
"Zahra, kamu sudah bangun."
Zahra terperanjat dari duduknya saat mendengar suara Kania, ia melirik Bian yang tampak terusik dari tidurnya.
Sesaat kemudian, Zahra melihat ponsel yang di genggamanya, setelah mendapat apa yang dibutuhkannya Zahra menyimpannya kembali.
"Zahra, Bian," panggil Kania.
"Emmm," gumam Bian.
Zahra menelan ludahnya, ia bangkit dan segera membawa semua yang telah disiapkannya.
Zahra menyeret kopernya dan membuka pintu, ada Kania dan juga Kemal dibalik pintu itu.
"Zahra, kamu mau kemana?" tanya Kania bingung.
Zahra melihat sekitar, tidak ada Inggrid di sana dan tentu saja itu bisa lebih memudahkan langkahnya.
"Zahra."
"Terimakasih untuk semuanya, aku pergi sekarang."
Zahra menerobos keduanya, dengan langkah cepat ia pergi menuruni tangga.
"Zahra, tunggu dulu, Zahra."
Kania menggeleng, ia segera menyusul kepergian Zahra, bagaimana bisa seperti itu kelakuannya.
Kemal memilih masuk ke dalam kamar, melihat Bian yang masih saja tertidur di sana cukup membuatnya jengkel.
"Bian, apa kau tidak bisa berubah sedikit saja?"
Bian bergerak, berisik sekali, apa Kemal tidak tahu jika kepalanya masih sangat pusing.
"Bian," panggil Kemal sedikit kasar.
Bian menoleh, perlahan ia duduk, kepalanya memanglah pusing sekali.
"Bagus sekali kau ini, sekarang kau siap kehilangan wanita itu?"
Bian mengernyit, ia melihat sekitar, benar juga kemana Zahra, kenapa tidak terlihat.
"Mana Zahra, kemana dia?"
"Dia sudah pergi, jangan harap dia akan kembali."
Bian seketika panik, ia membuka ponselnya ada pesanan taxi di sana dan taxi itu sudah jalan.
Bian dengan tergesa turun dan berlari keluar, bisa sekali wanita itu kabur saat Bian masih terlelap.
"Zahra," teriak Bian.
Bruukkk .....
Bian limbung saat tak sengsja menabrak Kania di ambang pintu, sesaat keduanya terdiam, hingga Bian melanjutkan langkahnya.
"Zahra," teriaknya lagi.
"Kamu memang tidak pernah bisa berubah."
Bian menoleh, kemana Zahra, kenapa Kania membiarkannya pergi begitu saja, bukankah Bian masih terlelap saat Zahra pergi.
"Kelakuan mu sendiri yang membuatnya pergi, berhenti bersikap bodoh."
"Mana Zahra, mana dia kenapa Mama biarkan dia pergi?" tanya Bian mengoyak pundak Kania.
__ADS_1
Plaakk .....
Bian diam dengan menyentuh pipinya, pagi hari seperti ini Bian sudah mendapatkan tamparan seperti itu.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini, selalu saja merepotkan orang lain?"
"Mana Zahra, aku bertanya mana Zahra?"
"Dia sudah pergi, dan jangan berfikir kalau dia akan kembali, urus hidup sendiri mulai sekarang."
"Gak, gak bisa, itu gak boleh terjadi, Oma."
Bian berteriak memanggil Inggrid seraya memasuki rumah, wanita tua itu pasti bisa menghentikan Zahra.
"Oma."
"Dia ada di Rumah Sakit sekarang," ucap Kemal.
"Siapa, siapa yang di Rumah Sakit?" tanya Bian kesal.
"Oma mu sendiri, bukankah ulah mu juga yang mengirimnya kembali ke Rumah Sakit?"
Bian diam, ia menunduk seraya menekan kepalanya, apa yang terjadi kenapa bisa keadaan mendadak seperti itu.
Kania menghampiri, ia menatap Bian dengan jengkel, lelaki yang selalu meminta pembelaan tapi tak pernah bisa membuktikan ucapannya sendiri.
"Memalukan sekali hidup mu," ucap Kania.
Bian menoleh, kepalanya begitu pusing, apa yang harus difikirkannya saat ini.
Kemana Zahra, kenapa dia harus pergi tanpa pamit, wanita itu telah melakukan kesalahan lagi kali ini.
"Papa, kita kembali saja ke Rumah Sakit," ucap Kania.
"Jangan sekali pun bermimpi Zahra akan kembali, kamu sudah kehilangan dia sekarang."
Kania turut berlalu meninggalkan Bian, semua sudah terlambat, Bian tidak memiliki kesempatan apa pun lagi.
Kemana Zahra sekarang sama sekali tidak ada yang tahu, Kania yang sempat mengejarnya pun tidak mendapat penjelasan apa-apa.
"Zahra," teriak Bian prustasi.
Ia menendang segala apa yang ada di dekatnya, dalam fikirnya Zahra selalu saja membuatnya emosi.
Harus bagaimana lagi Bian memperlakukannya agar Zahra bisa baik lagi, bukankah Bian sudah berusaha meredam emosinya saat menghadapi Zahra.
"Zahra, kembali kau, Zahra."
"Den Bian."
Bian menoleh, bukankah Zahra yang dipanggilanya, lalu kenapa wanita itu yang datang ke hadapannya sekarang.
-----
Zahra keluar dari taxi, ia tidak memiliki tujuan sama sekali, dalam fikirnya yang utama adalah dia bisa keluar dari rumah itu.
Kakinya terayun, dengan barang bawaan yang merepotkan, Zahra berjalan dan duduk di kursi warung pinggir jalan.
Zahra terdiam menatap kosong jalanan yang jelas ramai itu, kemana sekarang Zahra harus pergi, Zahra ingin tempat yang keluarga Bian tidak akan menemukannya.
"Mau beli apa, Neng?"
Zahra menoleh, beli apa, tidak ada yang diinginkannya saat ini.
"Mau kemana, banyak banget bawaannya?"
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu mau kemana."
"Neng, kabur dari rumah?"
Zahra diam, mungkin hanya kalimat itu yang tepat untuk tingkah Zahra saat ini.
Tidak ada pilihan lagi, semua sudah hilang dalam anggapan Zahra, jadi biarkan saja akan seperti apa hidupnya sekarang.
"Minum dulu, berfikir dengan benar."
Zahra menoleh, ia tersenyum seraya menerima gelasnya.
"Terimakasih, Pak."
"Iya, silahkan saja silahkan."
Lelaki itu kembali memasuki warungnya, tak ada tegukan yang dilakukan Zahra, gelas itu hanya digenggam saja dikedua tangannya.
Jika saja ponsel ada bersamanya, mungkin akan sedikit lebih mudah langkahnya saat ini.
"Ke rumah teman saja dulu, biar bisa berfikir lebih tenang lagi."
Tak ada jawaban, bukan tak mendengar, tapi Zahra seketika berfikir siapa harus didatangi sekarang.
Semua yang mengenal Zahra juga mengenal keluarga Bian, mereka pasti bisa menemukannya juga, dan itu tidak diinginkan Zahra.
"Apa tidak ada Saudara?"
Zahra menoleh, ia menggeleng seraya tersenyum, sebatang kara adalah kehidupannya saat ini.
"Kamu mau tinggal di rumah saya?"
Zahra mengernyit, apa itu tawaran yang bagus, siapa dia dan seperti apa juga orang itu.
"Saya ada Anak dan Istri, jangan khawatir, jangan berfikir buruk dulu."
Zahra diam, tapi mereka tidak saling mengenal, Zahra pergi untuk menenangkan diri.
Mungkin saja kalau tinggal dengan orang asing tidak akan menjamin ketenangannya, tapi bagaimana lagi karena tidak ada tujuan sama sekali.
"Bagaimana, kalau mau biar saya antarian ke rumah."
"Rumahnya dimana?"
"Kampung sebelah, lumayan jauh dari sini, harus naik bus."
Zahra kembali diam, apa itu satu-satunya jalan, mungkin Bian dan keluarganya tidak akan bisa menemukan dirinya.
Zahra meneguk minumnya, mungkin untuk hari ini saja sampai Zahra bisa berfikir harus kemana ia pergi.
"Gimana?"
"Warung Bapak gimana kalau ditinggal?"
"Ah tidak masalah, bisa ditutup dulu sebentar, sekalian ada barang yang mau dibawa juga di rumah."
Zahra tersenyum, ia mengangguk setuju dengan tawaran itu, tidak ada salahnya untuk sebentar saja.
Warung itu segera ditutup, pemilik warung tampak diam di samping Zahra seraya menunggu bus lewat.
"Nah itu, ayo cepat."
Lelaki itu menghentikan busnya, ia membantu membawa barang Zahra, kasihan juga kalau dibiarkan.
Zahra turut masuk, gelas itu masih digenggamnya, biarkan saja bukankah ia akan datang ke rumah pemilik gelas.
__ADS_1