Aku Dambakan Cinta Suami Ku

Aku Dambakan Cinta Suami Ku
Jangan Lakukan


__ADS_3

Bian memasuki rumahnya, pencariannya tidak menghasilkan apa pun, Zahra tidak ditemukannya bahkan di tempat kemarin ia bersembunyi.


"Bagaimana?" tanya Kania.


Bian menoleh, wanita itu masih ada di sana, Bian menggeleng dan turut duduk.


"Bagaimana ini," ucap Inggrid.


"Mami mengkhawatirkannya?" tanya Kania.


"Tentu saja, Mami mengkhawatirkannya karena Mami tidak yakin dia benar-benar mencarinya."


Bian menoleh, ia terdiam menatap Inggrid yang juga menatapnya, masih saja mencurigainya seperti itu.


Bian sudah pergi sehaian berkeliling mencari Zahra, bagaimana mungkin Inggrid bisa berfikir seperti itu.


"Bian, kamu ....."


Brakkk ....


Mereka menoleh bersamaan, bangkit bersamaan juga saat melihat pintu terbuka dan tubuh Zahra yang tergeletak di sana.


"Ayra," ucap Inggrid.


Bian segera berlari, ia jongkok memastikan kesadaran Zahra.


Bian menggeleng dan segera membawa Zahra masuk, ia membaringkannya di sofa sana.


"Kenapa lagi wanita ini," ucap Kania.


"Zahra, Zahra kamu kenapa, Zahra," ucap Bian menepuk pipinya.


"Bibi minta minyak angin sama air," teriak Inggrid.


Zahra memang lemah sekarang, tidak lagi sekuat dulu, dan mungkin saja esok lusa ia tak akan kembali membuka matanya.


"Zahra, kamu harus bangu, kamu dengar aku, Zahra," ucap Bian.


"Ini, Den."


Bian menoleh, ia mengambil minyaknya, menumpahkan sedikit ke tangannya dan mendekatkannya ke hidung Zahra.


"Apa sebaiknya panggil Dokter?" tanya Kania.


"Nanti saja," sahut Bian.


Kania melirik Inggrid, kenapa nanti saja, bagaimana kalau Zahra tidak kunjung sadar.


"Zahra, kamu dengan aku, ayo bangun."


Bian menambah minyak anginnya lagi, ia juga memijat kening Zahra, apa yang terjadi pada wanita itu sekarang.


Apa ada yang jahat padanya selama di luar, atau ada apa, Zahra tidak kembali semalaman dan saat kembali justru seperti itu.


"Zahra."


Zahra bergerak, ia mengernyit seraya membuka matanya perlahan.

__ADS_1


"Kamu sudah bangun," ucap Bian yang meraih gelas itu.


Zahra melihat mereka semua, apa yang sedang mereka lakukan, apa mereka masih akan berjuang untuk merubah keputusan Zahra.


"Bangun dulu, kamu harus minum," ucap Bian.


Bian membantu Zahra untuk duduk, tubuh itu memang lemah sekali, bahkan untuk duduk pun seperti tidak ada tenaga sedikit pun.


"Minum dulu."


Zahra meneguk minumnya, ia bersandar begitu saja pada pundak Bian dengan mata terpejam.


"Dia pasti tidak makan, dan saat di luar pun pasti tidak makan," ucap Kania.


"Bibi, bawakan makanan hangat," ucap Inggrid.


"Baik, Bu."


Bian memeluk Zahra, apa benar fikirannya jika ada yang berbuat jahat pada istrinya itu.


Bian menggeleng, ia kembali menggendong Zahra dan membawanya menaiki tangga, Zahra akan lebih tenang berbaring di tempat tidur.


"Mami, aku harus panggil Dokter."


"Panggil saja kalau menurut mu itu yang paling benar."


Kania mengangguk, ia lantas duduk dan mengeluarkan ponselnya.


Inggrid menggeleng dan berlalu menyusul Bian, apa lagi yang bisa diharapkannya dari pernikahan itu.


Semakin kesini Zahra tampak semakin menderita, tidak ada yang bisa difikirkan Inggrid selain dari pada menyetujui perceraian yang diinginkan Zahra.


"Aku rasa tidak," ucap Bian.


Inggrid menatap Zahra, mematung, apa itu yang kembali dilakukan Zahra, sama seperti dulu lagi.


Inggrid duduk di samping Zahra, tangannya terangkat mengusap kepala Zahra.


"Lakukan saja apa yang mau kamu lakukan, Ayra, Oma minta maaf karena telah menambah beban mu selama ini, sekarang, Oma hanya akan mendukung apa pun yang akan kamu lakukan, keputusan kamu akan Oma hormati."


Bian mengernyit, bisa-bisanya Inggrid berkata seperti itu pada Zahra, Bian sudah katakan kalau Zahra tidak sedang pingsan.


"Oma," panggil Bian.


"Kebahagiaan kamu memang ada di tangan kamu sendiri, kalau dengan pergi itu bisa membuat mu bahagia, maka lakukan saja."


"Oma," panggil Bian lagi.


"Oma tidak akan memaksakan apa pun lagi padamu, Oma akan biarkan kamu untuk menyayangi diri kamu sendiri sebelum orang lain, bahkan meski itu Oma sekali pun."


Mata yang terpejam itu tampak menetes air matanya, nafasnya sesekali tertahan, meski tanpa gerakan apa pun yang ditunjukan Zahra.


Inggrid mengusap tetesan bening itu, mungkin tak hanya Bian yang jahat selama ini, tapi Inggrid juga jahat karena selalu memaksa Zahra untuk bertahan saat wanita itu hendak menyerah.


"Oma selalu mempermainkan perasaan kamu, memaksa kamu bertahan saat kamu menyerah, dan memaksa kamu menyerah saat kekuatan mu menginginkan untuk bertahan, Oma minta maaf."


Bian menunduk, melihat Inggrid yang juga meneteskan air matanya, telah membuat perasaan Bian kacau.

__ADS_1


Bian mulai perduli dengan semua itu sekarang, tetesan air mata Zahra yang tanpa isakan itu sangat terasa menyakiti Bian.


"Perpisahan memang salah, tapi jika kebersamaan hanya mendatangkan permasalahan, perpisahan memang satu-satunya pilihan."


Kedua tangan Zahra mengepal perlahan, matanya terbuka dan menatap Inggrid.


Inggrid tersenyum, usapan tangan itu tak berhenti sejak tadi, Zahra merasakan kehangatan kasihnya.


"Lakukan saja, jangan takut, Oma akan mendukung mu penuh."


"Biarkan aku pergi, karena aku hanya ingin pergi, tidak ada yang lain."


Inggrid mengangguk pasti, Inggrid akan mendukungnya tanpa protes apa pun.


Zahra melirik Bian, ia meraih tangan lelaki itu perlahan.


"Biarkan aku pergi, aku tidak akan meminta apa pun, rumah ini atau hal lainnya aku tidak akan memintanya, aku hanya ingin semua selesai dan aku akan pergi."


Bian menggeleng, ia enggan menatap Zahra meski sekilasan saja, keinginannya untuk mempertahankan semuanya juga sangat kuat.


Bian tidak ingin perpisahan itu terjadi sampai kapan pun, hanya satu kali lagi kesempatan yang dimintanya tapi kenapa begitu sulitnya Zahra untuk mengabulkannya.


"Kamu cukup menyadari kalau kamu tidak pernah bahagia selama dengan ku, dan aku juga merasakan itu, kita akan bahagia jika kita melangkah dengan keinginan sendiri bukan bersama."


"Aku gak bisa Zahra, aku sudah tegaskan kalau aku gak bisa terima gugatan kamu, apa kamu tidak mengerti itu?"


Bian bangkit, ia melepaskan genggaman Zahra begitu saja, wanita itu membuatnya prustasi.


Zahra berusaha bangun dari tidurnya, dengan dibantu Inggrid ia berhasil duduk.


"Bertahan bukan lagi niat ku, aku selalu berusaha mengerti kamu sejak dulu, mengerti kalian semua meski balasan selalu buruk terhadap ku, tapi untuk kali ini saja kenapa kalian tidak bisa mengerti aku."


"Pengertian seperti apa yang kamu mau, aku gak mau kita pisah, kenapa kamu tidak mengerti itu."


"Karena tidak ada lagi yang bisa aku mengerti, semua sudah terlalu buruk, aku tidak bisa melihat sisi baiknya lagi sekarang, bahkan terhadap diriku sendiri pun aku sudah tidak mengerti lagi."


Bian menoleh, ia diam menatap wajah pucat itu, sorot matanya memang tak dapat diartikan.


Kasih sayang, pengertian, dan kelembutan yang selalu nampak kini tiada lagi, memang Bian yang sudah merusaknya.


"Aku akan memohon kalau itu bisa membuat mu mengerti dan mau untuk mengerti."


Bian menggeleng, ia kembali duduk dan memeluk Zahra dengan eratnya, kini giliran Bian yang terisak.


Zahra sedikit tersenyum, air matanya turut melintasi pipinya karena tangis Bian.


"Kamu akan bahagia setelah melepaskan aku, kamu bisa dapatkan wanita yang kamu harapkan, wanita yang kamu cintai tanpa harus ada keterpaksaan."


"Tutup mulut mu itu."


Zahra kembali tersenyum, ia tidak mau menangis tapi kenapa air matanya terus saja mengalir.


"Kehidupan tidak akan berubah jika kita tidak merubahnya, kamu akan menjadi diri kamu sendiri dengan cinta yang tepat, tapi itu bukan aku."


"Diam, apa kau tidak dengar, aku bilang diam."


Inggrid mengusap air matanya dan berlalu begitu saja, semua harapan sudah hilang, Zahra tidak akan merubahnya lagi.

__ADS_1


Zahra membalas pelukan Bian, dulu Zahra berfikir kalau Bian akan berubah saat semua terlambat, dan ini adalah bukti pemikirannya.


Bian berubah saat Zahra sudah menyerah, kali ini Zahra tidak akan mengalah, biarkan saja mereka yang mengalah untuknya.


__ADS_2