Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Lalu Harus Bagaimana?


__ADS_3

Langkah Inggrid begitu cepat menyusuri lorong rumah sakit, kemarin malam ia dikabari Nur jika Zahra masuk rumah sakit lagi.


Acara kantor yang sebenarnya belum selesai, harus ditinggalkannya begitu saja, bagi Inggrid saat ini adalah mengetahui keadaan Zahra.


"Mana dia?" tanya Inggrid saat melihat Bian dan Kania.


"Di dalam, ada Sintia dan Damar disana."


Inggrid mengernyit, kenapa justru orang lain yang menemani Zahra, apa guna mereka berdua.


Tak ada waktu untuk bicara banyak, Inggrid lantas masuk tanpa bicara lagi, mereka masih saja membuatnya kesal.


"Ayra," panggil Inggrid.


Damar dan Sintia menoleh bersamaan, Zahra terlihat sedang berbaring dengan mata yang terpejam.


"Dia tidur?" tanya Inggrid.


"Tentu saja tidak," ucap Damar.


"Ayra, kamu dengar Oma?"


Tak ada respon, Inggrid kembali melihat mereka berdua, sejak kapan mereka di sana, apa tidak ada yang bisa menjelaskan sedikit saja.


"Bukankah Ayra seperti ini juga sebelumnya?" tanya Damar.


"Mbak Nur yang mengatakannya," sambung Sintia.


"Kenapa dia disini sekarang?"


"Katanya Ayra ribut lagi dengan Bian, sampai Ayra tak sadarkan diri dan ada di tempat ini sekarang," jelas Damar.


Inggrid diam, ini masih saja ulah Bian, sangat tidak tahu terimakasih.


Lelaki itu sudah diberikan kebebasan, tapi masih saja menyusahkan Zahra, apa Inggrid yang harus mengembalikannya ke sel.


"Oma, sebaiknya Ayra memang dibiarkan sendiri, maksud aku jangan biarkan mereka bertemu untuk sekarang," ucap Damar.


"Kau ingin memisahkan mereka?" tanya Sintia.


"Itu benar," sela Inggrid.


Keduanya menoleh bersamaan, apa lagi Inggrid justru membela Damar, bisa sakali mereka satu pemikiran untuk menjauhkan Zahra dan Bian.


"Saya harus temui Dokter, bukankah ini buruk?" tanya Inggrid.


Mereka hanya mengangguk saja, entah benar atau tidak, entah seperti apa keadaan sebenarnya dari sosok Zahra.


Mereka hanya bisa melihat apa yang terlihat saja, dan yang terlihat hanya Zahra yang tidak baik-baik saja.


"Sejak kapan mereka ada di luar?"


"Sejak kami datang mereka sudah ada, mungkin saja sejak awal mereka ada," ucap Sintia.


"Baiklah."


Inggrid lantas pergi tanpa bicara lagi, ia sempat terdiam ketika melihat dua orang di luar sana.

__ADS_1


Tapi itu tak lantas membuatnya mau bicara dengan mereka, Inggrid berlalu begitu saja meski ia tahu Kania ingin bicara padanya.


"Ada apa?" tanya Bian.


"Biar Mama masuk."


"Tunggu saja Oma kembali."


Kania diam, Sintia dan Damar tidak tampak keluar, dan seperti tidak ada kepanikan apa pun, bukankah itu mungkin Zahra baik-baik saja.


"Saya mau bertemu Dokter yang menangani pasien atas nama Ayra," ucap Inggrid.


"Beliau baru saja masuk ruangannya, silahkan datang ada di ujung sana belok kanan, Dokter Gian namanya."


"Terimakasih."


"Sama-sama."


Inggrid melanjutkan langkahnya, ia tidak mau buang waktu untuk bisa bicara dengan dokter tersebut.


"Permisi, Dokter."


"Iya, silahkan masuk."


Inggrid membuka pintu dan masuk, dokter mempersilahkannya untuk duduk, ini dokter berbeda dari yang sebelumnya.


"Ada apa?" tanya dokter.


"Saya Nenek dari pasien Ayra, saya mau tahu kondisi Cucu saya yang sebenarnya."


Gian mengangguk, ia mengambil satu map diantara tumpuk map lainnya, membukanya dan menunjukannya pada Inggrid.


"Benar, sebelumnya dia pernah dirawat disini."


"Pasien alami depresi, dia selalu merasa tertekan dalam setiap keadaan."


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Kenapa bertanya pada saya, bukankah itu Cucu Ibu, seharusnya Ibu tahu apa saja yang dialaminya."


Inggrid diam, ia sudah salah memberi pertanyaan, jelas saja dokternya berkata seperti itu.


"Ini bisa saja karena pasien selalu ada dalam ketegangan, bisa saja dari kondisi biologisnya, psikologis, atau sosialnya juga, mungkin banyak kejadian atau hal-hal yang membuatnya selalu merasa tidak nyaman, selalu ada dalam ancaman."


"Iya itu benar."


"Dan saya rasa ini sudah berlangsung lama, menurut data dari Dokter sebelumnya pun, kondisi ini sudah berlangsung lama."


"Benar."


"Dan anda membiarkannya saja?"


Inggrid diam, ia mengakui kesahalannya, ia terlalu percaya dengan keadaan baik yang ditunjukan Zahra selama ini.


Inggrid mengeluarkan ponselnya, ia diam sesaat dan kembali melihat dokter itu.


"Apa saya bisa memanggil suaminya kesini, dia ada di ruangannya sekarang, saya merasa dia perlu tahu ini."

__ADS_1


"Silahkan saja."


Inggrid lantas menghubungi Kania, meminta mereka untuk datang tanpa perdebatan apa pun.


Inggrid tidak menjawab kalimat Kania, ia mematikan teleponnya setelah dirasa kalimatnya di dengar Kania dengan baik.


"Ayra bisa kembali pulih kan?"


"Bisa saja, tergantung kondisi sekitarnya, apakah bisa membuatnya nyaman atau tidak."


"Bagaimana agar dia bisa sembuh."


Dokter melirik pintu yang terbuka, ia mengangguk meminta mereka untuk masuk.


Kania bertanya keadaan Inggrid, tapi rupanya Inggrid baik-baik saja saat ini.


"Ada apa?" tanya Bian.


"Ada apa, menurut mu ada apa, kamu tahu kenapa Istri mu seperti itu?" tanya Inggrid kesal.


"Tolong tenang Bu," ucap dokter.


Inggrid diam, nafasnya mulai kacau sekarang, Bian benar-benar tidak bisa dipercaya.


"Ada apa, Dokter?" tanya Kania.


"Seperti yang saya katakan pada Ibu tadi di ruangan pasien."


"Iya, Ayra mengalami depresi," ucap Kania.


"Santai sekali bicara mu itu," ucap Inggrid.


Kania diam, ia melirik Bian sekilas, lalu harus bagaimana ia berbicara.


"Keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan terus menerus, ini bisa merusak kualitas hidupnya, dan hal buruknya keadaan ini akan merusak fungsi dari saraf otak tertentu."


"Dengarkan ini baik-baik, dan pertanggung jawabkan semuanya," ucap Inggrid seraya melirik Bian.


"Depresi seperti ini menurut saya buruk, pengidapnya akan kehilangan minat dalam beraktivitas, seperti yang kalian lihat saat ini saja, semua bisa berubah dalam waktu singkat, emosinya, perilakunya pun akan jadi kacau."


Bian melirik Inggrid yang tak henti menatapnya, entah apa yang akan terjadi pada Bian nanti.


Tapi apa pun itu, Bian akan menerimanya, sebisa mungkin tanpa mendebatnya, itu akan sangat diusahakannya.


"Bagaimana cara menyembukannya?" tanya Kania.


"Tentu saja medis, obat-obatan, dan terapi, jangan biarkan dia melamun, entah topik apa entah ada atau tiada topik usahakan ajak dia bicara, buat dia melupakan apa pun yang mungkin menjadi tekanan baginya."


"Apa selama itu dia harus dirawat?" tanya Inggrid.


"Tidak, dia bisa pulang, tapi tetap harus rajin kontrol, selalu perhatikan sikapnya jika ada yang salah segera benahi, dia bisa saja melakukan hal-hal yang tak seharusnya saat ia merasakan tekanan dalam dirinya."


"Apa dia harus dijauhkan dari apa yang mungkin membuatnya tertekan?"


"Saya rasa tidak, dibiasakan akan menghilang perlahan, buat dia mengerti jika apa yang dirasakannya tidak selalu benar, sebisa mungkin buat fikirannya selalu positif sehingga dihadapkan dengan apa pun dia bisa tetap mengontrol dirinya."


Tapi Inggrid sangat ingin menjauhkan Bian darinya, lelaki itu memang hanya menyusahkan saja.

__ADS_1


Apa mungkin jika Inggrid memisahkan mereka saja, bukankah Zahra ingin berpisah dengan Bian.


__ADS_2