Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tidak Masalah


__ADS_3

Damar berpaling saat berpapasan dengan Claudia, dia yakin wanita itu akan terus menerus membahas hal yang sama.


"Damar," panggil Marvel.


Damar menoleh, ia segera berlalu menghampiri Marvel.


Claudia menatapnya tanpa celah, tentu saja ia sadar benar jika Damar memang sedang menghindarinya.


"Tidak masalah, biar nanti Mama saja yang temui kamu," ucap Claudia seraya berlalu ke ruangannya.


"Ada apa, Pak" tanya Damar.


"Kenapa lagi dengan Claudia?"


Damar melirik Claudia yang ternyata sudah tidak ada, ia menggeleng seraya tersenyum.


"Apa dia menyukai mu?"


Damar sedikit tertawa, bagaimana bisa lelaki itu menyimpulkan hal yang demikian.


"Tidak, aku juga tidak mengerti, dia terlalu aneh."


"Baiklah, bagaimana pekerjaan mu?"


"Baik-baik saja, cuma memang lagi sedikit."


"Kalau begitu, saya akan keluar untuk dua hari, tolong urus disini dengan baik."


Damar diam, kenapa harus dirinya yang ditugaskan seperti itu, Damar mana bisa melakukannya sendiri.


"Claudia akan ikut dengan ku, jadi tidak ada yang lain lagi disini selain dirimu."


"Memangnya untuk urusan dimana?"


"Di luar Kota, jadi tolong bekerja dengan serius."


Damar kembali diam, dua hari, apa Damar bisa melakukannya, selama ini Damar hanya menunggu perintah saja dari Marvel.


"Kamu tidak sanggup?"


"Saya hanya tidak yakin."


"Kamu bisa telepon kalau memang ada masalah, saya usahakan untuk bantu, jangan khawatir."


Damar mengangguk, kalau memang tidak ada pilihan lagi lalu Damar bisa apa selain dari pada menerimanya saja.


Marvel mengangguk dan meminta Damar untuk ke ruangannya saja, pekerjaannya yang sediki sebaiknya segera diselesaikan agar Damar bisa tenang saat ditinggalkan.


"Permisi, Pak."


"Oke."


Damar lantas berlalu, ia kembali berpapasan dengan Claudia di depan pintu ruangannya.


Damar mengernyit melihat Claudia yang tampak acuh, ia tak lagi menghentikan langkahnya.


"Dia sudah sadar sekarang," ucap damar pelan.


Ia menggeleng dan segera memasuki ruangannya, biarkan saja bukankah itu bagus karena Damar jadi tidak merasa terganggu lagi.


 


Bian memasuki kamar dengan membawa makanan dan minuman, Zahra masih bertahan di tempat tidurnya tanpa daya.


"Zahra, kamu sudah bangun, aku bawakan sarapan buat kamu, ayo makan dulu."

__ADS_1


Bian menyimpan nampannya dan membantu Zahra untuk duduk, sewaktu dokter datang Zahra justru menolak diperiksa.


Zahra merasa percuma karena semua pasti akan sama saja, bukankah Zahra sekarang memang sudah tidak sehat lagi dan semua sudah tahu itu.


"Minum dulu."


Bian meminumkan airnya, wajah pucat Zahra semakin terlihat jelas saat ini.


"Makan dulu ya, nanti minum obat habis itu silahkan saja kalau mau tidur lagi."


Gelas itu disimpan dan diganti dengan piring makannya, Bian menyuapinya juga, tidak ada penolakan karena Zahra menerimanya tanpa protes.


"Kalian sudah bangun," ucap Kania yang masuk.


Keduanya menoleh bersamaan, pagi-pagi Kania sudah datang saja ke rumah mereka.


"Mama bawa buah buat Zahra, harus banyak makan buah juga," ucap Kania.


Bian tersenyum, tapi Zahra seperti tak perduli dengan itu, Zahra diam saja seraya memainkan jemarinya di pangkuan.


Zahra mengangkat kepalanya hanya ketika Bian menyuapinya saja, selebihnya Zahra hanya diam menunduk asyik dengan tangannya.


"Papa kemana?" tanya Bian.


"Ke Kantor, Oma sendiri kemana?"


"Gak tahu, aku belum lihat Oma, mungkin masih di kamar."


"Ya sudah, Mama lihat dulu ke kamar ya."


Bian mengangguk, Kania lantas berlalu setelah sempat menatap Zahra.


Wanita itu begitu enggan melihatnya, apa benar Zahra membencinya sekarang.


"Kamu saja makan, aku tidak mau."


Bian mengangguk, biar nanti saja lagi, yang penting sekarang Zahra bisa makan dengan banyak.


Zahra melihat sekitar, ia merasa bosan ada di ruangan itu, apa tidak yang bisa membawanya keluar sekarang.


"Kamu mau ke kamar mandi?"


"Tidak."


"Kamu mau apa?"


"Tidak ada."


Bian mengangguk, suapan itu terus berlanjut hingga semua isi piringnya habis, bagus sekali karena Zahra tidak banyak protes kali ini.


"Aku simpan ini ke dapur dulu ya."


Zahra hanya mengangguk saja, terserah Bian saja mau seperti apa.


Zahra turun, ia berniat ke kamar mandi, tapi kepalanya terasa begitu pusing, hingga ia kembali duduk.


"Kalau memang mau mati ya mati saja, jangan seperti ini, tidak ada gunanya sama sekali, aku hanya menderita saja."


Zahra menunduk, ia menekan kepala dengan kedua tangannya, tubuhnya yang terasa lemah membuat Zahra jengkel sendiri.


Sekarang, Zahra tidak bisa jauh dari penyakit, tidak ada lagi kesehatan yang sesempurma dulu, dan Zahra membencinya.


"Aku memang lemah, begitu lemah sekarang."


"Tidak sama sekali, jangan bicara seperti itu, karena kamu masih sama seperti dulu," ucap Isma.

__ADS_1


Zahra menoleh, ia diam melihat Frans dan Isma di sana, keinginannya begitu besar untuk bisa berlari dan memeluk Isma.


Tapi sayang kekuatan tubuhnya tidak ada, bahkan untuk sekedar berdiri pun rasanya amat sulit.


"Kalian sudah sampai," ucap Bian.


"Mana Bu Inggrid?" tanya Isma.


"Oma, aku belum melihatnya pagi ini, Mama sedang cek ke kamarnya."


Isma mengangguk, ia berjalan mendekati Zahra di sana, kasihan sekali wanita itu, rupanya sudah sangat pucat.


Zahra memeluknya tanpa permisi, Bian yang melihat itu merasa cemburu karena Zahra tak mau memeluknya seperti itu.


"Kamu sudah makan, suhu tubuh kamu tinggi?"


Tak ada jawaban, Zahra hanya diam saja dengan pelukannya.


"Zahra sudah makan, tunggu sebentar lagi untuk dia minum obat," ucap Bian.


Isma mengangguk, ia mengusap kepala Zahra, wanita asing itu sudah sangat menarik perhatiannya.


Sudah berhasil membuat Isma menyayanginya juga, keadaan Zahra saat ini cukup membuat Isma merasa sedih.


"Zahra, kamu mau jalan keluar?" tanya Isma.


Zahra mengangguk pasti, memang itu yang diinginkannya sejak tadi, ingin keluar tapi malas dengan Bian atau yang lainnya.


Jika Zahra bisa pergi sendiri, ia akan melakukannya tanpa banyak bicara.


"Bian, saya boleh ajak Zahra jalan-jalan?"


Frans melirik Bian, lelaki itu tampak ragu untuk mengizinkan Zahra pergi.


"Saya akan kembalikan dia dalam keadaan baik."


Bian menghela nafasnya, inginnya Bian yang membawa Zahra keluar, tapi sepertinya Zahra tidak menginginkan itu.


"Bian," panggil Frans.


Bian mengangguk saja tanpa mengatakan apa pun, ia segera membawakan baju hangat untuk dipakai Zahra.


"Pakai ini," ucap Bian.


Isma menerimanya dan membantu Zahra memakainya, ia lantas membantu Zahra bangkti.


Frans menepuk pundak Bian, biarkan Zahra dengan keinginannya sekarang, ia hanya harus merasa tenang dan nyaman agar bisa berfikir dengan benar.


"Kamu akan ikut?" tanya Bian.


"Mungkin Mama akan kerepotan memapah Zahra sendirian."


Bian mengangguk, baiklah ia harus mengerti itu, jangan membuat Zahra kesal atau nasibnya akan semakin terancam.


Bian masih berharap jika Zahra merubah keputusannya sampai saat ini, meski hanya tinggal beberpa hari ini lagi mereka harus mulai menghadapi prosesnya.


"Aku permisi, Zahra pasti aman," ucap Frans.


"Kembalikan dia dalam keadaan baik."


"Tentu saja."


Frans lantas berlalu meninggalkan Bian, dua wanita itu sudah pergi lebih dulu meninggalkannya.


Bian duduk, ia diam bergelut dengan pemikirannya sendiri, apa benar tidak ada celah lagi untuk memperbaiki semuanya sekarang.

__ADS_1


__ADS_2