Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Anak Tidak Waras


__ADS_3

Risa tak bisa berpaling dari ponselnya, ia memastikan jika titik lokasi Vanessa tidak berubah saat ini.


Risa bersama sang suami telah mengetahui permasalahannya, mereka sudah berusaha mengelak, tapi Risa, sepertinya Risa tahu permasalahan Vanessa.


"Apa masih jauh?" tanya Rian.


"Tidak, sedikit lagi sampai."


"Apa masih di jalan ini?"


"Iya, jalan saja terus."


Rian mengangguk, Rian yang seharusnya ke luar kota untuk bekerja, rupanya harus batal karena kedatangan polisi itu.


Rian tak bisa percaya anaknya seburuk itu, tapi mendengar cerita Risa sepertinya itu bisa saja terjadi karena ulah Vanessa.


Tiid .... Tidd ....


"Awas, Papa," ucap Risa sedikit berteriak.


Mobil seketika terhenti, begitu juga dengan mobil di depannya, keduanya saling lirik.


"Nyaris saja," ucap Risa.


"Apa dia tidak bisa menyetir dengan benar?"


Rian segera keluar dan begitu juga dengan pemilik mobil di depan, rupanya itu mobil Frans.


"Apa kamu tidak bisa menyetir dengan benar?" tanya Rian kesal.


"Maaf Pak, saya sedang buru-buru."


"Kamu menghalangi jalan saya."


"Sekali lagi saya minta maaf, Pak."


Risa tampak keluar dan menghampiri, tidak ada waktu untuk ribut sekarang, bukankah mereka memiliki tujuan yang lebih penting.


"Papa, sudahlah ayo kita pergi."


"Pinggirkan mobil mu, dan menyetirlah dengan benar," ucap Rian masih kesal.


"Baik, Pak."


Keduanya berbalik untuk kembali memasuki mobil, tapi langkah mereka harus terhenti saat Bian yang keluar dan menghentikannya.


"Tunggu," ucap Bian.


Mereka menoleh bersamaan, Risa sedikit mengernyit melihat Bian, rasanya Risa pernah melihat lelaki itu.


"Om dan Tante, orang tuanya Vanessa kan?" tanya Bian.


Frans tampak melongo mendengarnya, apa benar seperti itu, sedang apa mereka di tempat yang sama.


"Siapa kamu?" tanya Rian.


"Saya Bian, maaf saya disini sedang mencari Istri saya, dan kalian harus tahu kalau Vanessa sudah melakukan tindakan kriminal."


"Ini pasti salah paham, jangan bicara sembarangan tentang Anak saya," ucap Rian.

__ADS_1


Bian tersenyum kecut, tidak ada yang bicara sembarangan, itu memang kebenaran saat ini.


"Tunggu dulu, Bapak sama Ibu sedang apa disini?" tanya Frans.


"Bukan urusan kalian," sahut Risa cepat.


"Ayo kita pergi saja," ucap Rian seraya menarik Risa memasuki mobil.


"Aku pastikan kalian akan mendapat hukuman juga, aku yakin kalian mengetahui tentang ini semua, tapi kalian berusaha melindungi Vanessa," teriak Bian saat mobil itu melaju pergi.


Frans menggeleng, tidak bisa dibiarkan begitu saja, kalau mereka tahu keadaannya, mereka pasti sedang mencari Vanessa juga.


"Bian, ayo masuk kita harus kejar mereka."


Bian mengangguk, keduanya segera masuk dan melaju mengejar mobil tadi.


Sepanjang perjalanan mereka tak bersuara, mobil Rian begitu keras berusaha menghindari mobil Frans.


Menyebalkan karena ternyata mobil harus terhenti, penyebrang jalan dengan sengaja menghentikan mobil Frans dan Bian.


"Aahh apa-apaan ini," ucap Bian seraya memukul dashbord mobil.


Sudah banyak kendaraan yang menghalangi mobil orang tua Vanessa, bagaimana mereka bisa menemukannya lagi.


"Jalan lagi, jalan," ucap Bian.


Mobil melaju, mereka berusaha menemukan mobil yang tadi dikejarnya, tapi malang entah kemana perginya mobil itu.


"Kita kehilangan jejak," ucap Frans.


Bian diam, bahkan ketika mobil berhenti, mereka tetap diam.


Bagaimana sekarang, satu-satunya harapan untuk segera menemukan Zahra sudah tertutup.


"Berikan dia makan, apa kamu tidak mendengar?" tanya Isma.


"Apa wanita itu tidak bisa diam, suruh dia diam atau tutup saja mulutnya itu," ucap Vanessa.


"Jangan berani menyentuhnya," sahut Zahra capat.


Vanessa tersenyum, ia begitu senang melihat Zahra yang sudah lemah saat ini.


Dan mungkin Vanessa akan lebih senang jika Zahra mati saja, dengan begitu ia tidak akan merasa sia-sia dengan semua yang sudah dilakukannya sekarang.


"Tolong kasihani dia, berikan dia makan, kamu tidak kasihan sama sekali?" tanya Isma.


"Aku memang mau dia mati," ucap Vanessa datar.


Isma mengernyit, jahat sekali niat dan ucapannya itu, bagaimana bisa ada orang sejahat itu pada orang lain.


Isma memejamkan matanya sesaat, apa mereka akan tetap di sana, tidak adakah yang bisa menyelamatkan mereka.


"Sampai kapan kalian akan bertahan, hebat juga ternyata kalian ini."


Vanessa sedikit tertawa, melihat kesusahan mereka sangatlah membuatnya senang, siapa yang akan menyangka jika Vanessa bisa melakukan hal seperti itu.


"Apa kamu tidak berfikir, akan seperti apa dirimu jika hal seperti ini menimpa mu?" tanya Isma.


"Apa itu akan terjadi?" tanya balik Vanessa.

__ADS_1


"Setiap perbuatan akan selalu ada balasannya, seharusnya itu tidak sampai kamu lupakan."


Zahra hanya diam saja, meski suara mereka hanya menambah sakit kepalanya, tapi Zahra juga tidak berniat untuk menghentikannya.


Vanessa berjalan mendekati Isma di sana, langkah itu cukup membuat Zahra panik, ia tidak mau kalau sampai Isma disakiti.


"Bagaimana bisa Ibu menyayangi anak seperti dia, apa tidak sadar jika dia hanya bawa sial saja, karena dia sekarang Ibu jadi susah."


"Itu tidak sama sekali, keadaan ini bukan keinginannya, dirimu saja yang tidak bisa befikir dengan baik."


Vanessa mengangguk, ia tersenyum dan berpindah mendekati Zahra.


Keduanya sama-sama diam untuk beberapa saat, jika saja masih ada tenaga, ingin sekali Zahra menendangnya.


"Bagaimana, apa keputusan mu sekarang?"


"Tidak ada yang berubah."


"Jadi, kamu akan lebih memilih tiada sekarang?"


"Itu urusan Tuhan."


Vanessa tersenyum, tangannya terangkat mengusap kepala Zahra.


Entah setan seperti apa yang merasuki Vanessa, bukankah dia terlihat baik, tapi ternyata seperti ini tingkah lakunya.


"Berhenti!"


Suara bentakan itu membuat ketiganya menoleh bersamaan, Vanessa menatap Isma dan Zahra bergantian.


Perasaannya mulai panik, siapa yang datang, apa mungkin polisi, atau justru Bian, tapi rasanya tidak mungkin mereka bisa menemukannya.


"Vanessa."


Brakk ....


Suara keras itu terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka kasar, Vanessa seketika bangkit saat melihat Rian yang disusul Risa.


Sedang dua orang yang masih terikat itu tampak bingung, dua orang itu bukanlah yang ditunggunya, tapi kenapa justru mereka yang datang.


"Anak tidak tahu diri, seperti ini tingkah mu sekarang?" tanya Rian geram.


Vanessa tampak memundurkan langkahnya, kedatangan mereka sangat diluar dugaannya.


"Memalukan sekali."


Plaakk ....


Vanessa tak bisa menghindar, ia yang berniat kembali mundur ternyata terlambat, tamparan itu mendarat tepat di pipi kirinya.


Malang lagi, tubuhnya limbung karena tamparan tersebut, dan Vanessa tak bisa menghindar saat ia tak sengaja menginjak kaki Zahra.


Tubuh Vanessa ambruk bersamaan dengan suara kecil Zahra, tak ada yang bisa dihindarkan, amarah itu memang sudah sepantasnya.


"Dimana fungsi otak mu!" bentak Rian.


Risa menggeleng, ia tak berniat menyela Rian, Risa memilih melepaskan ikatan dua wanita itu.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Risa pelan.

__ADS_1


Ditengah amarah Rian terhadap Vanessa, Risa dengan segera membawa Isma dan Zahra keluar ruangan.


Risa memang ikut sakit hati dengan yang dilakukan Rian, tapi Risa juga sadar jika putrinya memang bersalah.


__ADS_2