Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jangan Bahas


__ADS_3

"Permisi," ucap Sintia pelan seraya membuka pintu.


Zahra menoleh, ia yang kebetulan sedang makan tampak tersenyum melihat kedatangan Sintia.


"Zahra."


Zahra menyimpan makanannya, ia sedikit terkejut karena ternyata Damar turut datang juga.


"Zahra, aku gak tahu kejadiannya," ucap Sintia.


"Tidak apa-apa, apa kabar kamu?"


Sintia menggeleng, ia memeluk Zahra sesaat, sesak sekali waktu Sintia tahu apa yang dilakukan Vanessa.


Damar mengangguk, ia melihat sekitar memastikan ada atau tidak orang lain di sana, tapi sepertinya Zahra memang sedang sendirian saja.


"Kamu jauh-jauh kesini?" tanya Sintia.


"Damar kebetulan ditugaskan kesini, aku sekalian ikut."


Zahra melepaskan pelukan Sintia, ia melihat Damar di sana, lelak itu tampak rapi sekali, berbeda dari sebelumnya.


Damar tersenyum, ia berjabatan tangan dengan Zahra, setelah cukup lama akhirnya mereka bertemu lagi.


"Kamu tampak berbeda," ucap Zahra.


"Sekarang dia sudah jadi karyawan kantoran."


"Benarkah?"


Damar tersenyum seraya menggeleng, apa bisa Damar mengingkarinya, tentu saja tidak karena memang itu kebenarannya.


Zahra mengangguk, peningkatan kalau memang seperti itu, Zahra ikut senang juga tentunya.


"Bagaimana keadaan mu sekarang, dan mana keluarga kamu?"


"Mereka pulang dulu, katanya mau temui Vanessa, lagi pula aku sudah baik-baik saja sekarang."


"Wanita itu memang keterlaluan, aku kesal sekali padanya."


"Jangan seperti itu, mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama kalau ada diposisi Vanessa."


"Posisi ku lebih buruk kemarin, tapi aku tidak sampai melakukan hal bodoh seperti itu."


Zahra tersenyum, itu memang benar, dan syukurlah Sintia bisa menerima kenyataan yang terjadi padanya.


Karena kalau tidak, pasti Sintia akan menyesali semuanya, sama seperti Vanessa saat ini.


"Apa saja yang dia lakukan padamu, dia menyakiti mu seperti apa?" tanya Damar.


"Tidak ada, dia hanya mengikat ku saja, tidak memberi ku makan dan minum, selebihnya aku tidak diperlakukan buruk."


"Tetap saja kamu sampai masuk Rumah Sakit sekarang."


Zahra mengangguk, tapi mau bagaimana lagi karena semua sudah terjadi, dan Zahra tidak mau terus menerus mengingatnya.


Sintia membawa parsel buah di tangan Damar, menyimpannya di meja dan menawari Zahra barangkali saja menginginkannya.


"Tidak, nanti saja lagi."

__ADS_1


Sintia mengangguk, bukan masalah Zahra bisa makan kapan saja dia mau.


"Sintia, kalian bersama lagi, sepertinya aku tertinggal banyak berita tentang kalian."


Sintia melirik Damar, berita apa memangnya mereka artis sampai harus ada beritanya kemana-mana.


"Kalian pacaran sekarang?"


"Tidak/Iya," ucap Sintia dan Damar bersamaan.


"Hey, apa maksudnya?" tanya Zahra heran.


"Dia selalu saja menolak ku."


"Kau yang tak pernah serius dengan ungkapan mu," sahut Sinta cepat.


Mereka diam, kalimat Sintia seolah membungkam dua mulut itu sekaligus.


Damar perlahan tersenyum, dengan tatapan yang tak lepas dari sosok Sintia, tangannya terangkat dan menjitak kening Sintia begitu saja.


"Aaw sss ih."


Damar sedikit tertawa begitu juga dengan Zahra, ada apa dengan dua orang itu, apa mereka datang hanya untuk ribut saja.


"Kalian ini kenapa, kalau memang suka ya sudah, apa lagi masalahnya."


"Dia memang sok jual mahal."


"Aku memang mahal."


Zahra menggeleng, itu memang tampak lucu, Zahra sedikit terhibur karenanya, lebih baik mereka tetap bersamanya saja.


"Kamu membeli itu untuk Zahra, kenapa kamu makan sendiri?" tanya Damar.


"Tidak masalah, ayo kamu juga makan saja, kita makan sama-sama," ucap Zahra.


Damar hanya menggeleng saja, meski Zahra ikut menikmati buahnya, tapi Damar tak berminat untuk itu.


Ia memilih berjalan dan duduk di kuris sana, biarkan saja dua wanita itu sibuk dengan urusannya, Damar juga ada urusan sendiri.


"Zahra, kapan mereka akan kembali?"


"Aku tidak tahu, tidak ada kabar apa pun, lagi pula aku gak pegang ponsel sekarang."


"Kemana ponselnya?"


"Aku gak tahu, waktu itu dibawa Vanessa."


Sintia seketika diam, wanita itu lagi, kenapa bisa Sintia memiliki sepupu seburuk itu, fikirannya sangatlah sempit.


"Sintia, kamu jangan membencinya, dia pasti butuh teman sekarang, seharusnya kamu temui dia bukan malah datang kesini."


"Untuk apa, dia juga punya orang tua, biarkan saja dia sama orang tuanya."


"Tetap saja beda, sebaiknya kamu temui dia segera."


"Aku akan temui dia kalau kamu sudah pulang, kita akan sama-sama temui dia."


Zahra menggeleng, kalau Zahra menemuinya pasti hanya akan menimbulkan keributan.

__ADS_1


Bian dan keluarganya tidak akan mengizinkan itu terjadi, lagi pula Zahra juga tidak mau berurusan lagi dengan wanita itu.


"Zahra, harusnya kamu hukum dia, kenapa kamu malah membebaskannya begitu saja?"


"Aku tidak mau, biarkan saja Bian yang akan memutusakan semuanya."


"Bian menyukai wanita itu, mana mungkin dia tega menghukumnya."


Zahra tersenyum seraya menggeleng, biarkan saja kalau memang benar seperti itu, biar Zahra saja yang mengalah.


Mungkin sudah jelas jika Zahra memang tidak akan pernah ada artinya untuk Bian, kalau pun memang harus pergi, Zahra tidak akan menundanya sama sekali.


"Sintia, bagaimana dengan pekerjaan mu?"


"Kenapa mengalihkan pembicaraan seperti itu, aku tidak mau bahas pekerjaan."


"Aku juga tidak mau bahas Vanessa, aku mau tenang sekarang."


Sintia diam, baiklah ia yang salah kali ini, habis Sintia kesal sekali dengan wanita itu.


Bisa sekali menjahati Zahra sampai seperti itu, kalau saja wanita itu ada di depannya sekarang, sudah pasti Sintia akan menamparnya juga.


"Sintia, kalau aku pulang, aku mau jalan-jalan."


"Ah itu bukan hal sulit, tenang saja aku akan membawa mu keliling."


"Keliling?"


"Keliling Kota."


Zahra mendengus, apa asyiknya keliling kota, kenapa tidak mengajaknya keliling dunia saja.


Sintia tersenyum seraya mengangguk, sudah sehausnya Bian membawa Zahra jalan-jalan, sedekali membahagiakan Zahra adalah tugas utamanya.


"Sintia, aku keluar sebentar," ucap Damar.


Keduanya menoleh, mereka sudah melupakan keberadaan Damar di sana, lelaki itu pasti merasa bosan.


"Kamu mau kemana?"


"Keluar sebentar, nanti aku balik lagi."


"Jangan macam-macam."


"Cari angin saja, aku gak akan pulang, kalian juga lagi asyik kan, jadi aku keluar sebentar."


Sintia mengangguk saja, awas saja kalau sampai Damar meninggalkannya sendiri di kota tersebut.


Zahra menggeleng, apa mereka selalu ribut seperti itu, mungkin mereka akan jadi pasangan yang menggemaskan jika benar-benar bisa bersama.


"Ayra, titip perempuan bawel itu, jangan sampai dia berubah jadi pendiam."


"Heyy," sahut Sintia cepat.


"Titip baik-baik, dia harus tetap bawel saat aku kembali."


"Damar," ucap Sintia setengah menjerit.


Damar tertawa, ia berlalu begitu saja meninggalkan ruangan Zahra.

__ADS_1


Dua wanita itu saling lirik, Zahra sedikit tersenyum melihat wajah kesal Sintia karena Damar saat ini.


__ADS_2