Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Biarkan Dia Kembali


__ADS_3

Isma membuka pintu rumahnya, ia tersenyum menyapa tamunya.


"Cari siapa?"


"Saya mertuanya Zahra."


Isma diam sesaat, lantas tersenyum dan mengangguk.


"Silahkan masuk, Bu."


"Terimakasih."


Keduanya berjalan memasuki rumah, mereka menghampiri Zahra dan Frans di sana.


Kania sedikit mengernyit saat melihat sosok Frans, mereka berbincang sudah seperti teman lama.


"Zahra," panggil Isma.


Zahra menoleh, ia segera bangkit saat melihat Kania di sana.


"Untuk apa Mama kesini?"


"Tentu saja untuk menjemput mu pulang, lalu untuk apa?"


Frans begitu fokus memperhatikan Zahra, mungkin saja ia akan mendapatkan sedikit jawaban dari sosok yang mendatangi Zahra.


"Maaf Zahra, tapi Ibu sudah lancang membuka ponsel mu, dan saat itu Mama kamu telepon sehingga Ibu beri alamat rumah ini untuk menjemput mu pulang."


Zahra diam, wanita itu tidak mau ia ada di rumahnya, tanpa bicara apa pun, Isma meminta Kania untuk menjemputnya.


Padahal Zahra begitu berharap bisa tinggal di rumah tersebu, bisa kembali hidup bersama wajah mamanya itu.


"Zahra, kamu kenapa bisa sampai sini, ayo pulang Bian dan Oma sudah sangat mengkhawatirkan kamu."


Zahra tetap diam, ia tidak mau kembali, kenapa harus memaksanya seperti itu.


Frans bangkit, ia salam pada Kania dengan hormatnya.


"Aku melihat dia di makam orang tuanya, dia menangis disana, saat aku memintanya untuk pulang, Zahra justru pingsan dan aku tidak punya pilihan selain membawanya kesini, aku tidak tahu dimana rumahnya saat kemarin."


Kania mengangguk, ia paham dengan itu, dan itu lebih baik dari pada Zahra dibiarkan terus di makam.


Zahra menggeleng, ia kembali duduk, terdiam menatap meja di depannya, apa tidak ada yang mengerti jika Zahra ingin bebas sekarang.


"Aya sangat berterimakasih, kamu sudah mau membantu Zahra."


"Tidak masalah Bu, kebetulan aku disana dan aku melihatnya juga."

__ADS_1


"Baiklah, Zahra ayo kita pulang."


"Aku tidak mau."


Ketiganya diam, Frans sepertinya merasa jika hubungan keduanya tidak baik-baik saja.


Zahra begitu malas untuk sekedar melihat Kania, apa wanita itu yang menyebabkan mental Zahra terganggu saat ini.


"Zahra, kita pulang ya."


"Aku tidak mau, apa itu tidak jelas?"


Isma dan Kania saling lirik, Zahra tiba-tiba saja marah, kenapa Zahra jadi seperti anak kecil yang sedikit-sedikit marah.


Isma tampak duduk perlahan, ia mengusap pundak Zahra lembut, bukan soal keberatan Zahra ada di rumahnya, tapi lain cerita jika ternyata Zahra sudah memiliki suami.


"Pulang ya, kamu harus melakukan yang terbaik untuk hidup kamu, untuk tanggung jawab kamu, jangan lari seperti ini."


"Aku tidak mau pulang, aku mau disini sama Ibu."


Isma mengangkat kedua alisnya sesaat, Zahra yang begitu saja memeluk Isma cukup membuat Kania heran.


Siapa mereka, kenapa Zahra begitu ingin tinggal bersama mereka, bukankah Zahra bilang kalau ia tak punya siapa-siapa lagi dalam hidupnya.


"Jangan seperti ini, kamu tahu rumah ini, dan kamu bisa datang kapan pun kamu mau, tapi kamu harus ingat untuk selalu meminta izin orang rumah."


"Aku tidak mau."


Frans semakin yakin jika apa yang dialami Zahra sama seperti dirinya, bagi sebagian orang, bermasalah dengan keluarga memang lebih berat dibanding dengan orang lain.


"Zahra, ayo pulang, Mama bisa kena marah Oma kamu kalau telat bawa kamu pulang."


"Aku bilang aku tidak mau, kenapa sulit sekali untuk mengerti?"


"Suuttt, jangan seperti itu, kamu gak sopan kalau seperti itu," sela Isma.


"Aku gak mau pulang, kenapa dia berisik sekali?"


Frans melirik Kania, raut wajahnya memang sedikit kesal, mungkin kesabarannya tidak cukup untuk menghadapi Zahra.


Lagi pula kemana suaminya, kenapa tidak dia saja yang menjemput Zahra, itu sudah keharusannya menurut Frans.


"Aku mau disini, tolong biarkan aku disini, aku janji tidak akan merepotkan kalian, aku akan melakukan semuanya sendiri aku janji."


"Bukan soal itu, kalau kamu masih sendiri, mungkin kamu bisa tinggal disini, tapi sekarang kamu sudah tidak sendiri, kami akan bersalah kalau mengizinkan kamu tetap disini."


"Biar aku saja yang mengantarnya pulang, Ibu bisa pergi lebih dulu biar aku mengikuti Ibu di belakang," ucap Frans.

__ADS_1


"Itu lebih baik," sahut Isma.


Kania menggeleng, kalau seperti itu Kania akan gagal mendapatkan perhatian Inggrid.


Kania harus membawa Zahra pulang bersamanya, bukan bersama orang lain, agar Inggrid merasa berhutang jasa padanya.


"Bagaimana, Bu?" tanya Frans.


"Tidak perlu, itu pasti hanya akan merepotkan mu saja."


"Tidak masalah, memang aku yang salah karena membawanya kesini, tapi aku tidak punya pilihan, jadi biarkan sekarang aku juga yang mengantarkannya pulang."


Kania kembali diam, Zahra sangat menjengkelkan, kenapa wanita itu semakin keras kepala saja sekarang.


Frans kembali bangkit, ia mengangguk pada Isma, dengan hati-hati Isma melepaskan pelukan Zahra.


"Pulanglah dulu, jangan takut, Ibu akan terima kamu kalau datang kesini esok lusa."


Zahra menggeleng, sorot matanya begitu kecewa terhadap Isma, kenapa mamanya tidak mau mempertahankan Zahra.


"Tidak masalah, kamu kuat, ayo pulang."


"Baiklah Zahra, ayo kita pulang, lain waktu kita akan bertemu lagi," ucap Frans.


Zahra menoleh, itu bukan kalimat yang ingin didengarnya, Zahra ingin Frans memintanya untuk tetap tinggal.


Frans tersenyum seraya mengangguk, ia mengulurkan tangannya untuk dijabat Zahra.


"Ayo, aku sudah terlambat bertugas, dan kamu harus membantu agar tidak semakin terlambat."


Zahra bangkit tanpa menjabat tangan Frans, tapi itu sama sekali bukan masalah bagi Frans.


Kania tampak pamit lebih dulu, ia pergi dan menunggu mereka di dalam mobil.


"Jangan takut, kamu harus percaya pada diri kamu sendiri kalau kamu bisa, kamu kuat menghadapi apa pun yang membuat kamu lemah," ucap Isma dengan senyuman hangatnya.


Zahra turut pergi tanpa bicara apa pun, ia tidak diterima dengan baik di sana, meski Zahra begitu ingin diam di sana, tapi mereka tidak perduli itu.


"Aku harap keadaannya akan lebih baik dari pada aku dulu," ucap Frans.


"Kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan, membantu orang adalah perbuatan mulia."


Frans tersenyum, ia lantas pamit dan menyusul Zahra.


Isma menghembuskan nafasnya berat, jujur Isma merasa kasihan dengan Zahra, apa yang dikatakan Frans tentang keadaan Zahra cukup membuatnya prihatin.


"Semoga saja tidak butuh waktu lama untuk Zahra bisa sembuh, jangan sampai kondisi buruk seperti itu berlangsung lama."

__ADS_1


Isma mengangguk, ia sempat melihat kondisi buruk itu pada Frans dimasa lalu, keadaan yang membuatnya nyaris gila itu bertahan dalam waktu panjang.


Tapi sekarang Isma merasa bangga pada Frans, setelah sembuh dari tekanan batinnya, Frans bangkit dan menjadi pribadi yang sangat baik.


__ADS_2