
Lepas beberapa lama dari perdebatan hari itu, Bian tetap tidak bisa kembali bekerja di kantor, meski Zahra terus berusaha membujuk Inggrid, nyatanya tak mampu merubah apa pun dan Bian tetap saja jadi penghuni rumah tanpa kesibukan.
Inggrid juga tetap ada di rumah itu, ia masih ingin melihat semua tingkah Bian terhadap Zahra, dan memang setelah keributan malam itu, Inggrid tak pernah lagi mendengar mereka bertengkar.
"Oma, dari mana?"
Inggrid menoleh, ia tersenyum melihat Zahra yang berjalan menghampirinya.
"Mana Suami kamu?"
"Dia di atas."
"Hanya diam saja?"
Zahra tersenyum seraya menggeleng, biar saja lagi pula Inggrid yang membutanya jadi tidak punya kesibukan.
"Memang tidak kreatif anak itu, tidak ada kerjaan Kantor, bukannya cari kesibukan lain, malah tidur terus."
"Masih saja Oma marah, kan aku sudah bilang kembalikan saja pekerjaannya, dia juga tidak lagi berulah sekarang."
"Kamu percaya begitu saja?"
"Lalu harus seperti apa, orang yang pernah salah bukan berarti tidak bisa menjadi benar."
Inggrid menggeleng dan menjitak kepala Zahra, heran sekali dengan wanita itu, kenapa masih saja tidak mengerti dengan sikap suaminya.
"Kok dipukul?"
"Pintar sedikit jadi Istri."
Keduanya tersenyum bersamaan, Zahra memeluk tangan Inggrid dan membawanya berjalan lalu duduk.
Gak perlu lagi mendebat soal Bian, biarkan saja mungkin memang Inggrid belum bisa percaya sampai detik ini.
"Dia masih kasar sama kamu?"
"Tidak, dia sudah baik, bahkan sangat baik."
"Jangan berbohong."
"Tidak, untuk apa berbohong gak ada gunanya juga, yang ada aku rugi gak ada yang bela."
Inggrid berdecak, seperti itu terus kalimat Zahra, tapi semoga saja memang mereka sudah mulai bahagia dengan kehidupan rumah tangganya.
"Zahra, Oma harus pulang untuk waktu cukup lama."
Zahra diam, kabar seperti itu tidak pernah ingin didengarnya sekali pun juga, kenapa Inggrid tidak pindah rumah saja.
"Zahra."
"Kapan Oma pulang?"
"Rabu depan."
"Masih lama."
"Iya, tapi Oma katakan sekarang agar kamu bisa bersiap menghadapi Suami kamu sendirian."
Zahra tersenyum, seyakin itu Inggrid jika Bian akan kembali jahat padanya, tapi memang itu juga yang ditakutkan Zahra jika Inggrid tak ada di tengah mereka.
"Kamu kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa, aku pasti merindukan Oma, apa lagi kalau Oma perginya lama."
"Kamu bisa ajak Bian kesana, Oma tidak akan berikan dia pekerjaan sebelum dia benar-benar bisa membahagiakan kamu."
"Tapi kalau Bian mau, mungkin dia bisa melamar ke perusahaan lain?"
"Silahkan saja kalau memang dia mau, dan itu juga kalau ada perusahaan yang mau menerimanya, kerja semaunya seperti itu, satu bulan juga belum tentu kuat mempertahankan dia."
__ADS_1
Zahra diam, seburuk itukah Bian dimata Inggrid sekarang, kasihan sekali lelaki itu, padahal ia sudah senang karena diberikan hak atas perusahaan lagi, tapi ternyata hanya sekejap saja.
"Permisi."
Keduanya saling lirik, Zahra menggeleng saat Inggrid berekspresi seolah bertanya siapa yang datang.
"Baiklah, biar aku buka pintu dulu."
"Tidak perlu, biar Oma saja."
Inggrid lebih dulu bangkit dan berlalu meninggalkan Zahra, tak berniat menyusul, Zahra memilih diam saja.
"Permisi."
Inggrid membuka pintu dan terdiam melihat wanita di hadapannya, Inggrid tidak pernah melihatnya sebelum saat ini.
"Permisi, Bu."
"Iya, cari siapa?"
"Aku mau bertemu Bian."
Inggrid mengernyit, wanita itu tamunya Bian, siapa dia kenapa Inggrid merasa ada yang tidak baik dari kedatangan wanita itu.
"Apa Bian ada?"
"Kamu siapa?"
"Aku Vanessa."
Inggrid diam, ia tak bergeming menatap Vanessa, jadi dia sosok yang mengganggu Bian, berani sekali datang ke rumah seperti itu.
"Maaf, aku bisa bertemu Bian, katanya dia sedang sakit saat ini, dan aku mau menjenguknya."
"Kalian sudah janjian?"
"Tidak, Bian tidak tahu aku kesini sekarang."
"Oma, siapa yang datang?"
Keduanya menoleh melihat kedatangan Zahra, Inggrid meraih tangan Zahra agar berdiri di sampingnya.
"Kamu lihat wanita ini?" tanya Inggrid.
"Dia siapa?" tanya Zahra.
"Dia Vanessa, dia mencari Suami mu makanya dia datang kesini?"
Zahra mengangkat kedua alisnya, ekspresi tak percaya sama-sama ditunjukan Zahra dan Vanessa.
Bagaimana bisa Vanessa datang, dan kenapa juga harus Inggrid yang lebih dulu menemuinya, harusnya tadi Zahra yang membukakan pintu.
"Istri, apa maksudnya?" tanya Vanessa.
"Ya apa, menurut mu apa?" tanya Inggrid.
"Oma, biar aku saja yang bicara, Oma masuk saja ya."
"Tidak, kamu pasti mau mengizinkan dia bertemu Bian kan?"
"Oma."
Inggrid menghembuskan nafasnya sekaligus, menjengkelkan sekali, padahal sudah cukup lama Inggrid merasa tenang.
"Hey, kamu dengar baik-baik, kalau kamu wanita baik-baik, berhenti mengejar cucu saya, dia sudah beristri dan ini Istrinya ada di hadapan kamu."
"Oma, sudah cukup, nanti kepala Oma pusing lagi."
"Dengar itu baik-baik, atau kamu akan menyesal tanpa bisa diobati."
__ADS_1
"Oma."
Inggrid menoleh sekilasan, ia lantas berlalu begitu saja meninggalkan keduanya, jujur Vanessa kesal dengan perkataan wanita tua itu padanya.
"Maaf, Oma tidak bermaksud menyinggung perasaan kamu."
Vanessa menyipitkan matanya, ia tak percaya jika Zahra adalah istri Bian, bukankah Bian tidak pernah mengatakan sudah menikah.
"Kamu ada janji sama Bian?"
"Jangan tanyakan itu, jawab saja apa benar kamu Istrinya Bian?"
"Iya, memang seperti itu adanya."
Vanessa mengernyit, jadi benar apa yang dikatakan Sintia padanya, Bian sudah sengaja berbohong soal status pernikahannya.
"Bian tidak cerita jujur sama kamu?"
"Gak, ini pasti salah."
"Aku ada buku nikah kalau kamu mau lihat, tapi rasanya itu tidak perlu, karena sudah ada orang yang membenarkan pernikahan ini, dan kamu sudah mendengarnya sejak tadi."
"Tapi Bian tidak ...."
"Kamu harusnya mengerti seperti apa mulut lelaki," sela Zahra.
"Tapi dia begitu serius mengatakannya."
"Dan menurut mu aku sedang bercanda sekarang, sudahlah Vanessa, aku sudah tahu tentang kamu sejak awal Bian mengenal kamu."
"Maksud kamu?"
Zahra mengangguk, ia diam menatap kosong halaman rumah di sana, Zahra kembali teringat pengakuan Bian tentang perasaannya terhadap Vanessa.
Bukankah itu sebuah kejujuran, Bian sudah mengatakan yang sebenarnya, dan Zahra juga sudah memutuskan untuk menerima semua itu.
"Apa maksud kamu?"
Zahra berpaling sesaat, ia kembali melirik Vanessa seraya tersenyum.
"Tidak ada maksud apa-apa, yang jelas aku tahu kalau Bian suka sama kamu, dan kamu juga suka kan sama Bian?"
"Kenapa bisa kamu bicara sedatar itu, tadi kamu begitu meyakinkan kalau kamu Istri dari Bian, bagaimana bisa kamu sesantai itu saat tahu Suami kamu menyukai wanita lain?"
Zahra tersenyum, sepertinya Zahra tidak mungkin mengatakan jika Bian tidak pernah menginginkannya, Bian tidak pernah mau menerima Zahra.
"Siapa nama kamu?" tanya Vanessa.
"Zahra, dan sebaiknya tidak perlu ada pertanyaan apa pun lagi."
"Tapi mana Bian?"
"Dia ada di kamar, bukankah kamu yang mengatakan kalau dia sedang sakit saat ini."
Vanessa menggeleng pelan, apa maksudnya, kenapa ada istri seperti Zahra, ia begitu tenang saat tahu suaminya menyukai wanita lain.
"Kamu masih berniat menemui Bian?"
"Tujuan ku kesini memang untuk bertemu dengannya."
"Oma pasti akan marah kalau tahu kamu masih disini, jadi aku harap kamu mengerti untuk bisa menghargai Oma."
"Lalu aku harus pergi?"
"Tidak, silahkan saja kamu temui Bian, tapi tolong jangan lama, aku tidak mau Oma marah apa lagi sampai sakit, tolong mengerti itu."
Vanessa tersenyum singkat, bagaimana bisa Vanessa percaya jika wanita itu istrinya Bian, dia begitu tidak perduli dengan sosok wanita yang berniat mengganggu suaminya.
"Mari aku antar kamu menemui Bian."
__ADS_1
Zahra berbalik dan berjalan masuk, Vanessa mengikutinya di belakang, ia memperhatikan sekitar ruangan, tidak ada siapa pun bahkan wanita tua itu tidak lagi terlihat.