Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Aku Percaya


__ADS_3

Marvel dan Claudia kembali ke kantor setelah selesai pertemuan, keduanya tampal bahagia dan sudah jelas pasti kepergian mereka tadi memberi hasil bagus.


"Kamu langsung ke ruangan saja, saya mau lihat mereka dulu."


"Baik Pak, permisi."


Claudia berlalu lebih dulu untuk ke ruangannya, senyumannnya tak kunjung menghilang dari bibirnya.


"Oke, nanti siang aku kesana."


Suara itu berhasil menghentikan langkah Claudia, senyumannya pun menghilang saat itu juga.


"Aku datang, kenapa sih takut banget aku datang, makanya jangan jual mahal kalau kamu juga suka ya akui."


Claudia mengintip, pintu yang sedikit terbuka itu memudahkan Claudia melihat penghuni ruangan itu.


"Hahaaha, aku tahu itu, lambat laun kamu akan menyerah juga."


Claudia sedikit tersenyum melihatnya, sosok Damar sampai saat ini masih jadi tanda tanya besar bagi dirinya.


Siapa dia dan dari mana asal usulnya masih jadi perhatiannya, Claudia berharap Damar memang seseorang yang dicarinya selama ini.


"Siap, sampai bertemu nanti siang."


Damar menutup sambungannya, lantas menyimpan ponselnya.


Claudia menutup kembali pintunya itu, tentu saja itu disadari oleh Damar, lelaki itu segera bangkit dari tempat duduknya.


"Ada apa?" tanya Damar.


Claudia menoleh, ia tersenyum melihat Damar yang ternyata keluar.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya melihat ruangan mu terbuka, makanya aku tutup lagi."


"Ah benarkah seperti itu, bukankah kau selalu saja mengintip ku setiap hari?"


Claudia diam, itu memang benar adanya, tapi semua itu dilakukan kare Damar sendiri yang tidak mau membuka diri untuknya.


Damar melihat jam di pergelangan tangannya, ini masih jam kerja tapi Claudia justru keluyuran tak jelas.


"Pekerjaan mu sudah selesai?"


"Kenapa, aku baru pulang meeting dengan Pak Marvel."


Damar mengaangguk saja meresponnya, Claudia menghela nafas seraya melihat sekitarnya.


"Damar, aku bisa bertanya sesuatu padamu?"


"Apa?"


"Siapa keluarga mu?"

__ADS_1


Damar mengernyit pertanyaan macam apa itu, untuk apa Claudia mempertanyakan itu.


"Tolong jawab dengan benar?"


"Urusannya apa, itu tidak ditanyakan sama perusahaan, tapi kamu?"


"Tolong jawab saja, apa itu terlalu susah?'


"Aku tidak punya keluarga, aku hidup sendiri, apa itu sudah cukup jelas?"


Claudia mengangkat kedua alisnya, apa benar seperti itu, kenapa rasanya senang sekali dengan kalimat itu.


Damar mengernyit, wanita itu kerap membuatnya pusing, kerap menghabiskan waktunya tanpa hal yang berarti juga.


"Sudahlah aku masih banyak pekerjaan, bisakah kamu pergi saja?"


"Damar, aku rasa kita perlu bicara banyak, apa kamu bisa meluangkan waktu untuk bicara dengan ku?"


"Ya, nanti saja kalau memang aku ada waktu, sudah sana kembali ke ruangan mu, ini masih jam kerja jangan buat bos marah padamu."


Claudia berlalu begitu saja, Damar benar-benar tak mengerti dengan itu semua, apa tujuan dia sebenarnya dengan semua tingkah anehnya itu.


Damar kembali memasuki ruangannya, kembali fokus pada pekerjaannya juga, karena nanti siang ia akan menemui Sintia.


 -----


Inggrid membangunan Bian, lelaki itu menangis tersedu seraya besandar pada pintu kamarnya, Zahra telah mengunci pintunya dari dalam tanpa membiarkan Bian masuk terlebih dahulu.


"Zahra, buka pintunya, kamu tidak bisa seperti ini terus menerus," ucap Isma.


Tak jawaban, Isma melirik Bian yang begitu terluka dengan keadaannya saat ini.


Apa benar Zahra sudah yakin dengan keputusannya, apa wanita itu tidak takut akan menyesal nantinya.


"Zahra, kamu dengar Mama, ayo buka pintunya jangan seperti ini, Zahra."


Pintu terbuka, mereka menoleh bersamaan, secepat itu juga Bian ambruk dan memeluk kaki Zahra.


Keadaan ini kembali membuat Inggrid terluka, kapan keluarganya akan tenang, kenapa masalah selalu saja ada.


"Lepas, aku sudah katakan jangan berani memaksa ku untuk merubah semua ini, aku sudah putuskan semuanya dan tidak akan pernah berubah lagi."


"Aku gak bisa, aku gak bisa terima semua ini, aku sudah katakan untuk janji ku sama kamu."


"Aku gak perduli sama sekali, aku hanya akan mengikuti keinginan ku saja, bukan orang lain bahkan sekali pun itu dirimu."


Isma menggeleng, kali ini ia yang membangunkan Bian, apa yang dilihatnya saat ini sangatlah buruk.


"Zahra, kami percaya kamu sedang marah dan kecewa, tapi itu tidak lantas bisa membuat mu merendahkan Suami mu sendiri," ucap Isma.


"Dia sudah sering kali merendahkan ku, kenapa aku tidak boleh melakukannya?"

__ADS_1


"Tidak semua hal buruk harus dibalas dengan hal buruk juga."


"Aku tidak mau mendengar apa pun, kalian hanya penonton, tapi aku yang merasakannya tidak bisa lagi mendengarkan kalian."


Bian menggeleng, ia membawa Zahra memasuki kamar, menutup pintu dan menguncinya rapat meski Zahra tak henti berontak.


Isma mengusap pundak Inggrid, biarkan saja mereka harusnya bisa untuk dipercaya dalam semua hal, termasuk urusan pribadi mereka.


"Lepas, aku bilang lepas, apa kamu tuli?"


Bian tak mendengar, ia menarik Zahra untuk duduk di sofa sana.


Bian tak melepaskan genggamannya meski satu detik saja, Bian tak perduli meski Zahra akan mengamuk sekali pun.


"Lepas."


"Gak, aku gak akan lepaskan kamu, Zahra aku hanya minta sekali lagi kesempatan dari kamu, tolong."


"Aku gak mau, aku sudah katakan kalau kali ini kamu yang harus mendengarkan aku."


"Aku gak bisa, demi Tuhan aku gak mau perpisahan ini, aku mohon."


Zahra menggeleng, ia masih berusaha menarik tangannya meski tetap gagal.


Zahra harus kuat, tidak ada yang boleh melemahkannya kali ini, bahkan meski tangisan luka yang didengarnya, Zahra tidak boleh tersentuh.


"Aku mohon, aku akan berusaha untuk semua yang terbaiknya, hanya satu kali lagi, Zahra."


"Aku gak bisa, lepas."


Bian menggeleng, bukan melepaskan tapi genggaman itu justru semakin dikuatkan.


Bian menunduk ke pangkuan Zahra, entah benar atau tidak, tapi kali tangis Bian seolah penuh luka.


Tangis yang pernah terjadi juga pada Zahra saat ia harus memenjarakan Bian, tidak rela dan penuh luka.


"Aku minta sekali ini saja, percaya sama aku."


"Aku tidak pernah bisa untuk tidak percaya sama kamu, sejak aku merasa perasaan ku berubah terhadap mu, aku selalu percaya bahkan dengan semua kebohongan kamu, apa kamu lupa itu?"


Bian menggeleng, tentu saja ia ingat dengan semuanya, waktu dimana Zahra selalu mengalah terhadapnya.


Tapi kali ini, Bian tidak lagi main-main dengan ucapannya, perpisahan itu akan ditentangnya mati-matian.


"Kita bisa memperbaiki diri masing-masing setelah kita mengakhiri semuanya, tidak semua keadaan mampu aku jalani bahkan aku lewati, aku sudah tidak bisa lagi ada dalam ikatan ini."


"Aku gak bisa terima ini, aku mohon, harus dengan cara apa aku memohon padamu?"


Zahra diam, cara apa saja memang bisa memuluhkannya, tapi Zahra sedang menguatkan keputusan atas pemikirannya.


Jadi biarkan Zahra berperang dengan dirinya sendiri saja, tanpa harus ada rayuan apa pun yang pasti akan meluluhkannya.

__ADS_1


__ADS_2