidak boleh lagi, kamu harus tahu aturannya."
"Baik Bu, kalau begitu saya permisi, Ayra aku minta maaf kalau ada salah hari ini."
"Oke, terimakasih."
"Permisi, Bu."
Inggrid hanya mengangguk saja menanggapinya, sepertinya Inggrid tidak akan suka dengan kedekatan merak berdua.
Damar lantas pergi meninggalkan keduanya, Zahra tersenyum seraya melambaikan tangan saat lelaki itu hendak memasuki taxi.
"Ayo masuk."
Zahra kaget saat Inggrid tiba-tiba menariknya, tapi tak ada protes karena Zahra mengikutinya juga.
"Jalan, Pak."
"Ini bonekanya?"
Damar mengernyit, ia melirik boneka yang duduk di jok depan sana, Damar kemudian tersenyum seraya menggeleng.
Zahra menempatkan boneka itu di depan, sedangkan ia duduk di belakang bersama Damar, dan sekarang boneka itu justru tertinggal di sana.
"Biar saja Pak, nanti saya akan antarkan lain waktu."
"Baik, Pak."
Taxi melaju, Damar menarik bonekanya, bisa sekali Zahra melupakan bonekanya, padahal ia begitu menginginkannya tadi.
__ADS_1
Tapi sepertinya itu bagus untuk Damar, dengan begitu ia ada alasan untuk bisa menemui Zahra lagi dilain waktu.
"Oma, Oma marah, aku minta maaf."
"Iya, tentu saja Oma marah, kenapa kamu tidak mau dengar perkataan Oma lagi, semua sekarang kamu menentang?"
Zahra diam, baiklah ia bersalah, jadi biarkan saja Inggrid memarahinya sekarang.
Yang penting Zahra sudah bisa mendapatkan sedikit hiburan disetengah harinya, Zahra tersenyum mengingat semuanya.
"Kamu senang?" tanya Inggrid.
"Oma tahu, sedikit pun aku tidak mengingat beban ku, aku bisa melupakannya."
"Dan itu karena Damar?"
Zahra mengangguk pasti, bukankah itu memang kebenarannya, Damar memang berhasil membuatnya tertawa.
Inggrid menggeleng seraya menghela nafas, itu tidak boleh terjadi terus menerus, kalau pun memang terjadi biarkan hanya sekali ini saja.
"Hati-hati kamu sama orang yang baru kamu kenal, apa lagi kamu tahu siapa dia."
"Aku tahu, tapi Damar itu baik, dia orang yang menyenangkan, aku merasa tidak salah keluar tadi karena akhirnya aku senang."
"Itu bukan yang paling benar."
Zahra diam, kenapa seperti itu, apa karena Inggrid marah saat Zahra pulang terlambat.
Tapi apa Inggrid tidak mengerti jika kepergiannya adalah kebahagiannya, dan sekarang Zahra merasa sedikit lebih baik.
"Sudah."
"Istirahat, jangan fikirkan apa pun tentang lelaki itu, fikirkan dirimu sendiri bukankah kamu juga sedang tidak baik-baik saja sekarang."
"Iya, aku mengerti itu."
"Cepat tidur, ini sudah malam, sudah waktunya istirahat."
"Selamat istirahat juga buat Oma, maaf kalau aku buat Oma kesal hari ini, aku akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi."
Inggrid lantas pergi meninggalkannya, Zahra mengernyit, kenapa Inggrid seperti tidak suka dengan Damar.
Bukankah lelaki itu yang telah menolong Zahra kala itu, seharusnya Inggrid senang jika Zahra mengenal orang baik.
Entahlah, mungkin untuk kali ini saja, dan besok lusa Inggrid akan kembali bersikap biasa terhadap Damar.
-----
Kania memberikan teh hangat yang sengaja dibuatnya untuk Kemal, sejak tadi Kemal hanya diam saja bertahan dengan lamunannya.
Belakangan Kemal memang lebih banyak diam, lelaki itu benar-benar murung, ia begitu stres memikirkan semua yang terjadi.
"Diminum dulu, Papa juga belum makan."
"Terimakasih."
__ADS_1
Kania tersenyum dan turut duduk, keduanya sedang ada di kamar, selera makan Kania juga hilang karena Kemal yang tak mau makan.
"Kamu sudah bertemu Mami?" tanya Kemal.
"Gak, belum kesana."
"Kamu sudah datangi Bian?"
"Belum, baru besok mau kesana."
"Kamu ajaklah wanita itu, buat dia mau membebaskan Bian."
Kania diam, bagaimana caranya, sejak keributan malam itu Kania memang lebih berfikir untuk semuanya.
Bukankah mereka memang egois, mereka hanya memikirkan perasaan sendiri, tanpa perduli dengan Zahra.
Mungkin sebaiknya, mereka menunggu hingga Zahra sadar dengan sendirinya, Kania yakin hati wanita itu pasti masih membela Bian.
"Kenapa kamu diam, kamu tidak mau lagi membantu anak mu?"
"Besok aku coba, semoga saja bisa."
"Harus bisa, Bian harus bebas, seenaknya sekali wanita itu bersikap."
Kania mengangguk, biarkan saja Kemal mau bicara apa, Kania tidak mau membantahnya, itu hanya akan membuat Kemal semakin pusing.
Dan Kania juga yang akan kena imbasnya, nanti Kania akan fikirkan bagaimana bicara dengan Zahra, agar bisa memuat hatinya luluh kembali.
"Papa istirahat saja, jangan terlalu banyak fikiran, kita akan berusaha bersama untuk semuanya."
"Papa pusing, bagaimana dengan perusahaan, sampai saat ini masih saja kacau dan bahkan tambah kacau lagi."
"Itu sebaiknya memang bicara sama Mami, Mami yang bisa bantu soal itu."
Kemal mengusap kepalanya, sakit sekali, semua benar-benar berantakan sekarang, hanya karena wanita asing itu.
Kemal sangat tidak bisa terima itu, ingin sekali Kemal melakukan semua hal buruk padanya, tapi kenapa justru kesialan yang balik menghampirinya.
"Lebih baik, besok Papa temui Mami."
"Entahlah, gak habis fikir lagi."
"Mau gimana lagi, semua sudah seperti ini, dan harus bagaimana lagi kalau bukan meminta bantuan sama Mami."
"Pakai pelet apa wanita itu, dia sampai bisa membuat Mami begitu membelanya."
Kania menggeleng, apa lagi, bukankah sejak dulu Inggrid adalah tipe orang yang begitu sensitif dengan ketulusan.
Pasti Zahra memiliki hati yang tulus, itulah yang membuat Zahra bisa membuat Inggrid begitu menyayanginya.
"Sudahlah, gak akan ada habisnya memikirkan ini, sebaiknya besok kita kesana temui Mami, siapa tahu bisa sekalian bicara sama Zahra."
Kemal berdecak, ia menyimpan gelasnya dan berbaring, itulah yang sangat tidak diinginkan Kemal.
Melihat wanita itu hanya akan membuat emosinya naik, bagaimana bisa Kemal bicara baik-baik padanya.
__ADS_1
Kania memejamkan matanya sesaat, lantas turut berbaring, tidak ada yang bisa dilakukan mereka sekarang, karena masalah memang datang bersamaan.