Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Merindukan Mu


__ADS_3

Sintia terlihat menikmati malamnya di halaman rumahnya, ada beberapa temannya yang datang ke rumahnya.


Mereka sedang berbincang, bercandaan di sana, dengan ditemani berbagai suguhan.


"Besok jalan ah, bosan banget kerja tiap hari."


"Boleh tuh, lumayan juga habis dapat duit."


"Emmm, benar, kita bisa belanja."


Sintia tersenyum seraya mengangguk, dan baiklah, itu memang kegiatan yang begitu disukainya.


Sintia setuju untuk berbelanja seharian, ia akan mendapatkan kebahagiaan yang sempurna.


"Gimana mau gak?"


"Boleh, kita ketemu dimana, nanti aku nyusul."


"Gak masalah, kita saja yang kesini, jemput Ibu Ratu."


Sintia sedikit tertawa, itu jawaban yang lebih bagus, dan Sintia begitu menyukainya.


"Intan, gimana, jadi nikah?" tanya Sintia.


"Iya nih, kapan, mana undangannya, pacaran mulu nanti keburu kecolongan," sahut Fira.


"Apa sih, enak saja, dia laki-laki baik ya," ucap Intan.


Sintia tersenyum, mereka ada temannya di kantor, tempat bekerja Sintia cukup menyenangkan karena ada mereka.


Sejak ia bermasalah dengan Bian sampai Bian menikah dengan Zahra, Sintia tidak mendapatkan kenyamanan dalam hidupnya.


Tapi setelah ada mereka, Sintia merasa lebih baik lagi, bersama mereka Sintia bisa perlahan membuang kekecewaannya itu.


"Sayang banget ini kue dianggurin," ucap Fira.


"Tahu, ngoceh mulu, makan dong," sahut Intan.


Mereka kembali menikmati hidangannya, itu yang disuka ketika mereka berkunjung ke tempat Sintia, suguhan yang begitu banyak dan enak.


Tinggg .....


Mereka melirik Sintia bersamaan, wanita itu membuka ponselnya dan mengernyit saat membaca pesan masuknya.


"Kenapa?" tanya Intan.


Sintia menoleh sekilas, ia menggeleng dan melirik gerbang sana.


"Siapa tuh?" tanya Yura.


Rupanya mereka mengikuti arah pandang Sintia, dan melihat sosok lelaki di gerbang sana.


Sintia meneguk minumannya, untuk apa Damar datang malam-malam seperti ini.


"Kemarilah," ucap Sintia menggerakan tangannya.


Damar berjalan menghampiri, mereka saling lirik setelah Damar ada di dekatnya.


"Siapa nih?" tanya Intan.


Sintia melirik Damar, ia tampak tersenyum pada mereka semua.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Sintia.


"Memangnya tidak boleh?" tanya balik Damar.


"Bukan, maksudnya kan gak ada janji juga."


"Itu memang benar, tapi gak tahu kenapa aku tiba-tiba mau kesini."


"Emmm?"

__ADS_1


Damar tersenyum seraya mengangguk, Sintia yang mengernyit heran mampu membuat Damar merasa lucu.


Mereka kembali saling lirik, apa mereka tidak akan mendapatkan jawaban tentang siapa lelaki itu.


"Apa sih?" tanya Sintia.


"Iya, anggap saja aku merindukan kamu malam ini."


Sintia merasa konyol dengan kalimat Damar, sontak saja itu membuat mereka bersorak kompak.


Sintia mendelik dan melirik mereka semua, bagus sekali Damar, lelaki itu sudah membuat lelucon sempurna.


"Jadi kalian ini pasangan?" tanya Fira


"Tidak/Benar sekali," ucap Sintia dan Damar bersamaan.


Mereka saling lirik, sesaat kemudian mereka tertawa bersamaan.


Damar menaik turunkan alisnya, menggoda Sintia yang terlihat malu.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Damar.


Sintia menelan ludahnya, ia berpaling dan meneguk minumannya.


"Jadi siapa nih yang akan kasih undangan duluan?" tanya Yura.


Sintia mengernyit dan menatap mereka bergantian, bukankah sudah jelas jika Intan yang akan menikah lebih dulu.


Damar tersenyum, ia melihat sekitarnya asal, kasihan sekali Sintia pasti kesal karena kedatangannya.


"Siapa nama kamu?" tanya Intan.


"Damar."


Mereka berjabat tangan bergantian, Intan meminta Danar untuk duduk saja, bukankah mereka bisa berbincang banyak di sana.


Sintia merapikan rambutnya berulang kali, itu adalah gerakan yang sedikit aneh, mereka yang melihatnya merasa lucu.


"Damar, apa Sintia baik padamu?" tanya Fira.


Sintia menoleh, Damar mengatakan kalimatnya seraya melihat Sintia.


"Dia wanita baim yang pernah aku temui."


"Dan yang bisa membuat mu jatuh hati?" tanya Intan.


Damar tersenyum, Sintia tampak menatapnya tanpa celah.


Kenapa harus seperti itu, apa yang bisa Damar fikirkan dari tatapan itu.


"Sudahlah, kalian cocok sekali," ucap Intan.


"Benarkah?" tanya Damar Antusias.


Mereka justru tersenyum dan saling lirik, Sintia turut tersenyum seraya berpaling.


Damar tampak merapikan jaketnya yang memang terbuka, ia tersenyum seraya melirik Sintia.


"Kapan kalian jadian?" tanya Yura.


"Malam ini," jawab Damar cepat.


Sintia kembali melirik Damar, dengan enteng Sintia memukul Damar.


Damar mengangguk, ia tersenyum dan kembali melirik mereka.


"Tidak masalah, dia memang tidak pernah serius," ucap Intan.


Damar mengangguk, mereka benar-benar menikmati malamnya bersama, bukankah Damar orang yang menyenankan.


Mereka tidak kesulitan untuk berinteraksi dengan lelaki itu, dan kedatangan Damar memang membuat suasana menjadi lebih menyenangkan.

__ADS_1


Damar melihat jam di pergelangan tangannya, ia melihat Sintia yang menguap, pantas saja karena memang sudah larut malam.


"Kamu mengantuk?" tanya Damar.


Sintia menoleh, begitu juga dengan mereka, tentu saja itu benar karena mereka juga sudah mengantuk.


"Baiklah, sebaiknya kita pergi sekarang, kita akan bersama lagi besok," ucap Yura.


"Itu benar, kita harus istirahat cepat," sahut Intan.


Sintia mengangguk, mereka bangkit bersamaan, dan pamit pergi dari tempat Sintia.


Seperginya mereka, Sintia melirik Damar, lelaki itu tersenyum padanya.


"Kenapa?"


"Tidak apa, sana tidur."


"Kamu tidak pulang."


"Rasanya aku tidak mau pulang."


Sintia mengangkat sebelah alisnya, lalu Damar akan diam di tempatnya semalaman.


"Sintia, kamu belum masuk, jam berapa ini?"


Keduanya menoleh bersamaan, Damar menyapa hormat ibu dari Sintia itu.


"Kemana yang lain?"


"Mereka sudah pulang," ucap Damar.


"Ya sudah, Sintia ayo masuk ini sudah larut malam."


"Iya, Mama duluan."


"Jangan lama-lama," ucapnya seraya pergi.


Sintia mengangguk, ia kembali melirik Damar dan memintanya untuk pulang saja sekarang.


"Baiklah, selamat beristirahat."


"Lain kali kalau mau datang kabari dulu."


"Tidak akan, aku datang tiba-tiba."


Sintia berdecak, tapi Damar justru tersenyum melihatnya.


Tangannya terangkat mengusap kepala Sintia, itu cukup membuat Sintia heran.


"Maafkan aku kalau mulai melupakan batasannya."


Sintia diam, ia tidak tahu harus berfikir apa tentang kalimat Damar itu.


"Aku akan semakin sering menemui mu, aku harap kamu tidak keberatan saat aku datang, meski itu akan sangat mengganggu mu."


"Apa maksudnya?"


Damar menggeleng, ia lantas meminta Sintia segera masuk rumah.


Damar berlalu lebih dulu meninggalkan Sintia, meski Sintia masih bertahan di sana, tapi Damar tidak berniat kembali.


Ia akan semakin malas pergi jika kembali ke hadapan Sintia, bukankah wanita itu sudah diminta masuk.


"Damar, kamu pulang pakai apa, hey?"


Sintia menghembuskan nafasnya sekaligus, itu terasa aneh, kedatangannya yang tiba-tiba sangatlah aneh.


"Ada apa dengan dia."


Sintia menggeleng, ia lantas masuk tanpa perduli semua yang masih berantakan di meja.

__ADS_1


Malam yang menyenangkan, Sintia akan mengingatnya terus, tamu yang tak diundang itu juga sudah menyempurnakan malamnya.


Sintia akan berterimakasih besok hari, atau kalau nanti mereka bertemu lagi.


__ADS_2