Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Penuh Harap


__ADS_3

Sejak pagi pagi hari Zahra sudah meninggalkan rumah dengan ditemani Dion, keduanya sudah janji pergi bersama pagi ini.


Tak ada yang melihat kepergiannya, bahkan meski mba rumah sekali pun, Zahra pergi diam-diam dan ia berhasil melakukan itu.


"Apa ini tempatnya?"


"Ini pengadilan terdekat, kamu bisa mengajukan perpisahan disini."


Zahra diam, ia sudah menggenggam semua syarat yang dibutuhkan.


Sesuai dengan informasi yang didapatkan Dion, lelaki itu langsung menyampaikannya pada Zahra untuk disiapkan.


"Aku masuk."


"Semangat."


Zahra tersenyum, ia lantas keluar dan memasuki gedung itu.


Dion juga turut keluar dan menyusul, ia memperhatikan Zahra dari jauh, tidak ada raut keraguan di wajah Zahra saat ini.


"Anda yakin dengan keputusan ini?"


"Iya, saya yakin."


"Baiklah, serahkan berkasnya.


Zahra memberikan berkas yang dibawanya, orang di hadapannya segera memeriksanya dengan seksama.


"Bian dan Ayra, mana Suami mu, apa dia setuju dengan ini?"


"Ini keinginan ku, jadi proses saja, jangan fikirkan hal lain."


"Apa alasannya?"


Zahra diam, apa harus Zahra menceritakan semuanya pada lelaki itu.


Tidak bisakah langsung saja diproses permintaannya, Zahra sudah malas untuk berbicara panjang lebar.


"Tidak ada alasan untuk perpisahan ini, mungkin ini hanya emosi sesaat anda saja, silahkan pulang dan fikirkan ulang semua keputusan ini."


Zahra menggeleng cepat, tidak ada yang harus difikirkannya lagi sekarang, semua sudah bulat dan tidak akan ada yang dirubah.


Zahra menceritakan semua permasalahannya, dari awal pernikahan hingga saat ini ia menyerah dengan semuanya.


"Perubahan bisa dilakukan siapa saja termasuk Suami anda."


"Aku sudah memberikan banyak kesempatan, tapi hasilnya sama saja."


"Jadi, anda tetap pada keputusan anda?"


"Iya, keputusan ini yang terbaik."


Lelaki itu mengangguk, ia lantas menutup berkasnya dan menyimpannya.


Zahra tersenyum, memang seharusnya tidak ada penolakan untuk itu, mereka hanya harus membantu memproses saja.


"Silahkan buat isi surah gugatannya."


Zahra melihat selembar kertas yang diberikan, ia membacanya sesaat dan segera mengisinya tanpa ragu.


Tidak ada hal yang lain difikirannya, saat ini perpisahan itu adalah fokus utamanya.


"Pak, mau pengajuan juga?"

__ADS_1


"Ah tidak, saya hanya mengantar teman saja, dia ada di dalam."


"Oh, baiklah, permisi."


Dion mengangguk, ia kembali melirik Zahra, kenapa lama sekali wanita itu, apa saja yang dilakukannya di dalam sana.


Dion kembali ke mobilnya, ia merasa khawatir jika orang-orang di sana justru membuat Zahra mengurungkan niatnya.


"Itu tidak mungkin, dan itu tidak boleh, mereka hanya harus mendukung dan memproses semuanya sesuai pengajuan Zahra."


Dion mengagguk, entah jahat atau apa namanya, tapi Dion memang menginginkan perpisahan mereka.


Sejak lama, Dion tak pernah bisa melupakan Zahra, wanita itu selalu saja ada dalam fikirannya, dan saat ini bisa jadi kesempatan bagus untuk dirinya.


"Ayolah, buat perpisahan ini berhasil, kali ini saja berikan aku kesempatan terbaik."


Dion menatap pintu bangunan itu, mana Zahra, berapa lama lagi di dalam sana, dan kenapa terasa sangat menyebalkan.


Eskpresinya semakin tak karuan saat Zahra terlihat keluar, Dion segera keluar dan berdiri menunggunya.


"Bagaimana?" tanya Dion ragu.


Zahra menunjukan surat gugatannya terhadap Bian, Dion menerimanya dan membukanya.


Senyumnya sekilas terlihat, sampai sini memang sesuai dengan harapannya, Dion mengembalikannya.


"Kita langsung pulang?" tanya Dion.


"Tentu saja."


Dion mengangguk, ia lantas membukakan pintu untuk Zahra masuk.


Mereka pergi meninggalkan pengadilan itu, berjam-jam waktu yang terlewati sangat membuat keduanya jengkel.


"Zahra, aku langsung ke Rumah Sakit."


"Aku minta maaf."


"Tidak masalah, terimakasih sudah mengantar ku."


Dion mengangguk, jika saja tak ada ibunya di rumah sakit, tentu Dion akan mengantarkannya sampai ke rumah.


Zahra menatap amplop yang digenggamnya, ia sudah memulai langkahnya, seperti apa pun respon Bian nanti, Zahra tidak mau memperdulikannya.


----


"Silahkan duduk, saya tidak tahu kemana Zahra pergi," ucap Inggrid.


Isma mengangguk, itu tidak masalah, dengan mendengar Zahra sudah kembali ke rumah saja sudah cukup membuatnya lega.


"Silahkan Bu, minumnya."


"Terimakasih, Bi."


"Sama-sama."


Isma menoleh, ia melihat Bian yang turun dari atas sana, lelaki itu tampak muram, apa mereka belum berbaikan.


"Bian, kemana Zahra?" tanya Inggrid.


"Aku tidak tahu, dia pergi tanpa izin."


Inggrid dan Isma saling lirik, lesu sekali lelaki itu, apa ada masalah baru lagi yang terjadi sampai hari ini.

__ADS_1


Isma menggeleng, fikirannya sama sekali tidak bisa positif, kenapa semua terlihat dan terasa buruk.


"Aku pulang," ucap Zahra.


Mereka menoleh bersamaan, Inggrid dan Isma bangkit bersamaan.


"Zahra," panggil Isma.


Zahra tersenyum, ia belari dan memeluk Isma dengan eratnya, betapa rindu ia dengan Isma.


"Apa kabar kamu?" tanya Isma.


"Aku baik, bagaimana dengan Mama?"


"Baik juga."


Pelukan itu dilepas, Isma menatap wajah Zahra, tidak ada kemuraman sama sekali, wanita itu terlihat baik-baik saja berbeda jauh dengan Bian.


"Kamu habis dari mana?" tanya Isma.


Zahra melirik Inggrid dan Bian di sana, dengan segera ia memberikan amplopnya pada Bian.


"Apa ini?" tanya Bian.


"Aku rasa kamu cukup pintar untuk membaca tulisannya."


Bian sedikit mengangguk, ia lantas membukanya dan membacanya.


Isma dan Inggrid juga merasa penasaran dengan itu, apa yang dibawa Zahra, nada bicara Zahra membuat mereka gelisah.


"Kamu benar melakukan ini?" tanya Bian.


"Aku sudah memutuskannya, jangan berani memaksa ku untuk membatalkannya, Mama, aku ke atas dulu."


"Zahra, tapi ....."


Zahra berlalu tanpa menunggu kalimat Isma selesai, Inggrid segera merebut kertasnya dan membacanya.


Kenyataan di kertas itu membuat Inggrid syok, apa yang dilakukan Zahra kenapa bisa sekali melakukan itu.


"Ini pasti salah, Ayra gak mungkin melakukan ini," ucap Inggrid seraya terduduk.


Isma meraih kertasnya, ia turut membacanya, sama hal dengan Inggrid, Isma juga merasa tak habis fikir dengan itu.


Keduanya menoleh melihat Bian yang berlari menaiki tangga, apa kali ini akan ada keributan lagi.


"Bu Inggrid, ini ...."


"Ayra, benar-benar menyerah," sela Inggrid.


"Ada masalah apa lagi, apa ini imbas dari penculikan itu?"


Inggrid mengangguk ragu, bukankah permintaan Zahra untuk berpisah semakin menjadi setelah penculikan itu.


Isma menggeleng, apa benar keputusan Zahra, wanita itu bisa saja menyesali keputusannya kali ini.


"Zahra," teriak Bian.


Keduanya seketika bangkit, dengan cepat mereka menyusul Bian dan Zahra.


Setelah keributan malam itu, bisakah tidak terulang lagi kali ini, Inggrid sudah bosan dengan semua itu.


"Zahra," teriak Bian lagi.

__ADS_1


Mbak rumah tampak berlari mendekati tangga, ia melihat ke atas sana meski tak ada yang dapat dilihatnya dari mereka.


"Ada apa lagi ini, kenapa selalu saja berteriak seperti itu, pertemuan mereka memang hanyalah untuk pertengkaran."


__ADS_2