
Bian tersenyum melihat Dion yang hanya diam saja, kedatangannya tak diharapkan sama sekali, apa lagi untuk mendekati Zahra.
"Ayo, simpan disini."
Nur menyimpan suguhannya di meja, ia kembali pergi setelah Inggrid memintanya pergi.
Inggrid melirik Bian yang begitu menghalangi Zahra dan Dion, ia lantas menariknya bangkit dan mengembalikannya ke posisi sebelumnya.
"Oma, apa-apaan sih?"
"Apa, kamu mau marah, berani kamu marah?"
Bian melirik dua orang di sampingnya bergantian, Dion tampak tersenyum senang karena kini tidak ada yang menghalanginya.
"Dion, ayo diminum," ucap Inggrid seraya duduk di tengah Dion dan Zahra.
Giliran Bian yang tersenyum karena ulah Inggrid, ya itu bagus, dan Bian tidak lagi keberatan dengan apa yang dilakukan Inggrid padanya.
"Ayo diminum."
"Terimakasih, Oma."
Dion meraih gelasnya dan meneguk minumannya, sangat tidak salah kedatangan Dion saat ini, Inggrid merasa sangat berterimakasih.
"Zahra, kamu sepertinya perlu jalan-jalan, dan Dion pasti mau menemani kamu."
Zahra mengernyit, sedangkan Dion merasa senang dengan ucapan Inggrid, ia menyimpan gelasnya dengan tenang, lalu melirik Zahra.
"Kamu mau kan, dari pada kamu di rumah terus, pusing kepala, mending kamu jalan saja karena ada Dion juga."
"Aku ...."
"Zahra bisa jalan sama aku, untuk apa harus menyusahkan orang lain?" sela Bian.
Zahra menunduk sekilas, ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan fikir Inggrid, apa wanita itu ingin Zahra membalas apa yang dilakukan Bian tadi.
Tapi untuk apa, Zahra tidak mau kalau nantinya ia sendiri yang akan kena imbasnya, amarah Bian bisa meledak kapan saja tanpa bisa Zahra kendalikan.
"Zahra, kamu diam saja," ucap Inggrid.
"Aku gak apa-apa kok Oma, gak usah pergi, aku baik-baik saja."
"Apa benar seperti itu, disini dan dalam hal kehidupan kamu hanya Oma yang bisa mengerti kamu, dan kamu tidak akan bisa berbohong pada Oma meski sedikit saja."
Zahra diam, lalu apa yang harus dikatakannya sekarang, jika diiyakan pun pasti Bian yang akan kesal padanya.
"Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan hal lain lagi, kamu masih bebas melakukan apa pun yang kamu mau sampai saat ini."
"Memangnya dia kenapa?" tanya Bian.
Tak ada yang memperdulikannya, mereka sibuk bertiga saja, seolah tak melihat dan mengakui keberadaan Bian.
"Dion, kamu tidak sedang sibuk kan?"
__ADS_1
"Tidak, kalau memang lagi sibuk, tidak akan mungkin kesini."
"Berarti kamu bisa ajak Zahra jalan?"
"Emmm, kalau Zahra mau."
"Tentu saja dia mau, dia juga pasti butuh hiburan yang membahagiakannya."
Zahra tetap saja diam, entah apa yang harus dikatakannya, Inggrid melakukan apa yang diinginkannya saja.
"Kalau gitu, kalian pergi saja sekarang."
Dion mengangguk, Zahra melirik Bian yang tampak menatapnya kesal, jika Zahra menolak pasti akan mengecewakan Inggrid, tapi jika Zahra pergi, bagaimana nasibnya saat bersama Bian nanti.
"Zahra, kamu mau ganti baju dulu?"
Zahra menoleh sekilas, ia lantas melihat dirinya sendiri, rasanya penampilannya tidak terlalu buruk saat ini.
"Tidak, aku seperti ini saja."
"Baguslah, sekarang kamu pergi saja."
"Aku mau bawa tas, ponsel aku juga di kamar."
"Tidak perlu, kamu akan terganggu kalau pergi bawa ponsel, langsung pergi saja."
"Ya sudah, ayo Zahra," ucap Dion.
Zahra hanya mengangguk saja, Inggrid tersenyum seraya mengangguk pada Dion.
"Ayo, aku bawa Zahra ya Oma."
"Pergilah, antarkan dia pulang setelah beban yang dirasakannya hilang."
"Siap."
Dion melirik Bian, tentu saja Dion melihat kekesalan di wajah Bian, tapi itu justru membuatnya tersenyum senang.
Dion meraih tangan Zahra dan membawanya pergi meninggalkan dua orang di sana, Bian yang hendak menyusul harus diam karena Inggrid yang menahannya.
"Sampai kapan kamu akan bersikap egois seperti itu?"
"Lepas, bagaimana bisa Oma lakukan ini?"
"Kenapa tidak bisa, kamu tidak sadar kalau kamu sudah kembali mengecewakan wanita itu, masih tidak mengerti cara menghargai Istri kamu sendiri?"
"Aku tidak minta dia datang, aku juga tidak beri tahu dia alamat rumah ini."
"Lalu Oma bisa percaya?"
Bian menarik tangannya, ia berpaling, semakin kesal saja Bian kepada Inggrid.
"Dengar baik-baik, Dion menyukai Istri kamu, dan Oma tidak akan menghalangi mereka untuk bersama."
__ADS_1
"Tapi dia Istri ku."
"Benarkah?"
Bian berdecak, ia pergi begitu saja tanpa perduli lagi dengan Inggrid, semakin lama mereka bicara maka akan semakin jengkel pada Inggrid.
Melihat sikap Bian, Inggrid hanya menghembuskan nafasnya berat, ia juga menggeleng tak habis fikir dengan cucunya itu.
"Kemana lagi wanita itu, Zahra," panggil Bian.
Tak ada siapa pun di luar sana, Bian tidak tahu kemana kepergian mereka berdua, tadi seharusnya Bian segera menyusul mereka.
"Sintia," ucapnya pelan
Bian melirik dalam rumah di sana, tidak ada Inggrid, sebaiknya Bian segera pergi untuk menemui Sintia saja.
Urusannya kembali ada dengan Sintia karena kedatangan Vanessa, dan Bian tidak akan diam saja karena ulahnya itu.
"Bian, mau kemana kamu?"
Bian yang memarkir mobilnya segera melaju pergi meninggalkan rumah, Bian tidak mau Inggrid menghalangi langkahnya lagi.
Lagi pula Bian pergi tidak untuk menyusul Zahra, melainkan untuk menemui Sintia, kali ini Bian akan biarkan saja Zahra dan Dion pergi bersama.
"Dasar anak keras kepala, fikirannya masih saja seperti itu."
Inggrid kembali memasuki rumah, tidak ada yang bisa dilakukannya jika mereka sudah pergi, Inggrid hanya akan menunggu mereka kembali saja.
"Kamu mau kemana?" tanya Dion.
"Aku tidak mau kemana-mana."
"Bagaimana bisa kamu biarkan wanita lain menemui Suami kamu?"
"Biarkan saja, mereka punya urusan sendiri."
"Tapi kamu tahu tujuan jelasnya apa."
"Aku memang tahu, tapi aku tidak mau perduli, kamu fikir dengan seperti ini pergi sama kamu, aku jadi lebih baik dari pada Bian?"
"Tapi paling tidak kamu jadi tahu dia cemburu atau tidak."
"Lalu apa hasilnya, kamu fikir Bian perduli dengan ini?"
"Kita lihat nanti."
Zahra mendelik, Dion sangat membuatnya kesal, kenapa bisa Dion datang disaat seperti ini, seharusnya dia tidak datang sama sekali.
Dion tersenyum, saat ini Zahra memang kesal padanya, tapi sebentar lagi Zahra pasti akan merasa bebas dan senang.
"Tidak perlu berfikir apa pun, aki ingin segera pulang."
Dion mengangguk tanpa menjawab, terserah saja mau bicara apa, Dion tidak akan mengantarkannya pulang sebelum ia melihat Zahra tertawa.
__ADS_1
Mau seperti apa pun Zahra berpura-pura, Dion tetap tidak bisa percaya jika Zahra memang baik-baik saja setelah pertemuan dengan Vanessa.