
Mereka begitu berusaha untuk menghangatkan keadaan, Bian masih tampak murung meski mereka semua ada di sana.
Lengkap dengan Vanessa dan Sintia, tak lantas membuat Bian semangat, sepertinya memang benar jika Bian telah menyesal dengan semuanya.
"Zahra bilang kamu harus berbahagia, jadi jangan seperti ini," Bisik Kania.
"Kemana dia?" tanya Bian.
"Dia di rumah, jangan berharap dia akan datang, karena itu tidak akan terjadi sampai hari ini, simpan harapan itu untuk esok lusa."
"Dan dia akan datang?"
Kania menggeleng, yang tahu jawabannya hanya Zahra sendiri, Kania tidak bisa menerka apa yang ada difikiran Zahra.
Bian mengangguk, apa dia masih punya hak untuk memaksa Zahra, berbulan-bulan Bian di sana, tak sekali pun Zahra mau menemuinya.
Zahra benar-benar bisa membuktikan ucapannya itu, ia telah membuktikan jika ia bukan wanita lemah yang seperti Bian fikirkan selama ini.
"Hey, ada apa dengan mu, ini harusnya membuat mu bahagia, bukankah kita selalu seperti ini setiap tahun," ucap Dion.
"Kenapa harus berubah, kembalilah jadi Bian yang sebelumnya, kenapa jadi seperti ini."
"Ini buruk, dan sepertinya tidak pantas."
"Come on, kita akan terus bersama mu, untuk apa murung seperti ini."
Bian sedikit tersenyum mendengar celotehan teman-temannya, mereka memang tetap saja memperdulikannya, tapi bukan itu yang diinginkannya.
Bian hanya ingin bertemu dengan Zahra, hanya satu permintaannya, tapi kenapa sulit sekali untuk Bian mendapatkannya.
"Bian, mereka sudah benar-benar meluangkan waktunya untuk kesini, apa kamu tidak bisa menghargai itu?" tanya Vanessa.
"Aku minta maaf."
Mereka tersenyum bersamaan, Bian mengangguk, bukankah ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa berubah.
Belajar menerima semua hal buruk yang terjadi tanpa harus membalas, dan belajar mengerti jika tak semua keinginannya bisa terpenuhi.
"Baiklah, sudah cukup bincang-bincangnya, tidak perlu ada kesedihan, kita hanya harus menikmati waktu singkatnya dengan bahagia saja," ucap Kania.
"Itu benar," sahut Dion.
"Dan aku setuju," Tambah Sintia.
Mereka menghabiskan waktu singkatnya dengan tersenyum dan tertawa, Bian begitu berusaha untuk mengikuti keinginan mereka.
Bian melupakan kegelisahannya untuk sesaat, melupakan harapannya terhadap Zahra selagi mereka ada bersamanya.
Bian ikut tertawa saat ada lelucon yang terlontar, bukankah Bian merindukan kebersamaan seperti itu, merindukan kehangatan seperti itu.
"Lekas membaik anak Mama, kamu hebat, jangan menyerah," ucap Kania.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Bian.
"Kamu harus ingat akan ada pelangi setelah hujan, meski sekarang terasa berat, esok lusa kamu akan sangat bahagia, hidup tidak akan selamanya di bawah, jadi jangan menyerah,".ucap Sintia.
Vanessa seketika menatap Sintia, apa maksudnya bicara seperti itu, Sintia mendahuluinya mengatakan itu.
Benar-benar keterlaluan, jadi wanita itu juga benar menyukai Bian, bisa sekali melakukan itu sekarang.
"Jangan membenci siapa pun atas keadaan ini, setiap yang terjadi adalah kehendak Tuhan, kerap kali yang terbaik dari Tuhan bukanlah yang kita inginkan, kamu harus paham itu," tambah Sintia.
Kania dan Kemal mengangguk bersamaan, itu benar, dan mereka suka dengan semua kalimat Sintia.
Mungkin sudah seharusnya dulu Bian menikah dengan Sintia, bisa saja keadaan akan lebih baik dari pada saat ini.
Tapi semua sudah terjadi, dan semua yang terjadi memang sebab pilihan dan kelakuan Bian sendiri, dan saat itu terjadi tidak ada yang bisa membantunya sama sekali.
"Bukankah Sintia itu baik, sayang sekali kamu dulu sia-siakan dia," ucap Inggrid.
Kalimat Inggrid membuat Vanessa berfikir lain, Sintia sempat melirik Vanessa sekilas, kenapa Inggrid harus berkata seperti itu.
"Itu benar, tapi kamu tidak boleh menyesali apa pun, bukankah kalian hanya masa lalu, yang sekarang sudah berbeda," ucap Kania.
Vanessa memejamkan matanya sesaat, ada apa ini, kenapa kalimat mereka seperti itu, apa mereka sedang bercanda.
Vanessa kembali melirik Sintia, ia juga sempat melirik Bian sekilas, wanita itu tampak tersenyum saat Bian juga tersenyum padanya.
Lelucon macam apa ini, apa yang ditutupi Sintia darinya selama ini, apa dia berbohong tentang sosok Bian.
Mereka mengangguk, disisa waktu kebersamaannya mereka kembali bercanda, Bian menerima banyak hadiah hari ini.
"Kamu harus menyimpannya dengan baik, ini keperdulian mereka semua," ucap Kania.
"Tentu saja, Mama bawa pulang semuanya dan simpan, aku akan membukanya suatu hari nanti."
"Baiklah, tapi khusus dari Mama kamu harus membukanya hari ini juga."
"Ah, aku sudah tahu apa isinya."
Keduanya tersenyum, Kania memang tidak pernah merubah pemberiannya dari tahun ke tahun.
Tapi bukan bosan, Bian selalu merasa bahagia dengan hadih Kania itu, ia selalu menyimpannya dan menggunakannya setiap waktu.
Hadiah Kania selalu jadi hadiah kesayangan yang dimilikinya, bahkan ketika sudah jekek pun, Bian tetap menyimpannya dengan baik, sekali pun ia tak memakainya lagi.
"Ayo kita makan sama-sama," ucap Inggrid.
"Dan itulah yang ku tunggu sejak tadi."
"Ya, kenapa makanan itu diabaikan begitu lama?"
"Cepatlah, banyak bicara."
__ADS_1
Ocehan teman-teman Bian membuat mereka tersenyum, Nur memang memasak untuk mereka bahkan itu tanpa diminta.
Dengan semangat mereka menikmati makanannya, Bian juga tampak lahap, sudah lama ia tidak makan bersama, karena di sel ia benar-benar sendirian.
"Apa aku boleh tambah ini," ucap Sintia.
"Jangan serakah, aku pun belum."
Vanessa mendahului Sintia untuk mengambil kerupuk di sana, keduanya sempat saling tatap, Vanessa berpaling lebih dulu dengan raksi kesalnya.
Sintia mengangguk, sepertinya Sintia paham kenapa Vanessa seperti itu, baiklah setelah selesai kebersamaan itu, Sintia harus siap dengan segudang pertanyaan dari Vanessa.
"Sudahlah, jangan berebut, kalian harus habiskan semua makanan ini," ucap Inggrid.
"Tenang saja, masalah makan kita juaranya, jangan khawatir," ucap Dion.
Temannya yang lain setuju dengan itu, tidak akan ada saingan ketika mereka makan, karena mereka akan melahap apa pun yang tersedia.
Bian tersenyum, mereka memang tetap sama tidak ada yang berubah, dan Bian merasa senang dengan itu.
-----
"Non Ayra, mau kemana?" tanya Nur.
"Bibi, aku mau keluar sebentar."
"Non mau susul mereka?"
Zahra diam, apa harus mempertanyakan itu, jelas saja jawabannya tidak, Zahra tidak sedikit pun berniat untuk menyusul mereka.
Zahra akan pergi dengan tujuannya sendiri, dan rasanya Nur tidak perlu banyak bertanya soal itu.
"Aku pergi ya, Bi."
"Nanti kalau Ibu kembali dan bertanya, Bibi harus jawab apa?"
"Tidak akan ada pertanyaan yang berarti, Oma sudah tahu harus seperti apa menanggapi semua ini."
Nur mengangguk saja, semoga saja itu benar, Nur tidak mau sampai kena marah lagi karena tidak tahu kemana perginya Zahra.
Tapi sepertinya memang apa yang dikatakan Zahra itu benar, bukankah semua sudah menyadari segala perubahan Zahra, bahkan meski untuk hal terburuknya sekali pun.
"Sudab ya, Bi."
"Oh, iya Non, hati-hati."
"Siap, Bibi juga hati-hati di rumah, jangan asal buka pintu kalau ada tamu."
Keduanya tersenyum, Zahra lantas pergi meninggalkan Nur dan juga rumah.
Ia akan segera menemui Damar yang katanya sudah menunggu di tempat, lelaki itu akan dibuat menunggu lagi olehnya.
__ADS_1