Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Bisa Sekali


__ADS_3

Seperginya Sintia, Bian langsung menemui Zahra di atas sana, Zahra tampak duduk di luar sambil melihat kepergian Sintia.


"Ngapain kamu?"


Zahra menoleh dan berbalik, bersandar pada besi pagar di belakangnya, Zahra menggeleng pada Bian.


"Apa yang kamu fikirkan?"


"Gak ada, aku merasa tidak enak sama Sintia, kasihan dia pasti sedih."


"Apa aku harus memikirkan itu?"


Zahra mengangkat kedua bahunya sekilas, entahlah bukankah beda orang maka akan beda pemikiran.


"Kita ke salon sekarang."


"Salon?"


"Ya tentu saja, aku akan bawa kamu menemui Nenek hari ini juga."


"Pagi ini?"


"Selesai kamu dari salon, sekarang cepat mandi kita langsung pergi."


Zahra diam, apa tidak terlalu terburu-buru, lagi pula Kemal belum menyukai Zahra, lantas bagaimana bisa Bian mengenalkan Zahra pada neneknya.


"Kamu tidak mendengar ku?"


"Apa harus secepat ini?"


"Kamu masih pertanyakan itu?"


"Ya kan aku hanya meyakinkan saja."


"Sudah sana bersiap, kita ke salon, aku suka penampilan kamu yang terlihat dewasa, bukan seperti bocah saat ini."


Zahra berdecak dan berlalu meninggalkan Bian, kenapa harus mengatainya seperti itu, seharusnya Bian lebih suka Zahra yang seperti ini, sama dengan umurnya.


Bian menggeleng dan menyusulnya, sedikit pun Bian tidak akan buang waktu, jika memang keadaan sudah memungkinkan lalu untuk apa Bian menunda semuanya lagi.


Bian ingin cepat selesai dan cepat tenang lagi menjalani hidupnya, tidak seperti sekarang yang terasa penuh dengan kekangan, Bian tidak suka berada dalam situasi seperti itu terus menerus.


"Cepat sedikit."


Zahra menoleh sekilas dan meraih tasnya.


"Ayo pergi."


"Cepat banget."


Zahra mengernyit dan menatap Bian, apa maksudnya, tadi mengatakan jangan terlalu lama dan sekarang malah seperti itu.


"Jangan terlalu lama menatap ku seperti itu, nanti kamu suka."


Bian berkata seraya tersenyum, Zahra menggeleng dan berlalu lebih dulu meninggalkanya.


"Zahra."


Tak jawaban, Bian kembali tersenyum dan menyusul wanita itu, mereka jalan bersamaan, biar saja lagi pula tidak ada siapa pun di sana.


"Mau kemana, Den?"


Keduanya menoleh, Zahra diam melirik Bian, biarkan saja lelaki itu yang akan menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Aku mau ke luar sebentar, titip rumah ya, nanti balik lagi agak malam."


"Iya, hati-hati."


Bian mengangguk dan menggandeng Zahra pergi, mbak rumah tersenyum melihat dua orang itu, baginya mereka cocok meski terlihat jelas jika Zahra masih sangat muda.


"Lepas ah, jangan pegang aku seperti ini."


"Kenapa memangnya?"


"Nanti kamu nyaman."


Bian seketika melepaskan genggamannya, menyebalkan sekali bocah itu, dengan sangat percaya diri ia mengatakan itu pada Bian.


"Masuk mobil," ucap Bian seraya memasuki mobil


Zahra tersenyum dan turut masuk, Zahra langsung memakai safety belt tanpa menunggu diperintah Bian.


Bian lantas melajukan mobilnya, Zahra melirik Bian dan kembali tersenyum.


"Tegang banget kayaknya?"


Bian menoleh dan menatapnya sesaat, apa wanita itu akan mulai menjengkelkan sekarang.


"Biasa saja kali, kamu nyaman beneran ya sama aku?"


"Berisik, apaan sih, jangan besar kepala kamu, mentang-mentang aku lebih pilih kamu dari pada, Sintia."


Zahra mengangguk dan diam, tapi kan Zahra juga baik, tak ada salahnya jika Bian merasa nyaman dengan Zahra.


"Kamu harus ingat, kita menikah hanya sementara, jadi jangan pakai hati."


Zahra menoleh sesaat, kenapa seperti itu, memangnya Zahra bisa mengatur perasaannya sendiri.


Zahra mendelik, lelaki menyebalkan seperti Bian mana bisa buat baper, paling bisa juga buat kesal saja.


"Kamu dengar gak?"


"Iya dengar, tenang saja aku ingat, tapi awas saja kalau justru kamu nanti yang baper sama aku."


"Ih apaan, gak penting, awas ya kalau kamu berani atur-atur aku dalam hal apa pun itu."


"Iya, Tuan."


"Kita suami istri hanya diatas kertas saja, hubungan kita tetap bukan siapa-siapa."


"Iya, Tuan."


"Jangan mentang-mentang kamu jadi istri aku, terus kamu bisa manja sama aku."


"Resikolah."


Bian mengernyit dan menoleh, apa maksudnya, jangan sampai Zahra malah menyusahkannya nanti.


"Jangan macam-macam kamu."


"Berisik banget sih, aku tahu dan ingat semuanya, sudah diam gak usah banyak bicara, pusing dengarnya."


Bian tersenyum dan mengangguk, tangannya terangkat mengacak rambut Zahra asal, kenapa jadi Zahra yang kesal harusnya kan Bian.


"Bocah."


Zahra memukul tangan Bian berulang kali, menyebalkan sekali, ini bukan yang pertama kali Bian mengacak rambutnya.

__ADS_1


Zahra memang masih 19 tahun, tapi bukan berarti bisa diperlakukan seperti itu saja, Zahra juga bisa merasa kesal jika penampilannya justru diacak-acak.


Bian menghentikan laju mobilnya, mereka memang kembali lagi ke salon yang kemarin mereka datangi.


"Sana masuk, aku sudah hubungi orang dalam, buat urus kamu."


"Urus aku, memangnya aku anak TK."


"Paud kan?"


Zahra berdecak seraya menghentakan kakinya, Zahra menatap Bian dengan kesal.


Melihat hal itu Bian justru tertawa, jadi seperti itu terlihatnya jika Zahra sedang marah, tapi kenapa Bian jadinya lucu bukan seram.


"Sana masuk, perlu aku papah kesana?"


"Diam."


Bian tersenyum dan mengangguk, Zahra lantas keluar dan memasuki salon tersebut.


"Baiklah, kita lihat hasilnya nanti, semoga saja Nenek akan suka dan akan langsung jatuh cinta."


Bian mengangguk dan mengeluarkan ponselnya, Bian malas masuk ke salon itu, jadi lebih baik Bian memunggu di mobil saja sambil sedikit main game.


Kedatangan Zahra langsung disambut oleh dua orang karyawan salon itu, Zahra tersenyum hormat pada keduanya.


"Ayra kan?"


"Iya."


"Silahkan duduk."


Zahra mengangguk lantas duduk, Zahra tidak perlu mengatakan apa pun karena sepertinya mereka sudah tahu harus membuat Zahra jadi seperti apa.


"Mbak, jangan terlalu menor ya."


"Baik, kalau misal nanti ada yang kurang atau tidak cocok, katakan saja, biar kami ganti."


Zahra mengangguk dan diam, mereka memulai pekerjaannya merubah penampilan Zahra.


Sebenarnya, Zahra tidak suka dengan salon, selama ini Zahra berpenampilan sesukanya saja, karena memang tidak pernah ada yang mengaturnya juga.


"Kamu beruntung ya dapat calon suami,seperti, Pak Bian."


Zahra meliriknya di kaca sana, calon suami, jadi Bian sudah memperkenalkan diri sebagai calon suami Zahra.


"Dia baik, dan perhatian, dia juga perduli dengan penampilan kamu."


"Apa sih Mbak, jangan memuji dia seperti itu, kalau orangnya dengar bisa besar kepala."


Dua orang itu tersenyum bersamaan, Zahra menghembuskan nafasnya sekaligus, kenapa menyebalkan sekali mereka malah memuji Bian di depannya seperti itu.


"Kalau sudah nikah nanti, pasti tambah di sayang lagi, tambah dimanja lagi."


Zahra memejamkan matanya sesaat, terserah saja Zahra tidak mau menjawabnya.


"Jadi kapan pernikahannya?"


"Minggu depan," ucap Zahra datar.


"Wah selamat ya, ternyata hanya beberapa hari lagi."


Zahra mengernyit, apa yang dikatakannya, kenapa Zahra bisa berkata seperti itu, semoga saja tidak jadi kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2