
Zahra membuka pintu rumahnya, ia tampak tersenyum bingung melihat Dion dan mereka yang tiba-tiba datang.
"Bian ada?" tanya Dion.
"Bian belum pulang, dia ada lembur hari ini."
"Hari libur?"
"Aku tidak tahu, tapi dia pergi ke Kantor, dan baru pulang nanti malam."
Dion mengangguk dan melirik mereka semua, teman-teman Bian tampak datang dengan kompaknya setelah sekian lama.
Tapi mereka sudah datang, bagaimana bisa pergi lagi, lebih baik mereka tunggu Bian saja sampai kembali.
"Ayra, siapa yang datang?"
Zahra menoleh, ia melihat Inggrid yang datang menghampiri.
"Selamat sore, Oma," sapa mereka kompak.
Inggrid mengangguk, ia tersenyum seraya melirik Zahra.
Zahra mengangkat kedua alisnya, lantas segera mempersilahkan mereka masuk.
"Ayra," teriak Sintia.
Mereka menoleh bersamaan, Zahra mengernyit melihat Sintia yang berlari disusul Damar.
Zahra sempat melirik mereka semua, ini kebetulan macam apa, kenapa mereka mendadak datang semuanya.
"Ada apa ini?" tanya Inggrid.
"Aahh, aku merindukan wanita ini," ucap Sintia semangat seraya memeluk Zahra.
Zahra melirik Damar, lelaki itu tersenyum seraya mengangguk, dengan kebingungan Zahra membalas pelukan Sintia.
"Apa aku boleh memeluknya juga?" tanya Damar.
Sintia melepaskan pelukannya dan seketika itu memukul Damar dengan tasnya, Zahra semakin bingung dengan semua itu.
"Kalian kompak sekali, ada apa?" tanya Zahra.
"Ada apa, aku mau bertemu dengan mu, sedangkan mereka, sedang apa mereka disini?" tanya Sintia.
"Kenapa, kita juga mau bertemu Bian," sahut Dion.
Sintia mengangguk, ia melirik Inggrid dan salam padanya, bagus sekali Sintia sampai melupakan kesopanannya.
Mereka masuk sama-sama, kehangatan terjadi karena kedatangan mereka, berbincang banyak hal setelah sekian lama tidak bertemu.
Mereka bahkan lupa waktu karena terlalu asyik berbincang, hingga tak terasa langit berubah gelap, dan Bian pun telah kembali ke rumah.
"Kalian sudah disini," ucap Bian.
Mereka menoleh bersamaan, Zahra sedikit heran, kenapa Bian mengundang mereka semua.
Apa mungkin Bian mau bersenang-senang, dia ingin melupakan kekecewaannya tentang hasil pemeriksaan dokter itu.
"Kenapa lama sekali," ucap Dion.
"Jalanan macet, jadinya aku terlambat."
Mereka bersalaman, salam khas pertemanan mereka, Zahra bangkit dan salam pada Bian.
"Kamu mau langsung mandi?"
__ADS_1
"Tidak, nanti saja, aku mau gabung dengan kalian."
Zahra mengangguk, ia lantas berlalu ke dapur untuk membawakan minum.
Bian lantas duduk dan berbincang dengan mereka, Bian sempat melirik Inggrid, tidak bisakah Inggrid pergi saja agar mereka lebih bebas berbicara.
"Jangan bertingkah," ucap Inggrid.
Bian hanya tersenyum, Inggrid lantas pergi meninggalkan mereka semua.
"Jadi, bagaimana?" tanya Dion.
"Apa yang bagaimana?" tanya Zahra.
Mereka menoleh bersamaan, Dion terlihat mengusap bibirnya cepat, dan itu membuat Zahra menatap mereka dengan curiga.
"Ada, kalian mau kemana?" tanya Zahra menyimpan gelasnya.
"Tidak kemana-mana, memangnya mau kemana kita sengaja datang kesini," ucap Dion.
"Zahra, kamu bisa simpankan ini, aku malas sekali ke atas."
Zahra mengangguk saja, ia mengambil tas kerja Bian dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
Zahra sempat menoleh lagi saat sampai di tangga, mereka tampak berbisik serius, apa yang mereka rencanakan kenapa Bian justru memintanya pergi.
"Bian," panggil Zahra.
Bian menoleh, ia tersenyum seraya mengangguk.
"Kamu bisa kembali setelah simpan itu."
Zahra sedikit berdecak, ia kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
"Bukankah kamu sesama wanita, harusnya kamu mengerti itu," sahut Damar.
Sintia menoleh, itu bukan jawaban yang diinginkannya.
Sintia mendelik, ia bangkit dan memilih pergi menyusul Zahra.
"Keputusan yang bagus," ucap Bian.
"Apanya yang bagus?" tanya Damar.
Bian menoleh, ia mengangkat kedua bahunya sekilas.
Sintia tampak mengetuk pintu dan memasuki kamar, ia melihat Zahra yang duduk di sofa sana.
"Ayra, kamu sedang apa?"
"Kenapa kamu kesini, apa yang mereka bicarakan?"
"Mana aku tahu, aku tidak mengerti perbincangan para lelaki itu."
Zahra menghembuskan nafasnya sekaligus, apa benar Bian akan berubah lagi, apa dia akan menjadi buruk lagi karena masalah kemarin.
"Ayra, kamu kenapa?"
"Tidak, aku tidak apa-apa, kamu kesini sama Damar, aku lihat sepertinya kalian semakin dekat."
Sintia sedikit tersenyum mendengarnya, dan memang itu juga yang dirasakannya, tapi Sintia tidak mau mengatakan apa pun juga.
"Baiklah, sudah aku katakan sejak awal kalau kalian itu memang cocok."
"Diamlah, kenapa jadi membahas aku dan Damar."
__ADS_1
"Karena aku tertarik untuk itu."
Keduanya tersenyum, Sintia menggeleng menanggapinya, terserah Zahra saja yang penting wanita itu tidak kesal.
"Baiklah, aku harus turun, aku harus pastikan kalau Bian tidak berniat macam-macam."
"Aahh biarkan saja, Damar bisa jadi mata-mata terbaik kita."
"Hah?"
Sintia menarik turunkan alisnya, Zahra sedikit tersenyum, bisa sekali Sintia berkata seperti itu, tapi mungkin memang Damar bisa dipercaya.
"Aku boleh mengingap disini, aku mau tidur dengan mu."
"Bagaimana bisa seperti itu?"
"Bisa saja, Bian pasti akan bergadang dengan mereka semua, dan kamu akan sendirian di kamar ini."
"Yakin sekali kamu."
"Ya lihat saja nanti."
Sintia berkata sembari mengangguk-angguk perlahan, ia berpaling dan melihat sekitar kamar Zahra.
Lumayan juga meski tetap saja kamarnya yang bikin nyaman, Sintia akan tidur malam ini dengan Zahra, mungkin itu akan menyenangkan.
"Sintia, kalau kamu menginap disini, besok bisa kesiangan bukankah kamu kerja?"
"Tidak masalah, aku bisa bangun sendiri."
Zahra tersenyum, baguslah kalau seperti itu, keduanya berbincang banyak hal, Sintia juga mendapat penjelasan jika hubungan Zahra dan Bian memang baik-baik saja.
Semua sudah sesuai dengan keinginan Zahra, dan tentu saja itu kabar baik untuk Sintia, dengan begitu Zahra bisa mendapatkan akhir bahagia.
Ditengah perbincangan hangat Zahra dan Sintia di sana, Bian dan mereka semua tampak asyik di halaman rumah.
"Apa kita akan berpesta malam ini?" tanya Dion.
"Menurut mu apa, sudah seperti ini ya apa lagi kalau bukan pesta," sahut Damar.
"Diamlah, dan selesaikan semuanya segera, jangan terus saja ngoceh," ucap Bian.
Mereka menyiapkan meja dan berbagai makanan di sana, Bian merasa harus melakukan itu untuk kebersamaan mereka kali ini.
Malam ini pasti akan menyenangkan, dan Bian bisa sedikit melupakan kekecewaannya, tidak ada salahnya melakukan semua itu untuk kesenangannya.
"Zahra sama Sintia mana?"
"Ngapain tanya mereka?" tanya Dion.
"Ya kali saja mau bantu."
"Bantu makan nanti."
Bian sedikit tertawa mendengarnya, sejak tadi teman-temannya itu tidak berhenti berbicara, dan itulah yang selalu Bian rindukan dari mereka.
Jika saja mereka bisa seperti sekarang setiap hari, mungkin Bian akan lebih santai lagi menjalani hidupnya.
"Sudah selesai kan?" tanya Bian.
"Jam berapa sekarang?" tanya Damar.
"Jam 10," sahut Dion.
Damar mengangguk, kenapa matanya sudah mulai berat untuk terbuka, harusnya Damar ikut senang malam ini bukan malah mengantuk.
__ADS_1