
Bian memasuki rumah setelah Nur membuka pintu, kebetulan sekali Nur sedang ada di dekat pintu sana.
"Zahra sudah tidur?"
"Sepertinya belum, masih ada tamu disana."
"Tamu?"
"Iya, tadi ada Den Frans sama Mamanya."
Bian diam, Frans lagi, apa mereka dekat sampai harus kembali bertemu.
Bahkan mereka ada di kamar sekarang, kamar pribadi Bian dan Zahra, bisa sekali mereka seperti itu.
"Bibi buatkan minum, Den."
"Tidak perlu, aku akan ke atas saja."
"Baik, Den."
Bian mengangguk, ia lantas berlalu meninggalkan Nur.
Bian berjalan cepat, hingga sampai dikamar pun ia masuk tanpa mengetuk pintu.
Mereka seketika diam, Bian memperhatikan ketiganya bergantian, Zahra terlihat senang sekali bersama mereka.
"Kamu sudah pulang, kemarilah," ucap Zahra.
Bian berjalan perlahan, ia berjabat tangan dengan keduanya, tapi fokus Bian lebih pada Frans di sana.
"Kamu sudah sehat?" tanya Bian seraya memeluk Zahra sesaat.
"Tentu saja, aku baik-baik saja sekarang, jangan khawatir."
"Baguslah, kamu sudah makan, bagaimana dengan obatnya?"
"Sudah aman."
Keduanya tersenyum, Bian kembali melirik mereka berdua, bukankah ini sudah malam, untuk apa mereka masih di kamarnya.
"Zahra, kalau begitu kami pamit dulu."
"Ah kenapa harus pulang, menginap saja disini, Oma juga sudah tawarkan itu tadi."
Bian mengernyit, kenapa Inggrid melakukan itu, asal sekali meminta orang asing menginap di rumahnya.
"Tidak bisa seperti itu, kami juga punya rumah sendiri."
"Zahra, sesekali kamu harus datang kesana, bukankah kamu suka disana?" tanya Frans.
"Tentu saja, aku akan kesana kalau sudah sehat nanti, gak apa-apa kan?" tanya Zahra pada Bian.
Bian tak merespon, ia hanya menoleh sekilasan saja, memangnya kalau Bian melarang pergi Zahra akan menurut.
Zahra mengangguk, biarkan saja, mungkin Bian lelah dan malas banyak bicara sekarang.
"Ya sudah, kita pulang," ucap Frans.
"Oke, hati-hati dan kabari aku kalau sudah sampai, kamu harus jaga Mama ku dengan baik."
Frans tersenyum dan mengangguk, tentu saja itu akan selalu dilakukannya, Isma adalah satu yang dimilikinya sekarang.
"Istirahat ya, jangan banyak fikiran," ucap Isma.
Zahra mengangguk, ia mencium tangan Isma beberapa saat, sejujurnya Zahra ingin wanita itu ada didekarnya selalu.
Tapi apa pun alasannya itu tidak akan bisa, dan Zahra harus terima, tapi meski begitu Zahra tak bisa menggambarkan kebahagiaan yang dirasakannya setelah mengenal Isma.
"Bye," ucap Frans.
Zahra melambaikan tangannya dan membiarkan mereka pergi, setelah pintu tertutup Bian menurunkan tangan Zahra begitu saja.
Zahra mengernyit dan menoleh, ia melihat raut wajah Bian yang berbeda dari beberapa detik lalu.
__ADS_1
"Kamu lelah, mau makan?"
"Diamlah, untuk apa kamu bawa mereka ke kamar ini?"
"Kenapa, mereka kan orang baik, mereka bukan orang asing buat ku."
"Tapi ini kamar kita, pribadi Zahra."
Zahra diam, ternyata Bian benar-benar marah padanya, bukan lelah, Bian diam karena dia marah.
"Aku minta maaf, aku fikir kamu tidak akan keberatan untuk itu, tadi lagi tidur makanya mereka masuk kesini."
"Ya tetap saja seharusnya mereka tahu diri untuk tidak masuk kesini."
"Iya aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi."
Bian diam, ia menghembuskan nafasnya sekaligus, baru juga pulang kerja, Bian lelah tapi harus melihat hal seperti itu.
Bisa sekali Zahra bersikap seperti itu, tidak tahu aturan sama sekali, memasukan lelaki lain ke kamar mereka berdua.
"Aku minta maaf, jangan lama-lama marahnya."
"Siapa sebenarnya mereka, Frans siapa lelaki itu?"
"Dia kan yang tolong aku waktu itu, kamu kan tahu juga mereka itu Ibu dan Anak."
Bian kembali menghembuskan nafasnya sekaligus, kenapa Zahra harus mengenal mereka semua.
Zahra tidak punya siapa-siapa, tapi dia begitu mudah dekat dengan orang asing, baginya itu menyebalkan sekali.
"Kamu masih marah, aku sudah minta maaf, mereka bukan orang jahat kenapa kamu tidak percaya."
"Diamlah, aku gerah."
Bian bangkit dan berlalu ke kamar mandi, Zahra sedikit berdecak, menyebalkan sekali suaminya itu.
Apa Bian lupa pernah membawa Vanessa ke kamar itu juga, bahkan mereka memakai kasurnya berdua.
Zahra memejamkan matanya sesaat, kenapa harus kejadian itu yang diingatnya, sangat menjengkelkan.
Risa keluar dari kamarnya, ia mendengar dentuman musik yang begitu keras dari kamae Vanessa.
Sudah larut malam seperti itu, kenapa Vanessa masih saja ribut bukannya tidur saja, dia sunggung mengganggu penghuni rumah lainnya.
"Vanessa," panggil Risa seraya mengetuk pintu.
Tak ada jawaban, sudah jelas Vanessa pasti tidak akan bisa mendengar suaranya sama sekali.
"Vanessa," panggilnya yang kini menggedor pintu.
Masih tak mendapatkan jawaban, Risa menunduk sekilas, jika ia berteriak sama saja bohong.
Risa berlalu pergi, sesaat menghilang, Risa kembali dengan membawa kunci cadangan kamar Vanessa.
Dengan begitu, ia bisa masuk kamar tanpa harus susah, Risa menggeleng melihat Vanessa yang terduduk di lantai sana, kamar yang begitu berantakan dan membuat Risa jijik sendiri.
"Vanessa, apa yang sedang kamu lakukan, kamu tidak tahu jam berapa sekarang, apa jam dinding mu sudah tidak berfungsi dengan benar?"
Risa berdecak, ia lantas mematikan musiknya, tentu saja itu membuat perhatian Vanessa terarah padanya.
"Mama," ucap Vanessa sedikit kasar.
Risa mengernyit, ada apa dengan putrinya itu, sudah berhari-hari Vanessa kehilangan semangatnya.
"Apa, kamu mau marah?"
Vanessa berdecak, ia bangkit dan kembali menyalakan musiknya.
Risa yang tidak bisa biarkan itu kembali mematikannya, Risa juga mencabut sambungan listriknya.
"Mengganggu sekali."
"Dan kelakukan mu juga mengganggu sekali, kamu tidak sadar itu?"
__ADS_1
Vanessa diam, ia duduk begitu saja di kasurnya, kenapa harus ada yang mengganggunya seperti itu.
Risa menghembuskan nafasnya sekaligus, kemana gairah hidup putrinya itu, kenapa sekarang jadi murung terus.
"Kamu kenapa, tidak baik seperti ini terus, cerita sama Mama."
"Pergilah, aku tidak mau banyak bicara."
"Mau sampai kapan, sampai Papa yang bertanya sama kamu, akan seperti apa?"
Vanessa diam, ia tidak mungkin lupa dengan sosok Papanya yang gampang sekali marah.
Dan keadaan seperti saat ini memang sangat dibencinya, Vanessa menunduk, ia memang sedang malas bercerita.
"Tidak ada gunanya kamu seperti ini, kalau memang kamu tidak mampu sendiri, tidak ada salahnya kamu cerita sama orang lain."
"Aku membenci seseorang, aku ingin sekali menghilangkan dia dari dunia ini."
Sontak saja kalimat Vanessa membuat Risa terkejut, itu buruk, bagaimana bisa putrinya berkata demikian.
"Jaga bicara kamu."
"Aku membencinya, dia sangat memuakan dan aku tidak mau dia ada di dunia ini."
"Siapa, tenang dulu, bicara pelan-pelan."
Vanessa justru terisak, itulah kenapa Vanessa tidak mau banyak bicara, emosinya tidak bisa terkontrol.
Risa mengusap punggungnya, sejak pertama kedatangannya, baru kali ini Risa melihat Vanessa sekacau saat ini.
"Masalah apa, laki-laki?"
"Dia begitu keras kepala, dia memaksakan semuanya, dia jelas tidak diinginkan tapi dia memaksakannya."
Risa menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan, jadi benar masalah laki-laki.
"Siapa, kamu sedang menyukai seseorang?"
Vanessa diam, apa bisa Vanessa mengatakan semuanya, berkata jika Bian adalah suami wanita lain.
"Siapa Vanessa, kamu tidak pernah cerita ini sebelumnya."
"Aku menginginkannya, aku tidak lagi sekedar menyukainya."
"Lalu kenapa, dia memiliki kekasih?"
"Dia tidak menginginkan wanita itu, tapi wanita itu terus saja menahannya."
Risa mengangguk, apa itu yang disebut cinta segitiga, apa mungkin Vanessa yang ada disisi salah.
"Kamu baru mengenalnya, kalian kenal setelah mereka bersama?"
"Ya," ucap Vanessa malas.
Risa kembali menghela nafas, dan benar juga jika Vanessa memang salah.
"Kamu menginginkan milik orang lain, kamu harusnya tahu kalau itu salah."
"Mama membela wanita itu?"
"Tentu saja, Vanessa kamu harus sadar tidak semua keinginan bisa kamu dapatkan, kamu harus posisikan diri kamu dengan baik, kamu hanya pengganggu bagi mereka."
"Mama," teriak Vanessa kesal.
Risa tersenyum, ia mengusap kepala Vanessa, meski wanita itu menepisnya berulang kali, tapi Risa tetap melakukannya.
Memang tidak ada satu pun yang bisa mengatur hari sepenuhnya, tapi paling tidak mereka bisa sedikit membatasinya.
"Cari yang lain, kamu tidak akan bisa bahagia jika merusak hubungan orang lain."
"Aku tidak merusak, dia sendiri yang datang padaku."
"Dan seharusnya sejak awal kamu tidak menerimanya, kamu seharusnya menjauh, jadi sebelum lebih jauh lagi sebaiknya kamu berhenti, kamu harus sadar jika perasaan kamu itu salah."
__ADS_1
Vanessa mendelik, menjengkelkan sekali wanita di sampingnya itu, untuk apa dia datang kalau hanya menambah kekacauan Vanessa saja.