
"Silahkan masuk nona manis."
Vanessa memukul Bian pelan, ia lantas memasuki mobil Bian, langit gelap harus memisahkan keduanya, dan lagi mereka merasa cukup untuk perkenalan pertamanya.
"Rumah kamu tidak pindah kan?"
"Pindah apaan, kapan pindah, seharian disini?"
Bian tersenyum dan mengangguk, Vanessa berpaling, keduanya terdiam menikmati perjalanan dalam hening.
Kringg ....
Vanessa menoleh, setelah seharian, baru sekarang ia mendengar suara ponsel Bian.
"Mungkin saja keluarga kamu sedang mencari mu sekarang?"
Bian mengeluarkan ponselnya, memang Zahra yang menghubunginya, apa maksudnya, untuk apa menghubunginya seperti itu.
"Kenapa tidak dijawab?"
"Sudahlah, sebentar lagi juga aku sampai."
"Tapi mungkin penting?"
"Tidak, biarkan saja, mereka bisa mengirim ku pesan kalau memang penting."
Vanessa mengangguk, baiklah kalau memang seperti itu, Vanessa memang tidak tahu apa-apa.
"Yang mana rumah kamu?"
"Lurus saja, nanti belok kiri, ada gerbang warna hitam."
Bian mengangguk, ia mengikuti arahan Vanessa, memang tidak sulit untuk menemukannya, Bian tidak akan lupa meski nanti harus datang sendirian.
"Oke, yang ini?" tanya Bian menghentikan mobil.
"Ya, benar sekali, kamu mau masuk dulu?"
"Tidak, ini sudah malam, lagi pula aku sudah ditelepon."
"Baiklah, terimakasih sudah mengantar ku pulang."
"Oke, tunggu sebentar."
Bian lantas keluar dan sedikit berlari untuk membukakan pintu, Vanessa tersenyum seraya keluar.
"Terimakasih."
"Kamu sudah mengatakan itu sejak tadi."
"Biarkan saja."
Keduanya tersenyum, Bian melihat rumah Vanessa, cukup mewah, dan jelas jika Vanessa berasal dari keluarga berada.
"Ya sudah aku masuk."
"Emmm, tunggu dulu, kalau besok lusa aku ajak jalan lagi, mau?"
"Boleh saja, kalau memang sedang tidak sibuk."
"Baiklah, kabari aku kalau sedang santai."
Vanessa mengangguk, Bian lantas mempersilahkan Vanessa untuk masuk.
"Duluan ya."
"Selamat malam, sampai bertemu lain waktu."
__ADS_1
Vanessa mengangguk, ia memasuki gerbang dan kembali melirik Bian, lelaki itu melambaikan tangannya seraya tersenyum.
"Hati-hati di jalan."
"Siap, tidak masalah."
Vanessa mengangguk dan melanjutkan langkahnya memasuki rumah, tapi belum sempat pintu itu tertutup, Vanessa harus kembali keluar.
"Vanessa."
Vanessa menoleh, begitu juga dengan Bian, Bian begitu terkejut melihat sosok Sintia di belakangnya.
"Sintia," panggil Vanessa seraya kembali.
Bian mengernyit melihat mereka yang berpelukan hangat, jadi mereka saling mengenal, bagaimana bisa.
"Kamu dari mana?" tanya Sintia.
"Aku habis jalan."
"Jalan?"
"Ya, kenalan dulu, ini Bian."
Sintia menoleh, keduanya sama-sama terdiam dalam tatapan satu sama lain, Bian tidak pernah tahu tentanng Vanessa sebelumnya.
"Oh, siapa dia, apa dia kekasih mu?" tanya Sintia.
Bian menelan ludahnya seraya berpaling, tentu saja Bian mengerti jika Sintia sedang bersandiwara.
"Kalian pacaran, kamu baru balik Indonesia sudah langsung dapatkan kekasih?"
"Apa kamu ini, kenalan dulu, Bian, ini sepupu aku, Sintia."
Bian sedikit melongo mendengarnya, sepupu, apa Bian sedang bermimpi, Bian mengedarkan pandangannya, dimana dia sekarang, kenapa bisa Bian ada di tengah mereka berdua.
Bian melirik uluran tangan Sintia, benarkah, apa Bian harus menjabatnya.
"Kenapa, dia sepupu aku, tenang saja dia tidak jahat," ucap Vanessa.
Bian tersenyum dan menjabat tangan Sintia, ia menyebutkan namanya juga.
"Oke, Bian, salam kenal ya, jadi kejelasannya kalian sekarang?"
"Apa sih Sintia, kita baru ketemu kemarin, dan kita baru jalan hari ini, kita hanya teman saja."
Sintia mengangguk, ia kembali menatap Bian, terlihat jelas jika Bian salah tingkah saat ini, perlahan Sintia tersenyum, ia tidak bisa menjaga fikirannya karena apa pun itu pasti adalah yang paling benar.
"Sintia, kamu mau ke rumah ku?"
"Jelas saja, kamu satu minggu disini, dan kita belum bertemu."
Vanessa tersenyum, keduanya kembali saling memeluk, Bian menghembuskan nafasnya perlahan seraya mengusap wajahnya.
"Baiklah, ayo kita masuk."
"Ya, kamu duluan saja, aku sedang memesan makanan, biar sekalian aku bawa masuk nanti."
"Kebiasaan kamu ya, ya sudah aku duluan ya."
"Oke."
"Bian, duluan ya."
Bian hanya mengangguk saja, Vanessa pergi meninggalkan keduanya, biarkan saja Vanessa senang jika mereka bisa saling mengenal.
"Ada apa ini, Bian?"
__ADS_1
Bian diam, Sintia tak henti menatapnya, kenapa juga Bian harus bingung seperti itu.
"Kamu sedang merencanakan sesuatu terhadap sepupu ku?"
"Bicara apa kamu ini, tadi kita sudah membahas pekerjaan, jadi jangan salah paham."
"Benarkah, tapi sepertinya aku sedikit curiga ya, apa kamu sudah mulai bosan dengan Istri mu?"
"Jaga bicara mu."
"Dan sebaiknya, kamu jaga kelakuan kamu."
Bian diam, malang sekali, kenapa mereka harus bertemu sekarang, seharusnya Bian mengantarkan Vanessa pulang sejak tadi sore saja.
"Tidak masalah, kamu menyukai Vanessa, silahkan saja, tapi ingat aku akan katakan kalau kamu itu sudah beristri, ingat Bian hanya aku yang boleh kamu kecewakan, tapi tidak dengan Vanessa, termasuk juga Ayra."
Bian tak bergeming, kalimat Sintia sangat membuatnya kesal, ingin sekali Bian melakukan sesuatu pada wanita itu.
"Silahkan pulang, Istri mu sudah menunggu, dan ingat, jaga kelakuan kamu, atau kamu akan kehilangan semuanya."
Bian mengernyit, Sintia masuk begitu saja meninggalkan Bian, sudah cukup ia berbicara, sekarang Sintia memegang kartu as Bian, dengan begitu Sintia bisa sedikit mempermainkannya.
"Ssss arght ...."
Bian menendang ban mobilnya, Sintia begitu menjengkelkan, ingin sekali Bian menyumpal mulutnya itu.
"Kurang ajar, kenapa mereka justru saling mengenal seperti itu."
Bian mengacak rambutnya prustasi, untuk pertama kalinya Bian menyukai wanita, tapi sudah langsung kacau seperti itu.
Bian lantas memasuki mobil dan melaju pergi, Bian melupakan pertemuan malam ini, khususnya dengan Sintia, Bian hanya harus mengingat Vanessa saja.
----
Zahra memberikan segelas teh hangat pada Inggrid, sudah berulang kali Zahra memintanya untuk beristirahat saja, tapi Inggrid tetap ingin menunggu Bian.
"Oma, mau makan dulu?"
"Tidak, nanti saja."
"Tapi, Oma belum makan, ngemil pun tidak, Ayra ambilkan makan ringan ya."
"Tidak perlu, kamu diam saja disini, kalau bisa kamu hubungi Bian lagi."
"Baiklah."
Zahra meraih ponselnya dan kembali menghubungi Bian, tapi sama seperti sebelumnya, Bian tidak menjawabnya sama sekali.
"Baru sebentar saja, sudah berani bertingkah anak itu."
"Sabar Oma, jangan marah-marah, Oma harus jaga kesehatan."
"Suami kamu itu memang menjengkelkan, tidak bisa dipercaya."
Zahra diam, ia mengusap tangan Inggrid, Zahra tidak mau Inggrid sakit lagi karena amarahnya terhadap Bian.
"Kemana dia, kenapa sampai malam seperti ini belum juga kembali, apa dia sedang pacaran?"
"Suutt, jangan bicara seperti itu, mungkin ponselnya tidak bersuara, jadi Bian tidak bisa mendengarnya."
"Salah dia sendiri."
Zahra kembali diam, semakin Zahra mendebatnya, akan semakin kesal Inggrid nantinya.
Beberapa saat terlewati, Bian akhirnya datang, Zahra seketika bangkit dan melihat wajah kesal Bian.
"Apa kamu tidak bisa diam, kenapa kamu terus saja menghubungi ku, sejak kapan kamu berani seperti itu?" omel Bian.
__ADS_1
Zahra tak bergeming, Inggrid bangkit dan turut menatap Bian, sontak saja itu membuat Bian diam mematung.