
Zahra menggeleng dan mendorong Bian dengan sekuat tenaganya, Zahra berhasil melepaskan genggaman tangan Bian.
"Aku gak mau, aku berubah fikiran, aku gak mau menikah dengan laki-laki kasar seperti kamu, aku gak mau."
Bian mengusap wajahnya seraya berpaling, apa yang telah dilakukan Bian pada Zahra, kenapa Bian malah kasar padanya.
"Oke .... oke aku minta maaf, sorry."
Zahra menepis tangan Bian yang hendak kembali meraih tangannya, Bian seketika mengangkat tangannya dan mundur.
"Iya oke, oke, tenang, aku tidak akan marah lagi sama kamu."
Zahra tak peduli dan kembali mendorong Bian hingga terjatuh, Zahra berusaha mengambil kunci itu dari saku Bian, keduanya saling mempertahankan keinginan masing-masing.
"Zahra, dengar dulu."
"Mana kuncinya, mana." jerit Zahra.
Bian berdecak dan balik mendorong Zahra, memangnya sekuat apa wanita itu sampai nekad melakukan semua itu pada Bian.
"Den Bian, Non Ayra, ada apa kalian, kenapa ribut sekali."
Keduanya melirik pintu bersamaan, Zahra seketika bangkit dan menggedor pintu itu minta di bukakan.
"Buka Bi, tolong buka sekarang, tolong."
"Kenapa Non, ada apa."
"Buka pintunya, aku mau keluar, ayo Bi tolong."
"Tapi gak ada kuncinya Non, saya gak pegang kunci."
Zahra menggeleng dan menunduk, lalu bagaimana caranya agar Zahra bisa keluar dari kamar itu.
Zahra menoleh dan melihat Bian yang tampak bangkit dan menghampirinya, Zahra menggeleng dan menjauhi langkah Bian yang semakin mendekat.
"Non, Non baik-baik saja."
"Bi aku takut, Bian ka ...."
Bian dengan cepat membungkam Zahra, Bian tak peduli dengan Zahra yang berontak, Zahra menendang pintu itu dengan kerasnya berharap orang di luar sana membantu berusaha untuk membukanya.
"Non Ayra."
Bian menarik Zahra menjauhi pintu itu, Zahra merasa ketakutan saat ini, kenapa Bian seperti itu, apa susahnya membuka pintu dan membiarkan Zahra pergi untuk sebentar saja.
"Zahra, dengar dulu."
"Non, Den Bian apa yang terjadi?"
Tak ada jawaban, Bian masih membungkam Zahra dengan kuatnya.
"Kalau kamu masih teriak, kamu akan merasakan yang lebih sakit dari pada ini."
Zahra menggeleng dan terus berusaha melepaskan diri dari Bian, tapi ketakutan Zahra justru membuat tenaganya semakin menghilang.
"Kamu dengarkan aku baik-baik, disini, di ruangan ini kita hanya berdua, dan kunci kamar ini hanya aku yang pegang, harusnya kamu mengerti apa maksud aku sekarang."
Zahra memejamkan matanya sesaat, apa Zahra telah salah mengambil keputusan karena telah menerima tawaran Bian.
__ADS_1
"Kamu diam, atau aku akan buat kamu kehilangan masa depan kamu."
Zahra mengernyit, kalimat itu membuat tubuh Zahra seketika mendingin, apa maksudnya, kenapa Bian berkata seperti itu.
"Aku akan menikahi kamu, dan tidak ada salahnya jika aku melakukan semuanya sekarang, karena pada akhirnya kita akan menikah dan aku akan bertanggung jawab atas apa yang akan aku lakukan sekarang."
"Emmm ...."
Zahra tidak bisa menjauhkan Bian sekarang, bagaimana caranya, Zahra ingin keluar dari kamar dan dari rumah itu.
"Diam, aku bilang diam."
"Emmm ...."
"Diam!" bentak Bian lagi.
Zahra diam dengan memejamkan matanya kuat, gemuruh di jantungnya semakin tak terkontrol saat ini.
"Den, jangan kasar Den, kasihan."
Bian melirik pintu, kenapa orang itu harus ikut campur, apa dia lupa siapa dia di rumah itu.
"Kalau kamu masih membantah, kamu yang akan menyesal, aku bilang diam."
Bian melepaskan Zahra perlahan, Bian lantas berlalu dan membuka pintu.
"Den, ada apa ini, kenapa Ayra?"
"Masih mau kerja disini?"
"Masih, Den."
"Iya Den, maaf."
Wanita itu lantas pergi meninggalkan tempatnya, Bian kembali menutup pintu dan melihat Zahra di sana.
Bian menunduk sesaat, apa pun yang terjadi saat ini, Bian tidak mungkin merusak Zahra.
"Aku mau keluar, aku janji akan kembali, aku hanya keluar sebentar saja," ucap Zahra dengan takut.
"Dan kamu fikir aku percaya, setelah semua yang kamu katakan tadi?"
"Aku minta maaf, aku gak akan lari dari perjanjian kita, aku hanya ingin pergi sebentar, aku mohon."
Bian kembali mendekati Zahra, lagi lagi Zahra menghindari Bian.
"Aku tidak akan lari, aku hanya mau keluar sebentar saja."
"Aku gak izinkan kamu keluar!" bentak Bian.
Zahra menunduk seraya duduk di kasurnya, Bian berdecak dan mengusap wajahnya prustasi, kenapa Zahra harus membuatnya marah seperti saat ini.
"Zahra."
Bian perlahan mendekat dan menyentuh pundak Zahra, tapi Zahra menepisnya dengan kasar, ditengah tangisnya itu Zahra masih berusaha menghindari Bian."
"Zahra, jangan seperti ini terus, kamu hanya membuat ku marah saja."
"Aku bilang aku keluar, aku mau keluar dari sini!"
__ADS_1
Zahra membentak dan mendorong Bian, Zahra berlari ke pintu, tapi Zahra tidak tahu jika pintu itu telah dikunci kembali oleh Bian.
"Buka, buka tolong buka," teriak Zahra.
Bian menghembuskan nafasnya sekaligus, Zahra benar-benar menguji kesabarannya saat ini.
"Zahra."
"Buka, tolong buka pintunya, buka."
"Zahra cukup!" bentak Bian seraya menariknya.
"Aaaa ...."
Jerit Zahra, Bian terus saja membentaknya, padahal Zahra hanya ingin keluar saat ini, bukan ingin terus menerus dibentak seperti itu.
"Zahra, aku tidak akan lakukan apa pun, tenanglah."
"Lepas, lepas aku tidak mau sama kamu, lepas."
"Semakin kamu berontak, semakin kasar aku sama kamu, Zahra."
Zahra tak peduli dan terus saja berontak, merasa amarahnya tak dihargai, Bian menarik baju Zahra hingga robek.
"Aku sudah ingatkan ini, tapi kamu tak peduli."
Bian mendorong Zahra ke kasur itu, Bian sudah berusaha baik-baik tapi Zahra yang tidak mau terima.
"Mau apa kamu?"
"Menurut mu apa, sejak tadi aku sudah katakan semuanya."
"Jangan macam-macam."
"Kamu fikir aku mau menuruti mu?"
Bian turut naik dan menarik baju Zahra lagi, robeknya semakin besar dan nyaris terbelah dua.
Zahra beringsut menjauhi Bian, tapi tidak bisa karena Bian menahan kakinya dengan kuat.
"Lepas, lepas jangan kurang ajar sama aku, lepas."
"Diam, aku hanya minta kamu diam dan berhenti membuat ku marah."
Zahra diam, apa yang bisa dilakukannya, saat ini tidak yang bisa membantunya untuk bebas dari Bian.
"Bangun kamu."
Bian menarik Zahra hingga duduk, Bian menatap mata itu tanpa celah, air matanya terus saja mengalir dan Bian sadar itu adalah kesalahannya.
"Aku hanya mau keluar sebentar saja."
"Aku bilang, aku gak izinkan kamu keluar."
Zahra menunduk, tangannya menyilang di pundak, menghalangi bajunya agar tidak terlepas.
Untuk sesaat Bian diam memperhatikannya, tapi kemudian Bian menarik Zahra ke dalam pelukannya, Zahra berontak karena merasa semakin terancam oleh sosok lelaki itu.
"Diam, kamu tidak akan bisa menghentikan aku saat aku menggila."
__ADS_1
Zahra memejamkan matanya kuat saat Bian mencengkram pipinya.