Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tidak Bisa


__ADS_3

Marvel berjalan memasuki kantor, ia baru saja sampai dan itu berarti ia datang terlambat.


Marvel juga kesal karena ternyata hari ini Zahra datang terlambat, entahlah urusan wanita itu sangat membuatnya ikut pusing.


"Pak Marvel."


Marvel menoleh, ia diam menantikan orang yang memanggilnya itu sampai di hadapan.


"Ada apa?"


"Pak Bobi membatalkan meeting hari ini."


"Kenapa?"


"Tadi Bu Inggrid sempat telepon, katanya Bu Zahra tidak bisa masuk hari ini, dan Pak Bobi mau meetingnya berjalan dengan kehadiran Bu Zahra."


"Kenapa lagi dia tidak masuk?"


"Katanya kecelakaan."


Marvel mengernyit, setelah Bian yang kecelakaan, sekarang diikuti Zahra, ada apa dengan mereka.


Marvel kemudian mengangguk dan berterimakasih untuk informasinya, soal meeting yang batal, akan ia tanyakan langsung pada pihak bersangkutan.


"Permisi, Pak."


Marvel lantas memasuki ruangannya, padahal ia sudah sangat buru-buru untuk bisa sampai ke kantor.


Ternyata meetingnya dibatalkan, bukankah itu hanya menambah kekesalan Marvel saja.


"Sepertinya mending aku bekerja sendiri seperti sebelumnya, kedatangan Zahra memang sangat penting, tapi jika seperti ini hanya buat pusing saja."


Marvel menyimpan tasnya dan duduk, sudah banyak meeting yang Zahra lewatkan, dan sekarang meeting sampai dibatalkan karena wanita itu.


"Kecelakaan apa dia, kenapa Bu Inggrid tidak memberi kabar juga pada ku."


Marvel membuka ponselnya, ia mencoba menghubungi Inggird, tapi tak mendapatkan jawaban apa pun.


Baiklah, mungkin lebih baik Marvel datang langsung saja nanti, lagi pula entah dimana rumah mereka.


"Lebih baik aku kerjakan pekerjaan ku saja, biar saja meeting dan lain-lainnya, pusing kepala ini."


"Permisi."


"Belum juga mulai bekerja, masuk."


"Permisi, Pak."


Marvel mengangguk, ia tersenyum saat wanita itu menghampiri.


"Ada apa?"


"Ini ada pengajuan dari semua karyawan untuk acara tahunan perusahaan."


Marvel mengangkat kedua alisnya, lagi serba susah seperti ini kenapa mereka malah memikirkan liburan.


Marvel melihat kalender di mejanya, memang sudah tinggal 1 minggu lagi, tapi apa kegiatan rutin itu akan kembali diadakan tahun ini.


"Bagaimana Pak, atau saya langsung berikan saja pada Bu Zahra?"

__ADS_1


"Tidak perlu, biar nanti saya saja yang berikan, kamu simpan disini saja dulu."


"Baik."


Ia menyimpan berkasnya dan pamit untuk kembali pada pekerjaannya, Marvel tersenyum bukankah acata tahunan itu selalu menyenangkan.


"Aku sudah berikan hasil kerja yang bagus, ah bonus ku pasti akan besar kali ini."


Marvel mengangguk, ia begitu berharap dengan rewardnya itu, bukankah perjuangannya itu sudah sangat luar biasa.


Ia sudah membantu membesarkan perusahaan Inggrid, dan itu artinya ia sangat berguna.


"Baiklah, akan segera aku sampaikan berkas ini, reward terbaik tahun ini akan jadi milik ku."


Marvel begitu bangga dengan dirinya sendiri,padahal semua itu belumlah pasti, acara tahunana belum tentu terjadi di tahun kali ini.


Inggrid sedang bermasalah, dan sepertinya itu akan cukup mempengaruhi mereka semua.


 -----


"Oma, aku mau langsung masuk saja."


"Kamu bisa sendiri, biar Oma bicara dulu dengan dia?"


"Bisa, tenang saja."


Inggrid mengangguk dan membiarkan Zahra pergi darinya, Inggrid lantas mengajak Damar untuk duduk.


Inggrid masih harus bicara banyak dengan lelaki itu, untuk kelanjutan dari penyelesaian masalah mereka.


"Mba, ada tamu," ucap Inggrid sedikit keras.


"Kamu tidak ada urusan hari ini?" tanya Inggrid.


"Tidak, aku kerja di shift malam."


"Oh, baiklah mungkin saya masih bisa bicara beberapa hal dengan mu."


"Silahkan saja, Bu."


Inggrid mengangguk, mereka melirik Nur yang menyajikan suguhan untuk Damar, dengan begitu perbincangan mereka akan lebih nyaman.


Damar berterimakasih pada Nur, ia merasa sangat meroptkan wanita itu, karena suguhan yang lumayan banyak.


"Ayo silahkan diminum dulu, atau kalau mau makan dulu?"


"Ah tidak perlu, ini saja sudah cukup."


"Baiklah."


Keduanya tersenyum dan meneguk minumannya masing-masing, Inggrid tak lagi gelisah karena sekarang Zahra sudah kembali bersamanya.


Sampai di kamar, Zahra langsung saja merebahkan tubuhnya di kasur, bisa sekali Zahra bertemu dengan orang gila seperti itu.


"Hey ini buruk."


"Tidak, ini menyenangkan."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Aku bahagia."


Zahra kembali duduk, suara itu sangat di dengarnya, bukankah itu suara Bian dan Vanessa.


Zahra melihat sekitar, mungkin saja ia salah memasuki ruangan, tapi itu memang kamarnya bersama Bian.


Atau mungkin Zahra salah dengar tadi, fikiran yang masih saja kacau bisa menjadikan fokus Zahra juga tak baik.


"Jangan, apa kamu gila?" ucap Vanessa seraya tertawa.


Zahra mengernyit, ia melirik pintu di sampingnya, suara itu terdengar di balkon sana.


"Diamlah, bukankah kamu juga suka?" tanya Bian.


Zahra menunduk, suara itu terdengar berkali-kali, mana mungkin sekedar halusinasi, Zahra lantas turun dan berjalan untuk memastikan semuanya.


Selama langkah Zahra, telinganya tak lagi mendengar dua suara itu, Zahra masih berfikir jika semua memang salah.


Tangan kirinya terangkat membuka pintu itu perlahan, tangan kanannya tak sengaja menyenggol pintunya sehingga membuatnya meringis kesakitan.


"Ah malang sekali nasib ku," ucapnya pelan.


Zahra melanjutkan langkahnya, ia melihat ke luar sana mencari suara yang mengganggu telinganya.


"Ini diam, kenapa tidak bisa diam sekali."


Zahra mundur dan diam dibalik pintu, suara itu tidak salah, dan sosok pemilik suaranya pun nyata dipandangan Zahra.


"Bukan aku yang tidak bisa diam, tapi kamu."


"Tidak perlu seperti itu."


Dua orang itu tertawa bersamaan, Zahra sedikit tersenyum mendengarnya, bahkan kepergian Zahra sama sekali tidak diperdulikan Bian.


Zahra melihat dirinya sendiri, iya .... Saat ini Zahra sangat menjijikan, dengan pakaian berdarah dan luka di tangannya.


"Bian, emmm ...."


Zahra memejamkan matanya sesaat, ia mencondongkan tubuhnya untuk bisa melihat keluar.


Betapa terkejutnya Zahra saat melihat dua manusia itu di kursi sana, kekacauan kembali dirasakannya, kedua matanya begitu jelas melihat sang suami mencium mesra wanita lain.


Tangan Zahra mengepal, ini sangat keterlaluan, Zahra nyaris mati hanya karena ingin menyelamatkan suaminya, tapi apa yang dilihatnya saat ini.


"Ayo kita ke dalam," ajak Bian.


"Benarkah?" tanya Vanessa.


Bian menarik Vanessa untuk bangkit, Zahra mengernyit, kaki Bian tampak baik-baik saja, bukankah saat pagi Zahra melihatnya masih kesulitan berjalan.


Apa maksudnya, semalam pun Bian begitu tak berdaya saat Zahra mendorongnya, apa benar perihal lukanya pun Bian menjadikan itu sebagai sandiwara.


Zahra kembali mundur dan sedikit menutup pintunya, ia merapatkan bibirnya saat dua manusia itu memasuki kamar, pintu yang didorong Bian nyaris saja mengenai tangannya yang terluka.


"Bisakah jangan seperti ini?" tanya Vanessa.


"Kita sama-sama menginginkannya," ucap Bian seraya mencium wanita itu lagi.


Zahra menelan ludahnya, hatinya sudah tak bisa diselamatkan lagi, Bian sudah menghancurkan semuanya tak bersisa.

__ADS_1


Mata Zahra terpejam saat Bian membawa tubuh itu berbaring, mereka benar-benar bercumbu di sana.


__ADS_2