Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Hati-hati Saja


__ADS_3

Inggrid berjalan memasuki area kantor Kemal, di sama memang tampak kosong, tapi masih ada penjaga di luar sana.


Inggrid sengaja datang untuk memastikan semuanya, dan memang benar apa yang dikatakan Kemal juga Kania.


Semua sudah habis tak tersisa, bahkan karyawan yang begitu banyak pun memghilang semuanya.


"Mami."


Inggrid menoleh, jadi Kemal juga ada di sana, sedang apa lelaki itu.


"Mami, kesini."


"Sedang apa kamu disini?"


"Aku tidak bisa diam saja di rumah, aku merapikan tempat ini perlahan."


"Mana Kania?"


"Dia di rumah, mungkin nanti kesini."


Inggrid mengangguk, jika sudah seperti ini, mungkin benar jika Inggrid sudah keterlaluan pada mereka.


Sampai habis semua, Inggrid belum mau membantunya lagi, entahlah tapi Inggrid memang belum bisa mengembalikan kepercayaannya itu.


"Mami, ada apa kesini?"


"Memangnya kenapa, Mami khawatir tempat ini kamu jual, bukankah ini tidak lagi berfungsi?"


"Aku tidak akan menjualnya, mungkin saja aku bisa mengembalikan semuanya, meski perlahan dan entah sampai kapan."


"Oke, berjuanglah."


Kemal diam, bahkan meski ia sempat memohon, Inggrid tak lantas mau menolongnya.


Mungkin memang Inggrid tidak akan mau lagi untuk memaafkan Kemal, biar Kemal fikirkan sendiri cara untuknya bangkit.


"Tidak ada satu orang pun disini selain kamu?"


"Tidak ada, mereka sudah pergi semua, tidak ada yang mau bekerja tanpa mendapatkan upah."


"Benarkah?"


"Memang seperti itu."


"Kenapa kamu tidak menjual tempat ini saja, kamu bisa mendapatkan uang banyak."


Kemal kembali diam, ia memang sudah kehilangan semuanya, bahkan uang pun nyaris habis untuk membayar PHK karyawannya.


Mungkin benar, Kemal akan mendapatkan uang banyak jika tempat itu di jualanya, tapi apa itu harus dilakuka.


"Kalau kamu mau menjualnya, jangan untuk orang lain, biar Mami yang bayar, Mami juga butuh tempat untuk Marvel."


"Bukankah dia sudah mendapatkan tempat sendiri."


"Itu hanya rumahan kecil, rasanya tidak layak untuk kantor."


Kemal mengangguk, sampai seperti itu Inggrid pada Marvel, padaha siapa lelaki itu.


Setelah begitu membela Zahra, kini Inggrid pun membela Marvel, dua manusia itu adalah orang asing, tapi Inggrid membela lebih dari keluarganya sendiri.


"Apa yang kamu fikirkan, kamu mau Mami percayakan perusahaan pada Bian, Mami sudah melakukan itu."

__ADS_1


"Iya, aku berterimakasih untuk itu."


"Lalu permintaan apa lagi yang akan kamu lontarkan?"


"Tidak ada."


Kemal tersenyum, paling tidak Bian sudah mendapatkan apa yang harus didapatkannya, anak itu pasti akan membantunya suatu saat nanti.


Bagaimana mungkin Bian bisa mengabaikan orang tuanya sendiri, lelaki itu akan mengerti dengan keharusan yang mesti dilakukannya.


"Jangan berfikir apa pun tentang perusahaan Bian, itu masih tetap tanggung jawab Mami."


"Tidak ada, tidak perlu khawatir."


"Sebaiknya kamu pulang, dan fokus berfikir bagaimana caranya untuk bangkit."


"Mami bisa aku antarkan dulu."


"Tidak perlu, Mami bawa sopir kesini, kamu pulang saja sendiri."


Kemal mengangguk, baiklah, tidak ada waktu untuk berdebat, Kemal sedang malas untuk banyak bicara saat ini.


Ia hanya ingin mengembalikan perusahaannya, ingin mendapatkan kembali kejayaanya yang sempat ada.


"Kalau begitu, aku pulang."


"Pergi saja."


Kemal berlalu, ia akan kembali setelah Inggrid tidak ada di sana, Kemal akan mengurusnya sendiri kalau memang Inggrid tidak mau membantunya sama sekali.


Inggrid mengeluarkan ponselnya, ia berkutat sesaat dan menghubungi satu kontak di sana.


"Apa saat ini sedang sibuk, saya ada di Kantor anak saya, mungkin kita bisa bertemu?"


Setelah sambungan terputus, Inggrid melanjutkan langkahnya memasuki ruangan Kemal.


Semua masih lengkap, Kemal tidak membuang apa pun yang ada di ruangan tersebut.


"Ini memang menyedihkan, mungkin tidak seharusnya seperti ini."


Inggrid duduk, ia diam berfikir untuk semua hal yang terjadi karena ulahnya sendiri.


Inggrid memang begitu membela Zahra yang bukan siapa-siapa, sampai Inggrid bisa menghancurkan keluarganya sendiri.


"Ini akan bisa merubah pemikiran mereka, memiliki segalanya tidak akan berguna jika hati tidak berfungsi dengan baik."


Inggrid mengangguk, ia bertahan pada keputusannya itu, meski telah menghancurkan satu pihak, tapi Inggrid tetap merasa itu benar.


"Keadaan Ayra tak kunjung membaik, tapi mereka sama sekali tidak perduli, tidak ada perubahan meski semuanya telah hilang."


Inggrid menunduk sesaat, bagaimana bisa Inggrid memiliki anak seperti Kemal, dan cucu seperti Bian, mereka begitu sama dengan fikiran dan hati kerasnya.


Selang beberapa saat, pintu itu diketuk dari luar, Inggrid pun memintanya untuk masuk saja.


"Selamat siang, Bu."


Inggrid tersenyum, ia bangkit dan berjabat tangan dengan tamunya.


"Bagaimana kabarnya?" tanya Inggrid.


"Baik, sangat baik."

__ADS_1


"Syukurlah, semoga selalu baik."


Ia mengangguk, wanita bernama Hera itu adalah rekan bisnis terbaik Inggrid.


Mereka bertemu dalam satu acara bisnis, perebutan tender besar, hingga mereka bekerjasama dan saling mensuksekan satu sama lain.


Tiga perusahaan Inggrid termasuk yang dimiliki kemal, juga bekerjasama dengan Hera, Inggrid sengaja menghentikan kontraknya sepihak sejak kekacauan di rumahnya.


"Kenapa kosong sekali, apa ini hari libur?"


"Tidak, memang sudah tidak aktif."


"Apa maksudnya?"


"Kantor ini tidak lagi digunakan, memang sudah berhenti beroperasi."


"Apa maksudnya bangkrut?"


Inggrid mengangguk, Hera menggeleng tidak percaya, ia masih ingat ketika dulu Inggrid memaksa memutus kontrak dengannya.


Kenapa wanita itu melakukannya, dan sekarang justru kemalangan yang diterimanya.


"Kenapa ini bisa tidak terjadi, kau tidak menghubungi ku untuk meminta bantuan sama sekali."


"Ini memang kesengajaan."


Hera sedikit tertawa, apa koleganya itu sudah tidak waras, bagaimana bisa ia menghancurkan perusahannya sendiri.


Rasanya sangat tidak masuk akal, Hera selalu berjuang mempertahankan perusahannya, bahkan meski yang masih kecil sekali pun.


Tapi kenapa Inggrid justru menghancurkan perusahaannya, perusahaan yang justru telah menjadi sebesar itu.


"Lupakan, ini terlalu rumit untuk dijelaskan, ini masalah keluarga."


"Tidak seharusnya sampai sengaja menghancurkan perusahaan seperti ini."


"Tapi ini harus terjadi."


Hera mengangguk saja, urusan mereka memang sebatas bisnis, jadi tidak berhak ikut campur jika soal keluarga.


Hera memperbaiki posisi duduknya, baiklah sudah cukup untuk bicara santainya, Hera harus melakukan hal lain lagi setelah ini.


"Jadi, untuk urusan apa meminta ku datang?"


"Tentu saja untuk mengembalikan fungsi dari perusahaan ini."


"Mana bisa hanya satu orang saja."


Inggrid mengangguk, itu memang benar, tidak mungkin perusahaan bisa kembali bangkit hanya karena satu orang saja.


Keduanya berbicang dengan serius, selayaknya kolega bisnis, tidak ada hal lain yang dibicarakannya selain bisnis.


Inggrid melontarkan semua maksud tujuannya, dan Hera menanggapinya dengan sangat baik.


"Mungkin itu mudah untuk dimengerti?"


"Tentu saja, saya akan fikirkan semuanya."


"Jangan sampai bocor, Kemal akan malas jika dia tahu soal ini."


"Aman saja, saya cukup mengerti dengan maksudnya."

__ADS_1


Inggrid mengangguk, keduanya tersenyum, perbincangan yang menyenangkan setelah lama tidak bertemu.


__ADS_2