Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Itu Konyol


__ADS_3

"Bibi," panggil Zahra.


"Iya, Non."


Nur tampak berlari menghampiri Zahra, ua melihat belanjaan yang dibawa tuan rumahnya itu.


"Apa itu?" tanya Nur.


"Tolong simpan ini di dapur ya, besok pagi kalau gak kesiangan aku yang masak untuk Bian."


Nur sedikit tidak percaya dengan apa yang didengarnya, apa Zahra baik-baik saja, ia ingin memasak sendiri.


Zahra tersenyum, ia mengangguk paham dengan apa yang mungkin sedang difikirkan Nur.


"Aku akan mencobanya, tenang saja, aku tidak akan memaksakan kalau memang aku tidak mampu."


"Kenapa tidak Bibi saja, biasa juga seperti itu."


"Tidak, aku mau belajar jadi Istri yang lebih baik lagi untuk Bian."


Nur tersenyum, tentu saja ia akan mendukungnya, Nur akan membantunya jika memang Zahra membutuhkan bantuan.


"Oma mana?"


"Ibu, tadi sudah masuk kamar, mungkin sudah istirahat."


"Baiklah, aku juga mau istirahat, tolong rapikan ini ya, tolong sekali."


"Tidak masalah, biar Bibi rapikan."


"Terimakasih Bi, aku duluan ya."


Nur mengangguk dan membiarkan Zahra pergi darinya, dengan cepar Nur membawa belanjaannya ke dapur.


Banyak juga, Nur jadi penasaran apa yang akan dibuat Zahra besok pagi, dan akan seperti apa rekasi Bian nantinya.


"Aku pulang," ucap Zahra.


"Aku disini," sahut Bian.


Zahra kembali keluar, ia tersenyum melihat Bian yang tersenyum padanya.


"Baru pulang, lama sekali," ucap Bian seraya memeluk Zahra.


"Entahlah, aku tidak tahu harus beli apa disana."


"Baju mu kotor."


Zahra mengernyit, ia melirik pundaknya yang disentuh Bian.


Itu pasti noda dari kayu tadi, Zahra tidak sempat memeriksanya sewaktu di sana.


"Kamu kenapa?"


"Emmm, enggak .... aku gak apa-apa, ini mungkin tadi kenapa belanjaan, aku kan beli ikan sama ayam sama apa lagi banyak."


"Mana bisa sampai ke pundak, kamu belanja kan pakai tangan."


Zahra diam, apa benar tidak bisa, bukankah bisa saja kalau mungkin ikannya melompat ke pundak Zahra.


Zahra tersenyum karena pemikirannya sendiri, Bagaimana mungkin seperti itu, jelas saja tidak bisa.


"Ada apa, kenapa kamu diam saja, malah senyum-senyum."


"Bagaimana kalau ikannya lompat pas aku pilih, dan dia nempel di bahu, jadinya kotor deh."


Bian mengernyit, kalimat macam apa itu, apa ada yang seperti itu.

__ADS_1


Zahra kembali tersenyum, ia melepaskan pelukannya dan mencubit hidung Bian.


"Untuk apa juga memikirkan itu?" tanya Zahra.


"Kamu yang mulai, mana bisa seperti itu."


"Memang tidak bisa, tidak seperti itu kejadiannya."


Bian berdecak, Zahra sedikit tertawa dan memasuki kamar, entahlah, Zahra malas untuk cerita.


Tingg .....


Bian yang hendak turut masuk harus kembali diam, ia membuka pesan masuk ke ponselnya.


"Bian, pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Zahra.


Tak ada jawaban, Zahra menoleh, Bian tampak serius berkutat dengan ponselnya.


Apa masih soal pekerjaan, bukankah ini sudah malam, ah itu akan sangat menyebalkan.


"Apa yang terjadi?" tanya Bian seraya menghampiri.


"Apa yang terjadi, aku tidak tahu."


"Jangan bohong kamu."


Zahra diam, memangnya apa yang terjadi, dan apa juga yang Bian ketahui.


"Bahu mu terluka?"


Zahra mengernyit, itu cukup membuatnya bingung, kenapa Bian bertanya seperti itu.


"Katakan dengan benar, jangan membuat ku marah."


"Katakan apa, aku tidak mengerti kamu bicara apa?"


"Vanessa."


Zahra tidak mau mengatakan apa pun soal itu, tapi kenapa Damar justru mengadu seperti itu.


"Masih diam?"


"Ah kenapa lelaki itu berisik sekali."


"Lelaki siapa, kamu menyebut ku berisik."


"Damar, siapa lagi?"


"Damar?"


Bian justru balik tidak mengerti dengan kalimat Zahra, kenapa jadi Damar, bukankah Bian menyebutkan nama Vanessa.


Zahra menghembuskan nafasnya sekaligus, baiklah dari pada harus ribut lagi, lebih baik Zahra ceritakan saja.


"Ini memang noda dari bat yang dipukulkan Vanessa, tapi aku tidak terluka, bat keu hanya terjatuh dan mengenai pundak ku."


"Dia sengaja melakukan itu?"


"Dia mau aku mati," ucap Zahra ragu.


"Lalu kenapa kamu sebut Damar?"


"Kamu tahu itu dari Damar kan?"


"Sintia yang kirim aku pesan."


Zahra diam, ah benar juga, kenapa Zahra tidak ingat jika Damar di sana karena janjian dengan Sintia.

__ADS_1


Jangan sampai Bian curiga dan berfikir hal lain tentang mereka berdua, Zahra malas dicurigai lagi.


"Baiklah, Damar membantu ku saat Vanessa hendak memukul ku, dia menahan Vanessa sehingga pukulannya tidak sampai melukai ku, Damar disana karena mau bertemu Sintia dan mungkin Damar cerita kejadiannya sama Sintia, makanya dia kirim kamu pesan."


Bian berpaling sesaat, jadi ini bukti dari ucapan Vanessa, wanita itu benar-benar nekad melakukan niat buruknya.


Zahra tersenyum, ia meraih ponsel Bian dan menyimpannya, lelak itu pasti marah setelah tahu kejadiannya.


"Tidak masalah, aku baik-baik saja sekarang."


"Tapi Vanessa keterlaluan, bagaimana kalau tidak ada Damar tadi?"


"Tidak ada Damar juga masih banyak orang disana, Vanessa terlalu bodoh untuk menjadi orang jahat, dia berniat mencelakai ku dikeramaian, mana bisa dia melakukan itu."


Bian berdecak, tetap saja itu tidak bisa dibiarkan, Bian akan menemuinya besok, berani sekali Vanessa mengganggu Zahra seperti itu.


Zahra menarik Bian agar duduk, apa pun yang ada difikiran Bian saat ini, Zahra hanya mau semua tetap baik-baik saja.


"Dia akan dapat hukumannya."


"Sudahlah, tidak perlu dibesar-besarkan, aku akan tetap baik-baik saja."


"Percaya diri sekali kamu, jangan pergi kalau hanya sendiri, kalau kamu mau pergi harus sama aku."


Zahra tersenyum seraya menatap Bian, kalimat itu terdengar manis di telinga Zahra.


Bian akan benar-benar menjaganya sekarang, dan bagaimana bisa Zahra tidak merasa senang dengan itu.


"Kamu dengar aku atau tidak?"


"Siap Tuan Bian."


Bian berdecak seraya melepaskan genggaman Zahra.


"Kenapa, aku salah lagi?"


"Jelas saja salah, fikirkan kesalahan mu dan perbaiki sekarang juga."


Zahra diam, kesalahan apa yang dilakukannya, apa Bian keberatan karena Zahra menggenggam tangannya.


Tapi bukankah mereka sudah baik-baik saja sekarang, seharusnya Bian membebaskan Zahra untuk sekedar menggenggam tangannya.


"Sadar kamu?"


"Aku minta maaf, aku fikir aku sudah bisa bebas menggenggam tangan mu."


Lagi-lagi Bian berdecak, ia mengusap wajahnya kesal.


Hal itu membuat Zahra ingin tersenyum, tapi ia takut kalau Bian sampai marah.


"Kemana kepekaan mu itu, kamu tidak mengerti aku sekarang?"


"Aku minta maaf, aku akan lebih jaga sikap lagi."


"Bukan itu Zahra," ucap Bian gemas.


"Lalu apa, aku tidak mengerti, masih tentang Vanessa?"


"Ssss aah," eluh Bian semakin gemas.


Zahra tersenyum, kemarahan Bian saat ini terasa tidak menakutkan baginya.


Kesalahan apa yang dimaksud Bian itu, tidak bisakah Bian mengatakannya saja.


"Kenapa, aku harus pergi sama kamu, iya besok-besok aku hanya akan pergi kalau sama kamu."


"Panggil aku Sayang," ucap Bian cepat.

__ADS_1


Zahra melongo mendengarnya, permintaan apa itu, geli sekali Zahra mendengarnya.


Apa Bian sedang mabuk saat ini, sejak kapan Bian seperti itu, rasanya lebay sekali.


__ADS_2