
Bian menunduk sesaat ketika Inggrid sampai di hadapannya, kenapa Bian tidak ingat jika Zahra sedang bersama Inggrid sejak beberapa hari ini.
"Bagaimana, berhasil kamu mendekati Vanessa?" tanya Inggrid.
Bian diam, dari mana Inggrid tahu soal Vanessa, bahkan Zahra pun belum tahu apa-apa tentang itu.
"Kenapa diam, kamu berhasil mengurus bisnis, atau berhasil mengurusi hati kamu yang tergoda olehnya?"
"Oma, aku ...."
"Diam kamu, bisnis apa yang harus urus sampai malam seperti ini, dan mana hasilnya, berikan laporannya sekarang, mana?"
Inggrid mengulurkan tangannya, meminta apa yang dikatakannya, Bian melirik Zahra di sana, bukankah tidak mungkin jika Zahra yang mengadukannya, tahu dari mana wanita itu tentang Vanessa.
"Untuk apa menatap Istrimu seperti itu, kamu fikir dia sengaja mengganggu mu, kamu fikir dia mau mengganggu mu?"
"Oma, tapi ...."
"Oma yang suruh dia ganggu kamu, kamu tidak terima, marah saja sama Oma."
Zahra berjalan mendekat, kenapa mereka jadi ribut seperti itu, padahal hari sudah malam, sudah waktunya untuk istirahat.
"Oma, sudahlah, Bian sudah datang, sebaiknya Oma istirahat saja."
"Tidak, dia harus berikan hasil untuk pertemuannya seharian ini."
"Oma, bisa besok lagi kalau soal itu, biar saja mungkin sekarang Bian lelah, kasihan dia butuh istirahat juga."
"Kamu masih bisa membelanya, dia seharian bersama wanita lain, dan kamu tahu itu, harusnya kamu yang bersikap seperti Oma sekarang."
Zahra balik diam, ia melirik Bian sekilas, entah apa yang akan dikatakan atau bahkan dilakukan lelaki itu nanti padanya, ia pasti tidak terima atas kemarahan Inggrid saat ini.
"Mana, cepat berikan."
"Tidak ada," ucap Bian.
"Tidak ada, tidak ada kamu bilang, lalu apa gunanya kamu pergi seharian?"
Tak ada jawaban, Bian diam, setelah kesal dengan Sintia, sekarang Inggrid menambahnya lagi.
"Oma, sudahlah," ucap Zahra.
"Tidak bisa, dia memang sudah memenuhi syarat utama dari Oma, tapi dia sudah melupakan syarat keduanya, dia fikir Oma tidak bisa merubah semuanya?"
Zahra menunduk saat Bian justru menatapnya, apa yang difikirkannya sekarang, jujur saja Zahra khawatir dengan nasibnya dirinya setelah perdebatan ini.
"Kamu memang sudah menikah, sesuai permintaan Oma kamu sudah turuti, tapi ingat, pernikahan ini untuk satu tahun, tidak ada ulah yang bisa kamu lakukan selama pernikahan ini ada."
Bian mengernyit, kenapa Inggrid jadi mengatakan semua itu, apa Inggrid tidak menghargai Zahra.
__ADS_1
"Hanya dengan menikahi Zahra, tak lantas bisa membuat kamu mendapatkan perusahaan, satu tahun yang harus dijalani adalah dengan segala kebaikan terhadap Istri kamu, bukan bersikap semena-mena seperti itu."
"Oma, kita bicarakan ini lagi besok ya, ini sudah malam gak baik ribut-ribut."
"Apa kamu tidak bisa diam, kamu saja yang masuk kamar sendiri."
Zahra mengangguk dan diam, Zahra hanya tidak mau melihat mereka ribut, mungkin saja Inggrid hanya salah paham tentang Bian dan wanita itu.
"Kamu mau menikahi wanita lain lagi?"
"Tidak, mana mungkin seperti itu."
"Lalu apa yang kamu lakukan?"
"Iya, aku minta maaf, aku salah."
"Minta maaf sama Istri kamu."
Bian melirik Zahra, semakin takut saja Zahra dengan lelaki itu, dia pasti sudah sangat kesal sekarang.
"Zahra, aku minta maaf, aku tidak melakukan apa pun juga, aku memang bertemu dengan dia, tapi hanya membahas pekerjaan saja."
"Sudahlah, aku tidak apa-apa, tapi lain kali jangan buat Oma marah lagi."
Bian mengangguk, tentu saja Zahra tidak akan mempermasalahkan itu, sesuai dengan pemikiran Bian, jika Zahra memang akan sadar diri siapa dirinya untuk Bian.
"Hanya seperti itu saja?" tanya Inggrid.
"Tidak, itu tidak bisa, Bian harus berjanji tidak akan mengulanginya lagi, siapa pun wanita itu mau Vanessa atau siapa pun, jangan lagi kamu temui."
Bian mengangguk, lagi pula Bian harus berfikir ulang tentang Vanessa, setelah ia tahu siapa Vanessa bagi Sintia.
"Jawab, bukan hanya mengangguk saja."
"Iya, Oma."
"Iya apa?"
"Iya, aku tidak akan menemuinya lagi."
"Kalau sampai kamu melupakan ini, kamu akan rasakan sendiri akibatnya, kamu lepaskan Zahra dan lepaskan semua harapan kamu tentang perusahaan."
"Oma."
"Jangan banyak bicara, buktikan saja ucapan kamu, pernikahan kamu dan Zahra bukan main-main, jika kamu hanya mengingat satu syarat saja, kamu tetap tidak akan mendapatkan apa-apa."
Bian diam, ia membiarkan Inggrid pergi dengan diantar Zahra, baiklah, mereka semua membuat Bian jengkel.
Bian mengusap wajahnya, secepat itukah balasan untuk kesalahan Bian, padahal Bian sudah katakan jika ia tidak menginginkan Zahra.
__ADS_1
"Ah susah memang."
Bian turut pergi menuju kamarnya, dan malam ini Bian harus kembali tidur dengan wanita itu, semakin kesal saja Bian.
"Oma, tidur ya, lupakan dulu masalah ini, Oma harus istirahat dengan tenang."
"Kamu jangan diam saja Zahra, sekali pun kamu ada Dion untuk pelarian, tapi pernikahan kamu dan Bian juga harus dipertahankan."
"Oma, aku tidak ...."
"Bian akan bisa menerima kamu, asalkan kamu mau serius berusaha."
Zahra diam, tapi sampai saat ini pun, Zahra belum mendapatkan apa pun dari Bian, perlakuan baiknya hanya ada saat Bian melihat Inggrid atau yang lainnya saja.
"Kamu mau menyerah, bukankah kamu menginginkan Bian?"
"Iya, ya sudah Oma istirahat."
"Bukan itu yang mau Oma dengar dari kamu."
Zahra kembali diam, lalu apa yang harus dikatakannya, Zahra sudah menjelaskan semuanya tentang sikap Bian.
"Kamu tidak bisa percaya dengan Oma?"
"Tidak, bukan seperti itu, sudahlah Oma istirahat dulu, aku juga harus dengar dulu apa yang akan Bian katakan, baru aku bisa tentukan akan seperti apa."
"Apa lagi, dia pasti akan memarahi kamu, apa kamu lupa seperti apa dia waktu tadi datang?"
"Tapi dia sudah minta maaf, dan dia sudah mendengar semua perkataan Oma."
Inggrid diam, itu memang benar, tapi bisa saja Bian hanya mengangguk saat di depannya, tapi setelah jauh, entah akan seperti apa.
"Oma, tolong dengarkan aku, jangan buat aku khawatir lagi, Oma harus sehat, agar bisa selalu temani aku disini."
Inggrid menghembuskan nafasnya sekaligus, ia tersenyum seraya mengusap kepala Zahra, selagi bisa, Inggrid akan berusaha menjaga pernikahan mereka.
"Sudah ya, Oma tidur, jangan ngomel terus nanti pusing kepalanya."
"Kamu harus ingat kata-kata Oma."
"Iya, aku pasti ingat, nanti aku bicara sama Bian."
"Dia tidak boleh semena-mena lagi sama kamu."
Zahra tersenyum dan mengangguk, semoga saja itu memang bisa, Zahra juga memang berharap seperti itu, tapi Zahra tidak bisa memaksa Bian untuk menerimanya.
"Ya sudah, kamu ke kamar saja, Oma mau tidur."
"Iya, selamat malam."
__ADS_1
Inggrid mengangguk dan membiarkan Zahra pergi, mungkin saja Bian akan menyesal jika nanti wanita itu pergi, Inggrid tahu sekali seperti apa cucunya itu.