
Pagi hari Sintia sengaja datang ke tempat pertemuan kemarin malam, Sintia ingin menemui Bian di sana karena Kania bilang jika Bian akan tinggal di rumah baru itu.
Sintia ingin selesaikan semuanya dengan jelas, bukan asal seperti itu, karena pertemuan mereka juga baik-baik menurut Sintia, sehingga kalau pun harus ada perpisahan maka harus baik-baik juga.
"Pak, permisi."
Satpam itu berjalan menghampiri.
"Selamat pagi, cari siapa, Mbak?"
"Saya mau bertemu pemilik rumah ini."
"Oh iya silahkan."
Ia lantas membukakan gerbang dan membiarkan Sintia masuk, Sintia berjalan dan berhenti di depan pintu, setelah menekan bel Sintia menunggu hingga pintu itu terbuka.
"Selamat pagi, cari siapa?"
Tanya seorang ibu saat pintu telah terbuka, Sintia tersenyum dan mengangguk.
"Aku mau ketemu Bian, ada gak?"
"Bian, Den Bian sedang tidak ada disini."
"Tidak disini?"
"Iya, yang ada disini Non Ayra."
Sintia mengernyit, apa maksudnya, bukankah Ayra adalah wanita yang semalam dibawa Bian menemui mereka semua.
Ayra adalah wanita pilihan Bian untuk dijadikan istrinya, bagaimana bisa itu terjadi, kenapa Bian tidak ada dan justru wanita itu yang ada.
"Bagaimana?"
Sintia mengerjap, bagaimana lagi, dari pada langkahnya sia-sia biarkan saja Sintia bertemu dengan wanita itu.
"Aku boleh ketemu gak, sebentar saja."
"Sebentar, dipanggilkan dulu."
"Iya."
ART itu lantas pergi meninggalkan Sintia, tak perlu lama menunggu karena Ayra ternyata langsung datang menemuinya.
Keduanya sama-sama diam saling memperhatikan satu sama lain, Sintia sedikit menggeleng, apa maksudnya bukankah yang ada di rumah itu Ayra tapi kenapa seperti ini.
Ayra yang semalam dilihatnya sangatlah dewasa dan elegan, tapi sekarang kenapa jadi seperti bocah sekali.
"Kamu kesini, Bian ada di rumahnya sendiri."
Sintia masih diam, kenapa Sintia merasa ada yang salah, apa benar Bian akan menikahi bocah seperti Ayra.
"Kamu, Ayra?"
"Iya."
__ADS_1
Sintia menggeleng, gak mungkin, kenapa bisa jauh berbeda seperti itu, Ayra yang semalam mereka lihat tidaklah seperti itu.
"Kamu kenapa?"
"Apa, Bian, tahu penampilan kamu yang seperti ini?"
Zahra diam, memangnya kenapa dengan penampilan Zahra, sejak awal juga penampilan Zahra memang seperti ini tapi Bian yang merubahnya kemarin malam.
"Berapa usia kamu?"
Zahra diam, untuk apa bertanya seperti itu, apa usia penting bagi Sintia.
"Berapa usia kamu?"
"19."
Sintia kembali menggeleng, omong kosong apa yang dilakukan Bian, bisa sekali dia menggantikan Sintia dengan wanita 19 tahun itu.
"Kamu tahu, Bian, umur berapa?"
Zahra diam, berapa, Zahra tidak pernah tanyakan itu pada Bian, lagi pula apa pentingnya bagi Zahra karena tujuannya hanya rumah itu saja.
"Bian sudah hampir 30 tahun, kamu mau sama dia?"
"Kenapa sih, memangnya umur penting, biar saja mau Bian 30 40 50, kalau cinta mau gimana?"
Sintia menyipitkan matanya, apa wanita di hadapannya sedang memanfaatkan Bian, pasti dia tidak tahu tujuan dari pernikahan mereka nantinya.
"Kamu tahu, Bian hanya nikahi kamu sementara saja?"
"Kalian hanya menikah kontrak, untuk satu tahun dan habis itu Bian pasti ceraikan kamu."
"Kenapa seperti itu?"
Sintia tersenyum seraya berpaling sesaat, apa benar Bian tidak ceritakan itu, atau mungkin benar jika Bian mencintai wanita itu.
"Bian, tidak pernah bicara soal itu, Bian, ingin menikahi aku karena dia mau sama aku, bukan untuk nikah kontrak."
"Yakin?"
"Yakin, semalam Bian begitu berjuang meyakinkan orang tuanya agar menikahkan dia sama aku, dan juga Bian mengatakan ingin selamanya sama aku."
"Gak mungkin, Bian itu selalu mengatakan belum siap menikah, mana mungkin berubah fikiran secepat itu sama kamu."
"Iya, Bian, memang mengaku belum siap menikah, tapi itu karena menikah sama kamu bukan sama aku."
"Maksud kamu?"
"Aduh masa gak ngerti sih, Bian, kan sudah tolak kamu berulang kali, Bian gak mau sama kamu dan gak pernah mau, makanya Bian bilang gak siap nikah karena nikahnya sama kamu."
"Jangan lancang kamu."
"Kok aku yang lancang sih, aku bicara benar kok, Bian katakan itu sama aku, dia mau menikah asalkan sama aku bukan sama kamu."
Sintia menggeleng, apa benar seperti itu, jahat sekali Bian karena bicara seperti itu pada orang lain.
__ADS_1
"Kalau Bian gak serius sama aku, untuk apa Bian melakukan semuanya kemarin malam, Bian sengaja membawa aku ke hadapan kalian semua agar kamu percaya, Bian gak mau sama kamu dan ada pilihan sendiri."
"Sombong sekali."
"Aku gak sombong, aku sedih malahan dengan keadaan ini, aku sadar aku sudah merusak kebahagiaan kamu, tapi apa kamu berfikir akan seperti apa jadinya kalau kamu menikah sama lelaki yang jelas tidak menginginkan kamu."
"Jadi kamu merasa paling dibutuhkan oleh, Bian."
"Memang seperti itu."
Sintia kembali menggeleng dan mendorong Zahra hingga jatuh, tak ada perlawanan, biar saja mungkin dengan begitu rasa bersalah Zahra akan hilang terhadap Sintia.
"Ada apa ini?"
Sintia menoleh dan terkejut saat melihat Bian, Sintia menyamping saat Bian menerobos masuk, Bian membangunkan Zahra di sana.
"Kamu gak apa-apa?"
Zahra hanya menggeleng, lantas berlalu begitu saja.
"Ayra."
Tak ada jawaban, Bian melirik Sintia yang masih diam di tempatnya.
"Ngapain kamu disini?" tanya Bian.
"Kamu gantikan aku dengan bocah seperti dia, Bian."
"Dia bukan bocah, dan yang jelas aku lebih menginginkan dia dari pada kamu."
"Kamu bohong, kamu hanya memanfaatkan dia saja kan untuk bisa bebas dari aku, kamu gak serius sama dia."
"Terserah, aku gak peduli kamu mau berfikir seperti apa, yang jelas kita sudah tidak ada urusan lagi, kalau kamu mau datang, nanti saja saat pernikahan aku sama, Ayra."
Sintia mengernyit, apa benar mereka akan menikah, Sintia tidak bisa rela dengan semua itu, Sintia masih ingin berusaha mendapatkan Bian.
"Mending kamu pulang saja, gak ada gunanya kamu datang kesini."
"Aku gak akan pergi gitu saja, aku masih yakin kalau kamu sama dia tidak serius."
Bian mengangkat kedua bahunya sekilas, apa pun yang dikatakan Sintia mungkin benar, tapi Bian tak peduli karena Bian akan tetap memilih menikah dengan Zahra.
"Bian."
"Sudahlah Sintia, aku sudah sakiti kamu dan aku melakukannya dengan sengaja, kenapa kamu masih saja datang?"
"Karena aku tidak mau menyerah begitu saja, fikirkan lagi Bian, bisa saja anak itu hanya memanfaatkan kamu."
"Kamu bilang Ayra itu bocah, mana bisa bocah berfikir seperti itu, yang namanya bocah itu jujur, tulus."
"Tapi dia bukan ...."
"Cukup."
Sintia diam, Bian begitu membela wanita itu, tapi apa alasannya, siapa wanita itu sebenarnya.
__ADS_1