Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Tidak Bisa


__ADS_3

Inggrid membawa Zahra untuk duduk, minuman juga sudah ada di meja sana, Zahra baru sampai lagi ke rumah saat sore hari, entah kemana saja wanita itu seharian.


"Kamu baik-baik saja?"


Zahra tersenyum seraya mengangguk, itu memang keharusannya, Zahra harus selalu baik-baik saja.


"Dari mana saja kamu?"


"Tidak kemana-mana, aku hanya duduk di taman."


"Sama siapa?"


"Sendiri saja."


"Kamu tidak menemui Dion?"


Zahra diam, haruskah Zahra menjawab ia, tapi rasanya tidak perlu, biarkan saja pertemuan itu hanya mereka yang tahu, lagi pula Zahra sudah memutuskan untuk tidak mengganggu Dion lagi.


"Zahra."


"Tidak, untuk apa aku menemuinya, lagi pula bukankah ini hari kerja, Dion pasti bekerja tidak akan ada di rumah."


"Jadi kamu hanya sendirian saja, lalu kenapa tidak pulang saja?"


"Bian kemana?"


"Kamu masih mempertanyakannya, untuk apa lagi?"


"Kemana dia, dia pasti marah karena aku tidak juga kembali."


"Bukankah sudah pekerjaannya untuk marah-marah, biarkan saja untuk apa kamu memikirkan semua itu?"


Zahra diam, benarkah Bian sama sekali tidak memperdulikan kepergiannya, jadi Bian tidak berusaha untuk mencarinya juga.


"Zahra."


"Kemana dia sekarang?"


"Oma tidak tahu, dia pergi juga sesaat setelah kamu pergi."


"Mungkin saja dia ke Kantor."


"Tidak mungkin, Oma tidak lagi izinkan dia mengurus perusahaan, biarkan saja dia jadi pengangguran sekarang."


"Kenapa Oma lakukan itu?"


"Memangnya kenapa, biarkan saja agar dia tahu kalau Oma tidak bisa diajak bermain-main."


Zahra menghembuskan nafasnya sekaligus, Bian pasti akan semakin marah padanya, ia pasti menganggap jika semua karena perkataan Zahra sebelum pergi.


"Kenapa, apa yang kamu fikirkan?"


"Aku gak mau Bian jadi pengangguran."


"Kamu masih memikirkannya?"


"Oma, kalau Bian tidak bekerja, lalu siapa yang akan kasih aku uang."


"Oma juga bisa."


"Mana bisa seperti itu, Oma bilang kalau Bian harus bisa bertanggung jawab, kalau seperti sekarang bagaimana bisa dia tanggung jawab."

__ADS_1


"Dia sudah tidak bisa tanggung jawab, tidak bisa dipercaya, sudahlah biarkan dia bebas semauanya saja."


Zahra menggeleng, ia meraih kedua tangan Inggrid, semua mungkin akan menyalahkan Zahra jika sampai Bian kehilangan pekerjaannya.


"Apa, kamu jangan coba paksa Oma untuk hal apa pun juga, apa lagi soal lelaki itu."


"Oma tidak kasihan sama aku, Bian akan semakin kesal sama aku, dan belum lagi nanti gimana sama orang tuanya Bian."


"Untuk apa memikirkan mereka, mereka hanya bisa membenci kamu, menyusahkan kamu, kamu diam saja nurut sama Oma."


Zahra diam, bisakah seperti itu, mungkin memang Zahra bisa tenang jika bersama Inggrid, tapi tidak mungkin juga Inggrid 24 jam ada disisinya.


Tetap saja pergantian waktu, Zahra akan ada bersama Bian, dan saat itu Zahra akan kehilangan ketenangannya lagi.


"Aku pulang."


Keduanya saling lirik, tentu saja mereka tahu jika itu suara Bian, dan baiklah Zahra harus siap mendengarkan omelannya lagi.


"Kamu diam saja, biar Oma yang temui dia, kamu jangan keluar kalau bukan Oma yang minta."


"Tapi Oma ...."


"Nurut saja, diam disini."


Inggrid bangkit dan berjalan menghampiri Bian di sana, Zahra hanya diam saja sesuai dengan permintaan Inggrid.


Semoga saja Zahra bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, agar Zahra bisa sedikit tahu bagaimana harus menghadapi Bian nantinya.


"Mana Zahra?" tanya Inggrid.


"Tidak ada, aku tidak bisa menemukannya."


"Kamu fikir itu jawaban yang benar?"


Inggrid mengangguk, ia sama sekali tidak percaya dengan perkataan Bian, siapa yang tahu kalau lelaki itu justru menemui wanita lainnya.


Inggrid sedikit tersenyum, biarkan saja Inggrid tidak akan membahas soal wanita itu lagi, Inggrid akan melihat pembuktian dari ucapan Bian sendiri.


"Oma, aku sudah berusaha, mungkin nanti Zahra akan kembali dengan sendirinya, dia tidak punya tempat pulang selain dari rumah ini."


"Kamu yakin itu, apa kamu tahu siapa saja teman Istri mu itu?"


"Dia sendirian saja, aku tahu dia sudah tidak memiliki siapa pun sejak orang tuanya meninggal."


"Dan kamu senang dengan itu?"


"Oma."


"Diam kamu, kamu harus bisa mengerti bagaimana harus memperlakukan orang yang sudah hidup sendirian seperti Zahra, apa kamu tahu kapan keluarga mu akan meninggalkan mu, dan apa kamu akan siap menghadapi semuanya sendirian seperti Zahra."


Bian diam, kenapa Inggrid jadi berkata seperti itu, Bian tidak akan sendirian, mereka semua akan tetap ada dengan Bian.


"Jangan kamu fikir teman kamu itu bisa membela mu sama seperti keluarga mu, jangan pernah merasa kamu paling mampu menjalani hidup semau kamu terus."


"Aku akan cari Zahra lagi, berhentilah berbicara."


"Ya itu memang harus, Oma sudah katakan jangan berani kembali pulang kalau kamu tidak membawa Zahra."


"Iya, aku minta maaf."


"Ya sudah pergi, temukan Istri kamu itu dan bawa dia ke hadapan Oma."

__ADS_1


Bian mengangguk dan mulai melangkah meninggalkan Inggrid, kemana Bian harus pergi sekarang, tidak ada tujuan sama sekali untuk bisa menemukan Zahra.


"Bian, kamu mau kemana?"


Bian dan Inggrid menoleh bersamaan, Inggrid berdecak saat melihat Zahra yang sudah berdiri di belakangnya.


"Zahra, kamu sudah pulang."


Bian kembali menghampiri keduanya, jadi sejak tadi Inggrid sedang membohonginya, buktinya Zahra sudah ada di rumah.


Inggrid menatap Zahra dengan kesal, wanita itu sangat membantahnya, padahal ia sedang berusaha membelanya saat ini.


"Oma, aku tidak bisa," ucap Zahra.


"Tutup mulut kamu."


"Jadi Oma berbohong sejak tadi, Zahra sudah disini tapi Oma suruh aku pergi lagi."


"Diam kamu, kamu masih tidak mengerti apa maksud Oma."


Mereka sama-sama diam, Bian tak berniat berpaling dari pandangannya terhadap Zahra, dari mana wanita itu seharian.


Rasanya ingin sekali Bian memarahinya lagi, Zahra sudah sangat membuatnya sakit kepala, langkahnya sia-sia karena ternyata Zahra datang dengan sendirinya.


"Bian, aku minta maaf, tapi aku hanya ...."


Belum selesai kalimat Zahra, Bian lebih dulu berlutut seraya menggenggam kedua tangannya.


Zahra kaget dengan tingkah Bian, ia melirik Inggrid yang tampak tersenyum acuh dengan apa yang dilakukan Bian.


"Zahra, aku minta maaf, aku tahu aku salah, aku sudah keterlaluan sama kamu."


"Kamu tidak perlu seperti ini, bangunlah."


"Tidak, aku mau dengar kalau kamu mau memaafkan aku, jangan pergi lagi seperti tadi, aku tidak tahu harus mencari kamu kemana."


"Bagus sekali, kamu mulai pintar bersandiwara sekarang Bian," ucap Inggrid.


Zahra melirik Inggrid, kenapa bisa berkata seperti itu terhadap cucunya sendiri, apa Inggrid tidak mendengar permintaan maaf Bian.


"Oma, sudahlah aku tidak apa-apa."


"Oma bilang kamu diam."


Zahra menggeleng, ia menarik Bian untuk bangkit, Zahra tidak butuh sikap seperti itu, jika akhirnya nanti Bian masih akan mengulanginya lagi.


"Zahra, aku minta maaf."


"Sudah, aku juga salah."


"Bodoh sekali kamu, bagaimana bisa kamu


bersikap buruk pada wanita seperti dia, harusnya kamu senang bisa bersama dia, setelah semua perlakukan buruk kamu, dia masih saja menyalahkan dirinya sendiri."


Bian diam, keduanya bertahan dalam tatapan satu sama lain, Zahra tidak bisa biarkan Bian susah, karena imbasnya pasti akan menyusahkannya juga.


"Zahra, aku akan berusaha lebih baik lagi, tolong maafkan aku."


"Iya, sudah, aku sudah bilang tidak apa-apa, aku juga salah disini."


Bian tersenyum dan memeluk Zahra begitu saja, tapi sesaat kemudian Inggrid menjauhkan keduanya.

__ADS_1


Inggrid menatap Bian, sampai akhirnya ia pergi dengan membawa Zahra, mereka meninggalkan Bian begitu saja, meski Zahra sempat menolah, tapi akhirnya ia ikut juga.


__ADS_2