Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jangan Lakukan


__ADS_3

Nur keluar dari taxi yang ditumpanginya, ia berhanti jauh dari rumah, Nur harus mampir untuk membeli beberapa kebutuhannya.


"Terimakasih, Pak."


Taxi itu melaju meninggalkan Nur, ia lantas menyebrangi jalan untuk bisa sampai ke tempat tujuannya.


Membeli apa yang dibutuhkannya di sana, Nur juga membeli beberapa snack kesukaan Zahra, karena nanti ia akan kembali menemani wanita itu.


"Bibi," panggil Dion.


Nur menoleh, bagaimana bisa mereka bertemu sekarang, padahal baru beberapa saat lalu Inggrid bertanya tentang Dion.


"Den Dion disini."


"tadi aku ke rumah, tapi tidak ada siapa-siapa disana."


"Ada apa memangnya?"


"Aku sama Sintia mau bertemu Zahra."


Nur mengangguk, haruskah Nur mengatakan jika Zahra ada di rumah sakit sekarang, tapi mungkin itu akan mengganggu istirahat Zahra.


"Zahra ada di rumah kan?"


"Mungkin lagi istirahat, jadi gak dengar ada tamu."


Dion mengernyit, ia diam menatap Nur, apa benar seperti itu, tapi bukankah Zahra selalu perduli dengan sekitarnya.


"Kalau begitu aku tunggu Bibi selesai belanja, kita temui Zahra sama-sama."


Nur diam, bagaimana bisa seperti itu, mereka akan tahu kalau Zahra tidak ada di rumah.


Nur melihat sekitar, tidak ada cara untuk menghindar, Nur tidak memiliki alasan apa pun untuk menolak kedatangan mereka.


"Bibi kenapa?"


"Ah tidak, tidak apa-apa, Bibi sedang cari yang dibutuhkan saja."


"Aku tunggu di luar ya Bi, jangan lama-lama soalnya ada urusan penting sama Zahra."


"Urusan apa?"


"Emmm, ya ada saja Bi, pokoknya cepat ya."


Dion berlalu begitu saja, Nur mengepalkan tangannya sesaat, kalau Dion menunggunya pasti hanya akan kecewa saja.


Zahra tidak ada di rumah, Nur telah berbohong dan sepertinya itu lebih salah.


Nur mengangguk dan berjalan menyusul Dion, sebaiknya Nur katakan saja yang sebenarnya, itu akan lebih baik, biarkan saja mereka dengan urusannya bersama Zahra.


"Den Dion."


Dion menoleh dan tersenyum, ia melihat tangan Nur, tidak ada belanjaan apa pun yang dibawanya.


"Gak jadi belanja?"


"Jadi, Bibi cuma mau sampaikan kalau Non Ayra tidak di rumah."


"Bagaimana maksudnya, bukannya dia sedang istirahat?"

__ADS_1


"Iya, tapi di Rumah Sakit."


Dion mengernyit, bagaimana bisa seperti itu, apa yang sedang dilakukan Nur, apa wanita itu sedang bermain-main.


Nur mengangguk, apa pun yang sedang difikirkan Dion saat ini pasti bingung, tapi biarlah karena Nur sudah mengatakan yang sebenarnya.


"Zahra sakit apa?"


"Non Ayra tidak mau makan dan minum selama berhari-hari, dia hanya diam di kamarnya, dan sekarang di Rumah Sakit karena keadaannya yang buruk."


"Kenapa bisa seperti itu?"


Nur diam, Dion menghembuskan nafasnya sekaligus, Zahra memang keterlaluan, ia sama sekali tidak perduli dengan dirinya sendiri.


Dion lantas pamit setelah tahu dimana keberadaan Zahra, ia segera memasuki mobil dan melaju pergi.


"Gimana?" tanya Sintia.


"Zahra di Rumah Sakit."


"Rumah Sakit?"


"Iya, itu yang dikatakan Mbak rumah."


Sintia diam, rumah sakit, sakit apa wanita itu, apa dia terlalu stres memikirkan masalahnya dengan Bian.


Kasihan sekali, seharusnya Zahra akhiri semuanya, sudah jelas jika wanita itu tidak sanggup tanggung jawab atas keputusannya sendiri.


"Apa sakitnya parah?"


"Bibi bilang sempat buruk, tapi sekarang sudah lebih baik."


"Benarkah?"


Sintia sedikit tertawa, kenapa Dion jadi kesal seperti itu, tapi mungkin memang Sintia salah karena semua pertanyaannya.


Baiklah, Sintia akan diam saja, biar Dion juga fokus menyetir sehingga mereka bisa cepat sampai ke rumah sakit.


 


"Kenapa pulang, apa keadaannya sudah baik?" tanya Damar.


Ia melihat Yosep yang membawa istrinya itu kembali ke rumah, jelas saja Damar merasa keberatan dengan hal itu.


"Dia sudah membaik, dan Dokter juga sudah mengizinkannya pulang."


Damar diam menatap ibu tirinya itu, sejak dulu mereka memang tidak dekat, Damar diangkat anak hanya untuk pancingan agar mereka bisa memiliki keturunan.


Jarak semakin jauh saat Bagas hadir di tengah mereka, Damar memang bukan orang berarti bagi mereka sejak awal.


"Kenapa melihat ku seperti itu, kamu tidak suka Ibu mu kembali?"


"Jelas saja, aku khawatir jika akan terjadi lagi masalah nantinya."


"Damar," panggil Yosep.


Damar mengangkat kedua pundaknya sekilas, terserah saja Damar tidak mau berdebat dengan mereka.


Tidak ada gunanya, lagi pula Damar bisa kembali ke mes tempat tinggalnya dari perusahaan.

__ADS_1


"Silahkan masuk, dan istirahatlah dengan benar."


Yosep membawa sang istri memasuki kamar, sedangkan Damar memilih keluar dari rumah tersebut.


Damar melihat sekitar, apa benar pihak rumah sakit telah mengizinkan Yosep membawanya pulang.


Kenapa Damar merasa itu sangat tidak mungkin, dua hari lalu Damar sempat berkunjung ke rumah sakit, dan keadaannya masih terbilang buruk.


"Sebaiknya aku tanyakan langsung kesana, bisa saja mereka berbohong demi kesenangannya sendiri."


Damar mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya, ia berjalan sampai ke ujung jalan sana, dan terdiam menantikan taxi yang lewat.


"Aku bisa sekalian mampir ke tempat Ayra, bukankah wanita itu belum pulang dari Rumah Sakit, belum ada kabar apa pun tentang kepulangannya itu."


Damar tersenyum, sepertinya itu benar, Damar harus tahu bagaimana keadaan Zahra sekarang.


Mungkin saja mereka masih kerepotan mengurusi Zahra di sana, bukankah Zahra masih keras dengan pemikirannya sendiri.


 


Tok ..... Tok ..... Tok


Zahra menoleh, saat ini Zahra sedang menikmati makanan yang tadi dikirim suster.


Zahra tersenyum melihat Dion dan Sintia yang menghampirinya, Sintia langsung saja bertahan dengan tatapannya terhadap Zahra.


"Kenapa kamu ini?" tanya Dion.


"Entahlah, aku pun tidak mengerti."


"Tentu saja karena kamu terlalu memaksakan diri," sahut Sintia.


Ketiganya diam, Dion tidak berniat untuk membahas Bian, tapi Sintia sepertinya berbeda pemikiran.


Zahra meneguk minumannya dan menghentikan kegiatannya, ia diam menatap keduanya bergantian.


"Kalian tahu dari mana aku disini?"


"Rumah Sakit akan jadi pelarian mu, kami yakin itu," ucap Sintia.


Zahra sedikit tersenyum, kenapa wanita itu datang, kenapa tidak pergi saja menemui Bian.


Zahra tidak mengharapkan kedatangan mereka bahkan meski sedikit, Zahra tidak mau diganggu untuk hal apa pun, tapi sepertinya mereka tidak bisa mengerti.


"Kapan kamu akan temui Bian?" tanya Sintia.


"Kenapa tidak kamu saja yang temui dia, mungkin saja sekarang dia sedang membutuhkan mu."


Dion mengernyit, apa dua wanita itu akan ribut sekarang, tidak bisakah Sintia diam dulu untuk tidak membahas Bian.


"Ayra aku tahu ...."


"Hanya sedikit yang kamu tahu," sela Zahra.


"Tapi yang sedikit itu adalah ...."


"Aku tidak perduli apa pun, bahkan tentang Bian sekali pun, jadi kalau kamu perduli padanya, silahkan kamu urus sendiri."


"Sayangnya aku tak lagi menginginkan itu."

__ADS_1


Mereka kembali diam, Dion menggeleng, benar saja mereka ribut, itu sangatlah salah.


Mereka tidak tahu keadaan Zahra seperti apa, jadi bukankah seharusnya mereka berhati-hati saat berbicara dengannya.


__ADS_2