
Bian membawakan makanan untuk Zahra, ia membelinya dari luar, untuk persiapan mereka pulang maka Zahra harus makan terlebih dahulu.
"Aku tidak tahu ini enak atau tidak, tapi memang sebaiknya kamu makan dulu."
"Terimakasih."
Bian mengangguk dan memberikan makanannya pada Zahra, Bian membiarkan Zahra melahap makanannya sendiri.
Sampai saat ini Zahra masih saja mendiamkannya, sepertinya Zahra tidak akan lagi merubah keputusannya untuk berpisah dengan Bian.
"Zahra, ponsel kamu tidak kembali?"
"Tidak."
"Biar nanti aku belikan yang baru."
"Tidak perlu, aku tidak begitu memerlukan ponsel."
Bian kembali mengangguk, baiklah terserah Zahra saja, Bian harus berfikir keras bagaimana caranya agar Zahra mau memaafkannya.
Bian benar-benar tak ingin berpisah dengan wanita itu, kali ini mungkin saat Bian benar-benar jujur, kepercayaan Zahra sudah habis untuknya.
"Zahra, aku tidak tahu harus bicara apa lagi sama kamu."
"Aku tidak meminta mu untuk bicara."
"Tapi aku merasa memang harus bicara."
Zahra menggeleng, ia meneguk minumnya, bicara Bian pasti hanya paksaan untuk bertahan saja.
Zahra sudah katakan semuanya kemarin malam, dan seharusnya itu cukup mudah untuk Bian mengerti.
"Zahra, apa kamu benar-benar tidak memiliki hati lagi untuk ku?"
"Semua masih sama, hanya saja aku harus lebih bisa mengontrolnya."
"Aku akan lakukan apa pun, berikan kesempatan itu."
Zahra menggeleng, biarkan Zahra tetap dalam keputusannya, jangan memaksanya berubah karena Zahra pasti akan mengalah juga.
Bian melihat sekitar, apa keluarganya bisa membujuk Zahra, bukankah mereka juga sedang berusaha untuk meminta maaf pada Zahra.
"Bagaimana Oma, dia baik-baik saja sampai kesana?"
"Aku belum tanyakan itu, ponsel ku tidak ada baterai jadi belum bisa dipakai."
Zahra diam, ia kembali menikamti makanannya, semoga saja Inggrid selamat sampai sana.
Nanti mereka akan kembali bertemu dalam keadaan baik-baik saja, semua harus tetap baik agar Zahra bisa tenang saat harus meninggalkan mereka.
"Kamu tega membiarkan Oma sendiri."
"Oma bukan tanggung jawab ku, bukankah dia itu Nenek mu."
"Tapi Oma lebih menyayangi mu dari pada aku."
"Itu tanggung jawab mu, kasih sayang itu ada jika saja kamu tidak selalu mengecewakannya."
__ADS_1
"Aku tahu itu."
Keduanya diam, mungkin saja Inggrid akan bisa mempertahankan Zahra untuk tetap tinggal.
Pokoknya Zahra harus tetap bersama Bian, mau bagaimana pun caranya pasti akan Bian lakukan juga.
"Zahra, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, semua berkat kamu juga, jadi biarkan aku bertetimakasih terlebih dahulu untuk semuanya."
"Kamu tinggal berterimakasih saja."
"Tidak, itu tidak cukup, biarkan aku berusaha membuat mu bahagia dengan cara ku, cara yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kamu tapi aku akan berusaha."
Zahra diam, cara seperti apa yang dimaksud Bian, selama ini dia selalu berusaha berbagai cara untuk melakukan apa saja yang diinginkannya sendiri.
Zahra memejamkan matanya sesaat, tidak boleh, Zahra tidak boleh termakan lagi oleh omongan Bian.
"Zahra, kali ini aku janji ini yang terakhir kali ini, kesempatan terakhir ku tidak akan aku sia-siakan lagi."
"Lakukan saja apa yang kamu mau, bahagia tidak harus selalu bersama."
"Aku tidak mau, bertahanlah kita perbaiki semuanya sama-sama."
Zahra berpaling, itu selalu ingin dilakukannya sejak dulu, tapi Bian tidak pernah serius dalam melakukannya.
Bian menggeleng, ia tidak akan berhenti sebelum berhasil, kali ini bukan hanya omong kosong tapi Bian siap membuktikannya.
"Jangan menyerah, aku tahu kamu masih mau memberi ku kesempatan itu, Zahra biarkan aku buktikan itu diwaktu terakhir yang kamu berikan."
"Aku tidak tahu, tapi aku sudah fikirkan kalau aku tidak mau, seharusnya kali ini kamu mau mengerti aku."
Mungkin nanti Bian bisa meminta bantuan mereka semua untuk bicara dengan Zahra, membujuknya juga hingga ia mau merubah keputusannya tentang perpisahan mereka.
"Zahra, aku keluar dulu, aku harus telepon Mama bukankah kamu ingin tahu keadaan Oma?"
"Iya."
Bian lantas berlalu meninggalkan Zahra, lebih baik berikan dia senggang waktu untuk berfikir.
Bian yakin perpisahan itu tidak akan terjadi sekarang, Zahra pasti akan kembali baik dan mau menerimanya lagi.
"Makan yang banyak," ucap Bian seraya menutup pintu.
Zahra justru menyimpan makanannya, ia dia memikirkan kalimat demi kalimat yang Bian lontarkan.
Bagaimana bisa Zahra meninggalkannya, jika semua isi hatinya masih sama terhadap Bian.
"Pada siapa aku harus bertanya sekarang, bukankah aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka."
Zahra mengepalkan tangannya, ketidak adilan Tuhan kembali menekan perasaannya, masih pantaskah Zahra menyalahkan Tuhan atas kehidupannya saat ini.
Jika saja Tuhan tidak mengambil orang tuanya bersamaan, mungkin kisah hidupnya akan lebih baik dari saat ini.
"Apa Tuhan tidak melihat jika aku sudah tidam mau ada disini, di kehidupan ini bersama dengan mereka semua."
"Apa yang kamu lakukan, kenapa panggilan Mama tidak kamu jawab?" tanya Kania kesal.
__ADS_1
"Tadi aku habis beli makan untuk Zahra, aku tidak membawa ponselnya."
"Ada apa, apa Zahra baik-baik saja?"
Bian mengangguk pasti, wanita itu memang baik-baik saja sekarang, tapi permintaannya yang sangat tidak baik.
"Kamu kenapa, sekarang kamu yang sakit, kamu harus segera periksa bukankah disitu ada Dokter?"
"Aku tidak apa-apa, aku tidak sakit."
"Lalu kamu kenapa?"
Kania menoleh saat Inggrid keluar dari ruangannya, wanita itu melihat layar ponsel Kania.
"Ini Bian," ucap Kania.
"Mana Zahra?"
"Bian, mana Zahra, Oma mau bicara sama dia sekarang."
Bian mengangguk ia kembali masuk menemui Zahra di sana, bukan Bian yang sengaja mengganggunya.
Bian memberikan ponselnya tanpa bicara apa pun, Zahra tersenyum saat melihat Inggrid.
"Oma, Oma baik-baik saja?"
"Pertanyaan apa itu, itu pertanyaan Oma untuk mu."
"Aku baik-baik saja disini, aku akam pulang sore nanti."
"Benarkah?" sela Kania.
Zahra tersenyum seraya mengangguk, kini dua wajah itu bisa Zahra lihat bersamaan.
Tidak ada lagi rasa khawatir, mereka berdua terlihat baik-baik saja, syukurlah itu artinya Zahra tidak merepotkan mereka lagi.
"Bian jahat lagi padamu?" tanya Inggrid.
Zahra seketika melirik Bian, lelaki itu mengangguk saja tanpa berkata apa pun.
"Apa lagi yang dia lakukan sekarang?"
"Tidak ada, Bian tidak melakukan apa pun, dia menjaga ku dengan baik."
Bian tersenyum singkat, selalu seperti itu kalimatnya, sejak dulu tidak pernah berubah.
Zahra selalu bisa menutupi semuanya, bahkan dikeadaan terburuknya sekali pun, Bian selalu dibanggakan.
"Pulanglah, Oma menunggu mu di rumah."
"Jangan terlalu menunggu, aku tidak akan buru-buru."
"Iya itu bagus, kalian santai saja yang penting sampai ke rumah dengan selamat."
Zahra tersenyum, sebenarnya Zahra hanya ingin mengulur waktu agar tak segera bertemu mereka.
Zahra masih ingin sendiri dan memikirkan semuanya sendiri saja, tanpa gangguan siapa pun, tanpa rayuan siapa pun juga.
__ADS_1